Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Terusik



"Bang?"


"Hemm?" Alby yang tengah memangku laptop menoleh pada istrinya yang tengah berbaring di sisinya.


"Ada apa?" tanyanya kemudian. Karena sebenarnya ia sendiri merasa aneh dengan tatapan istrinya sejak tadi, seolah ingin bertanya sesuatu tapi merasa sungkan.


Rena menghela nafasnya, "Abang sibuk. Gak jadi deh!" Perempuan itu justru menarik selimutnya untuk menutupi setengah tubuhnya.


"Gak Re. Ayo katakan saja kalau ada yang ingin kamu tanya. Biar Abang gak ngantuk," ujar Alby.


Rena kembali memiringkan tubuhnya. "Dulu Abang cerai sama ibunya Misel karena apa? Gak mungkin kan karena udah gak cocok seperti apa yang Abang bilang waktu itu?"


Deg!


Alby terkejut mendengar pertanyaan istrinya. Ia menyentak nafasnya, meski kisah itu telah berlalu tetap saja menggores hatinya. Ini bukan karena ia masih memiliki rasa pada mantan istrinya, akan tetapi ia merasa sedih lantaran kembali mengingat kehadiran Misel yang tak diharapkan oleh ibu kandungnya sendiri.


"Kalau Abang keberatan ya udah gak usah cerita," ujar Rena kemudian saat melihat perubahan wajah suaminya. Perempuan itu kembali merubah posisi tidurnya menjadi menunggungi sang suami. Tetapi, Alby dengan cepat menahannya hingga Rena tetap pada posisi semula.


"Abang akan cerita. Sebentar!" Alby membereskan menyimpan file dalam laptopnya, lalu menutup laptopnya dan menyimpannya di atas nakas. Setelahnya, ia kembali duduk bersandar seperti semula. Rena bersiap mendengarkan cerita dari sang suami, memasang telinganya dengan baik-baik. Alby tersenyum, dan perlahan mulai menceritakan tentang masa lalunya tanpa ada yang terlewat. (Kalian bisa baca ulang di bab 52 dan 53, aku gak mungkin tulis ulang ya).


Rena dapat melihat dan merasakan betapa terlukanya lelaki itu, bahkan perempuan itu sampai mengubah posisinya menjadi duduk, lalu memeluk suaminya, seraya mengusap punggungnya.


'Pantas saja waktu itu Abang begitu marah padaku. Ternyata keputusanku yang telah berniat menunda anak, justru membuat dia kembali terluka. Ya Tuhan. Betapa egoisnya diriku. Hanya karena obsesi pada cita-citaku aku sampai melukai hati suamiku,' gumam Rena dalam hati seraya mengusap sudut matanya yang basah.


Ia merasa sedih lantaran mendengar jika kehadiran Misel pun tak diinginkan oleh ibu kandungnya. Apakah ini yang membuat Alby pun kembali bersikap biasa setelah pertengkaran itu, bahkan lelaki itu sendiri yang menyiapkan pil itu. Mungkinkah karena Alby takut, dirinya akan sama seperti Miranda jika suatu hari hamil bukan karena keinginannya, akan meninggalkan ia beserta anaknya.


"Maaf ya bang?" ujar Rena setelah Alby selesai bercerita.


"Kenapa?"


"Karena ucapan aku kemarin, Abang pasti jadi mengingat semuanya," tutur Rena sendu.


Alby tersenyum. "Gak apa-apa, Re. Ada kalanya semua perlu di ingat, agar menjadi pelajaran."


"Tapi bang, aku jadi takut?"


"Takut kenapa?" Alby membelai rambut istrinya.


"Takut Abang berpikir kalau aku kaya mbak Miranda."


Alby terkekeh. "Ya gaklah, Re!"


"Abang kemarin tiba-tiba nyiapin pil penunda kehamilan segala. Dan dengan mendengar cerita Abang ini, Rena jadi mikir kalau Abang lakuin itu semata-mata karena takut jika aku hamil aku akan bersikap seperti mantan istrinya Abang itu. Apalagi sebelumnya aku begitu berambisi pada cita-citaku bang!"


"Gak begitu, Re. Abang cuma mau buat kamu konsentrasi aja kuliah, sebentar lagi juga masuk skripsi. Tapi....."


"Tapi apa bang?" tanya Rena penasaran saat sang suami tak lagi melanjutkan ucapannya, namun menatap dirinya dengan senyum arti.


"Kalau kamu mau, ayo kita buat anak sekarang!" Alby langsung mendorong tubuh istrinya, lalu mengukung di bawah tubuhnya, membuat Rena meronta dan menjerit.


"Gak bang! Gak! Ampun!"


"Ayolah Re. Gak kasihan Abang udah tua ini!" Rena tergelak kala mendengar sang suami menyebut dirinya sendiri tua, tumben sekali ia sadar diri.


Mendengar hal itu Alby langsung menggulingkan tubuhnya ke samping. "Heran! Tamu kok tiap bulan datang terus, emang gak bosen apa?" celetuknya, membuat Rena tergelak. Merasa lucu mendengar ucapan sang suami.


