Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Peluk



Miranda tengah berdiri di halaman sekolah Misel. Ia berdiri tak jauh dari gedung itu tepatnya di bawah pohon Cemara. Perempuan itu tengah menantikan putrinya keluar dari dalam kelas. Ia ingin melihatnya untuk yang terakhir sebelum akhirnya ia kembali ke Los Angles. Setidak ia bisa membawa gambaran wajah Misel dalam perjalanannya.


Tidak lama kemudian, terlihat Misel keluar dari kelas, kemudian berlari menghampiri Rena dan memeluknya. Miranda tersenyum haru, namun ia juga menangis. Sedih dan iri melihat kedekatan Rena dan Misel. Putrinya terlihat begitu bahagia bersama dengan perempuan itu.


"Ayahmu tidak salah menikahi Bunda Rena, nak. Dia begitu menyayangimu. Mama akan bahagia dan tenang, karena kau memiliki seorang ibu pengganti yang begitu baik. Dia bukan hanya malaikat untukmu, tapi juga untuk Mama. Karena berkat dia, Mama jadi sadar kesalahan mama selama ini," ucap Miranda seraya mengusap sudut matanya yang basah. Kemudian ia kembali tersenyum melihat interaksi Rena dan Misel tak jauh darinya. Sepertinya Misel tengah menceritakan kegiatannya selama di sekolah. Anak itu kadang tertawa kadang manyun.


"Semoga kamu selalu bahagia sayang. Mama senang melihatnya. Kamu dikelilingi orang-orang yang begitu menyayangimu. Mama janji tidak akan mengusik hidupmu lagi. Mama pamit sayang."


Miranda merasa sudah cukup puas melihat putrinya, meski hanya dari jarak jauh. Meski hatinya berkeinginan keras untuk berlari memeluk Misel, tapi ia menahannya dengan kuat. Karena ia yakin dengan kemunculannya saja, Misel pasti akan langsung ketakutan. Dan lagi ia sudah berjanji pada Alby untuk tak akan mengganggu Misel, jika Alby mencabut tuntutannya.


"Selamat tinggal, sayang."


Miranda beranjak dari tempatnya, ia berniat untuk kembali ke taksi. Ia sengaja meminta sopir taksi yang akan mengantarkan ia ke Bandara untuk menunggu di sebrang sekolah Misel. Dengan senyum tipis, perempuan itu mulai melangkah menjauh.


"Mama?"


Miranda menghentikan langkahnya, kala merasakan tangannya di pegang oleh sepasang tangan mungil. Jantungnya berdetak lebih kencang. Sebelah tangannya mencengkram erat tas miliknya. Ia tengah berfikir mungkin dirinya hanya berhalusinasi jika Misel memanggilnya. Ia kembali berniat meneruskan langkahnya.


"Mama mau ke mana?"


Pertanyaan itu membuat Miranda sontak berbalik. Terkejut dan menutup mulutnya tak percaya, kala melihat Misel telah berada di depannya. Miranda menangis. Sungguh ia merasa sangat bahagia mendengarnya. Anak kecil yang selama lima tahun ini telah ia sia-siakan kini memanggil dirinya Mama. Bolehkah ia memeluk tubuh mungil di depannya kini, tapi ia masih tak berani khawatir Misel akan berteriak.


"Misel, kamu-"


"Mama mau pergi lagi ya?" tanya Misel.


Miranda menjatuhkan kakinya, mensejajarkan tubuhnya dengan putrinya. Ia mengangguk, "iya sayang. Mama-"


Misel langsung menghambur memeluk Miranda dengan erat, dan hampir membuat tubuh Miranda terhuyung ke belakang. Miranda membalas pelukan Misel, tak lupa menghujaninya dengan kecupan. Rasanya teramat nyaman, ia menginginkan pelukan itu tiap hari.


"Jangan pergi lagi," pintanya lirih.


Miranda menggelengkan. Meski hatinya ingin bilang iya. Namun, ia tetap harus pergi selain karena janji, Miranda harus menyelesaikan permasalahannya di luar sana lebih dulu.


"Maafin Mama sayang. Mama sudah jahat sama Misel!"


"Misel sudah maafin Mama. Kata Bunda tidak baik membenci seseorang. Jadi, Mama jangan pergi ya!" Lagi Miranda merasa salut dengan Rena. Perempuan itu berhasil mendidik putrinya dengan baik.


Miranda mengurai dekapannya, membingkai wajah putrinya. "Misel bahagia kan bersama Bunda dan Ayah?"


