Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Suster Ngesot



Pukul tujuh malam Rena baru tiba di rumah. Setelah memarkirkan mobilnya, ia pun turun tak lupa mengambil tas dan barang tentengannya. Tadi, dalam perjalanan Rena menyempatkan untuk mampir ke toko kue milik Tante Disty yang saat ini di kelola oleh Nadila - kakak iparnya. Niatnya itu nanti akan ia gunakan untuk membuka obrolan dengan sang suami. Rena melirik ke arah samping mobilnya, di mana mobil Alby sudah terparkir di sana, artinya Alby pun sudah pulang.


Begitu masuk Rena mendapati Misel tengah bermain dengan Nany Ratri. Perempuan itu pun segera menghampiri putrinya. Misel tersenyum cerah berlari mendekat ke arah Rena.


"Bunda... Kangen," ucapnya ketika sudah berada dalam pelukan Rena, yang disambut dengan senyuman hangat, dan usapan lembut dari Rena.


Rena menyapu ruangan itu, seperti mencari seseorang tapi tak ia temukan.


"Nany, apa suami saya sudah pulang?" tanya Rena pada pengasuh putrinya yang saat ini tengah berdiri tak jauh darinya.


"Sudah Nyonya. Tuan sudah pulang sejak jam tiga sore tadi."


"Tapi ayah belum turun sejak tadi, makan pun belum. Saat Misel susul, ayah bilang sedang banyak kerjaan. Ayah berduaan dengan laptop terus di kamarnya Bunda." Misel menimpali.


"Muka ayah juga cemberut terus, kayaknya Ayah lagi pusing Bun," imbuhnya kemudian, membuat Rena menghela nafasnya.


'Ayahmu itu bukan lagi pusing. Cuman lagi ngambek,' gumamnya dalam hati.


"Ya sudah Misel lanjutin dulu mainnya ya. Bunda ke dapur dulu, mau nyiapin cemilan buat Ayah, habis itu bersih-bersih dulu," titahnya membuat anak itu mengangguk dengan patuh.


Rena berlalu ke dapur, terlihat Bi Surti tengah sibuk di dapur, tampaknya tengah masak untuk makan malam. Melihat Rena datang, perempuan baya itu menanyakannya apakah butuh bantuan. Rena menggeleng meminta asisten rumah tangannya itu untuk melanjutkan kerjaannya.


Masih menggunakan pakaian kerjanya, dan juga tas selempangnya. Rena menotong kue black forest yang ia bawa, menghidangkannya ke dalam piring, tak lupa ia juga membuatkan secangkir teh untuk Alby. Sebelum beranjak, Rena mengatakan pada asistennya untuk mencicipi kue yang ia bawa tadi.


Rena membuka pintu kamarnya menggunakan salah satu tangannya. Melihat kedatangan pintu kamar terbuka, Alby menoleh tapi detik berikutnya kembali fokus pada laptop saat yang terlihat ternyata istrinya. Rena mendekat dan meletakkan nampan yang di bawa tepat di sisi laptop sang suami.


"Jauh-jauh lah. Awas nanti mengotori berkasku!" celetuk Alby tanpa menoleh ke arah Rena.


"Segitunya sih bang. Itu kan Rena sengaja buatin buat Abang," sahut Rena seraya meletakkan tas miliknya di atas kursi.


"Gak butuh! Kamu mau nyogok?" dengusnya.


Rena tersenyum melihat wajah suaminya yang tengah mode galak, seperti saat tengah mengajar di kampus. Ia pun memilih beranjak mendekati suaminya.


"Abang kenapa sih marah-marah. Rena baru pulang lho bang. Bukannya di sambut dengan senyuman malah dengan wajah kesal begitu. Aku sampai lupa kan salim sama Abang," ucap Rena seraya mengulurkan tangannya, menyalami sang suami dengan lazim.


Alby memalingkan mukanya, saat Rena memberikan senyum manisnya, usai perempuan itu menyalami tangannya. Seakan perempuan itu tengah merayu dirinya.


"Maaf ya bang?" ujar Rena kemudian. Tapi sang suami masih terdiam dengan pandangan yang lurus ke laptop, berpura-pura tak mendengar ucapan sang istri. Rena merasa kesal karena Alby tak juga menatap ke arahnya, lalu perempuan itu berdiri dan menutup laptop sang suami begitu saja.


"Rena!!" teriak Alby kesal.


