Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Ijinkan Aku Melamarmu



Ketika matahari mulai terbenam dan pesta pernikahan pun telah usai. Satu persatu tamu pun meninggalkan tempat itu, hingga menyisakan keluarga inti.


"Udah selesaikan acaranya. Pulang yuk, Bun?" ajak Alby pada istrinya. Saat ini keluarga besar tengah berkumpul di depan ruangan dengan meja yang sangat besar.


"Ayah tapi Misel masih ingin bermain sama aunty Nadine." Misel merengek pada keduanya. Nadine merupakan putri tunggal pasangan Alisa dan Vano - kakak kandung Dinda.


"Tapi Misel-"


"Please ayah. Aku bisa kok tidur di rumah grandma Dinda." Misel menggoyangkan lengan ayahnya. Menatap keduanya penuh permohonan. Karena ia tahu setelah ini Nadine akan menginap di rumah mereka.


"Biarkan saja Alby, Rena. Misel ikut bersama kami. Nadine justru senang ada temannya," seru Vano yang melihat gurat keraguan di wajah keponakannya itu.


Rena masih terdiam menimbang pikirannya.


"Baiklah, Om. Titip Misel ya, nanti kalau rewel telpon saya saja."


Rena menoleh ke arah suaminya dengan tatapan kesal, karena memberikan jawaban tanpa persetujuannya.


Rena merenggut kesal selama dalam perjalanan pulang, karena Alby justru mengijinkan Misel menginap, padahal jika tanpa anak itu rumah pasti akan terasa sepi, meskipun Misel menginap sambil ditemani pengasuhnya. Alby yang tengah fokus menyetir sesekali menengok ke samping, menggelengkan kepalanya kala melihat bibir istrinya tang terus mengerucut ke depan.


"Udah gak usah cemberut, besok pagi kita jemput Misel!" Alby mengusap rambut istrinya.


"Abang ih!" Rena menepis tangan suaminya, yang mengacak-acak rambutnya. " Jangan diacak-acak," sambungnya kemudian, membuat Alby tergelak.


Kini mobil telah tiba di depan rumah, Rena turun lebih dulu tanpa di menunggu dibukakan pintu oleh suaminya. Membuat Alby menghela nafas, "perasaan udah gak pms. Tapi, masih aja mode galak."


Alby memilih duduk di ruang tamu, sambil memainkan ponselnya, sementara Rena di ruang tamu.


Rena masih berdiri di depan cermin sambil melepaskan satu persatu aksesoris yang melekat pada tubuhnya. Beberapa saat kemudian semua sudah selesai, ia hanya tinggal pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tapi, ketika mendengar ketukan suara pintu membuatnya mengurungkan niatnya.


Tok! Tok!


"Masuk."


Pintu pun terbuka. Nampak Bi Surti masuk membawakan parsel yang berhiaskan pita berwarna gold. Rena mengerutkan keningnya merasa heran, baru saja ia akan bertanya, masuklah seseorang yang tak ia kenali dengan membawa parsel serupa yang terbungkus dengan mika bening cantik berwarna gold.


Begitu seterusnya bergantian orang-orang itu masuk, sepertinya mereka semua adalah seorang pegawai toko. Kurang lebih sekitar dua puluh lima parsel yang kini memenuhi ranjang besar milik Rena dan Alby.


Hingga orang yang berada di ujung barisan itu adalah Alby. Ia meminta Ni Surti dan orang-orang itu untuk kembali, seraya mengucapkan terima kasih. Sangking terkesimanya dengan hadiah yang diberikan Alby, Rena sampai tak sadar telah membuka mulutnya dengan tatapan bingung.


"Bang, ini apa?"


Mata indah milik Rena memindai barang-barang yang tertata rapi di sana. Dari plastik mika bening itu, Rena dapat melihat barang apa saja yang berada di dalamnya, di sana terdapat beraneka ragam isi seserahan yang tak kalah bagusnya seperti yang Nadila dapatkan.


Ada pakaian dengan brand ternama, ada tas, sepatu, parfum-parfum mahal, kosmetik yang biasa di pakai Rena. Pakaian dalam, sandal, peralatan mandi, dan satu yang membuat Rena mengerjapkan matanya berulang kali, adalah sebuah parsel dengan amplop di dalamnya.


Rena merasa penasaran yang teramat besar, ia pun membuka parsel itu, alangkah terkejutnya ia ketika membaca isi di dalamnya.


"Bang ini?"


"Mobil baru buat Rena Nugraha."


Rena membuka mulutnya, terkejut masih tak mengerti mengapa suaminya memberikan ini semua.


