Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Aku Tau Semua



Malam ini Misel memintanya untuk menginap di rumah neneknya. Jadilah, sore hari Alby dan Rena datang ke tempat Soraya. Mendengar keinginan cucunya, tentu saja ia sangat senang.


Sementara Rena tengah menemani putrinya tidur, Alby masih berdiri di balkon kamarnya, menikmati semilirnya angin malam. Pandangan Alby tertuju pada taman kolam renang. Ia mengerutkan keningnya kala melihat ibunya tengah di sana duduk sendiri. Alby segera berlalu menghampiri sang ibu. Ia yakin perempuan itu tengah membutuhkan teman untuk cerita, ada sesuatu hal yang mengusik hatinya.


"Bu?" panggil Alby yang berhasil mengejutkan sang ibu.


"Eh by. Kok belum tidur?" tanya Soraya balik.


Alby mendudukkan dirinya di kursi sebelah ibunya. "Belum ngantuk. Ibu sendiri kenapa belum tidur? Apa ada yang menganggu pikiranmu?" cecarnya.


"Tidak By. Ibu hanya belum ngantuk saja, ini keluar cari angin!" kilahnya.


Alby menghela nafasnya. Bertahun-tahun ia hidup bersama ibunya, mana mungkin ia tak paham tentang perempuan itu. Suka dan duka telah mampu ia lewati bersamanya.


"Apa yang ibu sembunyikan?" tanya Alby to the point. Matanya menatap sang ibu dengan pandangan penuh selidik.


"Tidak ada by."


"Ibu pikir aku anak kecil yang bisa ibu bohongi," sergah Alby.


"By?"


Alby menggeleng. "Dua bulan aku diam saja. Tapi bukan berarti aku tidak tau apa-apa soal ibu. Katakan padaku Bu? Kenapa ibu menemui Tuan Galih lagi?"


Soraya terkejut, tak menyangka jika Alby pun mengetahui perihal ayah kandungnya yang menemui dirinya. "By kamu-"


"Aku tau semua Bu. Aku hanya ingin menunggu ibu cerita, tapi ternyata ibu justru semakin menyembunyikannya. Kenapa ibu sampai segitunya? Ibu tidak ingatkah apa yang telah ia perbuat pada kita. Bahkan sampai detik ini aku tidak akan pernah melupakannya, Bu."


Soraya menatap wajah putranya yang matanya sudah memerah. Ada luka dan kesedihan mendalam di sana. "By. Tidakkah kamu ingin tau, cerita sebenarnya."


"Tidak! Bagiku seorang pengkhianat tetap pengkhianat. Jangan katakan bahwa ibu masih mencintainya!" sergah Alby, membuat Soraya kembali bungkam.


"Bang?" Rena tiba-tiba muncul memanggil dirinya, membuat Alby segera berlalu meninggalkan Soraya seorang diri di sana. Alby pun khawatir jika terus membicarakan tentang ayah kandungnya, ia khawatir tak dapat menahan emosinya.


Soraya memandang kepergian putranya dengan sendu. Logika mengatakan bahwa ucapan putranya memang benar. Namun, hati justru mengkhianatinya, Soraya merasa terlalu lemah. Ia merutuki dirinya yang begitu bodoh telah begitu mencintai mantan suaminya. Meskipun ia telah disakiti. Ia kembali mengingat pembicaraannya di restoran bersama Galih tempo hari.


"Aku tidak pernah bahagia Soraya!" Galih menyangkal ketika Soraya mengatakan untuk bahagia bersama pilihannya.


"Naumi pun sudah meninggal tepat satu tahun pernikahan kami," sambungnya.


Soraya merasa terkejut, namun ia pandai menutupi diri. "Jadi, karena hal itu kamu berniat untuk mendekatiku lagi?" tudingnya.


"Tadinya sih iya. Tapi, aku sadar kesalahanku tak bisa di toleransi. Jadi, tujuanku hanyalah ingin memberikan ini." Galih mengulurkan map berwarna merah pada Soraya.


"Apa ini?" Soraya membuka map itu, matanya membeliak kala melihat berkas itu berisi surat-surat yang penting.


"Itu adalah titipan dari Papa, yang sengaja diberikan untuk Alby, cucunya. Sebelum meninggal ia menitipkan pesan, untuk mengatakan permintaan maafnya pada kamu dan Alby. Papa menyesal telah memisahkan kita. Tolong berikan ini pada Alby ya, sampaikan juga permintaan maaf ku. Aku janji setelah ini, tidak akan menganggu kalian lagi. Karena tujuanku sudah sampai. Dan masalah kerja sama itu lupakan. Itu hanya alibiku saja agar kamu mau menemui ku."


Soraya masih terdiam dengan kebingungannya. "Kau sampaikan saja sendiri!"


