Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Bayaranku



Ponsel Alby berdering. Lelaki itu segera menggeser tubuhnya menjauh untuk menjawab panggilan.


Dokter Ryan masih mengobrol dengan Rena. Tak sengaja tatapannya mengarah pada ketiga orang yang berada tak jauh darinya, tepatnya di belakang tubuh Rena. Ada rasa tak suka yang menyelip dalam dirinya, saat lelaki lain merangkul pundak perempuan yang sejak tadi bersamanya. Tapi, detik kemudian ia tersenyum tipis. Saat melihat Alena menepis tangan temannya itu.


"Re, Abang harus pergi ke kantor sebentar." Alby menghampiri istrinya setelah selesai menerima panggilan yang ia duga dari kantor. "Kamu gak apa-apa kan Abang tinggal sebentar!" imbuhnya kemudian.


"Ya gak apa-apa bang. Tadi kan Rena juga udah nyaranin Abang ke kantor aja."


"Abang kasihan kamu sendirian. Ibu juga kan datangnya masih nanti," ujar Alby.


Rena tersenyum. "Gak apa-apa bang. Aku banyak temannya ini. Udah sana ke kantor."


Alby mengangguk. Merapikan barang-barangnya di atas meja. Kemudian berpamitan pada istrinya. "Titip anak dan istriku bentar ya!" ucapnya sebelum berlalu pergi.


Dokter Ryan melihat arloji di tangannya. "Re, aku balik dulu ya. Sepuluh menit lagi harus melakukan operasi."


"Ya Dok. Makasih ya. Maaf ya Dok. Aku ijin dulu gak dampingi Dokter Ryan."


"Gak apa-apa. Keluarga adalah prioritas utama. Utamakan dulu kesembuhan Misel."


Dokter Ryan melangkahkan kakinya. Tapi, saat sampai di depan itu lelaki itu kembali berbalik menoleh pada Alena.


"Alena?" panggilnya. Membuat Alena berbalik dan menoleh ke arahnya.


"Ya Pak Dokter?" sahutnya. Rasanya menggelikan sekali mendengar panggilan dari perempuan itu sudah nyebut embel-embel dokter masih di tambah pak lagi.


"Kamu gak minta nomor ponsel ku?" tanya Dokter Ryan, membuat tatapan semua orang mengarah padanya, tak terkecuali Miko dan Hira.


Alena mengerutkan keningnya. "Untuk apa?"


"Buat kirim saldo ovo, anggap saja sebagai bayaranku. Karena aku sudah mengobati keningmu," ucap Dokter Ryan seraya menunjuk ke arah kening Alena. Membuat semua orang melongo bingung. Rena bahkan langsung bangkit mengecek kening sahabatnya itu, tapi Alena berusaha untuk menutupinya.


"Ihh Pak Dokter apaan sih," cebik Alena malu.


"Biasanya kan kamu gitu. Aku tunggu bayarannya ya. Lumayan, udah aku kumpulin ada berapa ya, poinnya juga nambah. Besok kalau udah banyak, aku traktir kamu makan di restoran." Dokter Ryan semakin menjadi untuk menggoda Alena. Membuat perempuan itu meringis malu, Miko terdiam menatap wajah Alena yang perlahan bersemu. Ia merasa heran sejak kapan Alena seakrab itu dengan lelaki yang bergelar seorang dokter itu. Pandangan Hira tak lepas dari perubahan wajah kekasihnya.


"Kalau mau traktir dia tuh jangan di restoran Dokter Ryan," timpal Rena.


"Lho kenapa? Perempuan biasanya kan suka-"


"Alena berbeda. Dia lebih suka makan di warung mie ayam. Soalnya kan dia sendiri papanya udah pengusaha restoran, jadi mungkin udah bosan!" Rena memotong ucapan Dokter Ryan.


"Oh ya? Okelah besok kita cari makan mie ayam di pinggir jalan."


"Iya Dok jangan lupa cari yang pedagangnya tidak pelit. Soalnya Alena suka yang sayurannya banyak. Udah nyamain kambing tetanggaku aja, Dok!" Rena terus berceloteh. Dokter Ryan mengangguk.


"Rena!!" pekik Alena. Membuat Rena sontak memukul pelan lengan anak itu, karena hampir saja teriakannya membangunkan Misel.


"Maaf Re."


Dokter Ryan terkekeh. "Ya udah aku permisi dulu ya!" pamitnya kembali melanjutkan niatnya membuka pintu dan berlalu dari sana.


"Cie cie, gayanya cari angin taunya lagi berduaan. Tuh kening bisa memar nabrak apaan dah, Le." Rena meledek Alena.


