Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Malam Panas



Pastikan kamu sudah memiliki KTP saat membaca part ini. Bocil harap minggir😂😂


🦋🦋


Rena begitu menikmati makan malam romantis dengan sang suami. Jujur saja ia merasa terharu, ternyata Alby bisa seromantis itu. Ia menikmati makan malamnya hingga tandas.


“Enak sekali makanannya, bang.” Rena mengusap perutnya yang kenyang setelah makanan di atas piringnya tandas.


“Kamu suka?”


Rena mengangguk antusias.


“Besok kapan-kapan kita kesini lagi.” sambung Alby yang belum juga selesai makan.


“Aku ke kamar mandi dulu ya, bang.” Rena beranjak dari tempat duduknya.


“Iya sayang.”


Membiarkan sang istri masuk ke dalam. Alby menyelesaikan makannya.


Rena mengambil tas miliknya, membukanya lalu mengambil sehelai pakaian lingerie yang sengaja ia bawa dari rumah. Tersenyum tipis ia pun berlalu masuk ke kamar mandi membawa pakaian dan alat make upnya. Semua memang sudah Rena persiapkan demi menyenangkan suaminya.


Usai makanannya tandas, Alby pun langsung masuk ke dalam kamarnya. Ia juga menutup pintu balkonnya. Matanya mencari istrinya, tapi tak ditemukan. Ia pikir Rena masih di kamar mandi.


Lama sekali? mungkinkah dia tengah buang air besar?


Lelaki itu pun memilih merangkak naik ke atas ranjang. Bukan untuk tiduran, ia lebih memilih bersandar pada sandaran ranjang.


Ceklek!


Pintu kamar mandi terbuka. Alby langsung menoleh, matanya terbelalak begitu melihat penampilan istrinya.


“Sayang, kamu....”


“Hai Abang sayang,” balas Rena tersenyum genit bak perempuan penggoda. Alby tertawa kecil, ia tahu apa yang istrinya lakukan itu untuk menggoda dirinya, hanya saja Rena sama sekali tidak luwes menjadi perempuan penggoda. Namun, It's okay lah, Alby menyukai segala sesuatu yang ada dalam diri istrinya.


Diam di atas ranjang, Alby membiarkan istrinya melangkah ke arahnya dengan gaya menggoda, penuh sen su al.


Tak di sangka Rena langsung merangkak naik ke atas ranjang, lalu duduk tepat di depan sang suami. Tentunya dengan pose yang sangat menggoda.


“Gimana Abang senang gak?” tanya Rena dengan mengedipkan matanya genit. Lagi hal itu membuat Alby melongo.


Perasaan Alby campur aduk ada rasa senang, panas, menjadi satu. “Belum,” jawabnya.


“Lha kok?”


“Abang lebih senang kalau kamu gak pakai apa-apa, terus Abang masukin kamu, terus kamu terus men de sah di bawah kungkungan Abang, sambil berteriak memanggil nama Abang,” sahut Alby.


Rena menepuk dada suaminya pelan, bahkan ia bisa merasakan sesuatu tonjolan yang kerasa di antara kedua paha suaminya. “Dasar Pak Dosen mesum!” celetuk Rena.


“Kalau gitu akan Abang tunjukkan seberapa mesumnya diriku, sayang.” Alby langsung menggerakkan tangannya, untuk meremas kedua bukit kembar istrinya yang terlihat menantang, meski masih tertutup kain tipis berwarna merah menyala itu.


“Emm... A.. ah bang.” de sah Rena.


“Gimana? Enak kan sayang?” tanya Alby menggoda menghentikan permainan tangannya.


Rena berdecak. “Abang lama. Aku udah pengen, dan nanti keburu Alka rewel. Kita tidak punya waktu banyak.”


“Sayang.” Alby terkejut melihat istrinya justru membuka kancing kemejanya. “Kalau Abang yang pimpin lama pemanasan nya kaya waktu di kamar mandi, jadi waktunya keburu habis. Jadi, sekarang biar aku saja yang pimpin,” sambungnya.


Alby tertawa kecil. “Hemm baiklah terserah kamu mau bagaimana,” jawab Alby pasrah. Menurut sah mana kala sang istri melucuti satu persatu pakaiannya. Sementara kedua tangan dirinya pun tak mau diam, mana kala bisa menjangkau apa saja yang bisa ia jangkau.


“Ini sayang. Kamu kesannya kaya lagi kena obat perangsang sih maunya buru-buru. Padahal enaknya tuh pelan-pelan.” Alby membuka pakaian bawahnya, hingga kini dirinya benar-benar sudah dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun.


