
Alena dan Elena keluar dari ruangan Dokter Ryan. Keduanya berniat untuk melanjutkan niatnya untuk berbelanja. Di koridor rumah sakit ia tak sengaja berpapasan dengan Rena.
"Tante Elena?" sapa Rena membuat Elena dan Alena menatap ke arahnya.
"Rena?" balas keduanya bebarengan sambil menghampiri Rena.
"Pasti habis dari ruangan Dokter Ryan ya?" tebak Rena.
"Iya ini, Re." Elena menjawab sambil menggandeng Alena yang tengah tersipu malu.
"Ciee udah dekat sama calon mertua," goda Rena pada sahabatnya itu. Bahkan tak tanggung-tanggung Rena juga mencubit gemas pipi Alena.
Membuat Alena mencebik kesal. "Ini Pipi lho Re, bukan bapkao."
"Tau. Cuma kangen aja cubit-cubit pipi kamu ini," jawabnya sambil tergelak.
"Kamu ini nikah gak undang-undang Tante lho Re," ujar Elena berpura-pura kesal, karena ia sendiri memang sudah mengenal Rena dari dulu, sejak pertama kali Rena menginjakkan kaki di rumah sakit miliknya. Apalagi begitu ia mengetahui putranya ternyata menaruh hati pada Rena. Elena tentu sangat menyukainya. Sifat Rena yang ramah, pintar, penyayang menjadi incaran Elena untuk menjadikan menantu. Mendengar Rena sudah menikah, tentu saja terselip rasa kecewa dalam dirinya, tapi apa boleh buat. Apalagi penantian putranya yang ternyata sia-sia. Ryan berkali-kali menolak perjodohan yang ia rencanakan bersama Bastian demi menunggu Rena. Tapi... Yang namannya jodoh itu sebuah misteri. Jadi, untuk apa Elena harus kesal. Sebagai orang tua ia hanya perlu mendukung apa yang menjadi keinginan anaknya. Selama itu baik untuk Ryan, Elena akan mendukungnya.
"Gak ada resepsi, Tante. Soalnya nikahnya juga dadakan. Kebetulan kan anak sambung aku mau dioperasi waktu itu," ujar Rena lembut.
Elena hanya mengangguk paham. "Ya udah gak apa-apa. Doa Tante semoga langgeng sampai maut memisahkan. Doain balik juga ya buat Ryan dan Elena. Tante udah ngebet ini pengen cucu."
Rena tersenyum mengangguk. "Amin. Iya Tante, doain terus."
"Kamu sendiri udah isi belum?" Elena menatap ke arah perut Rena.
"Belum. Doain semoga disegerakan ya Tante," ujar Rena.
Elena tersenyum mengangguk. "Ini kamu mau ke mana?"
"Mau ke ruangan Dokter Ryan. Mau konsultasi seputar kesehatan Papa mertua, habis di operasi."
"Ohh... kirain udah longgar. Mau Tante ajak shopping gitu," ujar Elena.
Rena terkekeh. "Gak lah. Gak mau ganggu momen bahagia Tante dan calon menantu," jawab Rena sambil menatap sahabatnya itu. Ia senang karena Alena akhirnya akan menikah dengan Dokter Ryan. Karena ia pun tau, Elena pasti akan sangat menyayangi sahabatnya itu. Dulu Alena selalu mengatakan kalau menikah ingin mempunyai mertua yang sayang padanya.
"Ya udah Tante saya duluan ya... Le duluan," pamit Rena selanjutnya.
Alena memandang kepergian sahabatnya itu.
"Ada apa sayang?" tanya Elena.
Alena menggeleng.
"Kamu cemburu ya? Tenang saja Rena itu gak akan macam-macam sama Ryan," ujar Elena menenangkan.
Alena justru terkekeh. "Duh masa iya cemburu sama Rena sih. Gak loh Tante, meskipun aku tau Pak Dokter pernah menaruh hati pada sahabatku itu, tapi Rena itu bukan tipikal perempuan yang akan menggoda lelaki. Apalagi sekarang udah punya suami, dulu aja pas belum nikah dia mau berteman dengan laki-laki milih. Karena dia paling males ribut hanya karena seorang laki-laki," ujar Alena.
Elena terkejut tak menyangka jika Alena pun mengetahui jika Ryan pernah menaruh hati pada Rena. "Kok kamu tau kalau Ryan pernah suka sama dia?"
