Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Gagal



“Tenang sayang, kamu itu hanya perlu diam biar Abang yang bekerja,” ujar Alby pelan.


“Abang nanti Alka bangun,” protes Rena yang tak di tanggapi oleh sang suami. Lelaki itu justru mulai fokus melucuti satu persatu pakaian istrinya.


“Gak sayang. Alka tahu kok apa yang Ayahnya butuhin,” seru Alby seraya mengguyur tubuh polos istrinya, kemudian mengambil sabun, lalu mulai menggosokkan sabun itu ke punggung istrinya.


Rena tersenyum tipis, saat tangan sang suami mulai menggosok dan memijat punggungnya, rasanya mulai nyaman dan enak. Bahkan ia sampai memejamkan kedua matanya.


Memang semula hanya pijitan biasanya. Namun, dasar Alby si suami yang punya sifat mesum tingkat dewa, tak menyia-nyiakan kesempatan. Pijatannya justru merambat kemana-mana. Di mulai pinggang lalu ke perut, kemudian naik ke atas bukit istrinya. Di mana di sana juga terdapat pabrik asi untuk putranya. Da da nya yang terlihat sintal dan menantang itu, tak membuat Alby menyia-nyiakan kesempatan, untuk berpetualang.


“A–abang,” de sah Rena mana kala sang suami me re mas da da nya, hingga membuat air berwarna putih itu pun keluar dari tempatnya.


“Hemm.. iya sayang. Enak kan?” tanya Alby menggoda. Bahkan bibirnya sengaja ia letakkan di dekat telinga istrinya, membuat tubuh Rena meremang. Perlahan bibirnya mulai mengecup daun telinga istrinya.


“Abang ih. Katanya cuma mau mandi aja. Ini apa coba jadi... Ah...” Rena tak dapat melanjutkan ucapannya. Kala tangan sang suami tak mau tinggal diam me re mas kedua bukit miliknya, masih dalam posisi Rena yang memunggungi dirinya. ”Pijatnya... Aah.. jangan ke mana-mana,” protesnya dengan nafas terengah-engah. Ia sungguh mati-matian menahan diri untuk tak men de sah.


“Biar adil sayang. Depan, belakang, tengah itu harus di pijat semua,” ujar Alby seraya melabuhkan ciumannya di tengkuk leher istrinya. Rena memejamkan matanya, sejenak ia merasa terbuai dengan kecupan lembut yang sang suami lakukan.


Sudah enam puluh hari, memang ia tidak merasakan sentuhan-sentuhan lembut itu. Mungkinkah tubuhnya pun mendambakan sentuhan sang suami? Rena tidak mengerti, yang ia tahu setiap kali Alby melakukan sentuhan ia merasa candu ingin lebih.


Rena tersentak mana kala merasakan sesuatu yang menonjol kini menusuk tubuh belakangnya. “Abang–”


“Hemm..” Alby hanya berdehem pelan seraya terus melakukan sentuhan-sentuhan lembut.


“I–ini, Abang?”


“Abang pengen, Re. Sebentar saja ya,” pintanya dengan raut wajah sayu, bahkan suaranya terdengar serak menahan gairah. Sungguh hasratnya ingin meledak saat itu.


“Tapi bang, Alka–”


“Dia masih tidur sayang. Percayalah hanya sebentar,” pinta Alby mendesak. Melihat raut wajah sang suami yang sudah berkabut gairah, Rena menjadi tidak tega untuk menolak. Ia membiarkan saja suaminya melabuhkan ciumannya, menyusuri seluruh tubuhnya dengan daging yang tak bertulang itu.


Kemudian, lelaki itu juga memutar tubuh istrinya, hingga kedua kini saling bertemu. Wajah Rena bersemu kala sang suami menatap tubuhnya dengan pandangan intens. Bahkan Rena menyilangkan tangannya di dada. Namun, secepat itu pula Alby segera menepisnya.


“Gak usah di tutup, Abang suka,” ujar Alby seraya kembali memangut bibir istrinya secara lembut. Hingga akhirnya keduanya di kamar mandi kini keduanya saling men ce cap, me li kit. Saling bertukar ludah. Sementara itu, kedua tangan Alby juga bekerja me re mas dan me mi lin apa yang bisa ia jangkau.


