
Ini adalah hari Minggu. Hari yang santai bagi keluarga kecil Alby. Di pagi hari ini lelaki itu ingin melakukan joging, sebelumnya sudah janjian dengan kakak iparnya Davis. Keduanya akan bertemu di salah satu tempat yang sudah dijanjikan.
Alby sudah siap dengan pakaian olahraganya, ketika tiba-tiba Rena menghampiri dirinya.
"Abang aku ikut ya. Soalnya ada Kak Nadila juga, sekalian mau ngobrol lama juga gak ketemu," ujar Rena.
Alby terdiam tampak memikirkan permintaan istrinya. "Ayolah bang. Bosen ini aku di rumah."
"Ya udah buruan ganti pakaian, keburu Misel bangun," sahut Alby kemudian.
Rena tersenyum langsung berlalu meninggalkan sang suami, dan berganti pakaian. Beberapa menit kemudian Rena telah siap dengan pakaian olahraganya, rambut panjangnya dikuncir ekor kuda. Rena menuruti tangga menghampiri suaminya.
"Ayo bang! Aku udah siap," kata Rena yang setelah seraya tersenyum ke arah suaminya. Alby memicingkan kedua matanya melihat penampilan istrinya.
"Ganti!" titahnya.
Rena melongo mendengarnya, "ganti apa sih bang. Ini aku udah ganti pakaian olahraga kok. Udah rapi gini, tinggal siap jalan. Ayuk buruan keburu siang." Rena hendak langsung beranjak lebih dulu, tapi dengan cepat Alby justru menarik pakaiannya hingga membuat tubuh Rena kembali mundur.
"Abang bilang ganti, kamu gak dengerin abang. Apa-apaan olahraga pakai pakaian ketat begitu. Kamu mau buat lelaki di luar sana tergoda? Gak rela aku, Re."
"Bang ini tuh wajar, enggak ketat kok. Cuma emang pas aja di badan aku, namanya sesuai ukuran tubuh aku. Ya kali aku pakai baju Abang biar besar."
"Idemu bagus juga. Ya udah kamu balik lagi ganti baju Abang, banyak kok dari pada pakaian itu terlalu ketat untukmu!"
Rena semakin gemertak kesal.
"Bang, yang benar aja lah. Aku gak mau!" tolak Rena.
"Buruan Re!" titah Alby tanpa ingin dibantah.
Rena berlalu seraya bersungut kesal, "kenapa gak sekalian aja suruh ganti gamis."
Pada akhirnya Rena berganti dengan kaos olahraga yang lebih longgar dari pada tadi, sementara celananya ia menggunakan celana training biasa.
"Nah begitu lebih bagus. Jangan lupa pakai topi." Alby meletakkan topi di atas kepala Rena. Membuat sang istri hanya diam pasrah. Kemudian Alby dan Rena berniat untuk beranjak, tapi suara Misel kembali mengurungkan niatnya. Anak itu menangis, merengek ingin ikut kedua orang tuanya. Akhirnya, Rena menyarankan untuk Misel bersiap dan nanti biar diantar sopir. Beruntunglah anak itu mau menurut, kalau tidak Ren bisa gagal ngikutin sang suami.
****
Lapangan hari Minggu itu terlihat begitu ramai, karena banyaknya orang yang berlibur. Apalagi suasana tempat itu memang begitu sejuk, banyak pohon-pohon, dan rerumputan hijau. Alby, Davis, Ardan tengah bermain badminton. Sementara Rena, Nadila dan Milea tengah duduk sambil mengobrol, tak lupa mengawasi Misel yang saat ini tengah bermain skuter bersama anak-anak yang lain. Dari kompleks perumahan Alby memang banyak anak kecil.
"Bunda, aku haus. Pengen ice cream itu!" Misel menghampiri Rena dan menunjuk pedagang ice cream yang berada di pinggir lapangan.
"Misel kan belom makan masa makan ice cream," ujar Rena karena khawatir putrinya itu akan sakit perut. "Air mineral aja sayang?" tawarnya kemudian.