"Bang? Ini--"


"Abang pikir selama ini, Abang belum memberikan apapun untuk kamu. Jadi, mungkin hanya ini yang bisa Abang kasih."


Rena menggelengkan kepalanya, "tapi aku gak minta bang. Ini semua buat apa?"


"Seserahan!"


"Abang?"


Rena hendak melangkah mundur, namun Alby mengambil tangannya, menahan agar tetap berdiri di posisi semula. Alby ingin mengutarakan kata-kata yang selama ini ia pendam.


"Dulu kita gak ada kesempatan buat seperti ini. Pernikahan kita semua serba mendadak. Abang gak nyiapin hal yang spesial buat kamu. Bahkan lamaran pun kita langsung menikah," tutur Alby.


Rena tersentuh haru, ia tersenyum meskipun tak dapat dipungkiri ia pun ingin menangis.


"Aku baik-baik saja Bang. Harusnya, Abang gak perlu begini."


"Tidak sayang." Alby menggelengkan kepalanya. "Kamu itu spesial, jadi izinkan Abang untuk memperlakukanmu spesial juga. Izinkan Abang untuk melamarmu secara benar." Alby menggenggam tangan Rena dengan posisi yang masih berlutut di depan Rena.


"Rena Nugraha... Abang melamarmu untuk menjadi pendamping hidup Abang selamanya." Alby menjeda ucapan selanjutnya sejenak.


"Abang tahu ini mungkin terdengar sedikit konyol. Usia kita bahkan mungkin terpaut begitu jauh, tapi Abang ngerasa jatuh cinta sama kamu. Dulu, mungkin Abang menikahimu hanya demi Misel. Tapi sekarang, Abang mau menjadikan kamu pendamping hidup Abang selamanya. Abang ingin menghabiskan sisa hidup bersama kamu. Apa kamu-"


"Aku mau bang." Rena menjawab ucapan Alby dengan cepat. Rena menangis, bukan karena sedih. Melainkan saat ini hatinya terasa membuncah bahagia, sesaat Rena merasa begitu spesial. Pernikahan suatu hal yang dulu ingin ia hindari, kini justru membuatnya bersyukur telah dipertemukan Alby lewat Misel. Perlakuan lembut Alby telah berhasil menyentuh hatinya, meski perkenalan keduanya terasa begitu singkat.


"Aku mau. Aku mau jadi istri Abang, sekarang, besok, nanti bahkan selamanya bang. Sampai kita menua bersama, sampai mati."


Alby tersenyum,


"Apa artinya ini lamaran Abang diterima?"


Rena tersenyum malu dan mengangguk membuat Alby merasa bahagia. Kemudian tak Rena sangka. Lelaki itu mengambil sesuatu dari sakunya, sebuah kotak cincin berbentuk love itu kini terbuka, terlihat sebuah cincin berlian.


"Bang?"


"Abang pakein ya. Waktu itu kan Abang belum ngasih kamu cincin."


Rena ingin menyangkal, jika waktu itupun Alby sempat memberikan satu set perhiasan. Tapi ia pikir lebih baik diam membiarkan sang suami melakukan keinginannya, Rena hanya perlu menikmati kebahagiaannya.


Usai cincin tersemat cantik di jari manis Rena. Alby berdiri lalu memeluk Rena, serta mencium puncak kepalanya berulang kali.


"Terimakasih, terimakasih sayang."


Rena pun tak kalah eratnya membalas dekapan sang suami. Keduanya larut dalam kebahagiaan. Hingga mereka menyadari bahwa keadaan rumah terasa hening.


Alby melonggarkan dekapannya, lalu menatap istrinya.


"Apa bang?" tanya Rena heran.


"Tamunya udah pergi kan?" tanya Alby balik.


"Tamu siapa bang?"


"Tamu bulanan kamu."


"Oh." Rena mengangguk. "Udah!"


Alby tersenyum bahagia seakan tak ingin membuang kesempatan. "Abang kan udah beri kamu hadiah. Dan juga melamar kamu, sekarang udah resmi kan. Jadi, kamu juga harus meresmikan status mu jadi istri Abang sepenuhnya."


Alby berniat mencondongkan wajahnya, tapi Rena menahannya.


"Kenapa?" tanya Alby lesu.


"Kita mandi dulu ya bang. Nanti Abang akan dapat kejutan yang tak terduga dari aku." Rena mengedipkan salah satu matanya. "Abang buruan mandi di kamar mandi bawah ya. Rena tunggu di kamar," tambahnya seraya berlalu pergi ke kamar mandi.