
Setengah jam kemudian, Ryan membawa istrinya keluar dari kamar mandi dan mendudukan dirinya di pinggir ranjang. Ia hanya nyengir kala istrinya terus mengomel-omel.
"Keterlaluan! Bilangnya membantu aku mandi, taunya diulang lagi. Remuk semua deh badan aku!"
"Kebablasan sayang. Namanya juga masih hangat-hangatnya, pengantin baru gitu. Lagian kamu bilangnya enggak tapi malah berteriak keenakan minta terus lebih dalam lagi katanya!" kilah Ryan seraya menirukan gaya Alena menjerit dan men de sah di kamar mandi tadi.
Bugh! Alena mengambil bantal melemparkannya ke sang suami. Ia kesal, namun wajahnya pun merona, kala mengingat kejadian tadi di kamar mandi. Apa iya dia seperti itu ya? Habis gimana meskipun terasa sakit dan kesal dengan suami, tak di pungkiri rasanya memang enak. Jangan-jangan ia mulai ketagihan jarum suntik sang suami.
"Lapar banget aku," keluh Alena saat sang suami mendekati dirinya membantu memakaikan pakaiannya.
"Mau makan apa? Spesial hari deh hari ini Mas yang masakin?" tawar Ryan seraya beranjak ke meja rias mengambil sisir untuk menyisir rambut istrinya.
"Enggak! Mau makan masakan Mama aja. Kalau nunggu Masry yang masak mah lama, lagian aku tahu itu pasti cara Masry biar ngulang adegan suntik-suntikan lagi."
"Ya memang apa salahnya, orang sama istri sendiri. Ya udah ayo kita makan tapi nanti balik kamar ngulang lagi ya," ucap Ryan sambil tergelak.
"Gak ada ya. Ini aku masih nyeri banget, kayaknya juga susah jalan. Masry ambilin aja deh makanannya bawa kesini!"
"Iya deh. Mas ambilin, tapi nanti-"
"Gak ya. Jangan minta itu dulu, ini tuh nyeri banget," potong Alena dengan cepat.
"Apaan sih. Orang Mas cuma mau bilang, pindah ke rumah Mama Elenanya besok saja nunggu kamu mendingan. Nanti habis makan Mas kasih obat deh, biar gak nyeri!"
****
Siang ini keluarga Rena dan Alby tengah berkumpul di rumah Rena. Mereka semua menghabiskan waktu untuk mengobrol berbagi cerita, merasa bahagia karena akan kehadiran anggota baru. Bahkan Rava dan Galih saling bertukar obrolan seputar bisnis, hingga keduanya sepakat menjalin kerjasama.
Ditengah asiknya perbicangan hangat, mereka semua dikejutkan dengan kedatangan Nany Ratri dengan tiba-tiba.
"Ada apa Ratri?" tanya Galih pada pengasuh cucunya itu.
"Itu Non Misel nangis-nangis di belakang Tuan," sahutnya.
Mereka semua langsung terkejut khawatir. Rena dan Alby langsung beranjak, begitupun dengan yang lainnya menyusul.
Sampai di sana, mereka semua terkejut lantaran melihat Misel tengah menangis seraya mengusap-usap Kanza.
"Sayang, kenapa menangis? Kanzanya kenapa?" tanya Alby.
"Mati," jawab Misel sambil sesenggukan.
Ratri menjelaskan penyebab Kanza bisa mati, ternyata saat berlari Kanza tercebur di kolam renang, kebetulan saat itu keadaan Kanza memang kurang baik. Rena bahkan sebelumnya sudah membawa Dokter hewan untuk memeriksanya, mengingat binatang kelinci itu merupakan binatang kesayangan putrinya. Alby berusaha membujuk putrinya untuk mengikhlaskan Kanza. Tapi, Misel masih terus menangis seraya menciumi kepala Kanza.
"Sayang, kok malah kamu cium-cium dan jilat kepala Kanza?" tanya Rena heran.
"Kan kata Bunda dan Ayah gini, biar Kanza mau bangun."
Ucapan Misel membuat semua melongo tak mengerti.
"Kata Ayah kemarin malam gini pas aku tidur di kamar bareng Ayah dan Bunda. Terus Bun cium dan jilat aja kepalanya aja biar mau bangun," sambungnya yang kemudian membuat semua orang mengerti. Mereka langsung menatap ke arah Rena dan Alby.
"Abang?!!!" Rena berteriak malu memukul punggung sang suami. Kemudian berlalu masuk ke dalam rumah dengan perasaan malu.