Misel menggeleng menatap Rena dengan tatapan melas, "satu aja Bunda, aku pengen banget. Lagian Misel kan tadi udah makan roti yang Tante Disty bawa." Apa yang dikatakan putrinya memang benar, mentang-mentang penjual roti. Disty tak tanggung-tanggung joging membawa roti begitu banyak. Rena sampai heran dan bertanya orang mau joging apa mau camping. Tapi Disty hanya menjawab mumpung lagi pada ngumpul, sekalian promosi rasa baru.
Rena beranjak untuk membelikan putrinya ice cream, beruntung tadi ia menyelipkan uang di sakunya. Jadi, tidak perlu teriak minta uang pada sang suami.
"Rena?"
Panggilan itu membuat Rena menoleh sambil mengangkat sedikit topinya.
"Em Dokter Ryan?" balasnya sopan namun sedikit heran. Untuk apa lelaki itu berada di sana, dengan seragam olahraga. Seingatnya tempat itu jauh dari kediamannya.
"Aku tadi pikir siapa? Soalnya pake topi. Hampir saja salah mengenali, Re." Dokter Ryan kembali berkata, lelaki itu tampak membeli air mineral di sebelah penjual ice cream. Rena hanya membalasnya dengan senyum tipisnya. Ia ingin buru berlalu, berharap jangan sampai suaminya melihat kehadiran dokter Ryan, bisa perang Baratayudha lagi nanti malam.
"Kamu sering kesini ya Re?" tanya Dokter Ryan.
"Emm ti-tidak!"
"Ohh, kirain. Kalau aku sih karena hari ini kebetulan lagi berkunjung di rumah kakak sepupu. Makanya paginya aku mencoba olahraga di sini. Ternyata lumayan juga, ramai." Dokter terus berbicara seakan tidak ada kecanggungan apapun pada Rena.
Sementara dari jauh, Alby tiba-tiba menjadi tak fokus lantaran pandangannya tertuju pada istrinya yang tengah berdua dengan lelaki yang paling membuatnya kesal. Bahkan kepala Alby sampai kejatuhan shuttle cock (kok) dari Ardan.
"Sialan!" umpat Alby kesal.
"Sorry By. Gak sengaja gue yaelah. Lo sih kagak fokus, malah liatin apaan sih. Ingat bini Lo," ujar Ardan yang mengira lelaki itu tengah menatap perempuan lain.
Alby mencengkram erat raket di tangannya, pandangannya tak lepas dari Rena.
"Sialan! Kenapa sih hama itu ada di mana-mana."
Davis mendekati adik iparnya, seraya mengikuti arah pandang Alby. Ia melihat Rena tengah berbincang dengan Dokter Ryan. Davis memang mengenal lelaki itu, tidak akrab hanya cukup tau.
"Cemburu?" tanyanya Davis kemudian.
"Banget! Kak Davis sendiri kalau istrinya berduaan begitu sama lelaki lain emang gak cemburu. Aku berasa pengen nyekik lakinya itu."
"Ck! Panggil Davis aja. Geli aku di panggil Kak, soalnya umurnya aja tuaan kamu," ujar Davis seraya terkekeh menikmati raut kesal adik iparnya.
Alby tak mengindahkan ucapan kakak iparnya itu, saat ini fokusnya hanya pada Rena. Merasa tak dapat menahan rasa kesalnya, Alby meletakkan raketnya, berniat untuk menyusul istrinya.
"Orang kalau udah bucin begitu banget. Jangankan bininya dekat lelaki lain, bininya di dekati nyamuk aja cemburu. Ya gak?" ujar Ardan pada Davis. Lelaki itu meletakkan salah satu tangannya tepat di pundak Davis.
Davis terdiam sejenak, sebelum kemudian berbicara seraya menepis tangan Ardan. "Aku gak gitu!"
"Berarti Lo gak cinta pada istrimu?" ujar Ardan yang berhasil menghentikan langkahnya Davis sejenak.
"Setiap orang itu punya cara masing-masing dalam mengekspresikan rasa cintanya."
Ardan terdiam membiarkan Davis berlalu pergi. Lelaki itu kini beralih menatap ke arah Alby, yang ia pikir sahabatnya itu akan menonjok dokter Ryan. Ternyata tidak, karena saat ini ia pun sudah tidak melihat kehadiran Dokter Ryan.