Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Bahagia ( T A M A T )



Waktu berjalan dengan cepat. Tanpa terasa hari ini usia Alka genap satu tahun. Sesuai dengan keinginan Rena untuk mengadakan liburan bersama keluarga Alena dan Miranda.


Hari ini mereka semua berlibur di kota Bandung. Menempati Villa milik Papa Galih. Bahkan bukan hanya dengan Miranda dan Alena. Papa Galih dan Ibu Soraya pun turut ikut. Rena sebenarnya juga mengajak keluarganya Mommy Dinda dan Daddy Rava, namun mereka tidak bisa ikut karena suatu hal.


Liburan itu juga dimanfaatkan oleh Rena dan Alby untuk merayakan ulang tahun Alka. Tidak ada pesta hanya ulang tahun biasa, karena Rena dan Alby memang bukan tipikal orang yang begitu menyukai hal-hal seperti itu.


Rena sudah menyiapkan kue tart ulang tahun untuk Alka.


Mereka yang berada di sana pun mulai bernyanyi lagi ulang tahun, dengan kue yang di depan Alka. Tampak bocah gembil itu tertawa khas bayi, saat matanya menatap kue tart yang berbentuk sebuah animasi salah satu kendaraan berwarna biru.


“Ayo sayang coba tiup lilinnya,” titah Rena pada putranya, yang berada dalam gendongan Alby. Kedua tangannya di tahan oleh lelaki itu, karena jika tidak ia pastikan kuenya akan langsung dirusak olehnya.


“Yinyin?” tanya Alka seakan mengerti.


”Iya sayang tiup lilinnya,” ujar Rena lembut.


Dengan bibir mungilnya Alka mencoba meniup, sayangnya lilin tak kunjung padam. “Yayah, wuaa....” bocah kecil itu meminta ayahnya yang meniup sambil menangis, menarik tangannya yang ditahan Alby.


Alby melepaskan tangan Alka, sementara ia meniup lilin kue itu. Tanpa di sangka tangan Alka menjangkau kue itu setelah lilinnya padam, hingga membuat kuenya rusak, tangannya belepotan.


“Yahh...” keluh semua orang.


“Duh sayang kotor semua ya. Kuenya juga udah rusak,” keluh Rena. Namun, Alka justru nampak tertawa melihat wajah melas ibunya. Ia tetap asyik memainkan kue yang berada di tangannya. Bahkan pakaian dan wajahnya sudah belepotan.


“Pintar ya cucu Nenek dan Kakek,” puji Soraya. Alka menghentakkan kakinya seakan mengiyakan ucapan neneknya itu.


“Yah Alka. Kakak kan pengen juga makan kuenya, malah dirusak,” keluh Misel. Gadis kecil yang baru memasuki kelas satu SD itu pun merasa sedih.


“Masih ada sayang kuenya, di kulkas. Bunda beli dua kok, karena Bunda tahu pasti ujungnya buat mainan sama Alka,” ujar Rena.


“Asyik, makasih Bunda. Nany ayo temani aku ambil kue,” Misel beralih menarik tangan Nany Ratri. Memang Rena hanya membawa satu pengasuh ke sana.


“Sayang, aku mandikan Alka dulu ya. Sepertinya dia udah risih,” kata Alby.


“Iya bang!”


Rena membawa kue yang sudah tak layak itu ke dapur. Setelahnya, kembali dan ikut bergabung bersama yang lainnya.


Tampak Ryan begitu kerepotan saat Rey sedang aktif-aktifnya merangkak. Bocah kecil yang menginjak usia sembilan bulan itu suka mengoceh. Nampaknya sifat ceriwisnya menurun dari Maminya. Sementara kandungan Alena sudah menginjak bulan ke empat.


Rena mengusap perut buncit sahabatnya itu. “Kemarin udah USG? Jadi apa hasilnya?” tanyanya.


Alena tersenyum tipis. “Jagoan lagi Re,” jawabnya tertawa.


“Wahh gagal lagi besanan sama Rena,” timpal Miko yang baru saja tiba dengan membawa baby Chiara. Ia nampak cantik memakai bando hello Kitty, wajahnya ada kemiripan dengan Misel. Nampaknya gen ibunya begitu menurun.


“Nanti aku buat lagi lah, sampai dapat perempuan,” ujar Alena.


“Ya, Le. Sekalian satu tahun sekali kamu brojol,” ucap Miko.


“Sialan!” umpat Alena.


