
Ryan mengaduk-aduk makanannya dengan perasaan kesal, padahal sejak pagi ia belum makan namun entah kenapa ia menjadi tak berselera. Pikirannya terus tertuju akan perubahan sikap Alena, bahkan ia berkali-kali mengecek ponselnya tapi tidak ada satu panggilan atau pesan dari istrinya.
“Benar-benar deh ah,” sungut Ryan. “Suaminya ngambek kok diam aja, orang mah telpon apa kirim pesan, syukur-syukur datang bawa makanan. ini diam aja kaya gak ada apa-apa,” sambungnya.
“Kenapa ini Pak Dokter?” Rena datang dengan Suster Santi bertanya.
“Hooh, kaya gak dapat jatah,” timpal Suster Santi.
‘Jangankan dapat jatah, tidur seranjang aja gak boleh,’ gumam Ryan.
Rena dan Suster Santi duduk di depan Ryan dengan bersebrangan meja. “Lagi ada masalah ya?” tanya Rena.
Ryan menghela nafasnya. “Bingung aku sama sifat teman mu itu,” celetuk Ryan.
“Aku ya Dok.” Suster Santi menunjuk dirinya sendiri dengan raut wajah bingung.
“Bukan, gak ada sangkut pautnya sama kamu,” desis Ryan. Sementara Rena hanya tertawa kecil, dan Suster Santi mengerucutkan bibirnya ke depan karena telah salah tanggap.
“Kenapa dengan Alena?” tanya Rena yang paham bahwa yang dimaksud Ryan pasti sahabatnya itu.
“Dia itu kaya lagi benci banget sama aku, padahal aku gak lakuin kesalahan apa-apa.”
“Coba cerita-cerita,” desak Rena.
“Ya pokoknya dari semalam itu sifatnya aneh. Udah aku di usir dari ranjang, akhirnya tidur di sofa. Paginya juga gak mau nyiapin sarapan buat aku, terus ngusir gak boleh dekat-dekat,” dengus Ryan.
Rena justru terkekeh membayangkan sifat temannya yang sangat berbanding terbalik dengan biasanya, karena ia tahu bagaimana bucinnya Alena pada Ryan.
“Mungkin mau datang bulan makanya sensitif,” tebak Rena santai.
Ryan menjatuhkan sendok di atas piring dengan wajah melongo mendengar penuturan sahabatnya.
“Datang bulan?” tanyanya ulang.
Rena mengangguk. “Iya. Perempuan kan suka gitu, kalau mau datang bulan kalau kata Bang Alby tanduknya keluar.”
Ryan menelan ludahnya, otaknya terpusat tanggal terakhir sang istri menstruasi. “Aku jadi ingat sesuatu. Dah deh aku pulang sebentar,” katanya seraya beranjak dari kursinya, dan melesat pergi.
Rena dan Suster Santi melongo melihat tingkah Ryan yang buru-buru pulang.
“Kok jadi pulang? Dia kenapa?” tanya Suster Santi heran.
Rena menggeleng. “Gak tahu. Mungkin ada yang ketinggalan,” tebaknya asal, kemudian beranjak dari kursinya. “Aku kedepan dulu ya, mau nunggu Bang Alby, mau cek kandungan," sambungnya.
“Lah kok, aku jadi sendiri. Nasib jomblo begini ya,” keluhnya.
****
Alena masih tengah sibuk di dapur membuat makanan bersama Elena, ia berencana akan mengantarkan makan siang buat sang suami. Ketika semua bumbu-bumbu telah siap, ia hanya tinggal masuk-masukan saja, dan semua itu juga atas panduan ibu mertuanya.
Ia memasukkan bawang merah untuk ia tumis, tapi tiba-tiba ia merasakan perutnya terasa mual.
“Huek..”
“Kenapa sayang?” tanya Elena cemas.
“Gak apa-apa Ma,” jawab Alena menutupi rasa sesungguhnya. Ia pikir mual itu akan berangsur menghilang. Namun, rasanya justru bertambah parah saat ia sudah memasukkan semua bumbu ke dalam wajan. Ia yang merasa sudah tak tahan segera berlari ke wastafel, memuntahkan segala isi perutnya.
Huek... Huek..
Elena yang cemas segera mematikan kompornya, dan mendekati menantunya memijat tengkuknya secara pelan.