“Gak perlu obat perangsang. Aku juga udah terangsang lihat Abang begini.” Rena mulai memegang tonjolan sang suami yang tampak sudah berdiri tegak sejak tadi. Memijat, me re mas dengan gerakan sen sual.


Sementara, bibirnya masih saling terpaut dengan suaminya. Menciptakan decapan lidah yang menggema di kamar hotel itu. Tangan mungil istrinya yang bergerak di bawah sana, membuat tubuh Alby terasa tak karuan. Istrinya yang dua bulan lalu baru melahirkan, ternyata sekarang sangat ahli dalam urusan ranjang. Kalau seperti ini, Alby tak akan menyesal menyewa kamar mewah hotel bintang lima. Jika disuruh memilih setiap hari pun mau.


Srettt!!


Rena terbelalak, begitu gaun lingerie miliknya di robek oleh sang suami. “Abang tuh kebiasaan banget di robek,” omel Rena.


“Sayang, gaun itu diciptakan memang untuk di robek,” jawab Alby.


Rena bersungut. “Tapi aku udah gak ada lagi di rumah loh, Bang.”


“Besok Abang belikan seratus biji.”


“Dasar sombong!”


“Udahlah sayang, jangan debat terus. Abang udah gak kuat, masukin ya,” pinta Alby dengan suara serak.


Rena mengangguk. Masih dengan posisi di atas tubuh sang suami, Rena membuka pahanya, memegang benda pusaka suaminya. Pelan menuntunnya masuk.


Rena mengernyit mana kala merasa sedikit kesusahan, karena sudah dua bulan lembah miliknya tak dikunjungi.


“Biar Abang saja.” Alby mengambil alih permainan. Menggulingkan tubuh istrinya ke samping. Dan ia mulai memasukkan benda miliknya ke dalam. Awalnya memang terasa susah, hingga beberapa saat Rena terbelalak mana kala sang suami berhasil memasukkan miliknya, dalam satu kali hentakkan.


“Bang–”


“Sakit?”


Rena menggeleng. “Tidak. Cuma kaget,’ sahutnya.


“Dah enakan? Boleh gerak?” tanya Alby meminta ijin suaminya.


“Iya bang!”


Begitu mendapatkan ijin dari istrinya. Alby langsung menggerakkan tangannya pinggulnya. Menciptakan suasana yang kian panas, hingga di kamar itu hanya terdengar, era Ngan, de sa han saling menyebut nama masing-masing. Percayalah jika hal itu mereka lakukan di kamar, sementara Alka tengah tidur. Bayi kecil itu pasti akan terbangun akibat Aluna merdu yang kedua orang tuanya ciptakan.


Alby membungkukkan badannya, mencium bibir istrinya, sementara tangannya bergerak me re mas da da sintal istrinya, yang terlihat menantang. “Sayang, ASI-nya keluar,” ujar Alby begitu melihat tangannya basah. Ia tertawa kecil.


“Abang... Ih!”


Alby menatap da da istrinya, membuat Rena merona. “Alka, sekarang pabriknya Ayah ambil alih dulu ya.”


Rena terbelalak, mana kala dengan cepat mulut sang suami telah mengulum pabrik asi putranya. “Abang emmm...ah.”


Rena meremas rambut Alby, kedua matanya terpejam menikmati sensasi geli sekaligus nikmat.


Beberapa saat kemudian, Alby melepas bibirnya. Dan kembali fokus pada permainan bawahnya. Ia semakin menghentakkan nya semakin kuat dan cepat.


Rena meremas bantalnya di sisinya, mana kala ia hampir sampai pada puncak titik kenikmatan. “Bang... A–aku...”


“Bareng sayang.” Alby menggerakan pinggulnya semakin cepat. Hingga beberapa saat kemudian ia merasa sesuatu dalam dirinya meledak. Keduanya saling beteriak memanggil nama pasangannya. Lalu, tubuh Alby ambruk di atas tubuh istrinya. “Makasih sayang.”


Mengecup pelan kening istrinya, Alby menggulingkan tubuhnya ke samping Rena. Keduanya saling mengatur nafas yang memburu. Bahkan tubuhnya terlihat mengkilap akibat keringat yang membanjiri.


“Bang, aku tak mandi, terus kita pu emmh....”


Rena terkejut saat sang suami kembali mencium bibirnya. “Jangan pulang dulu. Abang belum puas kalau hanya sat kali.” Alby langsung mengukung kembali tubuh istrinya, memulai permainan lagi.