
Setelah tiga hari mengambil cuti, hari ini Ryan kembali bekerja. Kini keduanya sudah tinggal di rumah Elena.
"Kenapa lihatin Mas begitu? Masih kurang yang semalem?" tanya Ryan menggoda Alena yang tengah duduk di pinggir ranjang.
"Mana ada. Itu mah Masry yang kurang," sahut Alena mencebik. Karena memang benar adanya, hampir tiap malam lelaki itu tak bisa membiarkan dirinya tidur dengan lelap. Ada saja alasannya agar bisa melakukan adegan suntik-suntikan. Katanya biar istrinya itu semakin pro dan sehat.
Ryan terkekeh, sambil menggulung lengan kemejanya, lelaki itu melangkah mendekati istrinya. Kemudian membungkukkan sedikit badannya, lalu mengecup pipi istrinya.
"Tuh kan, baru di bilang udah kecup-kecup aja," cetus Alena.
Cup! Cup!
Semakin Alena mengomel, Ryan justru semakin merasa gemas dan semakin banyak pula mendaratkan kecupan di wajah istrinya.
"Masry ihh!!"
"Orang disayang kok begitu," seru Ryan.
"Bukan begitu Mas Ryan sayang. Aku tuh dah rapi dah cantik, habis ini mau ke rumah Mama Ayu. Aku mau ambil boneka pisang aku," kata Alena.
"Gak usah diambil kenapa sih? Kan udah ada aku gulingnya," ujar Ryan karena ia tau kalau ada guling Alena pasti akan memeluk guling pisang itu. Padahal saat itu ia sengaja meninggalkan boneka pisang itu.
"Ihh, aku kan gak bisa tidur nyenyak kalau gak ada itu."
"Ck! Mana ada. Semalem nyenyak aja pas Mas peluk!" sangkal Ryan.
"Ihh!"
"Ya udah ambil, bawa ke sini. Tapi, nanti kalau ada guling itu kamu justru tidur meluk guling, Mas buang ya," ujar Ryan sambil tergelak kala menatap wajah istrinya cemberut kesal.
"Canda sayang. Ya udah ambil aja, apa sih yang gak buat kesayangannya Mas. Yang penting adegan suntik-suntikan harus rutin gak boleh di kurangin ya," kata Ryan kemudian.
"Ih Masry mah. Itu mulu yang diingat!"
"Iya dong sayang. Kan biar Mas semangat kerja, buat beli sebongkah berlian."
"Aku gak suka berlian, kemarin kan seserahan dari Mas kan juga udah banyak. Tapi, aku kurang suka. Di tukar sama boneka aja boleh gak Mas?"
Ryan menghela nafasnya. Perempuan itu biasanya suka perhiasan, ini istrinya justru menyukai boneka. Lama-lama kamar suaminya itu pasti akan penuh dengan boneka.
"Gak usah ditukar. Kalau mau beli aja, kamu tinggal ajak Mama, dia kan doyan shopping."
****
Keluar dari bandara, Miko sudah ditunggu oleh Yanto sang asisten. Begitu mobil melaju meninggalkan area bandara. Miko terus memainkan ponselnya berusaha menghubungi Miranda. Namun, hasilnya nihil sama sekali tidak ada jawaban. Ini bukan yang pertama Miranda bersikap seperti itu.
Tiga hari ini Miranda mengabaikan pesan dan telpon dirinya. Terakhir ia bertukar pesan hanyalah saat ia memberitahukan pertemuannya dengan Kevin di Bali. Setelah itu Miko tak pernah bisa menghubungi Miranda. Ia bahkan sampai tidak konsentrasi bekerja di sana.
"Sialan! Apa yang terjadi? Bisa-bisanya ia mengabaikan pesan dan telponku, beberapa hari ini!" sungut Miko dengan wajah memerah padam karena menahan marah.
"Yanti mampir ke butik kekasihku dulu ya!" titah Miko pada Yanto.
Yanto pun hanya mengangguk, meski rasanya ia kesal karena lagi-lagi atasannya itu mengganti namanya, tapi melihat atasannya seperti sedang menahan amarah, mana mungkin ia berani protes. Bisa-bisanya nanti dia di pecat, terus gak punya kerjaan, terus rencana menikah dengan Maimunah gagal dong.