Ciuman Alby turun menuju leher, pundak, kemudian da da sintal istrinya, yang sejak tadi terlihat menantang. Alby memainkan lidahnya di sana. Nafas Rena naik turun, seiring dengan bunyinya air akibat dari pemanasan keduanya.


“Sayang, Abang udah gak tahan. Abang masukin sekarang ya,” kata Alby seraya mencoba mengubah posisi istrinya senyaman mungkin.


Rena hanya mengangguk, selain karena ia sendiri sudah merasa ter rangsang, ia juga ingin permainan itu segera usai sebelum putranya bangun. Alby mencoba menggiring miliknya untuk masuk, baru saja pucuk kepala itu menyentuh pusat kenikmatan istrinya, tiba-tiba...


Oek.... Oek..


Byur!!


Rena langsung mendorong tubuh suaminya menjauh, secepat itu ia beranjak mengambil handuk, setelah sebelumnya hanya mengguyur tubuhnya sebentar. Rena buru-buru keluar dari kamar mandi. Tak peduli akan teriakan suaminya.


“Ya ampun, nak. Tega banget sih sama ayah,” sungut Alby menatap melas tongkat miliknya yang masih berdiri tegak, setegak tongkak Mak lampir. Alby mengacak rambut basahnya frustasi. “Udah dua bulan Ayah puasa lho Ka,” sambungnya.


Masih dalam balutan handuk, Rena menenangkan putranya. Namun, Alka tetap tak mau diam. Dengan buru-buru Rena mengambil daster, lalu memakainya. Sebenarnya, bisa saja ia langsung menyusui Alka. Hanya saja ia harus lebih hati-hati, mengingat di rumah itu juga ada Misel. Anak kecil yang mempunyai rasa ingin tahu yang lebih tinggi. Apalagi Rena juga tahu di beberapa tempat, Alby sudah meninggalkan jejak tanda cinta di tubuhnya. Bayangkan jika sampai Misel masuk lalu bertanya perihal tanda itu. Entah harus menjawab apa ia nanti.


“Bunda, dedek Alka nangis?”


Rena menyentak nafasnya, menarik nafas lega kala putrinya benar masuk ke dalam kamarnya, ketika mendengar adiknya menangis. Beruntunglah saat itu ia sudah selesai berpakaian, dan juga Alka sudah mulai tenang dalam gendongannya.


“Iya sayang,” sahut Rena.


“Dedek jangan nangis. Kakak di sini,” ucap Misel ikut menenangkan. Bahkan kadang kala menoel-noel pipi Alka. Hal itu membuat, Alka melepaskan titik sumber asinya, menoleh ke arah Misel. Seakan sudah mengerti di ajak bercanda, bayi itu pun tersenyum gemas.


“Bunda, dedeknya senyum sama aku,” kata Misel senang.


“Iya, dia kan tahu ya punya kakak yang cantik,” seru Rena.


Misel tersenyum senang, lalu menatap ke arah Rena. ”Bunda habis mandi?” tanyanya begitu melihat rambut Rena terlihat basah.


“Iya sayang.”


“Oh pantas rambutnya basah. Misel bantuin keringin ya. Bunda beri Dede susu aja,” ujar Misel yang mulai beranjak naik ke atas ranjang, seraya mengambil handuk di sisi Rena.


“Makasih sayang. Duh kakak Misel baik banget ya,” puji Rena yang mulai merasakan usapan lembut kepalanya.


Ceklek!


Pintu kamar mandi terbuka. Alby keluar menggunakan bathrob putih miliknya, masih dengan wajah ditekuk kesal. Akibat adegan once again nya gagal.


“Ayah juga baru mandi?” tanya Misel.


“Iya ini.”


Rena melirik ke arah suaminya yang tengah mengambil pakaian ganti. Wajahnya kusut bertekuk kesal seperti pakaian yang belum disetrika. Rena jadi berpikir harus mencari cara lain, kalau kaya begini terus kasihan juga suaminya.


.


.


.


.


.


.


Mampir di novel baru aku ya guys.