"Bang? Abang masih punya fotonya mantan istri Abang gak?" tanya Rena kemudian setelah nafasnya kembali teratur.


Alby menoleh kesal. "Gak! Buat apa? Kamu itu aneh, kami udah mantan ngapain nyimpan foto. Gak penting! Lagian kamu emang gak cemburu?"


"Cemburu sih? Cuman kan aku mikirnya kali aja ada, kalau-kalau dulu Abang suka nunjukin foto ibunya Misel ke dia gitu. Biar dia tau kalau punya ibu."


Alby kembali mengubah posisi dirinya menjadi duduk. "Ngapain? Miranda aja gak mau di akui ibu oleh Misel. Untuk apa aku membuat dia tau wajah ibunya."


Jawaban Alby membuat Rena terdiam sesaat, kala kepingan kejadian tadi siang di depan toilet restoran itu terlintas. Bola mata itu begitu tak asing baginya, dan membuat dirinya merasa terusik. Tapi Rena buru-buru mengenyahkannya, barangkali dugaannya itu salah.


"Berarti Misel sama sekali tidak tau wajah ibunya ya. Tapi, kok Abang bisa bilang ke dia waktu itu kalau ibunya Misel itu cantik dan berambut panjang. Aku ingat bang saat Misel nyamperin aku di kampus kemudian manggil aku Bunda."


Alby menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Emm itu-"


"Apa bang?" desak Rena kala merasa ada yang di tutupi oleh sang suami.


"Gak ada. Ya itu pikiran Misel aja," ucap Alby sambil memalingkan mukanya, membuat Rena semakin tak percaya.


"Orang katanya kata Ayah!" desis Rena. "Cerita deh bang. Gak usah ada yang di tutup-tutupi. Abang kaya perempuan ih, kaya aku dong bang kalau suka bilang suka kalau gak bilang gak. Intinya terbuka. Jangan buat aku berpikir negatif ya!"


"Oke-oke Abang akan jujur," pungkas Alby.


"Waktu itu Misel nanya tentang ibunya. Karena keadaan terdesak, Abang gak punya foto Miranda. Ya udah Abang kasih tau aja foto kamu yang ada di ponsel Abang."


"Hah?" Rena terkejut. "Kok bisa Abang punya foto ku. Jangan suka stalking ya bang. Aku gak pernah upload fotoku di sosmed. Bukankah pertemuan pertama kita itu saat di kampus!" Rena berdecak pinggang.


Alby menggeleng. "Bukan Re. Sebenarnya Abang pernah ketemu kamu di..... Astaga, Re. Abang malu nie buka aib namanya!" keluh Alby, jadi menyesal ia berkata jujur.


"Katakan? Atau aku bakal pindah kamar mulai besok?" ancam Rena.


"Itu dulu Abang pernah waktu sedang meeting di restoran langganan kamu sama Dokter hama itu. Lihat kamu tengah sama siapa ya? Laki-laki yang waktu itu datang ke pesta pernikahan kakak ipar Re, siapa ya? Kata Daddy anak mantan Mommy."


Rene mengerutkan keningnya berusaha mengingat. "Oh Nanda?"


Alby mengangguk, "iya itu. Abang lihat kamu pertama di sana. Kebetulan tempat duduk Abang juga tak jauh dari kamu, Abang mendengar semua ucapan kamu sama Nanda itu. Laki-laki yang pandai menggombal. Tapi ternyata kamu menolaknya. Anehnya setelah Nanda pergi, gak tau kenapa Abang jadi diem-diem suka lihatin kamu gitu. Terus Abang minta Milea buat foto kamu deh, ya meski tidak begitu jelas. Tapi terlihat cantik, cukuplah buat Abang simpan." (Kalau yang baca Do you love me? Pasti tau kan gimana tengilnya sifat Nanda yang suka gombal, dan suka menemui Rena saat di rumah sakit. Tapi di sana aku gak nyeritain tentang Alby yang diam-diam ngagumi Rena ya)


"Ciee jadi udah jatuh cinta pada pandangan pertama ni sama aku sebenarnya. Gak nyangka ya punya penganggum rahasia," goda Rena. Ada rasa senang bercampur terkejut sebenarnya kala ia mendengarkan cerita Alby. Pantas saja begitu menikah lelaki itu langsung mengajaknya serius. Dan segitu gampangnya lelaki itu bersikap lembut padanya. Kenapa Rena jadi terharu ya.


"Mau tulis di buku diary ah biar gak lupa!"


"Buat apa, Re?"


"Nanti mau diceritain ke anak-anak kita bang. Betapa ayahnya itu begitu mengagumi Bundanya. Kalau perlu aku mau buat novel."


Alby menghela nafasnya. "Buat dulu anaknya baru novelnya, Re."


Rena langsung melemparkan bantal ke tubuh suaminya. Obrolan sang suami selalu tak jauh dari hal itu, sudah tau istrinya lagi datang bulan.


"Ya udah ah, Abang mau tidur ngantuk!" Alby membaringkan tubuhnya. Dan Rena pun melakukan hal yang sama.