
Rena yang saat itu tengah menyuapi Misel terkejut dengan kedatangan Miko dan Hira. Alby yang tengah duduk di sofa segera beranjak menyambut kedatangan mereka.
"Wehh banyak banget. Gak sekalian sama tokonya ini di bawa?" ejek Rena kala melihat barang yang di bawa Miko, berupa banyak makanan. "Tapi terima kasih ya. Harusnya gak usah repot-repot gini, aku kan jadi enak!" ucapnya kemudian.
Alby menggelengkan kepalanya mendengar ucapan istrinya.
"Gimana keadaan kamu Misel?" tanya Miko begitu berada di sisi ranjang anak itu.
Misel hanya menggeleng ketakutan. "Bunda?" panggilnya seraya mencengkram lengan Rena.
Rena meletakkan sisa makanan Misel di atas nakas. Kemudian mendekatkan tubuhnya pada Misel. "Tenang sayang. Tidak apa-apa, itu Om Miko dan Tante Hira. Mereka teman-teman Bunda sayang. Mereka bukan orang jahat." Rena mengusap-usap putrinya. Dokter memang mengatakan Misel mengalaminya ketakutan, bahkan hingga trauma. Jadi, orang tuanya di minta untuk memberi pengertian, dan arahan yang positif. Selain itu Rena juga meminta psikologi untuk membantu terapi. Apapun akan Rena lakukan demi melihat putrinya seperti semula. Melihatnya seperti ini membuat Rena merasa sedih.
"Re?" panggil Miko. Ia menatap Misel dengan pandangan kasihan.
Rena menoleh pada keduanya dan tersenyum, seraya mengusap-usap tubuh Misel. Tak berapa anak itu terlihat menguap, hingga beberapa saat ia terlelap. Setelahnya, Rena mengajak keduanya untuk duduk di sofa. Miko banyak bertanya soal kejadian penculikan Misel.
"Parah banget ya itu. Kok ada ya ibu yang tega berbuat seperti itu!" geram Miko.
"Begitulah! Tapi aku berharap dengan masuknya ke penjara. Ibu kandung Misel akan sadar dengan tindakan kejahatannya dan tidak mengulanginya lagi. Karena bagaimana dia tetaplah ibu kandungnya Misel," ucap Rena penuh harap.
Miko dan Hira mengangguk.
"Kalian kesini cuma berdua?" tanya Rena kemudian. Sementara Alby tetap sibuk dengan laptopnya.
"Bertiga, sama Alena juga!" Miko menoleh ke arah pintu yang masih tertutup tak ada tanda-tanda Alena muncul. "Tadi bilangnya sih ke toilet dulu. Kok lama ya? Ngantri kali ya!"
"Oh, begitu ya." Seingat Rena toilet rumah sakit itu jarang mengantri, karena fasilitas rumah sakit itu memang sangat memenuhi. "Aku telpon dulu ya!" Rena berlalu mengambil ponsel miliknya.
Sementara, Alena masih tetap duduk dan mengobrol bersama Dokter Ryan. Perempuan itu masih cemberut, tak terima didoakan ompong. Padahal niat Dokter Ryan hanya bercanda. Memangnya orang seperti Alena itu bisa baper juga ternyata.
"Jangan cemberut! Aku hanya bercanda. Mana mungkin aku menyumpahi kamu ompong, aku hanya memberi pengertian agar kamu lebih hati-hati," ujar Dokter Ryan akhirnya lelaki itu memilih mengalah.
Alena mengangguk. "Aku tau kok Dokter."
"Cie cie! Dokter Ryan cepet juga ya nyari penggantinya Dokter Rena," goda Suster Santi tiba-tiba. Membuat Alena mengerutkan keningnya, selain karena terkejut perempuan itu juga berusaha mencerna ucapan perempuan itu. Alena menoleh ke arah Dokter Ryan.
Dokter Ryan menghela nafasnya, suka kesal dengan ucapan Suster Santi itu yang ceplas-ceplos. "Dia temannya Rena!"
Suster Santi menatap ke arah Alena, dan tersenyum. "Cantik kok dokter. Imut-imut, cocok deh buat Dokter." Pasalnya wajah Alena ini memang baby face, kulitnya putih, rambutnya panjang memakai bando yang senada dengan bajunya berwarna kuning, bibir tipis mungil, dan tingginya memang hanya sebatas dada Dokter Ryan.
Alena semakin terdiam, Dokter Ryan memijat keningnya. "Suster mau kemana?" tanya Dokter Ryan mengalihkan pembicaraan.
"Oh ya, hampir lupa. Mau antar obat ke pasien." Suster Santi menepuk keningnya. "Saya permisi dulu. Dokter jangan lupa undangannya ya kalau get merried, awas kalau gak ngundang!" Imbuhnya seraya berlalu pergi.