Semua orang menggelengkan kepalanya.
"Kelakuan kamu ya By. Keterlaluan banget, emang gak bisa apa kalau mau celup-celupan itu pindah kamar dulu, atau di tunda dulu!" omel Soraya pada putranya. Dinda dan Rava hanya menghela nafasnya. Alby hanya terdiam pasrah menerima Omelan ibunya. Yang ia pikirkan saat ini adalah istrinya yang berlalu masuk ke rumah pasti akan marah padanya, entah butuh berapa lama nanti untuk ia berhasil membujuknya.
Galih mengusap punggung istrinya, kemudian mendekati Misel. Membujuk cucunya untuk berhenti menangis, ia berjanji akan mencarikan pengganti Kanza.
"Sudah ya sayang. Nanti kita cari pengganti Kanza, kakek janji akan memberikan dua kelinci untuk Misel," bujuk Galih.
"Iya. Buat cucu kakek apa sih yang enggak."
Misel mengangguk menurut. Melihat putrinya sudah berhenti menangis. Alby pun berlalu masuk ke dalam menyusul istrinya yang pasti masih dalam keadaan marah.
"Sayang?" panggil Alby pelan pada Rena yang tengah bergulung dalam selimut. Lelaki itu mencoba membuka selimutnya, tapi Rena menepisnya.
"Gak usah pegang-pegang," sergah Rena.
Alby menghela nafasnya. "Kok jadi kamu yang marah sama Abang sih, Re. Abang juga kan gak tau apa-apa. Harusnya Abang dong yang kesal, itu kemarin kan kamu duluan yang mancing-mancing hasrat Abang. Ya makanya Abang kelepasan ngucap gitu. Mana Abang tau kalau Misel dengar."
"Jadi Abang nyalahin aku?!" ucap Rena kesal.
"Oh enggak sayang. Iya deh Abang yang salah, maaf ya." Alby memilih mengalah.
****
Sore hari, Miranda tengah sibuk membuat desain gaun di meja kerjanya. Ponsel di atas mejanya bergetar, ia segera membukanya.
[Sayang, hari ini adalah pertemuan aku dengan Tuan Kevin. Doakan aku berhasil membawa kabar baik ya. Aku juga ingin membuat kamu dan Papa bangga. Nanti kalau aku pulang, aku akan langsung menemui kamu, dan memberi oleh-oleh padamu.] tulis Miko dalam pesannya.
[Iya, semangat.] balas Miranda. Saat ini Miko memang tengah berada di Bali, pagi tadi ia langsung berangkat ke sana. Mengerjakan tugas yang diberikan oleh Papanya.
Tok! Tok!
"Masuk," sahut Miranda.
Ceklek!
"Mbak ada tamu," ujar Eva begitu pintu terbuka.
Miranda langsung menoleh dengan bingung. "Tamu? Perasaan hari ini tidak ada jadwal customer ambil gaun. Siapa tamunya, Va?" tanyanya heran.
"Laki-laki mbak. Dia bilang ada hal penting yang ingin dibicarakan dengan mbak," seru Eva.
Entah kenapa firasatnya tidak enak. Tapi, ia pun merasa penasaran. "Ya udah suruh tamunya masuk aja, Va."
Eva mengangguk dan berlalu. Tidak lama kemudian ia kembali seraya membukakan pintu untuk tamu Miranda.
"Silakan, Pak."
Seorang lelaki setengah baya dalam balutan jas rapi masuk ke dalam ruangan. Miranda tertegun melihatnya.
"Pak Irawan?" sapa Miranda ramah.
Lelaki itu mengangguk memindai ruang kerja Miranda. "Mohon maaf kalau kedatangan saya menganggu waktu kerja kamu Miranda."
"Oh tidak! Saya sama sekali tidak sibuk. Silakan duduk Pak." Miranda mempersilahkan lelaki itu duduk. Irawan mengangguk dan duduk di kursi depan Miranda.
"Sebentar, Pak. Biar saya pesankan Bapak minum dulu." Miranda mengambil ponselnya untuk menelpon cafe depan butiknya.
"Tidak perlu Miranda. Saya hanya sebentar di sini. Karena memang sangat penting untuk saya sampaikan pada mu!"
Miranda mengurungkan niatnya, kembali meletakkan ponselnya. Dengan wajah gugup ia pun mengangguk.
"Tentang?"
"Tentang Miko dan masa depannya!" ujar Irawan.