Alena mengambil kursi dan duduk di sebelah Rena. "Pintu toilet Re. Terus pas mau balik kesini gak sengaja nabrak dokter Ryan, dia nawarin ngobatin."


"Berawal dari pegang-pegang kening, lama-lama hatinya juga di pegang!" Goda Rena semakin menjadi.


Tiga puluh menit kemudian, Hira meminta untuk pulang. Miko berusaha memberi pengertian, meminta waktunya sebentar lagi karena Alby belum kembali.


"Anterin aja Mik. Gak apa-apa kok?" Ujar Rena.


"Tapi Alena?"


"Jangan pusingkan aku. Aku bisa kok minta jemput sopir di rumah. Tapi, kalau kamu ngajak pulang sekarang, aku belum mau masih kangen sama Rena." Alena tak sepenuhnya berdusta, ia memang kangen dengan sahabatnya itu, belum puas ngobrol. Selain itu ia menghindari pulang bareng dengan pasangan itu, selain karena ia tidak ingin menjadi obat nyamuk, Alena juga ingin move on.


"Ya udah. Kalau nanti sopirnya gak bisa jemput. Kamu hubungi aku ya Le?" ujar Miko.


"Ada taksi Miko. Udah sana pulang!" Usir Alena menatap ke arah Hira, yang beberapa kali menguap. "Kasihan tuh ayang beb udah ngantuk. Waktunya bobo siang."


Setelahnya Miko dan Hira pun berpamitan untuk pulang. Rena dan Alena kembali mengobrol banyak hal, tentang Misel, di kampusnya bahkan kejadian tadi saat bersama dokter Ryan. Perempuan itu memang paling tidak bisa menjaga rahasia saat bersama Rena. Karena menurutnya Rena adalah sahabat terbaiknya.


Pukul lima sore, Alena baru keluar dari ruangan Misel. Karena Alby baru kembali bersama dengan Soraya, Rena sempat menawarkan untuk diantarkan oleh Alby saja. Tapi Alena menolak. Membayangkan berada dalam satu mobil dengan suami Rena, justru membuat Alena memacu jantung. Beruntunglah ketika ia menghubungi sopir rumah ada, dan sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.


Sudah sekitar lima belas menit ia menunggu di loby rumah sakit. Namun, mobil jemputnya tak kunjung tiba. Padahal jarak dari rumah sakit ke rumah tidaklah begitu jauh jika hanya ditempuh menggunakan mobil. Ponsel dalam genggamannya berdering, ternyata itu panggilan dari sopir rumahnya.


"Hallo pak? Kena-"


"Non maaf non. Ban mobilnya kempes, ini saya masih di bengkel, kayaknya ini bakalan-"


Tut.. Tut... Panggilan terputus begitu saja. Alena menatap ke arah ponselnya yang ternyata kehabisan daya.


"Yahh mati lagi ponselnya, kebiasaan!" rutuknya. Kalau sudah begitu jalan keluarnya harus bagaimana. Haruskah ia kembali ke ruangan Misel, lalu meminta bantuan pada sahabatnya itu. Alena menggelengkan kepalanya, ia tak mungkin melakukan itu. Jalan satu-satunya adalah ia harus berjalan ke luar di tepi jalan, menunggu taksi di sana. Karena ponselnya mati, tak bisa ia memesan taksi online.


Saat Alena hendak melangkah, sebuah mobil mercy yang tak asing berhenti tepat di depannya. Terlihat Dokter Ryan mengeluarkan kepalanya ke luar jendela.


"Alena?"


"Eh Pak Dokter?" sahutnya kikuk. Ia heran kenapa disetiap ia tengah membutuhkan tumpangan, lelaki itu selalu tiba di depannya. Mungkin itu sebuah kebetulan.


"Baru mau pulang?" tanyanya.


Alena mengangguk. "Ya Pak Dokter. Permisi ya Dokter, mau ke depan nyari taksi."


"Ehh mau kemana? Ayo masuk, biar aku antar sekalian."


"Tapi-"


"Ayo buruan. Sekalian, aku kan juga melewati rumahmu."


Alena menatap Dokter Ryan heran. "Lho kok Dokter tau rumah ku?"


Membuat Dokter Ryan gelagapan. "Waktu itu Rena pernah ngomong kok. Udah Ayuk masuk!"


Meski terasa heran, perempuan dengan balutan dress berwarna kuning itu pun menurut dan masuk ke dalam mobil Dokter Ryan.



Ketawanya Pak Dokter bikin meleleh kan😂 Authornya aja kepincut, eh🤭


Jangan lupa like, komentar dan hadiahnya ya guys, biar aku semangat nulis. Thank you🥰🥰