Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Demi Masa Depan



Dua Minggu sudah Miko berusaha mendekati hati Miranda. Namun, belum juga membuahkan hasil. Bahkan tak segan lelaki itu kerap mendatangi kontrakan milik Miranda, entah itu pagi, siang, atau malam. Yang pasti selalu datang meski hanya sesaat. Kerap kali Miranda merasa kesal dengan kedatangan lelaki itu pada saat malam hari.


"Tidak ada etika, bertamu ke rumah orang pada malam hari. Kau tau Mik, aku itu janda, apa kata tetangga, dan bagaimana kalau ada hansip yang tengah ronda terus menggerebek kita, mengira kita udah berbuat enggak-enggak!" omel Miranda.


"Baguslah, karena itu yang aku inginkan. Menikah denganmu, tidak masalah meski harus digerebek dulu," sahut Miko enteng.


"Sinting!" umpat Miranda.


Bukannya marah Miko justru tertawa. Kala itu Miko memang datang pada pukul sembilan malam, ia menyempatkan diri ke rumah Miranda demi memberikan oleh-oleh khas Malang yang sengaja ia beli untuk Miranda. Sekalipun hanya mendapatkan omelan Miranda, tapi lelaki itu tetap tersenyum bahkan tak jarang menggoda.


"Jangan ngomel-ngomel Mbak. Aku makin cinta lho," goda Miko.


Miranda tak habis pikir, apa yang salah dalam diri otak anak itu. Bahkan ia sudah terang-terangan menolak dirinya. Tapi tak juga membuatnya menyerah, kalau sudah begini haruskah Miranda menghilang dari muka bumi ini.


****


Selasa pukul delapan pagi, Miko sudah berada di kantornya. Sementara ia menduduki wakil Direktur, sambil berusaha memegang perusahaan itu. Sejak tadi ia hanya sibuk membolak-balik berkas yang berada di tangannya.


Rasanya ia hampir putus asa mengejar Miranda, yang kerap kali menghindari dirinya, hal itu membuat semangatnya pagi ini menghilang. Di otaknya tak terselip kerjaan, justru mencari cara untuk mendapatkan Miranda.


"Apa aku perkosa aja ya? Biar kaya di novel-novel itu, kan akhirnya jadi menikah meskipun awalnya terpaksa, nah dari rasa terpaksa itu nanti akhirnya jadi beneran," kata Miko pada diri sendiri. Namun, detik berikutnya ia menggelengkan kepalanya, mengenyahkan niat jeleknya itu. Tidak! Itu bukan laki-laki namanya, kalau mendapatkan sesuatu dengan cara yang licik.


Tiba-tiba terbesit sebuah jalan pintas yang lainnya. Mengambil kunci mobilnya ia keluar dari ruangannya. Di koridor menuju lift, ia berpapasan dengan Papanya.


"Mau ke mana, Mik?" tanya Irawan.


"Ad perlu Pa. Sebentar kok, ini penting demi masa depan!"


"Ingat jam sepuluh ada kunjungan ke toko kita, Papa udah minta tolong sama kamu. Jangan sampai kamu melupakannya," ujar Irawan.


"Iya Pa, santai aja. Ini masih jam delapan. Aku cuma butuh waktu tiga puluh menit," jawabnya seraya berlalu pergi. Irawan memandang kepergian putranya dengan penuh selidik, ia ingat tadi putranya sempat menyebutkan masa depan.


Pagi itu Alby masih menjalani rutinitas kerja seperti biasanya. Hingga tiba-tiba pintu ruangan di ketuk, Angel masuk memberitahukan bahwa ada tamu untuk dirinya. Alby merasa terkejut lantaran masih pagi sudah ada tamu. Namun, tak urung ia pun memintanya untuk membiarkan tamu itu masuk.


"Siang, Pak Alby?" sapa Miko begitu masuk ke ruangan Alby.


"Pagi! Kamu gak lihat jam apa?" sergah Alby.


Miko hanya cengengesan. "Oh ya Pagi. Soalnya di jam tangan saya udah pukul sebelas siang sih!" unjuk Miko pada jam tangan miliknya.


"Jam tangan mati masih dipake aja."


"Kok bapak tau sih! Habis gimana ya? Ini kan satu-satunya jam tangan yang aku sayangi. Karena ini kan pilihan mantan istri bapak waktu itu, biarpun sudah mati ya tetap saya pakai."