“Ayo sayang keluarkan. Ini kamu kenapa ya?”
“Ya udah kamu istirahat aja, nanti biar Bibi saja yang lanjutkan, nanti Mama buatin kamu ramuan herbal ya, ini ampuh buat obat masuk angin," tutur Elena seraya berteriak memanggil asisten rumah tangganya untuk melanjutkan acara masaknya, sementara ia menggiring Alena untuk ke kamarnya. Ia meminta Alena untuk istirahat, sementara ia kembali turun ke bawah membuatkan ramuan untuk menantunya itu.
Sementara itu, Ryan yang baru tiba di rumah langsung buru-buru masuk ke dalam demi memastikan sesuatu.
“Iyan mau kemana kamu?” tanya Elena sambil membawa segelas ramuan herbal yang sudah jadi. Ryan yang baru menapaki satu anak tangga pun menoleh mengurangkan niatnya.
“Mama bawa apa?” tanya Ryan balik.
“Ramuan herbal buat Alena. Istrimu katanya masuk angin, ini pasti karena ulahmu ngajak bergadang terus, tadi dia muntah-muntah.”
“Muntah-muntah?"
“Hemm...."
Wajah Ryan berubah lebih cemas, kemudian berniat meneruskan langkahnya. Namun, kemejanya justru di tarik oleh Elena.
“Ma... Ih. Mau periksa Alena aku," ujar Ryan.
“Mama tahu. Tapi, ini Mama nitip ini sekalian. Tolong bilang ke Alena suruh ngabisin.” Elena memaksa Ryan untuk menerima ramuan minuman yang ia bawa.
“Ma aku kan dokter, aku sudah sedia–”
“Jangan protes,” potong Elena cepat.
Ryan menghela nafasnya, dan melanjutkan langkahnya ke kamar. Sampainya di kamar ia tak mendapati istrinya di ranjang. Namun, ia mendengar suara orang-orang muntah di kamar mandi, kemudian di susul dengan suara gemericik air. Lelaki segera meletakkan segelas minuman herbal yang ia bawa di atas nakas, kemudian berniat masuk ke kamar membantu sang istri.
Namun, baru saja ia hendak membuka pintu. Pintu kamar mandi sudah terbuka dari dalam, Alena keluar dengan wajah yang pucat.
“Sayang, kamu–”
“Ihh Masry ngapain pulang?” tanya Alena wajahnya justru terasa kesal, bahkan ia sampai menutup hidungnya.
“Kata Mama kamu–”
“Ihh jauh-jauh lah. Masry tuh bau, aku gak suka,” celetuk Alena mendorong tubuh sang suami dengan pelan, kemudian ia beranjak ke ranjang.
Ryan melongo mendengarnya, kemudian menghirup aroma tubuhnya yang masih wangi. “Wangi kok. Hidungnya bermasalah kali ya, perlu ke Dokter THT kayaknya,” celetuknya seraya beranjak mendekati istrinya.
“Ih dibilang suruh jauhan, aku mual bau parfum Masry,” usir Alena.
“Mual?” tanya Ryan sambil menjaga jarak dari sisi istrinya.
Alena mengangguk. “Banget. Gak suka pokoknya.”
Ryan terdiam merasa ada yang tak beres dengan istrinya. Padahal parfum yang ia gunakan juga pilihan istrinya. Tingkah istrinya itu bukan seperti orang masuk angin seperti yang dibilang mamanya. Meski ia seorang dokter bedah, sedikit-sedikit ia pun tahu gejala apa yang dialami istrinya. Hanya saja ia ingin memastikannya sendiri. “Ya udah Mas priksa dulu ya?” tawarnya.
“Gak mau. Gak mau dekat-dekat Masry. Apalagi dipegang-pegang.”
“Ya udah ayo kita ke rumah sakit, ke dokter. Biar kamu nanti di periksa teman Mas,” bujuknya.
“Gak mau. Orang lemes gini,” tolak Alena.
“Ya udah Mas gendong deh.”
“Apalagi itu. Di bilang gak mau dipegang apalagi digendong,” tukasnya.
Ryan menarik nafasnya dalam-dalam, berusaha untuk meredam perasaannya. “Ya udah kamu istirahat. Mas keluar dulu.”
Ryan berlalu keluar meninggalkan istrinya.