Tanpa di sangka Rara justru menangis. “Noh kamu sih maki-maki aku. Anakku gak terima ini,” dengus Miko seraya menenangkan anaknya. Tapi, Chiara tak mau diam.


Rena mendekat. “Coba ayo ikut sama Bunda,” tawarnya.


Anak itu pun mengulurkan tangannya. Begitu berada dalam gendongan Rena langsung diam. “Kamu emang top ya, Re. Anakku langsung diam.”


“Iya. Rey juga kalau lagi nangis digendong Rena langsung diam,” timpal Alena.


“Karena hatiku baik dan tulus,” balas Rena.


“Maksudmu aku dan Alena gak tulus gitu,” dengus Miko yang langsung ditanggapi tawa oleh Rena.


Ryan datang menggendong Rey, ia berdiri di samping Rena. Tanpa di sangka bocah ganteng yang wajahnya begitu mirip dengan Ryan itu menoleh ke Chiara. Tangannya menjangkau bando yang di kenakan Chiara, tanpa di sangka Rey menariknya.


“Jangan sayang. Tuh entar dedeknya nangis,” ujar Ryan mencoba melepaskan tangan putranya. “Ikut Mami dulu ya. Papi mau ke kamar mandi.” Ryan memberikan Rey pada Alena.


“Jadi, hari ini mau ke pantai apa tidak?” tanya Miranda yang baru saja tiba dengan menggendong baby Arion. Bagas tengah tidur bersama pengasuhnya.


“Entahlah sayang.” Miko menepuk sofa sebelahnya, meminta istrinya untuk duduk di sisinya. “Ku kira tadi kamu ikut tidur,” sambungnya.


“Tadi sempat merem. Cuma Arion sepertinya gak mau tidur. Jadi, ya udah keluar aja,” jawab Miranda.


“Jauh kalau ke pantai perjalanannya sekitar 3-4 jam mbak,” ujar Rena sambil menciumi pipi Chiara, tampak anak itu tertawa geli.


“Re, kayaknya kamu cocok punya anak lagi,” ujar Alena.


“Iya. Tapi nanti aja. Abang masih trauma lihat aku lahiran kemarin. Dan kamu kan juga tahu Le, aku Caesar. Masih butuh waktu pemulihan gak boleh cepat-cepat hamil,” ujar Rena.


🦋🦋


Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam setengah. Mereka semua tiba di pantai.


Mencoba bermain wahana disekitarnya. Tentunya untuk yang aman bagi seorang bayi dan ibu hamil. Meraka juga membawa pengasuh anak-anaknya.


Alena merasa senang dengan kehamilannya kali ini. Karena ia sama sekali tidak merasakan mual. Ia tetap makan seperti seseorang yang tidak hamil. Hanya saja ia jadi sering suka peluk suaminya, terus doyan bercinta. Hal itu tentu saja membuat Ryan merasa senang. Kayaknya anak ke dua bakal begitu klop sama dirinya. Namun, meski begitu ia tetap melakukannya dengan hati-hati.


“Masry, pantainya indah ya?” tanya Alena yang berjalan di samping suaminya, sementara lelaki itu menggendong anaknya.


“Iya sayang.”


Alena nampak melihat sekitar. “Aku jadi ingin mencoba–”


Alena mengerucutkan bibirnya ke depan. “Apaan sih Masry itu suudzon aja. Aku tuh cuma mau bilang kalau nanti aku mau mencoba nunggu ada senja. Terus kita foto-foto.”


“Oh aku kira–”


“Masry tuh yang mesum. Mana ada aku ngajak bercinta di tempat seperti ini.”


Ryan tergelak, bukan tanpa alasan ia berkata demikian. Pasalnya kemarin saat baru tiba di villa orang tuanya Alby. Kebetulan Rey tertidur. Alena langsung mendorongnya ke tempat tidur, dan mengajaknya bercinta.


“Kadang aku mikir sayang. Itu kita sering jengukin dia. Kira-kira di dalam dia kegencet gak ya? Terus nanti ngaruh gak ke otaknya, jangan-jangan nanti dia jadi mesum lagi,” ujar Ryan mengusap perut istrinya.


Alena menepisnya dengan kesal. “Apaan sih. Doa yang baik dong. Masa jelek gitu!”


“Iya sayang, iya. Aku kan hanya bertanya. Tanpa kamu minta setiap orang tau pasti mendoakan anaknya yang baik.” Ryan menarik tubuh istrinya semakin dekat. Lalu mengecup keningnya. Bersamaan dengan itu Rey menangis seperti tidak terima. Alena dan Ryan sontak tertawa.


