Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Wedding Davis dan Nadila



Part ini khusus wedding Davis dan Nadila ya. Sekilas ini sudah aku bahas di novel sebelumnya ya -Do you love me?


****


RLV-Mercuriun


Sebuah hotel mewah kelas bintang lima, telah di sewa oleh keluarga Nugraha. Ballroom hotel bintang lima itu telah di sulap begitu mewah, rangkaian bunga lili putih begitu indah. Semua dekorasi itu bercorak biru putih begitu terlihat menawan.


Sementara itu, di atas panggung pelaminan sepasang pengantin tengah menyambut uluran para tamu yang datang memberi selamat pada keduanya. Ya, dua jam yang lalu Davis dan Nadila telah resmi menjadi sepasang suami istri, kini tinggallah sesi acara.


Pesta itu terlihat begitu meriah, berbagai dari kalangan pembisnis atas hadir. Baik dari rekan bisnis Rava, Davis, maupun Dika (ayah mertua Davis).


Tapi kemewahan itu tak sebanding dengan suasana hati kedua mempelai. Meski keduanya memperlihatkan senyum, seolah terlihat bahagia. Namun hatinya tersenyum kecut.


Davis Nugraha tak pernah menyangka akan sampai dititik ini. Melepas masa lajangnya dengan perempuan yang sama sekali tak mencintai dirinya. Entah rumah tangga seperti apa yang akan mereka jalin. Beberapa bulan pendekatan yang Davis lakukan terhadap Nadila, ternyata sama sekali tak membuahkan hasil. Perempuan itu nyatanya teramat mendamba Tristan- mantan tambatan hatinya. (Bagi yang baca novel do you love me, pasti tau masa lalu mereka).


Saat ini Davis hanya berdiam pasrah, menerima segala garis takdir kehidupannya. Selama orang tuanya bahagia, maka ia pun akan berpura-pura bahagia.


"Kalau kau merasa pegal duduk saja!" titah Davis yang melihat istrinya beberapa kali menggerakan kakinya, menggunakan sepatu hak tinggi tentu membuatnya pegal.


"Ah...i-iya!"


Saat Nadila hendak mendukukan dirinya di kursi. Tiba-tiba ia terkesiap saat melihat Tristan kini telah berdiri di hadapannya, dengan pandangan yang datar. Nadila menatap lelaki itu tanpa berkedip, hal itu tak luput dari pandangan Davis.


'Segitu cintanya kau dengan dirinya kah, Nad? Padahal kau tau dia sudah milik perempuan lain'.


"Sayang?" Seorang perempuan dengan perut sedikit membuncit memanggil Tristan dengan nada sedikit manja. Nada memang sengaja memanggil suaminya dengan panggilan itu, sengaja memperlihatkan pada Nadila bahwa Tristan adalah miliknya.


Tak lupa Nada juga melingkarkan tangannya di lengan sang suami, seraya tersenyum manis. "Selamat ya Kak Nadila, cantik banget sih. Kak Davis juga tampan, kan serasi banget berdua," puji Nada seraya menjabat tangan keduanya.


Tristan mencebik kesal, merasa tak suka saat istrinya memuji ketampanan pria lain.


"Makasih Nad," jawab keduanya.


"Selamat ya Tuan Davis dan Nona Nadila," ucap Tristan seraya menjabat tangan Davis.


Nadila menghela nafas sejenak, ia tak suka lantaran lelaki itu tetap memanggil dirinya dengan embel-embel nona. Tapi apalah daya ia tak harus memaksa seseorang, bagaimanapun ia harus tau luka yang ia torehkan pada lelaki itu begitu dalam. Apalagi saat ini Tristan sudah memiliki dirinya, begitupun dengan dirinya yang sudah menyandang status sebagai istri Davis. Ia harus belajar menerima dan mencintai suaminya, meskipun sangat sulit.


Di saat Nadila hendak bersuara, Tristan justru langsung menarik tangan istrinya, menjauh darinya seakan-akan lelaki itu memang merasa risih berdekatan dengannya. Nadila memandang keduanya sendu.


"Aku tau perasaanmu. Tapi, kau juga harus sadar apa yang benar dan salah. Seandainya kau mencintai lelaki yang masih lajang mungkin akan aku pikirkan jalan keluar untuk permasalahan pernikahan kita. Tapi jika kau berniat menghancurkan rumah tangga orang lain, maka biarkan saja kau terkekang dengan pernikahan drama ini."