Alena tersenyum. "Tentu saja. Kan Pak Dokter yang cerita sendiri."
"Aduh ini calon menantu. Suruh manggil sayang, ayang, apa Beby malah manggilnya Pak Dokter mulu. Kan Mama jadi berasa bawa kabur pasien anaknya," keluh Elena memijat kepalanya.
"Mama?" ulang Elena. "Panggil Mama masa Tante sih."
"Iya Mama," sahut Alena.
****
Ketika tiba di Mall. Alena dan Elena segera turun dari mobil. Elena menggandeng Alena menuju salah satu butik yang terkenal.
"Ukur tubuh calon menantu saya. Dan berikan pakaian, tas, sepatu yang cocok dengan tubuhnya," titah Elena pada pegawai toko itu.
"Baik Nyonya!"
Alena terkesiap mendengarnya. "Ma gak perlu sebanyak itu. Aku bisa beli satu barang aja, aku hanya perlu boneka sapi aja. Baju aku di rumah udah banyak, Ma." Ia memang bukan tipikal perempuan yang gemar membeli pakaian. Ia lebih suka beli boneka, atau makanan. Sampai di kamarnya pun ia telah menyediakan lemari khusus untuk memajang boneka koleksinya.
Ayu bahkan sampai kerap mengomel, kebanyakan anak perempuan udah dewasa itu koleksi tas mahal, sedangkan Alena malah koleksi boneka. Dari sekian banyaknya boneka, paling banyak berbentuk sapi.
"Iya nanti beli sapi juga. Meskipun di rumah banyak kan, belum ada yang dibelikan Ryan. Udah kamu nurut aja, Mama lagi senang-senangnya ini ada teman belanja."
Alena hanya mengangguk menurut. Membuat para pegawai toko memilihkan dirinya baju. Kemudian ia pun menurut kala calon Mama mertuanya itu memintanya untuk mencoba beberapa pakaian di sana.
Seusai membeli beberapa pakaian, Elena kembali mengandeng Alena untuk ke salah satu toko boneka. Belanjaan sebelumnya tentu Elena meminta pegawai toko itu untuk mengantarkan ke mobil, karena di sana ada sopirnya.
"Wahh banyak banget," pekik Alena girang kala melihat banyaknya boneka. Dari yang kecil, sedang, besar ada semua.
"Kamu boleh ambil boneka yang mana aja yang kamu mau sayang," ujar Elena.
"Beneran?" ujar Alena berbinar.
Elena mengangguk.
"Duh senangnya. Kalau gini aku mau deh jadi menantu Tante," imbuh Alena kemudian.
Alena mengambil beberapa boneka, salah satunya boneka sapi yang besar yang sejak dari rumah sakit sudah ia incar. Seperti sebelumnya, Elena meminta pegawai toko untuk membawakan ke mobil.
"Kita mau ke mana lagi Ma?" tanya Alena ketika Elena kembali menggiringnya ke lantai atas.
"Salon. Saatnya kita memanjakan diri," ujar Elena.
"Aku udah manja kok Ma. Gak perlu dimanja lagi," celetuk Alena polos.
Elena melongo. "Maksudnya mempercantik sayang. Kebetulan di sini ada salah satu cabang salon punya anak Mama. Kayaknya anaknya lagi berkunjung kesini, jadi sekalian Mama kenalin kamu ke kakaknya Ryan ya!" ralat Elena kemudian. Benar kata Ryan, berbicara dengan Alena itu harus jelas sejelasnya, karena perempuan itu kerap sekali salah tanggap.
Alena digiring masuk ke sebuah salon yang bernama Crystallio. Melihat kedatangan Elena, pegawai salon tentu langsung sigap menghampiri dan menyapanya dengan ramah.
"Tolong ya beri perawatan tubuh, wajah yang terbaik pada calon menantu saya ini. Pokoknya harus pakai produk yang bagus, aku gak mau wajah cantik menantuku ini sampai rusak," titah Elena.
"Baik Nyonya!"
"Di mana Viana?" tanya Elena kemudian menanyakan putrinya.
"Nyonya lagi turun ke bawah, membeli makanan. Karena Nona Crystal sejak tadi merengek lapar," sahut salah satu pegawai di sana.