Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Mabuk Belut... Kasur



Miko kembali dengan wajah yang pucat, ia langsung merebahkan dirinya di ranjang lalu meringkuk, seperti seorang yang mengalami demam.


“Sayang, apa yang terjadi?” tanya Miranda panik, menepuk-nepuk tangan suaminya pelan.


Miko hanya menggelengkan kepalanya tanpa suara. Hal itu membuat Miranda begitu merasa panik.


“Aku harus apa?” paniknya. Melihat ponselnya di atas nakas, ia mencoba menghubungi seseorang yang bisa dihubungi. Miranda lebih memilih menelpon Irawan.


“Hallo?” suara di balik telpon terdengar serak khas orang bangun tidur.


“Papa, Miko muntah-muntah. Wajahnya pucat, badannya dingin. Ini kenapa ya Pa?” cecar Miranda dengan beruntun.


Terdengar helaan nafas di balik telpon. “Mungkin mabuk belut.”


Miranda menganga mendengarnya. “Mabuk belut?”


“Iya Miranda. Sejak kecil Miko kan tidak pernah makan binatang itu. Mungkin saja dia alergi. Kamu bisa hubungi dokter untuk memeriksa keadaannya.”


Setelahnya, Miranda menutup ponselnya. Lalu menatap ke arah suaminya.


“Ya Tuhan....” Miranda mulai menangis kala mencoba mengguncang tubuh suaminya. Namun, Miko tetap memejamkan matanya. “Sayang...” Miranda semakin merasa panik saat suaminya tak kunjung bangun, ia menangis dan memeluk Miko.


“Sayang... Aku minta maaf. Aku sudah keterlaluan. Bangun sayang, ku mohon.” Miranda semakin terisak sambil memeluk erat suaminya. Perlahan kedua mata Miko terbuka. Berbekal pengalamannya ketika menonton sinetron ketika sang pemeran tengah pingsan lalu sadar setelah beberapa kali di tepuk pipinya oleh sang pasangan. Akhirnya, ia mempraktekkannya kini. Terlihat Miranda begitu percaya kalau dirinya tadi pingsan, padahal semua itu hanya sandiwara belaka. Miko memang muntah-muntah karena mengingat binatang yang ia makan tadi. Tapi bukan berarti ia sampai pingsan karena alergi. Tak ada alergi apapun dalam dirinya.


“Sayang, kamu kenapa? Ya Tuhan... Maafkan aku sayang.”


Miko mengenyit berpura-pura meringis sakit, lalu menepuk dadanya.


“Di sini sesak, sayang.”


Miranda semakin terkejut mendengarnya, ia sungguh menyesal telah meminta sang suami makan belut. Harusnya ia sadar, seorang seperti Miko mana pernah makan belut.


“Aku... Aku akan panggil dokter ya sayang.”


“Jangan sayang. Nanti juga sembuh sendiri!" tolak Miko.


Miranda kekeh menggeleng. “Tidak sayang. Aku khawatir kalau kamu kenapa-napa,” kekehnya seraya berusaha mencari ponselnya yang ia letakkan secara sembarang tadi usai menelpon Papa mertuanya.


Miko dengan cepat menangkap tangan istrinya, lalu membawanya ke dada. “Kamu usapin aja ya sayang, nanti juga sembuh,” pintanya sambil menggerakkan tangan istrinya untuk mengelus dadanya. Miranda hanya diam pasrah. Cukup lama keduanya dalam posisi seperti itu, hingga ia sendiri merasa salah tingkah karena Miko menatap wajahnya begitu intens. Detik berikutnya ia terbelalak, kala sang suami terus membawa tangannya ke bawah, mengusap perutnya terus ke bawah menuju milik suaminya. Ia sadar apa yang ada dalam otak suaminya kini, ia dengan cepat hendak menarik tangannya. Namun, Miko kembali menahannya.


“Aku kangen sayang,” bisiknya tepat di teling istrinya. Ia mulai melabuhkan ujung hidungnya di pipi istrinya, menghirup aroma istrinya, yang selalu ia rindukan. Miranda mendorong dada suaminya ketika Miko mencium ujung bibirnya.