"Apa maksudmu?" Nadila menoleh ke arah Davis.


Davis menggeleng, "lupakan saja ucapanku."


****


Rena nampak cantik dalam balutan gaun pesta berwarna peach, sementara sang suami begitu tampan dengan jas yang membalut tubuhnya. Saat ini keduanya tengah berdiri bersandar di salah satu pilar, bagian paling ujung. Rena menatap takjub kemewahan pesta itu.


"Kau sedang apa?" tanya Alby.


Rena menggeleng, "tidak. Aku hanya sedang berfikir pesta ini begitu mewah. Tidak sia-sia mommy mempersiapkan pernikahan ini jauh-jauh hari, dan aku ikut andil dalam pemilihan seserahannya. Abang lihat kan tadi, seserahan yang kami bawa, bagus kan bang itu pilihan aku tau." Rena terlihat begitu ceria saat menceritakan hal itu.


Alby justru terdiam, ia merasa sedih. Meski Rena tak bermaksud menyinggungnya, tapi entah kenapa ia merasa bersalah, karena ia sendiri tak menggunakan acara lamaran, tapi Alby justru langsung menikahinya. Boro-boro mikirin hantaran seserahan, cincin pernikahan aja ia tak memberikannya saat itu, semua serba dadakan.


"Aku ke tempat Misel dulu ya bang!" Rena berlalu meninggalkan Alby begitu saja.


"Seserahan yang kami bawa tadi bagus kan bang. Itu pilihan aku."


Kata-kata Rena barusan terngiang di telinganya. Alby pun kemudian berpikir dengan cepat, lantas ia tersenyum.


"Memangnya hanya Kak Davis saja yang bisa memberikan hantaran seserahan sama istrinya begitu banyak dan bagus?"


****


Rena tengah berdua mengobrol dengan keluarganya, dengan Misel yang terus bergelayut manja bak anak koala seakan tak mau lepas darinya. Rena merasa ingin ke kamar mandi, dan meminta Misel untuk melepaskannya sejenak tapi anak itu menolak dan merengek minta ikut.


"Bunda ayo kesana?" Misel menyeret Rena menuju salah stand makanan.


"Misel kamu sama ayah kamu saja ya, Bunda mau ke kamar mandi," pinta Rena pasalnya saat itu ia memang benar-benar telah kebelet.


"Rena?" Seorang pria memanggil dirinya, membuat Rena menoleh ia tersenyum melihat adanya Nanda dan Yuna.


"Hai Nanda, Yuna," sapanya balik.


Yuna membalasnya dengan senyuman tipis.


"Bunda ayo. Misel ingin makan ice cream!" rengek Misel menarik baju Rena.


"Sebentar sayang, oke!" Rena ingin basa-basi lebih dulu dengan temannya itu.


Nanda mengerutkan keningnya, "gak pernah ketemu. Sekalinya ketemu, kamu udah punya anak aja Rem, ckckck!" seru lelaki yang pernah di tolak dirinya kala itu.


"Sembarangan!"


"Lha ini--"


"Ceritanya panjang, udah dulu ya kalian nikmati aja dulu pestanya!" seru Rena karena Misel terus saja menarik-narik tangannya.


Nanda masih menatap kepergian Rena sambil menggelengkan kepalanya.


"Cemburu ya Tuan?" tanya Yuna.


Nanda menatap Yuna sekilas, "biasa aja. Gak ada kamusnya saya cemburu, Yun."


****


Usai mendapatkan ice cream untuk Misel, Rena berlalu mencari suaminya.


"Mau kemana?" tanya Alby ketika Rena meminta dirinya menjaga Misel.


"Kamar mandi bang. Aku udah kebelet ini dari tadi."


"Aku antar?" tawarnya.


Rena menggeleng, "gak. Abang jaga Misel aja. Emang aku anak kecil pakai di antar segala."


Alby berdecak menatap penampilan istrinya yang begitu cantik saat ini. "Aku gak takut kamu ilang, tapi ngeri banyak yang naksir sama kamu tuh."


"Ngaco. Dah ah aku kamar mandi dulu. Abang di sini jangan ikut, aku hanya sebentar karena sebentar lagi akan ada sesi foto keluarga," titah Rena.