Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Kangen



Ibu itu menatap ke arah Alena, pandangannya turun ke perutnya yang tampak membuncit.


“Kenapa ibu marah-marah dengan suami saya?” tanya Alena lembut. Karena ia menyadari ini di rumah sakit, tidak mungkin ia membuat keributan. Alena harus berfikir menyelesaikan masalah itu dengan tenang.


“Anak saya meninggal. Dan semua itu karena suami kamu,” tuding ibu itu sambil menunjuk ke arah Dokter Ryan.


“Bu, bukankah sudah kami jelaskan. Kami bahkan sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi, Tuhan berkehendak lain. Saya bahkan baru mau mulai operasi, tapi nyawa anak ibu memang tidak tertolong. Sebelumnya, juga sudah saya jelaskan. Kondisi penyakit ibu memang sudah parah. Kankernya sudah menyebar ke seluruh saraf otak. Saya sudah katakan pada ibu berulang kali, operasi pun akan percuma, tapi ibu tetap memaksa kan,” terang Dokter Ryan.


Ibu itu meraung menangis tidak terima. Dokter Ryan juga sedih, matanya juga berkaca-kaca. Ia memang kerap menemukan pasien yang meninggal, hanya saja rasanya melihat ibu dari pasiennya saat itu, hatinya juga merasa sesak. Kala membayangkan sesuatu itu juga terjadi pada dirinya, pasti Mama Elena pun akan sama dengannya. Apalagi, ibu itu mengatakan mereka tidak mempunyai anak lagi.


“Bu, hidup dan mati sudah kehendak yang kuasa. Kita juga tidak akan tahu kapan semua akan mati. Semua orang juga akan mengalami hal itu, kita hanya tinggal menunggu giliran. Tapi Bu, suami saya hanya seorang dokter. Dia hanya sebuah perantara, masalah kesembuhan tetap ada di tangan Tuhan.” Alana berkata dengan lembut menepuk pundak ibu itu.


“Saya turut berduka cita. Saya juga minta maaf karena suami saya telah gagal. Namun, bukan berarti semua itu sia-sia. Percayalah Bu, anak itu sudah tidak merasakan sakit lagi. Tuhan lebih menyayanginya,” lanjut Alena.


Ibu itu tertunduk menangis, lalu menatap ke arah Alena.


“Akan ada hikmah di balik sebuah musibah yang terjadi.”


Ibu itu mengangguk. “Saya mengerti. Saya minta maaf. Karena secara tidak sengaja saya telah menyalahkan takdir, dan juga Pak Dokter.”


Alena mengangguk, dan tak ia sangka perempuan setengah baya itu justru memeluk dirinya. Alena pun membalasnya. Masalah selesai, jenazah pasien juga akan di mandikan, lalu di antar pulang ke rumah duka. Agar segala proses pemakaman secepatnya bisa diatur.


🦋🦋🦋


Dokter Ryan memijat kepalanya yang terasa pening begitu masuk ke dalam mobil. Ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi sebentar, juga memejamkan matanya.


“Masry pusing ya?” tanya Alena seraya mengusap pundak suaminya.


Ryan membuka matanya, lalu menoleh “Sedikit sayang. Kita pulang ya!”


“Gimana kalau aku aja yang nyetir,” tawar Alena.


“Ngapain? Aku masih bisa. Aku gak sakit loh, aku sehat.”


“Tapi, dari semalem Masry itu belum tidur. Aku cuma gak mau aja Masry kelelahan, karena Masry itu pasti ngantuk.”


Ryan tersenyum tipis, mengusap pucuk kepala istrinya. “Gak sayang. Sampai rumah nanti tidur. Soalnya, memang udah jadwalnya pulang.”


Setelah itu Ryan memacu mobilnya meninggalkan area rumah sakit. Sepanjang jalan Alena terus mengajaknya ngobrol, agar suaminya tidak mengantuk, selain itu ia sengaja agar sang suami melupakan kejadian tadi.