“Aku akan buatkan kamu teh hangat. Kami tiduranlah.” Miranda beranjak bangun. Namun, Miko pun melakukan hal yang sama. Ia menahan langkah istrinya, memeluknya dari belakang.


“Tidak perlu sayang,” bisiknya lagi.


“Aku sudah sering lihat, kenapa mesti malu,” bisik Miko parau. Meski perutnya nampak mulai membuncit namun bagi Miko istrinya tetap cantik dan seksi seperti sedia kala. Tidak ada yang berubah hanya bagian dada yang sedikit lebih berisi dan perutnya yang membuncit.


“Kata Dokter kan kita belum boleh–”


Ssstt! Miko meletakkan jari telunjuknya di bibir istrinya, memintanya untuk diam. “It's okay. Dokter hanya melarang aku menyentuhmu secara kasar. Tenang, malam ini kita bermain secara lembut sayang,” ujar menggiring dan merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang, lalu mengukungnya.


“Aku sebenarnya paham keinginan kamu itu sayang. Kenapa kamu justru meminta aku yang memakan belut hadil tangkapan ku itu,” ujar Miko begitu berada di atas tubuh istrinya.


“Paham bagaimana?” sahut Miranda tak mengerti.


“Iya ngidam kamu itu aneh sayang. Kamu itu sebenarnya bukan pengen belut sawah. Tapi belut ini kan....”


Miranda melotot ketika melihat suaminya mulai meluruhkan celananya.


“Sayang?” protes Miranda. Namun, secepat itu Miko membungkam bibirnya. Membuatnya larut dalam permainan bibir yang memabukkan.


Miranda mulai melingkarkan tangannya di leher sang suami. Sementara Miko mulai membuka pengait bra nya. Ciuman terlepas data keduanya merasakan hampir kehabisan oksigen.


Miko tersenyum di sela-sela ia menarik nafas. Sambil menyentuh sesuatu yang lembut membuat Miranda membusungkan dadanya. Hal itu tentu tak membuat Miko menyia-nyiakan kesempatan. Keduanya larut dalam permainan yang memabukkan itu. Miko menepati ucapannya menyentuh Miranda secara lembut, layaknya sebuah kaca yang tak boleh tergores sedikitpun.


****


Pagi hari sebelum berangkat ke kantor Irawan menyempatkan untuk ke rumah putranya, memastikan keadaan Miko semalam yang mabuk belut. Namun, baru saja ia tiba di depan pintu tampak putranya itu keluar dari dalam rumah dengan wajah yang fresh, senyum terpancar bahagia. Tidak ada pandangan wajah pucat seperti apa yang di katakan menantunya semalam.


Hanya saja ada yang aneh, melihat tingkah putranya yang pagi-pagi berangkat ke kantor menggunakan syal.


“Itu leher kenapa di tutupi pake syal?” tanya Irawan.


“Papa, ini tuh em...”


“Kamu katanya semalem muntah-muntah, mabuk belut. Emangnya benar begitu?” cecar Irawan.


“Nah itu Pa. Makanya sekarang pake syal, buat nutupin bercak merah karena belut.”


Irawan menggelengkan kepalanya. “Kamu pikir Papa ini bodoh, belut apa yang kamu maksud buat leher kamu merah-merah. Bukan belut sawah....” sergah Irawan memandang putranya yang cengengesan. “Tapi belut kasur!” sambungnya. Membuat Miko melongo pasalnya ucapan Papanya membuat orang-orang yang lewat depan rumahnya menjadi menoleh ke arahnya.


“Papa malu-maluin lah ngomong keras begitu,” keluh Miko kesal.


“Kamu yang gak sopan. Kurang ajar, buat Papa hampir jantungan aja gara-gara semalem Miranda nelpon dengan suara panik. Papa terus panggil dokter. Buat bawa ke rumahnya. Sampai di kamar baru mau ngetuk pintu, tau sendirilah akhirnya..”


Miko melongo salah tingkah. “Itu semalem sebenarnya...”


“Awas saja kalau cucu papa kenapa-napa. Belut kamu Papa cincang!” ancamnya reflek Miko menutupi miliknya.