
Ini adalah hari Sabtu malam Minggu. Misel meminta Ayah dan Bundanya untuk membawanya ke mall, ia menginginkan untuk bermain ice Keating. Tapi Rena tidak memperbolehkannya, membuat Misel merasa kesal.
"Kamu itu baru sembuh sayang. Bunda tidak mau terjadi apa-apa, jadi carilah permainan yang aman," ujar Rena pada putrinya.
"Ya Bunda. Tapi lain kali bolehkan."
Rena mengangguk, Alby yang tengah menyetir tersenyum gemas.
"Bagaimana kalau kita ke Timezone saja. Misel bisa bermain sepuasnya di sana," timpal Alby.
Sampai di mall ketiganya langsung masuk, dengan Misel yang digandeng di bagian tengah. Anak itu merasa sangat senang, ia merasa menjadi anak yang paling bahagia karena kini bisa merasakan mempunyai keluarga yang lengkap. Hanya satu yang belum ia dapatkan --- adik bayi. Kapan orang tuanya memberi, apakah sekarang masih disembunyikan? Pikirnya. Misel menoleh ke arah ke duanya, saat ini mereka tengah berhenti di depan stand ice cream. Setelah mendapatkannya mereka langsung berjalan menuju lantai tiga, karena letak permainan Timezone memang berada di sana.
"Ayah, Bunda sebelum bermain Misel ingin bertanya?" Misel menoleh ke arah keduanya.
"Heem, apa?"
"Katanya ayah dan bunda mau memberikan aku adik bayi. Di mana adik bayinya? Masih disembunyikan ya?" tanyanya polos.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Rena yang saat itu tengah menikmati ice cream di tangannya langsung tersedak mendengar pertanyaan Misel. Ini untuk yang ke dua kali perempuan itu mendengarkan hal yang sama. Anak itu ternyata begitu mendambakan seorang teman di rumah.
Kedua mata Rena sampai memerah. Alby langsung berlalu membeli air mineral, memberikan pada istrinya.
"Misel yang sabar ya. Kalau Misel mau adik bayi, Misel harus banyak berdoa dulu untuk ayah dan Bunda." Alby mengusap lembut kepala putrinya, ia sendiri juga bingung apa yang harus ia katakan. Jangankan jadi, Rena saja berniat untuk menundanya. Di saat Misel ingin mengeluarkan suara, Alby langsung memotongnya dengan cepat. "Udah nanti lagi ngomongnya, sekarang ayah antar ke area permainan ya!"
Alby segera membawa Misel ke dalam Timezone, sementara Rena memilih duduk di salah satu bangku yang tersedia di sana. Perempuan itu terus terdiam sesekali menegak minumannya.
"Mikirin apa?" Alby bertanya seraya mendudukan dirinya di sisi istrinya.
"Enggak ada."
"Mikirin ucapan Misel ya?" tanya Alby.
Rena menghela nafasnya, menatap sang suami. "Aku jahat ya bang. Karena aku-"
Alby meletakkan jari telunjuknya di bibir istrinya, "sudah jangan dipikirin. Misel hanya anak kecil yang belum tau apa-apa, punya anak juga perlu persiapan. Salah satunya kita juga harus buat dulu, nah aku belum ngapa-ngapain, cuma baru icip-icip atas doang."
Brukk!!
"Aduhh! Ini namanya kekerasan!"
Sontak Rena langsung memukul lengan sang suami menggunakan tas miliknya. "Biarin, Abang ternyata sangat mesum. Aku gak nyangka asli!" decak Rena.
"Bukan. Ini namanya aku normal sayang," kilah Alby.
Rena melirik ke arah suami dengan tatapan kesal, lelaki itu sekarang pandai berkilah. "Aku pikir dulu pas kenal Abang. Abang tuh galak, gak tertarik perempuan. Ternyata Hem... Anda diam-diam menghanyutkan!"
"Emang kita pernah kenal?" goda Alby.
"Abang ihhh. Tinggal iyain aja!" Kali ini Rena melayangkan cubitan di lengan Alby. Rena cemberut kesal.
"Bukannya benar yang aku katakan barusan. Kita gak pernah kenal kan, yang aku ingat kamu itu adalah anak perempuan yang membuat mobilku tergores, karena parkir mobil ugal-ugalan. Lalu, kamu berfikir jika dengan uang bisa mengganti semuanya. Rasanya pengen jitak kepala kamu saat itu, aku paling gak suka kalau ada apa-apa orang selalu menggunakan kekuasaan uang."
Alby mengangguk, "terus soal kamu menendang kaleng tepat mendarat di tubuhku, bagaimana?"
