Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Kamu Juga Doyan



"Segitu asiknya by. Sampai lupa sama anak," decak Soraya memandang kesal ke arah putranya. Rena meringis merasa tak enak hati.


"Maafin Rena Bu." Rena menyela meminta maaf pada ibu mertuanya.


"Ibu tidak menyalahkanmu. Ibu tau benar seperti apa putra ibu." Soraya tersenyum pada Rena, lalu beralih menatap Alby dengan kesal, sementara Alby membalasnya dengan tatapan tak bersalah, kemudian beralih menghampiri Misel yang tengah makan dengan diam.


"Ibu sudah datang dari tadi?" tanyanya, sambil bergerak mencium pipi putrinya, tapi Misel justru memalingkan mukanya ke arah lain.


"Ya sudah lebih dari setengah jam yang lalu."


Alby mengusap tengkuknya salah tingkah, menyadari bahwa putrinya sedang ngambek. Ia pun memilih mendudukan dirinya di samping Misel tak lupa sebelumnya ia menggeser kursinya mendekat.


"Lho putri ayah kenapa? Kok diem aja sih?" tanya Alby.


"Aku marah sama Ayah dan Bunda."


Rena semakin tak enak hati dan merasa bersalah pada Misel. "Maafin Bunda ya sayang tadi itu-"


"Masa Bunda mandi lama banget. Misel sampai merasa lapar sekali. Ayah mendominasi Bunda banget, padahal kan Bunda udah janji mau temanin Misel belajar."


Alby mengusap wajahnya, sementara Rena menatap suaminya dengan kesal. Soraya hanya terdiam menatap ketiganya.


"Aku tadi mau nyusul Bunda ke atas, tapi Nenek datang dan melarangnya. Katanya biar dia saja yang manggil, tapi nenek juga kembali seorang diri dan bilang jika ayah dan Bunda itu sedang tidak bisa di ganggu." Misel semakin cemberut kesal. "Memangnya ayah dan Bunda itu sedang ngapain sih? Sampai aku gak boleh ganggu gitu?"


Alby menelan ludahnya susah, tiba-tiba tenggorokannya terasa kering. Sementara Rena merona, mengingat ucapan Misel. Sesaat ia baru teringat pada saat ia keluar dari kamarnya tadi, pintu kamarnya memang tak tertutup dengan rapat-rapat. Jangan-jangan....


"Aku mau tidur!" Misel beranjak dari tempat duduknya tanpa memberi senyum pada kedua orang tuanya.


"Misel?" Rena berteriak memanggil Misel, perempuan itu berniat untuk mengejarnya. Kemudian meminta maaf mengakui kesalahannya. Sungguh Rena menyesal telah terbujuk rayu sang suami, hingga melupakan janjinya.


"Udah biarin aja dia tenang dulu." Alby mencegah istrinya untuk beranjak. "Sekarang kamu makan dulu. Katanya kamu lapar," imbuhnya kemudian.


"Gimana aku bisa makan sih bang. Itu Misel ngambek, aku harus bujuk dia bang," seru Rena.


"Udah kalian makan aja dulu. Ibu tau kalian pasti lapar, Misel biar menjadi urusan ibu untuk saat ini," ujar Soraya bangkit dari kursinya. Tapi, saat hendak keluar dari ruang makan, perempuan itu kembali menoleh dan memanggil anak dan menantunya.


"Alby, Rena?"


"Iya Bu?" sahut keduanya bebarengan.


Soraya tersenyum, "ibu tau kalian lagi senang-senangnya memadu kasih. Tapi, lain kali pintunya di tutup dengan rapat. Agar alat peredam suara di kamar kamu itu berfungsi."


Uhuk! Uhuk!


Rena yang tengah mengunyah makanannya saat itu langsung tersedak, lalu meneguk minuman di depannya. Rasanya Rena merasa malu, ketika menyadari firasatnya benar, jika aktivitas panas keduanya tadi sempat terpergok oleh ibu mertuanya. Rasanya Rena ingin menenggelamkan kepalanya saat ini juga. Malunya itu luar biasa.


Usai kepergian Soraya. Rena langsung menatap tajam suaminya. "Ini semua gara-gara Abang."


"Kok aku?"


