Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Aku Diperkosa



Wajah Alena langsung memucat, keringat dingin tampak membanjiri keningnya.


"Melakukan apa sayang hemm?" tanya Ryan tersenyum teduh, tangannya mengusap kening istrinya, kemudian memberi kecupan di sana.


"Jangan takut. Tidak sesakit apa yang ada dalam pikiran kamu sayang. Kamu cukup diam, rileks, dan nikmati aja," ucapnya menenangkan istrinya.


"Percaya sama aku, gak akan sakit. Aku akan melakukan sepelan mungkin," tambahnya kemudian.


Alena mengangguk, merasa lega mendengarnya. Sementara sesuatu di bawah sana, si jarum suntik ajaib milik Ryan sudah menempel pada miliknya.


Ia kembali menikmati sentuhan lembut, dan sapuan bibir Ryan di tubuhnya. Di mulai dari kening, hidung, kemudian bibir. Di sana ia memberikan lu mat tan yang panjang dan berkesan. Setelah dirasa cukup, Ryan pun melepaskan pangutan bibirnya. Ia kembali menyapu tubuh istrinya, turun ke bawah menuju leher meninggalkan jejak kemerahan di sana. Terus ke bawah dan ke paling bawah sampai di pusat intinya, hingga benda kenyal milik suaminya itu kini berhasil membuatnya men de sah pasrah. Bahkan tanpa sadar ia pun menekan kepala suaminya supaya berlama-lama di bawah sana.


Ryan tersenyum puas, mana kala melihat istrinya sampai pada klimaksnya.


"Enak kan sayang?" tanya Ryan. Alena tak menjawab ia masih terengah, lalu mengigit bibir bawahnya, mana kala merasakan kenikmatan yang baru suaminya ciptakan.


Ryan kembali mengecupi seluruh wajah Alena, membuat perempuan itu kembali rileks dan tersenyum. Kemudian melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami.


"Tahan sebentar ya sayang." Ryan menatap Alena dengan lembut. Mengambil kedua tangan istrinya, untuk ia kecupi dengan lembut. Membuatnya kembali pasrah di bawah kungkungan sang suami.


"Emmh...hhh." De sa han pelan dari bibir Alena terdengar merdu dan indah di telinga Ryan. Kala lelaki itu terus memberikan sentuhan lembut padanya, dan kini dengan pelan lelaki itu mencoba menggiring jarum suntiknya masuk.


"Sak-" Ryan langsung membungkam bibir mungil istrinya, seiring dengan jarum suntik miliknya yang telah berhasil masuk dengan sempurna. Alena mengeluarkan air matanya, merasa bagian bawahnya terasa robek akibat ulah sang suami. Lelaki itu membenamkan miliknya sesaat, membiarkan istrinya rileks, hingga beberapa saat itu mencoba mulai menggerakkan pinggulnya.


Alena yang semula merasakan sakit, perlahan mulai rileks, men de sah dan menjerit saat Ryan terus menghentakkan miliknya.


****


Ryan terbangun dengan wajah segarnya. Meskipun di luar tengah hujan deras, namun itu tak membuat wajahnya mendung. Ryan justru sangat bahagia, akhirnya ia berhasil melepaskan perjakanya pada perempuan yang ia cintai.


Curah hujan yang cukup deras, seakan menjadi restu padanya. Jika hari ini ia harus banyak berdiam diri di kamar dengan istrinya, saling bergumul dengan selimut. Lelaki itu menarik menaikkan selimut untuk menutupi punggung istrinya yang polos.


Alena mengerjapkan matanya. "Pak Dokter ih!" ucap Alena mencebik kesal.


"Kenapa sayang? Baru melek kok udah manyun-manyun? Mau ngulang lagi yang semalam bilang aja," seru Ryan.


Alena langsung mendaratkan tabokan di perut polos sang suami. "Gak. Sakit, katanya gak sakit? Apaan ini punyaku perih kayaknya robek deh," rengek Alena. Namun, tangannya masih melingkar di perut suaminya, sementara Ryan tengah bersandar.


"Mas? Panggil aku Mas atau yang lain. Udah nikah masa Pak terus manggilnya. Kalau gak nurut, aku ulangi yang semalem ya!" ancam Ryan.


"Iya Masry," jawab Alena pelan dan pasrah.