“Sayang, sebelum masuk komplek. Apa ada makanan yang kamu inginkan?” tawar Alena.


“Enggak Masry.” Alena tak menginginkan apapun saat ini. Ia hanya ingin secepatnya sampai rumah, lalu memberitahukan tentang hasil USG tadi.


“Yakin?”


“Hemm...”


“Biasanya suka rujak,” kata Ryan heran.


“Sekarang lagi gak suka.”


“Terus sukanya apa?”


“Cium Masry!” Alena melototkan kedua matanya begitu menyadari kata-katanya. Ia menepuk bibirnya, sementara Ryan justru tertawa.


“Kenapa ditepuk bibirnya?” tanya Ryan pada istrinya. “Minta dicium sekarang ni?” sambungnya.


Alena melotot, menepuk lengan sang suami. “Dasar mesum!" celetuknya dengan wajah merona.


Ryan justru tersenyum, lalu mengusap perut istrinya. “Dia tidak rewel kan?"


Alena menggeleng. “Enggak Masry. Dia pengertian.”


“Hemm... Kaya Papinya berarti.” Ryan kembali fokus pada kemudinya. Perlahan mobilnya sudah memasuki komplek perumahan elit.


“Iya, semuanya aja kaya Masry,” seloroh Alena membuat Ryan tergelak. Mobil memasuki pekarangan rumah, setelah pintu gerbang dibuka oleh satpam.


🦋🦋


Alena tengah merapikan pakaian sang di lemari, setelah sebelumnya ia juga sudah menyiapkan pakaian ganti Ryan yang tengah membersihkan diri. Sebenarnya, ada pelayan yang bisa merapikannya. Hanya saja Alena memang kurang menyukai ada orang yang masuk ke dalam kamarnya selain keluarga. Jadi, ia memang selalu merapikan pakaian dan kamarnya sendiri. Apalagi ia memang tidak mempunyai kegiatan apa-apa.


Alena menduga sang suami sudah keluar dari kamarnya. Karena ia bisa mencium aroma sabun dan shampo nya. Namun, ia berusaha tetap fokus menyelesaikan aktivitasnya.


“Sayang, pakaian aku.”


“Di atas ranjang, masry.” Alena menjawab tanpa menoleh. Sebenarnya, ia memang sengaja. Karena ia tahu suaminya itu pasti keluar hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya. Lalu, memperlihatkan otot-otot perutnya yang tampak menggugah iman.


Kalau udah lihat yang seperti itu. Mana bisa Alena menahan diri untuk tak menggoda sang suami. Ia ingat suaminya itu harus segera istirahat, karena saat dalam perjalanan tadi, Ryan mengeluh pusing.


“Kok gak noleh sih.” Alena tersentak saat tiba-tiba sang suami justru memeluknya dari belakang. Ia menelan ludahnya, kala bisa merasakan kulit polos sang suami di punggungnya, yang kini terhalang pakaian dirinya. Alena menduga Ryan belum memakai baju.


“Eh... Kok belum pakai baju?” tanya Alena gugup. Ia berusaha fokus pada aktivitasnya, meski berkali-kali ia merasakan jantungnya berdegup kencang. Beberapa hari belakangan, Ryan memang selalu sibuk, hingga tidak ada waktu keduanya untuk berdua.


“Nanti saja,” sahut Ryan seraya mengencangkan dekapannya.


“Nanti jadi masuk angin. Udah dipakai bajunya. Aku biar ke bawah, ambilin Masry makan. Masry pasti lapar kan,” ujar Alena.


“Hem... Iya lapar. Tapi, yang lain.”


“Oh iya. Tenang saja, tadi Bibi masak menu baru kok.”


Ryan menghela nafasnya, sedikit kesal karena istrinya itu tidak peka. Mungkin Alena hanya akan tahu, kalau sudah di gas.


“Mas kangen sayang,” ucapnya seraya mengusap-usap perut istrinya, menciumi leher jenjangnya, juga mengigit kecil bibirnya. Hal itu membuat tubuh Alena meremang.