Alby menggelengkan kepalanya, sahabat Istrinya itu memang absurd. Orang kalau udah terlanjur bucin emang begitu ya.


"Ada perlu apa kamu kemari?" tanya Alby tanpa basa-basi.


Miko yang tengah duduk di hadapan Alby hanya tersenyum. "Dulu bapak deketin Mbak Miranda itu bagaimana sih? Kasih tau resepnya dong?" tanya Miko.


Alby melongo mendengarnya. "Mana saya ingat," jawab Alby malas. Pertanyaan macam apa itu, masa dia disuruh mengingat kenangan masa lalu.


"Ah elah, pelit banget sih Pak. Ayo dong Pak bagi resep, aku sudah pusing tujuh keliling ini gak juga berhasil naklukin mantan istri bapak itu," keluh Miko memasang wajah melas.


****


Hari ini Miranda tengah berbelanja kain di toko langganannya.


"Seperti biasa ya. Nanti tolong di antar ke butik saya," pinta Miranda pada karyawan toko.


Setelahnya Miranda berlalu. Sementara Miko yang memang saat itu tengah berada di sana, mengecek beberapa bahan, begitu melihat Miranda berlalu segera muncul dan menyambar kertas di tangan pegawainya.


"Eh Tuan! Ku kira siapa?"


Miko melihat kertas dan alamat itu, ternyata ia tidak salah mendengar. Pucuk dicinta ulam pun tiba, saat bereaksi.


"Antar ke mana ini?" tanya Miko.


"Itu butik Nona Miranda. Dia kan udah langganan di sini," sahut pegawai toko itu.


"Saya tahu. Kalau dia datang layani dengan baik, awas saja kamu berani ngelirik-ngelirik kaya tadi!" sergah Miko kesal, karena tadi ia melihat interaksi keduanya di mana karyawan toko miliknya itu melirik-lirik ke arah Miranda.


"Emm memangnya dia itu siapanya Tu-"


"Calon istri saya!" potong Miko dengan cepat. Membuat pegawai toko itu melongo, meski merasa heran ia pun mengangguk.


"Biasanya yang antar kain ke toko calon istri saya itu siapa?" tanya Miko kemudian.


"Saya Tuan!"


Miko mengibaskan tangannya kesal. "Tidak! Tidak bisa dibiarkan. Mulai sekarang kalau dia belanja kain, kamu hubungi saya, biar saya yang antar sendiri kainnya."


"Baik Tuan!" sahut pegawai toko itu.


"Tapi Tuan kita kan harus kembali ke kantor," sela Yanto selaku asistennya yang sejak tadi mengikuti dirinya.


"Eh Yanti, kamu aja yang balik. Saya mau antar kain!" jawab Miko.


"Yanto Tuan... Nama saya itu Yanto, bukan Yanti," balas Yanto kesal karena atasannya itu kerap sekali salah memanggil namanya.


"Oh ya, saya lupa ini masih siang ya!"


"Lho apa hubungannya?"


"Kalau pagi Yanto kalau malam namamu jadi Yanti gitu kan?" ejek Miko seraya tertawa kecil.


"Priben sih Tuan boss ini. Nama bagus-bagus di ganti," ucap Yanto mulai mengeluarkan bahasa aslinya. Yanto merupakan lelaki asal Brebes.


"Dah lah Mister kepriben sana balik ke kantor, nanti saya nyusul. Bilang aja sama Papa, kalau putranya sedang mengurus masa depan," ujar Miko.


"Baik Tuan!"


Sepeninggal Yanto. Miko menghampiri pegawai tokonya.


"Udah siap?" tanyanya.


"Udah Tuan!"


"Mana kunci mobilnya, saya mau antar sendiri!"


"Tapi Tuan-"


"Udah tenang saja pasti beres kok!" sahut Miko.


Setelahnya lelaki itu pun berlalu menuju mobil yang sudah di sediakan untuk mengantarkan kain ke pelanggan. Dengan semangat empat lima lelaki itu mulai melajukan mobilnya menuju butik Miranda.


"Emang kalau jodoh itu gak kemana ya? Kayaknya ini waktu yang tepat buat praktekin saran Pak Alby!" ujar Miko semangat.