"Apa?" tantang Rena. "Abang tuh gak dengerin aku ngomong. Emang dikira aku radio apa?" tambahnya kemudian.


Alby menatap istrinya dengan kesal, "aku lagi kerja Re."


"Aku tuh capek bang. Pulang kerja bukannya Abang senyum malah begini. Aku ngomong juga di cuekin. Dari siang aku tuh udah mikirin Abang, aku ingin buru-buru pulang minta maaf sama Abang. Aku menyempatkan diri untuk membeli kue kesukaan Abang, meskipun aku sudah merasa lelah. Tapi usahaku tak dihargai. Abang kekanakan-kanakan banget," omel Rena nadanya cukup lirih, menandakan betapa lelahnya ia kini.


"Jangan sebut namanya? Kesal sekali aku mendengar namanya," potong Alby cepat.


Rena menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "iya deh. Maaf ya bang. Aku lupa ngabarin Abang hari ini. Besok-besok aku sempetin ngabarin Abang. Jangan marah lagi ya bang, pusing aku tuh. Banyak kerjaan, banyak tugas, malah Abang ngambek-ngambek gini. Bisa kurus kering aku bang kepikiran." Rena memasang wajah melas dihadapan sang suami.


"Aku hanya kesal Re, mendengar ucapan temanmu itu. Suster ngesot itu, bilang yang enggak-enggak tentang kamu. Pakai ngatain Abang ngaku-ngaku segala lagi." Akhirnya Alby mulai mengeluarkan apa yang ada dalam hatinya.


"Suster Santi bang, bukan Suster ngesot, emangnya dia hantu apa?" pungkas Rena.


"Ck! Ya itu. Aku gak baca namanya dan gak pengen tau."


Rena mengusap lengan suaminya, "maaf ya bang. Suster Santi emang gitu orangnya suka heboh sendiri. Tapi aku tadi sudah bilang kok kalau aku tuh bukan calon istrinya Dokter Ryan aku gak ada hubungan apa-apa sama dia."


"Tuh kan di sebut lagi?" sergah Alby.


"Maaf-maaf. Maksudku-"


"Tapi kamu gak ngomong kan kalau aku beneran suami kamu?"


Rena menggeleng, membuat Alby melepaskan tangan istrinya. "Kamu malu ya punya suami kaya Abang?"


"Bukan gitu bang. Aku hanya belum ada waktu saja memberi tahu mereka. Lagian, pernikahan kita juga kan masih jadi rahasia. Nanti pasti aku akan memberi tahu mereka kok bang."


Alby menghela nafasnya, terdiam mencerna ucapan istrinya. Mungkin memang baiknya seperti itu dulu.


"Ya sudahlah lupakan!"


Rena tersenyum girang, langsung memeluk suaminya. "Makasih ya bang. Duh Abang kan makin ganteng kalau gak ngambek-ngambek gini. Misel aja kalah gantengnya!" Rena mencubit gemas pipi suaminya, seakan Alby adalah seorang bayi yang lucu.


"Rena!! Sakit!" pekik Alby. Sontak Rena melepaskan tangannya.


Cup! Cup!


Ia mengecup pipi suaminya, "udah gak sakit kan bang. Kan udah Rena sun!" Ucapnya seraya menaikan kedua alisnya, membuat Alby melongo tak ia sangka istrinya itu pandai menggoda.


"Dahlah aku mandi dulu ya bang. Habis ini mau temanin Misel belajar!" ujar Rena beranjak dari tempat duduknya. Tapi, dengan cepat Rena Alby menarik tangan istrinya. Membuat sang istri kembali jatuh dan duduk tepat di atas pahanya.


"Bang!" Rena berusaha memberontak tapi Alby semakin mengeratkan kedua tangannya yang saat ini tengah berada di pinggang istrinya.


"Masih kurang?" ujar Alby.


"Apanya?" tanya Rena heran.


"Kamu cuma cium kedua pipi. Tentu saja bibir aku merasa iri. Ayo cepetan cium dulu." Alby memonyongkan bibirnya, membuat Rena tertawa, memukul dada suaminya.


"Nanti aja bang, aku belum sikat gigi. Badanku juga lengket. Aku mandi dulu ya," kilah Rena. Karena ia tau jika sampai ia menuruti perintah suaminya, yakinlah bukan hanya cukup di bibir. Alby akan membuatnya lupa segalanya hingga melakukan yang lebih dari itu.