Anak itu hanya mengangguk. Membuat Miranda tersenyum. "Kalau gitu jadilah anak yang baik ya. Mama harus pergi dulu sayang."


"Jangan?" pintanya sendu. "Kenapa harus pergi lagi? Kalau Mama pergi Mama pasti tidak akan pulang kan. Aku janji akan jadi anak yang baik, asal Mama tetap di sini."


Miranda menutup wajahnya yang sudah sembab. Kemudian melepaskannya, menatap putrinya. Ia kembali memeluk Misel, mencium seluruh wajahnya. "Mama harus pergi dulu sayang. Mama harus mengobati adikmu."


"Aku punya adik?" tanyanya polos.


Misel terdiam. "Apakah lama?"


"Emm-"


"Jangan lama-lama ya Ma. Kalau adik udah sembuh Mama dan adik harus pulang?" Pintanya.


Miranda hanya mengangguk, meski ia tidak tau dapat menyanggupinya apa tidak. Sementara sorot matanya menangkap tubuh Rena yang kini berdiri di belakang putrinya. Perempuan itu tengah tersenyum tipis ke arahnya.


****


Setelah mengetahui bahwa Miranda hendak pergi. Misel merengek meminta untuk mengantarkan Miranda ke Bandara. Rena pun menuruti keinginannya. Semula Miranda menolak, ia takut Alby mengetahuinya, tapi Rena menegaskan tidak ada yang perlu ditakutkan, soal Alby itu akan menjadi urusannya.


Rena meminta Miranda untuk membatalkan pesanan taksinya, karena ia akan mengantarkan Miranda menggunakan mobilnya. Selama dalam perjalanan pulang, Rena yang menyetir sesekali akan tersenyum kala melihat interaksi kedua orang di kursi belakang, keduanya seperti tengah mencurahkan rasa rindu yang selama ini terpendam.


"Misel jaga diri dengan baik ya. Mama pergi dulu," ucap Miranda saat sudah tiba di Bandara. Keduanya hanya bisa mengantarkan sampai ruang tunggu.


Misel menatap Miranda sendu. "Tapi mama harus kembali ya? Dan janji nanti telpon lewat Bunda ya."


Miranda mengangguk. "Iya sayang!"


Miranda berjongkok dan kembali memeluk putrinya, sambil menangis. Rasanya masih berat untuk pergi, mengingat ia baru saja bisa memeluk putrinya. Tapi, di sana pun Agatha juga membutuhkan dukungan darinya. Ia kembali tanpa membawa Misel yang semula akan ia jadikan pendonor untuknya. Miranda pasrah untuk apa yang akan dilakukan Damian padanya nanti, karena ia tak bisa memenuhi apa permintaannya.


Mengurai dekapannya, Miranda tersenyum membingkai wajah putrinya. Kemudian menghujani wajahnya dengan kecupan.


"Mama sayang Misel," ucap Miranda.


"Misel juga sayang Mama."


Miranda beranjak, menghampiri Rena yang berdiri di sisi Misel. "Titip Misel ya Re. Aku percayakan dia padamu."


"Iya mbak. Hati-hati ya," sahut Rena.


Miranda mengangguk, dan memeluk Rena sesaat. "Terima kasih untuk semuanya," bisiknya sebelum kemudian ia mengurai dekapannya. Menatap putrinya dengan senyum. Miranda meraih koper yang berada di sisinya.


"Mama pergi dulu sayang," ucapnya kemudian beranjak mengusap kepala Misel. Miranda melangkah, Misel melambaikan tangannya, seiring dengan menjauhnya tubuh Miranda.


"Mama????!!!" teriak Misel kala melihat tubuh mamanya hampir tak terlihat.


Miranda kembali menoleh ke arahnya, dan melambaikan tangannya, dengan senyum dan tangisnya. "Dah sayang. Maafin Mama sayang. Sekali lagi Mama bahkan harus ninggalin kamu!" ucapnya lirih.


Miranda menekan dadanya yang terasa sakit, kala melihat Misel berteriak sambil berlari memanggilnya. Beruntung Rena dengan sigap menenangkan Misel.


"Doakan Mama supaya bisa kembali dan menebus kesalahan Mama padamu, nak."


Miranda terus melangkahkan kakinya dengan cepat, tanpa berniat menoleh ke belakang. Ia takut jika kembali menoleh akan menggoyahkan keinginannya untuk segera pergi.