
"Rena!"
Rena menghentikan langkahnya, dan kembali menoleh ke belakang. Ia terperanjat ketika melihat Miranda turun dari ranjang membawa pisau, tak lupa melepaskan selang infus di tangannya secara paksa, membuat darah segar tampak mengalir di pergelangan tangannya. Kini wajah Rena memucat, otaknya langsung menjurus ke hal negatif. Pesan terakhir suaminya kembali terlintas. Ia ingin bergerak dan berlari, namun kakinya seolah memaksa dirinya untuk berada di sana.
Sesaat kemudian, ketakutannya berganti rasa terkejut. Saat Miranda menghampiri dirinya, lalu duduk bersimpuh di depan kakinya.
"Bunuh aku!" Miranda memberikan pisau yang semula di tangannya pada Rena. Perempuan itu menatap wajah istri dari mantan suaminya penuh harap, dan keputusasaan. Rena terdiam dalam keadaan terkejut, dan berganti dengan wajah bingung.
"Kenapa aku harus melakukannya? Kenapa aku harus membunuhmu?" tanya Rena.
"Karena aku tak pantas untuk hidup Rena." Kedua mata Miranda terlihat berkaca-kaca.
"Aku bukan dirimu," ujar Rena.
"Aku tau. Tapi, aku ingin mati saja."
"Baik!" Rena mengambil alih pisau itu dari tangan Miranda. Kemudian ia bersiap melayangkan pisau itu pada Miranda.
Miranda memejamkan kedua matanya, bayangan kematian tampak jelas di matanya. Sedikit lagi ia akan mati, namun detik berikutnya bayangannya berubah menampilkan wajah kedua anaknya yang sama sekali tak berdosa. Miranda menangis, mengingat segala kejahatannya pada Misel. Sementara ia pun teringat pada Agatha, putrinya yang tengah berjuang melawan penyakitnya.
Kluntang!
Rena melemparkan pisau itu jauh darinya. Membuat kedua mata Miranda kedua terbuka.
"Aku tidak menginginkan kematian mu!" ujar Rena. Perempuan itu pun menekuk kakinya, mensejajarkan dirinya dengan Miranda.
"Bukankah kita bisa menjadi ibu yang baik bagi Misel?" tambahnya kemudian.
"Rena?"
Rena menggeleng, lalu memberanikan diri memeluk Miranda. "Cukup Mbak. Jangan lakukan kebodohan apapun lagi. Tuhan masih memberikan kesempatan untukmu berubah, jadi lakukanlah."
Miranda menitikkan air matanya, ia mulai terisak dan membalas pelukan Rena.
"Maafkan aku! Maafkan aku yang begitu egois ini," ujar Miranda dengan air mata yang mengalir deras. Perempuan itu terus terisak. Di detik ini ia menyesali segala perbuatannya, setelah apa yang ia lewati. Berada dalam penjara, dengan siksaan dari tahanan yang lain, tanpa dukungan keluarga, membuat Miranda mengerti bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga. Kesombongannya pun lenyap.
"Aku sudah memaafkan mu mbak. Tapi, Misel-" Rena tak lagi melanjutkan ucapannya. Bersamaan dengan itu pintu ruangan itu terbuka dengan keras.
Brak!!
"Rena?" Panggil Alby yang tiba-tiba muncul dengan wajah penuh kekhawatiran. Di belakangnya tampak polisi yang berjaga di depan pintu tadi, pun ikut masuk.
Melihat istrinya tengah berada di lantai, dengan posisi sedekat itu dengan Miranda. Alby meradang langsung menarik tubuh istrinya, kemudian tangannya beralih mendorong Miranda. "Berani sekali kau menyentuh istriku!" sentak Alby.
"Bang?" Rena yang posisinya di belakang tubuh sang suami berusaha menjelaskan apa yang terjadi. Sementara Miranda hanya meringis karena Alby mendorong tubuhnya dengan kuat.
"Diam Re. Biar Abang beri pelajaran pada perempuan jahat ini!" sentak Alby.
Rena menggeleng. "Abang salah paham. Dengarkan Rena dulu bang?" pintanya.
Alby tak mengindahkan ucapan istrinya, ia langsung menekuk kedua kakinya, menatap tajam ke arah Miranda. "Sudah ku katakan berani kau menyentuh keluargaku. Maka aku akan membuat dirinya menyesal Miranda. Dan apa yang aku lihat barusan, kau berniat ingin mencelakai istriku kan?"
Miranda menggeleng. "Tidak Al!"
