Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Kesombongan Miranda



Alby yang berada dalam ruang tunggu pun merasa cemas, saat menunggu dokter memeriksa keadaan Misel. Berkali-kali Alby menghela nafas dalam-dalam, sambil berdoa untuk keadaan putrinya.


"Maafkan ayah sayang. Ayah hampir saja gagal menyelamatkanmu!" lirih Alby seraya mengusap sudut matanya yang basah. Jika terlambat sedikit saja, entah bagaimana keadaan Misel selanjutnya.


Ardan menepuk pundak sahabatnya itu. "Aku yakin Misel akan baik-baik saja. Menurutku dia hanya syok. Jangan pikirkan soal Miranda. Aku akan memastikan perempuan itu mendapatkan balasan yang setimpal, hingga membuatnya jera."


Alby mengangguk lemah. "Makasih ya, Ar. Karena bantuan mu aku jadi-"


"Sstt... Santai. Kita itu sahabat, aku akan melakukan apapun demi membantumu. Misel juga keponakanku. Tenanglah, kamu harus kuat. Jangan terlihat lemah di depan Misel." Ardan menenangkan, tak lama ponsel miliknya berdering. Ia mengambil ponsel miliknya yang di dalam saku. "Sebentar! Ibu negara telpon. Aku angkat dulu." Ardan berlalu sedikit menjauh untuk menjawab panggilan dari Milea.


Rena berlari menyusuri koridor rumah sakit dengan cepat. Ia merasa khawatir dan panik mendengar jika Misel masuk rumah sakit. Ia takut sesuatu terjadi padanya.


"Pelan-pelan Re!" ujar Soraya yang mengikuti langkah kaki Rena begitu cepat. Ya sejak tadi, Soraya memang menemani menantunya di rumah, ia pun cukup kaget mendengar apa yang tengah terjadi pada cucunya. Mendengar Misel berhasil diselamatkan keduanya merasa lega, tapi tidak lama-lama rasa leganya kembali menjadi rasa khawatir kala Ardan mengabarkan jika Misel masuk rumah sakit, saat mengeluh sesak nafas. Rena yang merasa kalut langsung mengambil kunci mobilnya, untuk pergi ke rumah sakit. Soraya tentu tak mengijinkan pergi sendiri.


Ia pun mengambil alih kemudi mobil Rena. Selain ingin memastikan keadaan cucunya, ia juga harus memastikan keadaan Pak Tono.


"Bang?" panggil Rena ketika sudah tiba di depan ruangan UGD, di mana Alby tengah berdiri mondar-mandir menunggu dokter ke luar.


Alby menoleh, Rena langsung berlari memeluk suaminya.


"Re, kamu kesini?"


Melepaskan rengkuhannya, Rena mengangguk. "Sama Ibu bang. Aku khawatir sama Misel."


"Ya sayang."


Tidak lama kemudian, Dokter pun keluar dan menjelang kondisi Misel saat ini. Sepanjang, penjelasan Dokter Albu berkali-kali mengepalkan kedua tangannya. Saat dugaan Ardan sama sekali tak meleset, dan semua akibat ulah Miranda.


Rena tertunduk merasa sedih, rasanya seluruh sarafnya ikut lemas, seakan tubuhnya tanpa sebuah nutrisi. Misel memang bukan lahir dari rahimnya, tapi Misel adalah hidupnya. Ia sama berharganya seperti Alby. Rena tentu merasa sangat sedih dengan keadaan putrinya kini.


Soraya menepuk pundak menantunya. "Sabar ya sayang. Ibu yakin Misel akan baik-baik saja. Nanti dia akan segera pulih, kita bisa menghilangkan rasa takut dan syoknya itu."


Rena mengangguk, dan tersenyum pada ibu mertuanya. Meski dalam hati ia pun merasa sedih.


Tak lama kemudian pintu ruang UGD kembali terbuka. Misel di pindahkan ke ruang rawat inap. Rena dan yang lainnya menyusulnya.


Mereka masuk ke ruang rawat setelah perawat menyelamatkan pemasangan alat, dan memastikan kondisi Misel baik-baik saja.


"Kami permisi dulu Dokter Rena," pamit kedua perawat itu. Karena kebetulan Alby memang membawa Misel ke rumah sakit tempat Rena bekerja.


"Terima kasih, sus!" balas Rena.


Setelahnya, Rena menatap Misel yang terbaring dengan wajah pucatnya, dengan jarum infus yang menancap di pergelangan tangannya, dan juga selang oksigen yang terpasang di rongga hidungnya, karena saat datang ke rumah sakit Misel dalam keadaan pingsan, Alby mengatakan sebelumnya anak itu mengeluh sesak nafas.