Rena membulatkan kedua matanya, "hah Abang masih ingat?" Perempuan itu tersenyum canggung, menatap lelaki berkaos putih di depannya. "Maaf ya bang. Sama istri gak boleh dendam lho." Rena memegang lengan Alby, membuat lelaki itu memicingkan kedua matanya, pintar merayu ternyata dia pikir Alby.
"Oh tidak bisa. Ini harus dibalas, aku masih dendam soal itu tau." Alby melepaskan tangan Rena, membuat perempuan itu cemberut kesal.
"Ihh jahat banget!" Rena mencebik kesal, melipatkan kedua tangannya di dada.
Alby terkekeh menikmati raut wajah istrinya yang kesal. Ia sadar sekarang hidupnya jauh lebih berwarna semenjak berumah tangga dengan Rena. Perempuan itu kadang dapat bersikap dewasa namun kadang juga bisa seperti anak-anak. Alby berusaha untuk paham seperti lagu Ada band dengan lirik 'karena wanita ingin dimengerti manjakan dia dengan kasih sayang' begitulah. (Coba dibaca jangan nyanyi, hehe).
Sekarang itu menjadi pedoman, ternyata itu benar perempuan memang benar. Nyatanya Rena cepat luluh karena Alby memperlakukannya dengan lembut. Apalagi mengingat perbedaan usia keduanya, Rena jauh lebih muda Sepuluh tahun darinya.
Kini Alby mengangkat tangan kanannya, bersiap untuk mengusap kepala istrinya. Tetapi ia mengurungkan niatnya tatkala dari kejauhan ia melihat kedua teman istrinya tak sengaja melihat ke arahnya.
"Kenapa bang?" tanya Rena saat mendengar Alby menghela nafas kesal.
Alby menggeleng, lalu menunjuk ke arah temannya, "ada teman-temanmu."
Rena dengan santai melihat ke arah yang dituju Alby, ternyata memang ada Miko dan Alena. Keduanya bahkan sudah melambaikan tangannya ke arahnya. "Abang ke tempat Misel ya?" Lelaki itu berniat beranjak dari tempat duduknya, tapi dengan cepat Rena justru memegang pergelangan tangannya.
"Eh mau kemana? Sini aja bang, santai aja itu hanya Miko dan Alena kok," seru Rena seraya melambaikan tangannya ke arah kedua temannya.
"Eh ada calon istri. Tadinya aku sama Alena mau ke tempat kamu, ngajak nonton tapi gak jadi karena waktunya udah mepet. Eh gak taunya ketemu di sini. Emang ya jodoh itu gak kemana," ucap Miko membuat Alena memutar bola matanya jengah, sementara Rena terkekeh. Wajah Alby langsung berubah masam tak suka, seenak jidatnya aja mengklaim istrinya orang jadi bininya.
"Calon istri aku ini, Pak. Jangan pegang-pegang dong." Miko menepis tangan Rena dan Alby yang masih saling bertautan.
"Ihh Miko apaan sih. Jangan macam-macam ini Pak Dosen ini."
"Dia bukan dosenku," bela Miko.
Alena terdiam baru sadar jika yang di depannya kini adalah salah satu dosen di kampusnya. "Lho, kalian. Emm malam pak!" Rena memilih menyapa Alby, lalu menyenggol lengan Miko mengkode temannya itu untuk bersikap sopan.
"Malam Alena," jawab Alby. Ia tau nama teman Rena karena istrinya sudah memberi tahu sebelumnya. "Saya tidak sengaja bertemu Rena di sini. Karena sudah ada kalian, saya pamit ke tempat putri saya dulu," imbuh Alby kemudian.
"Lho Bapak mau kemana? Gabung aja sama kita," tawar Alena.
"Gak usah. Rena aman sama aku," jawab Miko dengan entengnya yang kini tengah beralih berdiri di sisi Rena, lalu melabuhkan tangannya di pundak istrinya. Rena berkali-kali menepis tangan lelaki itu. Membuat Alby merasa kesal.
"Ihh Miko, tangannya!!"
"Saya duluan!" Alby berlalu pergi dengan raut wajah kesal.
Rena ingin membuka mulutnya mencegah suaminya pergi, tapi Miko segera memotong ucapannya. "Tunggu di sini."
Miko berlari menyusul Alby, "pak jangan dekat-dekat dengan Rena dong. Saya itu udah menyukainya sejak lama. Masa bapak mau bersaing dengan saya. Please lah pak, biarkan perjalanan cinta saya berjalan dengan mulus," pinta Miko.
Alby tersenyum masam, tapi belum sempat ia membuka mulutnya sebuah suara anak kecil mengejutkannya.
"Ayah, Bunda Misel sudah bosan!!" Anak itu berlari ke arahnya.