"Itu benar bang. Mbak Miranda hanya memelukku, dan meminta maaf." Rena segera menyela pembicaraan keduanya. Ia tak ingin suaminya bertindak gegabah.
Alby menggeleng. "Tidak Re. Perempuan iblis seperti dia meminta maaf? Itu mustahil!" Alby bangkit menatap istrinya dengan tatapan tak percaya. Ucapan Alby memukul telak Miranda, perempuan itu terdiam. Menyadari betapa jahatnya dia, bahkan meski ia sudah mau merubah orang pun tak percaya.
"Itu benar bang! Rena tidak bohong. Bukankah manusia bisa berubah kapan saja. Mbak Miranda mengakui kesalahannya."
Alby tertawa kecil mendengarnya. Lalu menoleh ke arah kedua polisi. "Tangkap dia pak. Masukan kembali saja ke penjara. Saya khawatir bila tiba-tiba ia kembali berbuat kejahatan!"
Kedua polisi itu bersiap untuk melakukan perintah Alby. Rena bergerak menghadangnya. "Jangan!"
Alby terkejut akan tindakan istrinya. "Bang, Rena mohon. Mbak Miranda masih sakit. Biarkan ia di rawat sampai sehat lebih dulu," pintanya.
"Kamu sadar apa yang kamu lakukan, Re? Kamu tengah melindungi orang jahat Re. Dia itu tidak pantas untuk kau lindungi. Tempatnya dia memang di penjara, untuk apa kau kasihani!" Alby berteriak marah.
Miranda menekuk kedua kakinya, menangis tergugu mendengar ucapan Alby yang begitu lantang. Ia merasa tak berdaya untuk menyangkal, karena semua yang Alby ucapkan benar adanya.
"Dia ibunya Misel bang," sahut Rena lirih.
"Ibu yang jahat! Misel tak membutuhkannya."
Rena menggeleng. "Kamu yakin bang putrimu tidak membutuhkannya?" tanya Rena dengan penuh tekanan.
Alby terdiam tak mengerti maksud pertanyaan istrinya.
"Kamu salah. Aku tiap malam bahkan tau, putri kecilmu itu kerap diam-diam menangis, menatap foto ibu kandungnya. Dia merindukannya bang."
Alby terkejut mendengarnya, sementara Miranda tetap terisak.
"Tidak mungkin! Dia sudah bahagia bersama kamu Re. Dia memiliki kamu!"
"Tapi ikatan darahnya tetap mengalir di tubuhnya. Aku hanya ibu sambung baginya, aku tidak mengandung dan melahirkannya. Sebesar apapun kasih sayangku, tak akan pernah bisa menggantikan posisi ibu kandungnya," ujar Rena dengan mata berkaca-kaca.
Alby menggelengkan kepalanya masih tak percaya. "Aku tak percaya!"
"Al?" Miranda memberanikan diri untuk bersuara.
"Diam! Aku tidak ingin mendengarkan ucapanmu!" sergah Alby marah menatap perempuan itu dengan tajam. "Hanya karena ucapan istriku, kau menjadi besar kepala. Jangan harap, karena aku tak percaya."
Rena menghela nafasnya, suaminya begitu kerasa kepala ternyata.
"Al, aku minta maaf. Aku ngaku salah. Maafkan perbuatanku, Al. Aku janji akan berubah. Aku menyesal Al, sungguh," ujar Miranda berusaha bangkit menghampiri Alby, dan bersimpuh di kakinya.
Alby memundurkan tubuhnya, menjauhi Miranda.
"Aku mohon bebaskan aku dari penjara Al!" pintanya kemudian.
"Apa maksudmu? Jangan bermimpi. Kau ingin bebas, dan membuat kekacauan lagi? Jangan harap!" sarkas Alby.
Miranda menggeleng dengan kuat. "Tidak Al. Aku berjanji tidak akan mengusik kehidupan kalian lagi. Aku percaya Misel sudah bahagia bersama kalian. Tapi... Agatha. Putriku-"
Miranda menangis tergugu. "Aku hanya ingin kembali ke luar negeri Al. Melihat keadaan putriku. Dia di sana sedang sakit Al. Aku ingin menemaninya berjuang, tolong biarkan aku pergi. Aku tak ingin menyesal untuk yang kedua kali, karena telah menyia-nyiakan kehadiran anak Al. Aku janji aku tidak akan mengusik kalian. Tidak akan menemui Misel!" pinta Miranda membayangkan putrinya di sana terbaring sakit membuat dadanya sesak.