“Masry katanya mau istirahat,” kata Alena seraya berusaha menahan de sa hannya.


“Iya nanti!” Ryan membalikkan tubuh istrinya, hingga posisinya kini saling berhadapan. Tanpa di sangka lelaki itu langsung mencium bibir istrinya. Sedikit memaksa Alena untuk membuka bibirnya, hingga memudahkan ia mengeksplor isi bibir ranum perempuan itu. Kemudian lidah keduanya saling mem be lot men ce cap. Alena merasakan ciuman sang suami semakin menggila, hingga dirinya pun mulai termakan gairah. Alena menyusuri perut kotak suaminya. Sentuhan lembut tangan mungil istrinya pun membuat Ryan semakin bergairah. Tangan lelaki itu mulai menjangkau untuk melucuti satu persatu pakaian Alena.


Sementara, Alena pun melakukan hal yang sama, ia mulai mengusap-usap pinggang sang suami. Pelan ia membuka handuk yang melilit di pinggang Ryan. Hingga akhirnya tubuh keduanya kini sudah sama-sama polos. Ryan tetap men cum Bu istrinya dengan lidahnya. Sementara tangannya bergerak untuk me re mas kedua bukit kembar istrinya yang semakin terlihat menantang. Membuat Alena me nge rang, men de sah memanggil namanya.


Perempuan itu juga tak kalah liarnya dari sang suami. Ia memainkan jarum suntik milik sang suami yang sejak tadi sudah berdiri tegak dengan sempurna.


”Emm.. Mm–masry,” kata Alena men de sah bak cacing kepanasan. Kala salah satu jari suaminya kini justru bermain di area bawah sana.


“Iya sayang. Enak?" seru Ryan dengan suara serak.


“I–iya!" Tak Alena pungkiri, jika dirinya pun merindukan sentuhan lembut sang suami.


”Mau lebih?” tawar Ryan. Lucunya Alena mengangguk antusias. Hingga membuat Ryan menghentikan mengeluarkan jarinya dari lembah bawah sana. Tanpa di sangka lelaki itu langsung menggendong Alena. Sementara Alena, langsung melingkarkan kedua tangannya di pundak sang suami.


Pelan, Ryan membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Mengukung tubuh istrinya, dengan kedua tangannya yang bertumpu di samping. Bibirnya terus bergerak mengecup, men ci um, memberikan kepuasan pada istrinya.


“Mm–masry....” desah Alena sedikit merengek. Saat ia merasakan ada sesuatu yang ingin meledak dalam dirinya. Namun, ia belum merasa puas, sebab masih ada hal yang lebih dari sekedar cum bu an yang ia inginkan.


”Hemm...”


“Masukin!” pinta Alana.


Namun, Ryan masih ingin merasakan sensasi lainnya. Ia ingin melakukan pemanasan yang lebih, sebelum menuju inti permainannya.


Alena merasa geram, saat permintaannya tak kunjung di kabulkan oleh sang suami. Dan dengan cepat, Alena mendorong tubuh sang suami hingga posisinya kini menjadi terbalik.


“Sayang!” pekik Ryan melihat tiba-tiba istrinya sudah duduk di atas tubuhnya.


“Masry itu lama. Aku sudah kepengen dari tadi,” kata Alena.


Ryan semakin terkejut, tak menyangka istrinya bisa begitu agresif. Bahkan dengan cepat Alena sudah memasukan sendiri harum suntik miliknya. Hingga kedua kini saling me le guh menggapai puncak nirwana. Berbagi keringat dan kenikmatan surga dunia. Ryan berkali-kali meminta istrinya untuk pelan-pelan. Bukan karena ia tidak suka istrinya bersikap agresif, hanya saja ia juga harus ingat kalau istrinya tengah mengandung. Tentu ia tidak ingin sesuatu terjadi lada calon buah hatinya.