
Alena terus menggiring lelaki tampan itu masuk ke dalam restoran, di mana ruang VIP telah dipesan oleh orang tua Alena. Kebetulan restoran itu juga milik keluarga Alena.
Sena mengikuti langkah kakak sepupunya itu dengan tergesa-gesa. Ia berdecak kesal akan kelakuan kakak sepupunya itu yang seenaknya menyeret orang lain masuk ke restoran, lalu meminta bantuannya untuk menjadi pacar pura-puranya. Ide gila macam apa itu? Pikirnya.
"Alena ini sebenarnya-"
"Please sebentar saja Pak Dokter. Ini otak aku udah buntu dari kemarin nyari jalan keluar. Tapi gak nemu juga, tiba-tiba kedatangan Pak Dokter ini membuka pikiran ku, hingga terbesit ide lain. Ayolah Pak Dokter, kali ini saja. Lain kali aku pasti akan balas jasa Pak Dokter ini," kata Alena memohon.
"Benar begitu? Lain kali kamu akan melakukan apa saja buat aku?" sahut Dokter Ryan dengan wajah senang.
Alena mengangguk cepat, karena saat ini otaknya sudah buntu. "Iya, apa saja. Bahkan kalau aku disuntik akupun mau. Janji deh gak akan nangis."
Dokter Ryan tergelak lucu, melihat wajah Alena. Ia mengulurkan tangannya untuk mengusap rambut Alena.
"Ya udah ayo masuk," ajak Dokter Ryan.
Alena mengangguk lalu menautkan jemarinya di jemari Dokter Ryan. "Bukankah harus begini. Biar Papa percaya akting kita, Pak Dokter?"
Dokter Ryan mengangguk. "Iya lakukan apa yang menurutmu harus dilakukan. Tapi kau harus ingat janjimu tadi ya."
"Iya tenang saja. Aku bukan tipe orang yang akan ingat janji!"
"Bagus," sahut Dokter Ryan. "Kalau gitu ayo kita masuk. Serahkan semua padaku," lanjutnya.
Dengan kedua tangan yang saling terpaut. Alena dan Dokter Ryan terus melangkah masuk menuju ruangan VIP. Alena membuka pintu ruangan itu.
"Hallo, selamat malam semuanya? Maaf ya Alena telat, soalnya Alena kan nunggu kekasih Alena dulu," ujar Alena senang tanpa menatap wajah-wajah orang yang berada di sana. Fokusnya hanya terpatri pada kedua orangtuanya yang tampak terkejut.
"Jadi, kalian sudah saling mengenal? Dan benar kalian itu pacaran?" Suara bariton menyadarkan Alena. Perempuan itu menoleh dan terkejut, mendapati seorang perempuan setengah baya yang masih cantik tersenyum ke arahnya, lalu berkata, "Alena, calon mantuku?"
"Tante Elena? Kok bisa ada di sini?" sahutnya terkejut lalu melepaskan tautan tangannya dari Dokter Ryan.
"Lha kamu mengenal Tante Elena juga Alena. Dia itu calon mertuamu sayang?" ujar Roby dengan wajah senang. Karena mengira hubungan anaknya sudah jauh.
"Apa??!!" pekik Alena kemudian. Ia tak salah dengarkan. Calon mertua? jadi sahabat Papanya itu suami dari Tante Elena, dan orang yang mau dijodohkan dengan dirinya itu... Alena menoleh wajahnya ke arah Dokter Ryan, dan lelaki itu hanya mengangkat kedua alisnya pada Alena.
"Ya ampun!!" keluhnya. Mendadak ia menjadi seperti orang bodoh, niat hati ingin membuat perjodohan itu batal dengan cara membawa Dokter Ryan menjadi kekasih pura-puranya, namun tak ia sangka jika yang ia bawa justru lelaki yang ingin di jodohkan dirinya. Ya Tuhan, Alena tak menyangka akan mengalami kejadian seperti ini. Ini memalukan pikirnya.
Demi mendinginkan suasana hatinya yang memanas, Alena meraih gelas yang berisi air mineral di depannya, lalu meneguknya hingga tandas.
"Kau baik-baik saja, Alena?" tanya Dokter Ryan lembut.
Alena menoleh menatap Dokter Ryan dengan tajam. Sesaat ia merasa telah dibohongi, bukankah ia sudah bercerita rencana perjodohannya sejak beberapa hari yang lalu. Kenapa lelaki itu hanya diam berpura-pura terkejut dan tak tau apa-apa. "Pak Dokter itu sengaja ya mau buat aku terlihat bodoh?" hardik Alena dengan tatapan kesalnya.
"Maksudnya?"
"Aku kan sudah bercerita sama Pak Dokter kan dari beberapa hari yang lalu, tentang rencana perjodohan ini. Tapi Pak Dokter hanya diam saja, berpura-pura tidak tau begitu. Sampai-sampai aku kepikiran untuk kabur, lalu saat di depan tadi Pak Dokter juga diam saja saat aku seret-seret, aku bahkan sampai memohon untuk membantuku menjadi pacar pura-pura. Pak Dokter hanya diam saja," sambung Alena dengan mimik wajah yang kesal bercampur marah.
Sementara kedua orang tua Alena dan Dokter Ryan, di sana terkejut mendengar penuturan Alena, jadi tadi keduanya hanya berpura-pura. "Jadi, tadi kamu hanya pura-pura Alena?" tanya Robby dengan tatapan kecewa.
Alena mengangguk lemah.
"Karena kamu sudah bohongi Papa dan Mama, ya sudah kita lanjutkan perjodohan ini Bastian. Kalau perlu tanggal pernikahannya dipercepat saja, tidak usah ada pertunangan," imbuh Robby kemudian.
"Tidak! Aku tidak mau. Papa jahat," sergah Alena.