Dokter Ryan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Jadi, Pak Dokter itu dulu suka juga sama Rena?" tanya Alena.
"Hem. Ya begitulah."
Alena mengangguk. "Wajar sih soalnya Rena itu cantik, pintar, baik, ramah. Bahkan di kampus aja banyak anak laki-laki yang suka sama dia. Tapi, Rena itu tipikal perempuan yang susah untuk di dekati. Aku aja gak tau kalau tiba-tiba Rena udah nikah sama Pak Alby."
Dokter Ryan menaikkan sebelah alisnya. "Kamu juga cantik kok," pujinya kemudian.
Alena melongo, memalingkan mukanya, menyembunyikan wajahnya yang bersemu. Membuat Dokter Ryan tersenyum tipis. "Namanya perempuan kan cantik, masa ganteng!" imbuhnya kemudian.
Alena menarik nafasnya. "Ya Dokter, aku mengerti!"
"Oh ya. Sampai lupa nanya. Kamu kesini sebenarnya mau ngapain? Jenguk teman atau-"
Alena buru-buru hendak berlalu, tapi bunyi ponsel dalam tasnya mengurungkan niatnya. Ia memilih menjawab panggilan itu, yang ternyata dari Rena.
"Oh ya Re. Sebentar, ini aku lagi di jalan. Sambil cari angin Re," dustanya sebelum kemudian ia mematikan telponnya.
"Ayuk?" ajak Dokter Ryan.
"Ehh kemana?" tanya Alena balik dengan bingung.
"Ya nengok Misel. Aku juga belum nengok ini dari kemarin. Masih ada waktu setengah jam sebelum aku kembali masuk ruang operasi. Jadi, mumpung ada kamu ayo sekalian bareng," ujar Dokter Ryan seraya meletakkan kotak p3k nya di atas kursi, ia pikir akan mengembalikannya nanti setelah selesai menjenguk Misel.
Alena mengangguk. "Baiklah!"
Keduanya berjalan beriringan menuju ruangan Misel. Sesekali akan mendapat ledekan dari teman-teman kerja Dokter Ryan. Tapi, lelaki itu hanya tersenyum tipis.
"Cie Dokter Ryan. Tau aja yang bening-bening kaya kristal gitu."
"Kapan ni undangannya?"
Ejekan teman-temannya, yang hanya ia tanggapi dengan senyuman tipis, kemudian ia pun mengucap hal yang tak terduga dari mulutnya. "Doain aja!"
Alena menutup wajahnya, dan buru-buru berlalu pergi. Dokter Ryan berlari menyusul Alena.
"Kok ninggalin?" ujar Dokter Ryan ketika sudah tiba di sisi Alena.
"Tadi kan, Pak Dokter lagi ngobrol sama temannya," kilah Alena.
Tiba di ruangan Misel, keduanya masuk secara bergantian. Dokter Ryan lebih dulu membukakan pintu untuk Alena, membuat perempuan itu menatap heran ke arahnya.
"Ladys first!" ucap Dokter Ryan yang membuat Alena mengerti. Keduanya masuk secara bergantian.
Kedatangan Alena dan Dokter Ryan membuat penghuni ruangan itu melongo menatap ke arah keduanya.
"Ya pantas macet di jalan. Oalah ternyata ada dokter cinta," celetuk Rena.
Alena berdecak. "Apaan sih! Aku dan Dokter Ryan hanya gak sengaja ketemu di jalan tadi. Kebetulan dia kan katanya mau jenguk Misel jadi ya udah bareng. Iya kan Pak Dokter?" ujar Alena menatap ke arah Dokter Ryan.
"Oh iya!"
Dokter Ryan dan dan Alena berlalu masuk mendekati ranjang Misel. Lelaki itu bertanya seputar kondisi anak itu, Rena pun menjelaskannya. Alby menghampiri Dokter Ryan dan mengucapkan terima kasih untuk bantuannya kemarin. Rena terharu, muda-mudahan ada hikmah di balik musibah yang menimpa keluarganya. Suaminya lebih bisa mengerti dan menghilangkan sifat cemburunya itu.
"Aku kira kamu ikut hanyut di toilet, Le." Miko meledek Alena.
"Sembarangan!"
"Soalnya aku mikirnya gini, Le. Pakaian kamu kan serba kuning, takutnya tuh ****** susah bedain mana kotoran mana kamu."
Alena berdecak dan tak sengaja menatap ke arah tatapan Hira yang terlihat tak suka. Ia segera menepis tangan Miko yang selalu punya kebiasaan merangkul pundaknya.-
Pak Dokter yang suka godain Alena ini😂
jangan lupa like, komentar, dan hadiahnya ya guys