“Cemburu gitu, Mami dicium Papi. Ya udah Rey mami cium juga ya.” Alena mengecup pipi putranya, sontak bayi itu pun langsung tertawa.


🦋🦋


Sementara Miranda dan Miko tengah duduk sambil mengobrol bersama pengasuhnya. Miko tampak asyik mengambil gambar keluarganya. “Ayo sayang, kemari. Kita foto bersama.”


Miko meminta tolong salah satu pengasuh anaknya untuk mengambil gambar. Dia menggendong baby Arion dan Bagas. Sementara Chiara bersama Miranda. Dan Misel yang sejak tadi ikut dengannya, pun berdiri di depan mereka.


Dalam hitungan ketiga foto pun jadi.


🦋🦋


Alka justru asyik bersama kakek dan neneknya. Soraya dan Galih tampak seperti pasangan yang begitu harmonis. Rena tidak heran mengapa Alka begitu lengket bersama Soraya. Mengingat hampir setiap hari, anaknya itu bersama neneknya itu.


Alby membawa Rena menyusuri pantai. Keduanya menikmati liburan itu seperti pengantin baru. Saling bergandengan tangan, kadang curi-curi ciuman, tertawa bersama.


“Apa yang kamu sukai dari pantai ini?” tanya Alby saat matanya menatap hamparan laut yang luas itu.


Rena tersenyum, lalu menjawab. “Abang!”


“Maksudnya pantainya sayang?” tanya Alby terkekeh karena istrinya itu sejak tadi terus menatap ke arahnya.


“Gak ada. Karena aku emang lebih suka Abang.”


“Udah bisa gombal ini sekarang istriku,” kata Alby.


Rena tertawa geli. “Karena aku udah berguru sama kamu setiap hari bang.”


Alby tergelak kecil, ikut tertawa karena jika dipikir apa yang dikatakan istrinya memang benar. Hampir tiap hari dirinya mengeluarkan jurus rayuan dan gombalan.


“Iya juga ya,” sahutnya. Kini ia menggenggam kedua tangan istrinya, saling menatap. Lalu salah satu tangannya mengusap rambut istrinya yang berantakan akibat tersapu angin. Alby menyelipkan rambut istrinya ke belakang telinga. Kemudian ia mengikis jaraknya, lalu mengecup kening istrinya dengan sayang.


“Abang sayang banget sama kamu, Re.”


“Rena juga sayang abang.”


“I love you.”


“I love you more,” sahut Rena.


Tanpa di sangka Alby langsung mengecup bibirku istrinya.


Cekrek!


Bunyi bidikan kamera terdengar, sontak keduanya menoleh. “Pacaran Mulu gak ngajak-ngajak,” cibir Miko yang dengan membawa kamera yang menggantung di lehernya.


Alby dan Rena hanay tertawa. Rena merasa malu karena ketahuan sahabatnya itu saat tengah berciuman.


Hingga beberapa saat kemudian Alena dan yang lainnya.


“Foto bareng-bareng yuk!” ajak Miko.


“Sini biar ibu yang ambil gambarnya,” pinta Soraya.


Masing-masing menggendong anaknya. Dengan Misel yang berdiri di depan. Foto pun diambil dengan pemandangan yang indah mengarah ke pantai.


Cekrek!


***T A M A T***


Note :


Hallo, sampai juga diakhir cerita. Bahagia ya mereka. Persahabatan mereka juga tetap berjalan. Para readers yang tersayang aku ucapkan terima kasih banyak-banyak, telah mengikuti cerita ini sampai usai. Juga yang sudah Sudi memberikan like, vote, dan poinnya. Serta komentarnya. Aku selalu baca kok komentar kalian. Jujur tanpa kalian novel ini mungkin tidak akan bisa sampai sepanjang ini 214 bab dengan total kata sekitar 225k kata, luar biasa. Aku gak nyangka bisa sepanjang ini.


Untuk yang bertanya cerita Davis akan aku publish tahun depan ya, insyaallah jika tidak aral melintang.


Oh ya besok tanggal satu aku publish novel baru juga ya. Judulnya “My Director My First Love” Kisah Bella yang bertemu dengan mantan sekaligus cinta pertamanya, yang tak lain adalah Direktur baru tempatnya bekerja.


Untuk yang sudah on going kalian bisa baca “Sebatas Istri Bayaran”


Aku tunggu jejaknya di sana ya.


Terima kasih semuanya.


Salam sayang dari author Arsyazzahra. 😍😍😍🤗❣️❣️❣️