
Alby merasa kesal saat sang istri menolak dirinya, kemudian langsung berlari ke kamar mandi. Akhirnya, ia pun kembali fokus pada pekerjaannya, juga sesekali menikmati kue dan teh yang telah disediakan oleh istrinya.
"Hemm lumayan," ucapnya.
Alby memijat kepalanya kala menyadari pekerjaan dikantornya begitu banyak. Belum lagi pekerjaannya sebagai dosen. Beberapa kali Alby kerap absen karena adanya meeting dadakan, dan Soraya tak bisa mewakilinya. Jika begini haruskah ia menuruti perintah ibunya. Untuk lebih fokus pada perusahaan. Tak mungkin ia mengorbankan perusahaannya kan, yang susah payah ia dan ibunya bangun dari nol. Tapi jika ia mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai seorang dosen. Gimana dengan istrinya? Maksudnya Alby takut bila mana ada lelaki yang berani mendekatinya, ia jadi tidak bisa mengawali istrinya.
Astaga! Kenapa ia jadi kekanakan-kanakan sekali sih. Kenapa sekarang ia menjadi sedikit cemburu. Tidak-tidak, baiknya masalah ini juga ia bicarakan pada Rena lebih dulu. Barangkali perempuan itu punya solusi.
Rena keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap. Alby menoleh, matanya mengikuti gerakan istrinya berjalan.
"Abang kenapa lihatin aku begitu?" tanya Rena.
Alby menggeleng, "gak. Kamu cantik!" pujinya.
Rena terkekeh, baginya pujian Alby itu terdengar basi karena lelaki itu memang sudah kerap mengatakannya demikian. Tapi, menurutnya kali ini ada sesuatu yang aneh. Lelaki tampaknya tengah memikirkan sesuatu.
"Abang ada yang ingin diceritakan ke aku?" tanya Rena sambil menyisir rambutnya yang basah.
"Abang banyak kerjaan Re," kata Alby.
"Ya udah makanya lanjutin gak usah lihatin Rena. Nanti kalau waktunya makan malam, Rena panggil Abang." Rena menjawab seraya meletakkan sisirnya kembali di atas meja.
"Maksudnya, kerjaan kantor Abang banyak. Pabrik yang berada di Bandung juga mengalami masalah. Abang pusing Re, bagi waktunya. Ibu minta Abang berhenti aja jadi dosen dan fokus ke perusahaan," tutur Alby seraya menghela nafasnya menyandarkan punggungnya ke belakang.
Rena mengangguk paham. Pantas saja suaminya jadi uring-uringan ternyata memang ada masalah juga dengan kerjaannya. "Ya udah Abang berhenti aja jadi dosen."
Alby justru mendengus kesal, mendengarnya. Mungkinkah Rena salah kasih saran.
"Lho bang-"
"Kamu kayaknya senang banget ya Abang berhenti. Biar bisa tebar pesona di kampus ya? Makin senang dong nanti si Miko itu, berasa gak ada saingan," celetuk Alby.
Rena memutar tubuhnya menatap Alby dengan mulut setengah terbuka. Padahal Rena hanya membantu memberikan solusi, tapi kenapa jadi merembet kemana-mana.
"Dihh baru juga baikan tadi, masa udah kesal lagi. Rena kan cuma ngasih saran bang. Gak mungkin juga kan Abang belain jadi dosen yang gaji gak seberapa, terus ngorbanin perusahaan yang udah Abang dan ibu bangun sejak nol. Ayolah bang berfikir secara logis, gak usah merembet kemana-mana. Memangnya selama ini Abang lihat aku sebagai perempuan seperti apa sih. Kalau aku emang perempuan yang suka tebar pesona, gak mungkin aku sampai mau nikah sama Abang itu masih jomblo. Pacarku tentu banyak di mana-mana. Ngomong sama Abang itu kadang buat aku kesal. Ngapain bawa si Miko? Dia udah tau kali kalau aku itu istrinya Abang. Anak itu emang dasar anaknya tengil, tapi baik gak mungkin ada niatan buat nikung istri orang. Cemburumu berlebihan. Kesal ih aku. Dahlah mau ke bawah aja, dekat sama Abang bawaannya mau ngomel mulu." Rena berdecak kesal.