"Alena dengarkan aku bicara dulu-"
"Diam! Aku juga marah sama Pak Dokter. Ternyata Pak Dokter juga jahat," sergah Alena memotong cepat ucapan Dokter Ryan. Kemudian ia memilih keluar dari ruangan itu.
"Alena?!" teriak Robby, namun tak didengarkan oleh Alena. Gadis itu terus keluar tanpa menoleh hingga menabrak tubuh Sena yang baru tiba.
"Aduh," ringis Sena karena tubuhnya menjadi terpentok pintu kaca, akibat tabrakan tubuh Alena.
"Om, Tante biar Ryan aja yang susul," ujar Ryan.
Robby mengangguk. "Ya Ryan. Om serahin putri om sama kamu ya. Bicara baik-baik, Alena memang begitu sifatnya kaya anak-anak, mungkin karena terbiasa kami manja."
"Baik Om. Ryan permisi dulu ya," pamit Ryan.
"Good luck Ryan. Bawa calon mantu Mama kemari. Mama gak sabar mau ajak shopping," teriak Elena bersemangat, membuat Bastian heran. Pasalnya istrinya lebih heboh melebihi menang undian. Padahal sudah punya cucu tapi kadang masih suka bar-bar.
Bastian tersenyum. "Tidak apa-apa Rob. Namanya juga anak muda. Semoga saja Ryan bisa meluluhkan Alena."
"Karena tidak ada anak-anak, bagaimana kalau kita lanjutkan makan malamnya, kebetulan restoran kami ini ada menu baru," tawar Roby kemudian.
Bastian pun hanya mengangguk setuju, lagian kapan lagi mereka bisa ada waktu santai seperti itu.
"Mbak Ayu sini deh, kita bicarakan anak-anak kita yuk. Kira-kira kesukaan Alena tuh apa ya? Terus nanti pas nikah mau mahar apa ya?" ujar Elena yang diangguki oleh Ayu, bahkan perempuan itu bergeser mendekat.
Bastian memijat kepalanya. Yang mau nikah siapa yang heboh siapa. Bahkan anak-anaknya saja masih kabur-kaburan, dan para emaknya justru sibuk membahas pernikahan.
"Perempuan kalau udah ketemu emang begitu," ujar Roby pada sahabatnya.
"Iya bahkan kalau kita ngomong satu kata saja, dia bisa balas seribu kata," jawab Bastian tergelak.
****
Rumah Sakit Anggara
"Bagaimana? Apa sudah kau putuskan?" tanya Soraya yang baru saja tiba di ruang perawatan Galih.
Lelaki itu menoleh ke arah mantan istrinya, lalu mengangguk. "Iya. Ku pikir ucapan kamu benar. Setidaknya aku harus sehat lebih dulu. Aku tidak ingin mati sia-sia, apalagi membawa rasa bersalah itu sampai ke liang lahat."
Soraya tersenyum tipis. "Baguslah. Aku cukup senang mendengarnya. Kapan operasinya akan di laksanakan?"
Galih menggeleng. "Belum ada pendonor yang cocok Soraya," ujar Galih sendu.
Soraya menarik nafasnya pelan,"aku akan membantumu."
"Terima kasih Soraya!"
"Ku dengar dari menantuku. Tadi Alby berniat untuk kemari, hanya saja karena putrinya tiba-tiba tidak enak badan, jadi ia menundanya."
"Benarkah?" sahut Galih senang.
Soraya mengangguk. "Semoga saja ia tidak berubah pikiran."
"Tidak apa-apa aku akan menunggu. Kalaupun dia tidak mau, setelah nanti aku sembuh. Aku yang akan datang padanya," ujar Galih mantap. Mendengarnya membuat Galih menjadi lebih bersemangat untuk segera sembuh, dan ia harap secepatnya ia akan mendapatkan pendonor yang cocok.
"Kau mau buah?" tawar Soraya.
Galih menoleh dan mengangguk. "Boleh."
Soraya meletakkan tas miliknya, lalu menggulung blazernya. Setelah mengambil buah tak lupa lupa mencucinya lebih dulu. Kemudian ia mulai mengusap dan memotong buah pear itu memberikannya pada Galih.
"Terimakasih," seru Galih.
Soraya hanya mengangguk kecil.
"Soraya, apa kau tidak lelah setiap hari kemari? Bahkan setelah kau sibuk seharian di kantor?" tanya Galih.
Soraya menghentikan gerakan memotong buah di tangannya. "Apa kau keberatan jika aku setiap hari kemari?"
"Sama sekali tidak. Aku justru merasa sangat senang."
"Kalau begitu kau tidak perlu bertanya apa-apa."
"Baiklah," sahut Galih pasrah.
Soraya tersenyum tipis. 'Entah kenapa rasa ini bahkan masih sama. Aku masih mencintaimu, Galih."
Galih terus memakan buah yang di beri oleh Soraya. Sambil tersenyum ia bahagia, bolehkah ia berharap lebih pada hal ini. Ia ingin keluarganya kembali, terdengar egois memang. Setelah apa yang terjadi ia masih menginginkan istri dan anaknya. Tapi, sungguh ia masih menyayangi mereka. Galih ingin menebus segala kesalahannya yang terjadi di masa lalu.
"Soraya?" panggilnya kemudian, membuat Soraya pun menoleh.
"Ya, apa kau butuh bantuan?" sahutnya.
Galih menggeleng gugup. "Tidak ada... Aku hanya mau mengucapkan terimakasih!"
"Kau sudah mengucapkannya sejak tadi," pungkas Soraya membuat Galih semakin gugup. Sebenarnya bukan hal itu yang ingin ia ucapkan. Tapi, ia merasa tidak pantas. Dan ini bukan saat yang tepat.