"Apa itu Masry?" tanya Ryan aneh.


"Ya Mas Ryan, masa gitu aja harus diajarin. Itu panggilan kesayangan tahu."


Ryan mengangguk. "Oh. Jadi sayang nie sama aku. Ya udah yuk kita gas lagi yang semalem?"


"Dibilang masih sakit. Kok gas terus! Masry ini gak kira-kira buat aku sampai begini," Omel Alena pasalnya semalem entah berapa kali Ryan terus menyatukan tubuhnya.


"Ya karena sakit itu jadi harus sering-sering, biar sakitnya hilang. Lagian gak-gak kamu juga nikmati, buktinya semalem kamu malah men de sah uh ah ayo terus lebih dalam lagi!"


"Masry!!!!" teriak Alena.


"Apa sayang? Beneran mau lagi. Ayok lah tancap gas. Lagian tiga hari ini Mas masih cuti, bisalah kita habisin waktu di kamar."


"Gak ya Mas. Ini udah cukup, badan aku lemes aku mau mandi terus makan yang banyak. Benar-benar ini Mas tuh nguras tenaga aku. Aku mau turun ke bawah nanti, mau ngadu sama Mama kalau Masry jahat habis merkosa aku!"


Ryan melongo mendengarnya. Kan tingkah istrinya ada saja. "Mana ada? Kita kan suami istri. Gak boleh gitu. Dengerin Mas sayang?" Ryan kembali menarik tubuh polos istrinya ke dalam dekapannya. "Suami istri melakukan hubungan seperti semalam itu wajar. Malah dapat pahala, jaminannya surga."


"Gitu ya Mas?" sahut Alena polos.


"Hemm... Tapi akan menjadi dosa yang besar jika kamu sampai mengumbarnya. Ingat sayang, apapun yang kita lakukan di atas ranjang, jangan pernah kamu beritahu siapapun. Meskipun itu orang tua kamu. Cukup hanya kita berdua dan Tuhan yang tau. Kamu paham sayang? Mas gak mau dengar kamu cerita rahasia kita di atas ranjang itu sama teman-teman kamu itu ya?" jelas Ryan seraya mengusap wajah istrinya dengan lembut.


"Iya Mas."


"Jadi, mau gak kita ulangi lagi biar dapat pahala?" goda Ryan.


"Gak bang. Aku mau mandi terus makan yang banyak." Alena menjauhkan tubuhnya dari sang suami. Duduk dan mencoba menjuntaikan kakinya ke lantai. Namun, ia merasakan nyeri pada pangkal pahanya.


"Butuh bantuan?" tawar Ryan.


Alena menggeleng, menggigit bibir bawahnya. Ia mencoba memaksakan diri untuk berdiri. Namun, usahanya pun tetap sia-sia, ia kembali menjatuhkan tubuhnya ke sisi ranjang.


"Kenapa?


"Masry ini gak kira-kira. Masa aku sampai gak bisa jalan begini. Ini gimana caranya aku mau mandi, kalau begini!" omel Alena.


Ryan terkekeh beranjak dari tempat tidurnya mendekati istrinya, kemudian tanpa aba-aba ia langsung menggendong Alana ala bridal style menuju kamar mandi.


"Masry aku mau mandi sendiri!" Alena memberontak dalam gendongan sang suami.


"Udah diem aja. Kamu buat gerak aja gemetar masa mandi sendiri. Mana mas tega sih. Udah biar Mas mandiin aja!" ujar Ryan seraya mendudukan Alena di bathub. Mulai memandikan Alena.


"Tanganmu lho Mas, ih kemana-mana. Udah gosok punggung aja gak usah ke depan-depan!" omel Alena kala tangan sang suami justru merambat-rambat ke depan, bahkan tak segan me re mas da danya.


"Mana bisa begitu, ini tuh biar adil sayang!" kilah Ryan seraya tersenyum geli karena sebenarnya ia sudah menyimpan maksud tertentu.


"Emhhh." Alena meleguh menikmati sentuhan sang suami yang mulai intens. Bahkan ia sendiri sampai terpekik kaget kala sang suami memutar tubuhnya kemudian, kembali menyatukan tubuh keduanya, menghentakkan miliknya dengan kasar.


"Terus mas.. ayo terus," pinta Alena.


Ryan tersenyum senang, semakin mempercepat gerakannya.