"Re mau kemana, maksud Abang tuh-"
"Mau makanlah bang. Debat sama Abang tuh gak buat aku kenyang, ada buat aku punya penyakit gizi buruk iya!" celetuk Rena.
Alby mengusap wajahnya, memikirkan perkataan istrinya. Apakah bener dirinya telah kelewatan ya?
****
Usai makan malam Rena menemani Misel belajar. Perempuan itu begitu telaten. Alby juga sengaja membawa pekerjaannya dekat dengan anak dan istrinya biar tidak terserang virus ngantuk.
"Sudah malam dan sudah selesai. Misel bobo ya? Bunda juga harus mengerjakan PR sekolah Bunda," ujar Rena seraya membereskan buku-buku putrinya.
Misel mengedipkan matanya berulang kali. "Bunda boleh tidak Misel tidur bersama Kanza?"
Rena menghentikan gerakannya, lalu menoleh ke arah suaminya, kemudian kembali lagi menatap Misel.
"Tidak sayang. Mana bisa Misel tidur bersama kelinci."
Rena meringis, membuat Alby terkekeh kala menyadari kebingungan istrinya. "Misel tidurlah di kamar Misel sendiri. Mana mungkin Misel tidur bersama binatang. Lagian, kandang Kanza kan kecil. Ayah sudah menuruti kemauan Misel ya buat bawa Kanza pulang, jadi Misel juga harus nurut perkataan ayah. Kalau Misel berani membantah, nanti Kanza ayah lepasin lagi. Balikin ke tempat semula!" tutur Alby tegas namun tetap tenang.
Misel mengerucutkan bibirnya ke depan. "Iya deh Ayah."
Misel berlalu ke kamarnya, kali ini tidak minta di temani Rena. Karena sebelumnya Rena sudah mengatakan akan mengerjakan PR, membuat Misel paham.
"Jangan terlalu tegas gitu lah bang sama Misel, kasih tau yang pelan," seru Rena.
"Itu udah pelan kok Re. Kamu sensi banget sih, mau datang bulan ya?" tuding Alby.
Rena mencebik, "mana ada sensi. Abang tuh yang sensian, cemburuan gak jelas."
Alby tak menjawab, hanya menanggapinya dengan tawa kecil dari mulutnya. Lelaki itu kembali fokus dengan laptop di depannya. Sementara Rena pun melakukan hal yang sama, mengerjakan beberapa tugas dari kampusnya. Keduanya terus larut dalam diam, fokus pada barang laptopnya masing-masing.
Alby merenggangkan ototnya, menoleh ke arah istrinya yang masih fokus, sesekali akan terlihat menguap. Tampaknya ia benar-benar lelah.
"Masih banyak gak?" tanya Alby.
"Gak sih bang. Cuma agak ribet, perlu konsentrasi penuh." Rena menjawab tanpa menoleh ke arah suaminya.
"Abang mau buat kopi. Kamu mau dibuatin susu gak? Jarang-jarang ni aku tawarin."
Rena mengangguk, "boleh. Atau kalau gak biar Rena aja yang buatin Abang?"
Alby menggeleng, "gak usah. Kamu selesain aja, biar cepat istirahat." Alby beranjak ke dapur membuat kopi dan segelas susu putih kesukaan istrinya.
Beberapa menit kemudian, Alby kembali dengan membawa nampan yang berisi kopi dan susu. Ia meletakkannya di atas meja.
"Makasih ya bang," ucap Rena.
"Ya sayang!"
Rena menoleh ke arah suaminya sesaat yang kembali duduk, "udah malam kenapa Abang malah buat kopi sih? Harusnya Abang buat susu aja kaya Rena biar sehat."
"Gak suka!"
"Dihh, ingat kesehatan. Kopi itu kurang baik untuk lambung," celetuknya.
"Iya Bu Dokter, tau. Tapi aku gak suka susu itu!"
Rena kembali menghentikan gerakannya, lalu menoleh ke arah suaminya. "Oh abang sukanya susu yang coklat ya. Ya udah besok Rena beliin ya?"
Alby menggeleng, membuat Rena heran.
"Lho, terus?"
"Abang sukanya susu yang langsung dari sumbernya," celetuk Alby kemudian.
Pluk!!
"Abang, dasar mesum!" teriak Rena setelah melemparkan buku di depannya, tepat mendarat di tubuh suaminya. Lelaki itu bukannya kesal malah terbahak-bahak.