Begitu tiba di depan butik Miranda. Miko langsung keluar dari mobilnya, melangkah cepat ke dalam, dan menghampiri Miranda tak peduli entah sedang apa kekasihnya itu.
"Miko kamu tidak lihat aku sedang apa?" decak Miranda tanpa berniat menjawab pertanyaan Miko, bahkan perempuan itu hanya menoleh sebentar.
Miko menatap arah pergerakan. Miranda, yang ternyata perempuan itu tengah mengukur badan seorang customer bahkan di sana pun terdapat seorang pria. Mungkinkah kekasihnya selama beberapa hari ini terlalu sibuk, hingga tidak ada waktu untuk membalas pesannya. Baiklah ia akan mencoba berfikir positif.
"Baiklah, aku akan kembali nanti sore. Kau harus menungguku, kita perlu bicara," kata Miko seraya berlalu pergi.
Miranda menatap sendu kepergian Miko.
"Apa dia kekasihmu, Nona?" tanya perempuan yang tengah diukur tubuhnya oleh Miranda.
Miranda menggeleng dengan cepat. "Bukan!" sanggahnya.
"Well, aku mendengar dia memanggilmu sayang, itu artinya ada hubungan spesial di antara kalian."
"Alana sayang, please jangan terlalu ikut campur urusan orang lain," timpal Dave, membuat perempuan itu tertawa kecil, kemudian minta maaf pada Miranda.
Miranda hanya mengangguk tidak mempermasalahkan itu semua. Kemudian melanjutkan mengukur tubuh Alana.
Kali ini Miranda memilih menutup butiknya dengan cepat dari biasanya. Entah kenapa suasana hatinya sedang memburuk.
"Eva, kunci kamu bawa ya. Takutnya besok aku kesiangan!" titahnya pada karyawannya.
"Baik mbak!"
Setelahnya, Miranda segera berlalu ke motornya. Melajukan motornya menuju rumahnya. Namun, di tengah jalan tiba-tiba motornya itu mogok, hingga membuat ia terpaksa mendorong motor miliknya itu menuju bengkel.
Tin! Tin!
Klakson sebuah mobil terdengar tepat di sisi Miranda. Perempuan itu menoleh dan mendapati mobil Miko.
"Sayang, motornya kenapa? Kok gak nunggu aku aja sih kalau mogok," ujar Miko seraya melambatkan laju mobilnya.
Miranda tetap diam, dan mempercepat langkah kakinya mendorong motor miliknya. Miko menghela nafasnya merasa ada yang tak beres dari perempuan itu. Bahkan sampai pusing memikirkan kesalahan apa yang telah ia buat, seingatnya ia tak melakukan kesalahan apapun.
Dengan rasa geram, Miko menghentikan mobilnya dengan posisi melintang sengaja untuk memutus jalan Miranda. Kemudian ia turun dari mobilnya, dan menutup pintu dengan kasar.
"Apa yang kau lakukan? Singkirkan mobilmu, aku mau lewat!" sergah Miranda marah.
"Sayang apa yang terjadi? Masuklah ke mobil, biar aku panggilkan montir untuk membenarkan motormu," bujuk Miko seraya mencoba memegang tangan Miranda. Namun, secepatnya perempuan itu justru menepis tangannya dengan kasar, hal itu membuat Miko terkejut.
"Sayang?"
"Jangan panggil aku sayang. Kau pikir siapa dirimu?" sarkas Miranda menatap tajam lelaki itu.
Miko terkejut mendengar kalimat yang keluar dari bibir perempuan yang ia cintai.
"Apa yang salah dengan panggilanku? Bukankah selama ini kita itu-"
"Hanya kau yang menganggap aku itu kekasihmu. Sedangkan aku, tidak pernah menganggap kamu itu kekasih!" potong Miranda dengan cepat.
Apa yang terjadi? Secepat itukah Miranda berubah, ia seperti bukan perempuan yang ia kenal selama ini.
Jalanan yang tampak lenggang, dengan lalu lintas dengan beberapa mobil yang lewat itu seketika menjadi panas. Di tengah keterkejutan Miko. Perempuan itu segera memundurkan motornya, menjauh dari posisi lelaki itu.