****


Miranda digiring masuk ke dalam sel tahanan yang berisi beberapa orang di dalamnya. Beberapa kali perempuan itu sempat memberontak, tapi selalu gagal.


"Namanya penjahat ya tempatnya di penjara. Makanya, kalau tidak mau masuk ke penjara, jangan berbuat jahat!" ledek seorang perempuan yang bertubuh sedikit gempal. Ia berada dalam satu sel tahanan dengan Miranda.


Perkataan perempuan itu mendapatkan sambutan tawa dari teman-teman yang lainnya. Mereka semua tertawa senang, seakan mendapatkan lelucon baru.


Sementara Miranda meradang ia merasa tak terima mendengar ejekan dari perempuan itu. Dirinya seolah merasa terhina. Ia menatap sengit ke arah mereka.


"Kau bicara apa tadi?" sergah Miranda berjalan melangkah ke arah mereka.


"Penjahat kau itu penjahat, tempatmu memang berada di sini!" perempuan itu kembali menekankan jawaban sebelumnya.


"Hei, lancang! Aku ini Miranda Lavanya, seorang model papan atas. Aku terkenal, aku ini perempuan sosialita, dan aku juga berasal dari keluarga pembisnis hebat!" Miranda menyombongkan diri.


Perempuan bertubuh gempal tadi menatap Miranda dengan tatapan sinis, sebelum kemudian menjawab ucapan Miranda. "Kau itu hanya napi? Mau status apapun dirimu sebelumnya, jika kau sudah masuk di sini. Tetaplah kau seorang napi. Dan napi adalah seseorang yang sudah berbuat kejahatan di masukan ke dalam penjara. Jadi, lebih lebih tutup mulutmu tak usah menyombongkan diri. Terima saja takdirmu, dasar penjahat!"


Miranda mengepalkan kedua tangannya. Dalam hati ia merutuki Alby semua ini karena lelaki itu dirinya harus berakhir mendekam di penjara. Sekarang apa yang harus ia lakukan? Tidak mendapatkan Misel, dan ia justru mendekam di bui. Ini akan merusak reputasinya seorang model.


"Jangan sombong. Ngakunya model, pengusaha, tapi melakukan tindakan kejahatan. Tetap saja dirimu itu sama buruknya dengan kami!"


"Ku pikir dia karena kebanyak duit. Makanya otaknya menjadi geser, akhirnya gila. Pantasnya dia itu masuk rumah sakit jiwa, karena punya kelainan. Yaitu menghalu!" timpal salah satu napi yang lain, dan di sambut oleh tawa semua yang di sana.


"Hei kalian berani menghinaku? Aku ini lebih bermartabat dari kalian." Miranda tak terima saat orang-orang itu terus mengejeknya.


"Hei, namanya penjara itu buat orang jahat. Dan napi itu bejat, jadi Lo tuh gak usah sok suci, sialan!" Perempuan bertubuh gempal itu mendadak menjadi meradang, kesal dengan kesombongan Miranda.


"Ku pikir dia harus diberi pelajaran sedikit. Biar dia bisa menyaring ucapannya!"


"Ya, anggap saja sebagai tahap perkenalan dari kita!" timpal salah satunya.


Dengan senyum menyeringai, mereka bertiga mendekati Miranda, bersiap untuk menghajarnya.


"Ka-kalian mau apa? Jangan berani mendekat. Aku ini kaya, aku bisa melakukan apa saja untuk memberi pelajaran pada kalian!" Miranda masih menyempatkan diri untuk mengancam, meski dirinya pun saat itu dalam kondisi ketakutan.


"Gak peduli. Mau kamu kaya apa miskin . Bagi kita di sini kau tetap sama saja. Dan kami tidak menyukai sikapmu yang belagu itu!"


Mereka terus mendekat, membuat Miranda beringsut mundur ketakutan.


"Jangan mendekat!" Miranda mengangkat tangannya berusaha mencegah mereka. Sungguh ia merasa takut. Jika ia di keroyok akan habis di sana.


Dugh!


Bugh!


Namun, usaha Miranda sia-sia. Saat dengan cepat perempuan yang bertubuh gempal itu sudah melayangkan bogem mentah pada wajah Miranda, hingga membuat perempuan itu terjatuh. Kemudian di susul dengan teman-temannya, yang melayangkan tinju pada perutnya. Miranda jatuh tak berdaya di lantai.