"Ya karena Abang, Misel juga jadi ngambek sama aku. Terus Abang juga udah buat aku malu di depan ibu," tuding Rena mendadak selera makannya menghilang berganti rasa kenyang karena malu. Jangan-jangan ibu mertuanya tadi juga mendengar suara-suara aneh dirinya.


"Ngapain malu dan nyalahin Abang. Orang kamu juga doyan." Alby memicingkan kedua matanya menatap istrinya. "Ingat gak? Kamu ketagihan bahkan minta nambah."


"Abang!!!!" teriak Rena kesal seraya mendaratkan cubitan di lengan sang suami.


"Jangan teriak-teriak Re. Berisik ih, tuh Bibi yang sedang di dapur aja sampai datang kemari." Alby menunjuk ke arah Bu Surti yang berdiri tak jauh dari sana.


Alby mengangguk. "Gak apa-apa Bi. Ini istri saya memang kalau bersuara udah kaya di hutan, mungkin di kira suaminya udah tuli."


Bi Surti terkikik geli mendengarnya, ikut senang melihat keduanya. Meski sering adu mulut tapi tetap romantis.


"Ya sudah saya balik ke belakang dulu ya Tuan, Nyonya!"


"Ya Bi!"


Rena cemberut dan bangkit dari kursinya, Alby segera memegang pergelangan tangannya.


"Mau ke mana? Habiskan dulu makanannya."


"Udah gak selera bang. Aku mau ke kamar Misel, kalau nanti-nanti keburu dia tidur. Gak tenang aku bang."


"Tapi-"


"Udahlah Abang lanjutin aja makannya." Rena menepis tangan suaminya, lalu beranjak pergi.


Dengan pelan Rena membuka pintu kamar Misel. Putri sambungnya itu tengah berbaring miring seraya memeluk boneka unicorn kesayangannya. Sementara di pinggiran ranjang Soraya tampak tengah mengelus rambutnya. Melihat kedatangan Rena, perempuan setengah baya itupun beranjak.


"Sudah tidur ya, Bu?" tanya Rena.


Soraya menggeleng, "belum. Katanya belum ngantuk. Dia hanya pura-pura terpejam saja begitu mendengar pintu kamarnya terbuka."


"Kalau gitu biar Rena yang mengusap-usap saja."


Soraya mengangguk. "Iya! Soalnya ibu juga mau pulang."


"Sudah malam. Kenapa tidak menginap saja sih, Bu?" tawar Rena.


Tapi ibu mertuanya itu menggeleng, "tidak sayang. Pagi-pagi ibu juga harus ke kantor."


"Kan bisa bareng Bang Alby." Rena mencoba mencari jalan pintas.


"Lain kali saja ya." Soraya menepuk pundak menantunya. "Kalau rumah ini udah kehadiran penghuni baru lagi," tambahnya kemudian seraya berlalu pergi.


Rena memaku tubuhnya, ketika mendengar ucapan terakhir ibu mertuanya. Penghuni baru? Artinya seorang anak kan.


Rena menyentak nafasnya, menyadari jika ibu mertuanya tau bahwa ia sengaja menundanya pasti akan kecewa. Apalagi Misel juga sangat menginginkan adik bayi. Beruntunglah belakangan anak itu lupa, akan perkataan sang suami ketika di rumah sakit.


Rena melangkah pelan, duduk di sisi ranjang Misel. Ia bersandar pada sandaran ranjang. Tangannya terulur untuk mengusap punggung mungil di depannya kini. Kemudian Rena merunduk lalu membisikkan sebuah kata.


"Selamat tidur sayang. Maafin Bunda ya."


Rena mengecup kening anak itu. Menyadari jika Misel ternyata sudah benar terlelap. Rena tak ingin menganggu, ia pikir akan lebih baik di bicarakan besok.


Kemudian, Rena memilih untuk mematikan lampu yang terang, menggantinya dengan lampu tidur. Setelahnya Rena berniat beranjak keluar, tapi dengan gerakan cepat tangannya di pegang oleh tangan mungil Misel.


"Bunda, jangan pergi. Tidur di sini ya," pinta anak itu yang terlihat membuka matanya setengah mengantuk.


Rena tersenyum dan mengangguk, kemudian mengurungkan niatnya untuk keluar. Biarkan saja lah malam ini Alby tidur sendiri.


Misel menggeser tubuhnya, memberi tempat Rena untuk berbaring di ranjang. Setelahnya, Misel langsung melingkarkan tangannya di perut Rena.