"Aku pergi dulu. Semoga kamu selalu bahagia!" Galih beranjak dari kursinya. Tiba-tiba lelaki itu meringis kecil, merasakan nyeri pada pinggangnya. Soraya menatap Galih dengan bingung.


"Mas?"


"Aku baik-baik saja, Soraya." Lelaki itu kembali meneruskan niatnya untuk pergi. Tapi, baru dua langkah ia berlalu tiba-tiba Galih jatuh pingsan mengejutkan Soraya.


Perempuan itu segera berteriak meminta bantuan. Soraya membawa Galih ke rumah sakit. Hal yang membuat ia terkejut ketika dokter mengatakan bahwa mantan suaminya itu ternyata menderita gagal ginjal dan memang beberapa kali sedang melakukan tahap pencucian darah di rumah sakit itu. Karena itu Soraya jadi mengerti mengapa ia bisa kembali bertemu dengan Galih.


Kini Soraya menghela nafasnya, ia bingung dengan hatinya yang tak mempunyai pendirian yang kuat. Melihat mantan suaminya kini terbaring di rumah sakit tak berdaya membuat ia lemah, Galih memang tidak menginginkan untuk kembali. Hanya saja ia menginginkan Alby untuk mau bertemu dengannya, sedangkan belum apa-apa Alby sudah begitu marah.


"Bisakah aku meminta tolong Soraya. Ijinkan aku bertemu dengan Alby, setidaknya untuk yang terakhir kali nya. Karena aku yakin waktuku sudah tidak banyak lagi," pinta Galih di tengah-tengah rasa sakitnya saat itu terus melintas dalam otaknya.


****


Dua puluh lima tahun yang lalu.


Soraya yang tengah menemani Alby bermain, di kejutkan dengan notifikasi pesan yang masuk, dari salah satu akun sosmed berlogo biru. Di sana terdapat sebuah unggahan foto yang viral seorang lelaki dan perempuan yang tengah melangsungkan pernikahan dari orang yang ia kenali. Suaminya tengah menikah kembali dengan perempuan lain. Padahal seminggu yang lalu, lelaki itu mengatakan pergi ke luar kota karena sedang ada kerjaan, tak ia sangka pekerjaan yang di maksud adalah kembali ke rumah orang tuanya lalu menikah dengan perempuan pilihannya. Memang pernikahan Soraya dan Galih tanpa restu dari keluarga Galih. Keluarga Galih sangat membenci Soraya yang notabennya hanyalah seorang anak yatim piatu.


Rasa marah dan kecewa membelenggu menjadi satu, janji setia yang diucapkan oleh Galih ternyata hanya ucapan palsu belaka. Soraya segera mengambil kunci motornya dan menggendong Alby. Ia akan mendatangi pernikahan suaminya.


Dua jam kemudian Soraya tiba di kediaman keluarga suaminya, tanpa memperdulikan beberapa orang yang menatapnya dengan pandangan aneh. Soraya terus melangkah masuk mendekati sang suami yang tengah kursi pelaminan, bahkan pertanyaan kecil dari putranya yang dalam gendongannya pun tak ia dengarkan.


Plak!!


Satu tamparan keras dari Soraya mendarat di pipi Galih, membuat pandangan semua orang menatap ke arahnya.


"Teganya kamu mas? Bohongi aku, khianati aku!" Soraya berteriak marah.


Galih terkejut dengan kedatangan istrinya. "Soraya kamu di sini?"


"Kenapa kamu terkejut? Aku mengetahui rencana busukmu ini. Tega kamu mas. Aku kurang apa mas?"


Galih tertunduk tak menyangka istrinya mengetahui pernikahannya yang telah di rencanakan secara diam-diam.


"Kurang kaya. Kau tak menarik, bahkan membuat keluarga suamimu pun malu mempunyai menantu seperti dirimu!" Naumi istri baru Galih pun menimpali.


Plak!!


Soraya menampar pipi perempuan itu. "Setidaknya aku punya harga diri, untuk tidak merebut suami perempuan lain."


Naumi marah berniat membalas Soraya, tapi dengan cepat Galih menepis tangan perempuan itu. "Soraya pulanglah. Aku akan menjelaskannya padamu nanti di rumah," pinta Galih.


Soraya menggeleng, baginya apa yang sudah ia lihat adalah kebenaran. Entah alasan apa di balik pernikahan suaminya tetap saja Soraya tak akan menerima. Perempuan itu menangis, bahkan ia tak perduli menjadi tontonan banyak orang. Hingga ayah mertuanya datang melihat kekacauan yang Soraya buat, lelaki itu langsung meminta pengawal untuk menyeret Soraya keluar dari sana.


Alby berteriak menangis melihat mamanya di seret orang-orang bertubuh besar secara paksa, sementara ia pun meminta Papanya untuk membantunya tapi Galih hanya diam. Hal itu membuat bocah kecil itu marah.


"Ayah jahat! Aku membenci Ayah selamanya!,"