
Hari berlalu kehamilan Rena yang sudah menginjak usia sembilan bulan membuat Alby meminta sang istri untuk mengajukan cuti kerja. Rena yang begitu menghargai saran suaminya pun hanya menurut. Toh memang benar, dengan perut besarnya membuat ia merasa kesusahan saat harus memeriksa pasien, ia merasa gerakannya pun terbatas.
Tiga hari berdiam diri di rumah Rena merasa bosan. Ia hanya bermain ponsel, nonton televisi, saat Misel sedang sekolah. Alby tak memperbolehkan ia memegang pekerjaan rumah apapun, kecuali hanya mengurus Misel, itupun hanya bagian yang ringan. Karena ia sama sekali istrinya melakukan sesuatu yang memberatkan.
Hari ini Rena berjanji akan melakukan me time bersama Miranda dan Alena. Dan di sinilah kini ketiganya berada, salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta. Sebelum belanja mereka bertiga memutuskan untuk perawatan tubuh khusus ibu hamil.
“Aku sebenarnya jarang pergi-pergi ke salon begini? Dari jaman kuliah waktuku selalu habis buat belajar. Mommy bahkan sampai kerap mengomel, karena di otakku hanya terbesit belajar, belajar dan belajar. Aku gak pernah kepikiran untuk ngerawat diri apalagi belajar masak,” curhat Rena sambil menikmati pijatan lembut di kepalanya.
“Kamu mending isi otaknya belajar Re. Aku dong lebih keren,” timpal Alena.
“Kenapa?” tanya Rena dan Miranda bebarengan.
“Isi otakku cuma main dan makanan,” jawab Alena tergelak. Sedangkan Miranda dan Rena melongo. “Papa bahkan sampai ngeluh karena aku malas belajar. Padahal kan aku anak tunggal harusnya jadi penerus keluarga gitu katanya. Tapi berkat Mama, aku jadi bisa menjadi diri aku sendiri. Hanya menuruti perintah Papa untuk kuliah itu saja,” sambungnya.
“Kalau Mbak Miranda pasti rajin perawatan ya? Soalnya kelihatan sih dari postur tubuhnya. Miko aja langsung klepek-klepek,” tanya Alena dengan diiringi candaan.
Miranda menghela nafasnya. “Iya itu benar. Sejak dulu aku memang suka perawatan, karena itu juga salah satu tuntutan pekerjaan. Tapi, kalau boleh jujur aku lebih bahagia berada di kehidupan sekarang, daripada kehidupanku yang dulu. Meski semua aku terlihat glamor, tapi jujur hatiku kosong. Sekarang aku memiliki suami yang begitu sayang padaku, kedua mertua yang begitu baik, dan juga kalian. Aku merasa ini kehidupan yang aku inginkan sesungguhnya.” Rona bahagia terlihat jelas di wajah Miranda. Meski hanya menggunakan bedak tipis, perempuan itu memang terlihat cantik, ia mengusap perutnya. Tak sadar menantikan ketiga buah hatinya bersama sang suami untuk hadir kedunia ini. Tuhan memang begitu baik padanya.
Di saat ia mengandung di usia 32 tahun sementara sang suami masih begitu muda. Ia tak tanggung-tanggung memberi rejeki. Miranda bahkan tak menyangka akan mengandung tiga janin dalam perutnya. Ia membayangkan akan seramai apa rumahnya nanti, pasti seru dan berwarna. Mendengar tangis dan tawa mereka nanti.
“Kalau kamu Re? Gimana ceritanya bisa nikah sama Alby? Pasti cinlok di kampus ya?” tanya Miranda beruntun.
Rena menoleh ke arah Miranda, meringis malu dan menggeleng.
“Mana ada cinlok Mbak Miranda. Itu Pak Alby dulu suka banget nindas Rena kalau di kampus,” timpal Alena yang beberapa kali kerap mendengar sahabatnya itu cerita tentang Alby si dosen killer katanya.
“Lho... Kok bisa ya?" Miranda semakin merasa penasaran.
“Aku tuh menikah dengan Bang Alby sebenarnya dulu itu em...”
“Apa Re? Aku penasaran banget ceritanya. Setau aku Alby itu paling susah dekat dengan perempuan,” kata Miranda.
“Aku tuh dulu menikah sama Bang Alby karena terpaksa mbak. Bahkan kami menikah secara dadakan, itu semua ku lakukan demi Misel.” Rena menghela nafasnya. Pada akhirnya ia juga harus cerita tentang awal perjalanan cintanya dengan Alby. Tampak Miranda dan Alena semakin tertarik, mereka bahkan semakin mendekatkan tubuhnya.
“Kok demi Misel?”
Rena mengangguk, dan mulai menceritakan kejadian yang membuatnya harus menikah dengan Alby.
“Jadi, yang ngelamar kamu itu justru putriku?” tanya Miranda tergelak.
Rena mengangguk. “Tapi, selama itu juga aku gak pernah menyesal mbak menerima pernikahan itu. Meskipun tidak ada cinta di antara kami. Abang tetap baik, ya meskipun awal-awal kesalahan pahaman sering terjadi. Aku bahkan sempat mengira Mbak Milea itu kekasihnya abang.”
“Kisah cintamu kok kaya drama novel sih Re. Aku sebagai sahabatmu aja baru tahu, jahat banget sih gak cerita-cerita,” dengus Alena.
Miranda tersenyum tipis.
Alena mengangguk, menikmati pijatan lembut di bahunya. “Iya. Kangen bayar Masry pake ovo. Karena udah nikah saldo ovoku gak pernah kepake ini.”
Rena tertawa kembali mengingat andalan Alena kalau ketemu Dokter Ryan yang akan membayar jasanya pake ovo.
“Nanti malam mau minta suntik ah, terus bayar pake ovo ke akun Masry.”
Rena dan Miranda saling berpandangan melongo.
🦋
Usai dari salon, ketiganya lantas memutuskan untuk belanja. Mereka masuk ke dalam salah satu toko tas. Mereka saling sibuk memilih tas.
Alena yang memiliki badan yang mungil, melihat sebuah tas yang terdapat di rak paling atas. Ia berusaha untuk menggapainya, namun terasa susah. Tiba-tiba ada seseorang yang mengambil tas itu.
“Ini bagus aku suka,” ucap orang itu. Alena menoleh, lalu hendak merebut tas itu. “Itu kan pilihanku,” kata Alena.
Perempuan berambut panjang dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya itu pun menoleh, menatap Alena dengan sinis. “Ini milik toko bukan milik anda, Nona Alena.”
Alena terbelalak ketika mendengar perempuan itu mengetahui namanya. “Kamu tahu namaku?” tanya Alena.
Perempuan itu menyunggingkan senyum sinisnya, lalu menganggukkan kepalanya. “Tentu saja! Aku tidak akan mungkin bisa melupakan seseorang yang telah mempermalukan ku di depan umum,” jawabnya.
“Apa maksudmu? Siapa yang mempermalukan mu?” cecar Alena dengan marah karena mengira ia telah di tuduh.
Perempuan itu membuka kacamata hitamnya, kemudian mengibaskan rambut panjangnya. Alena mengerutkan keningnya, masih tak mengingat apapun. “Aku tak mengenalmu.”
“Oke. Akan aku ingatkan tentang perilaku mu yang telah membuat aku malu. Alena Mega Frananda putri dari Roby Chandra, pemilik AMF Pasifik, salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta. Seseorang yang telah mempermalukanku di depan umum. Saat aku tengah memberi pelajaran pada seorang cleaning servis. Kau meminta pihak keamanan untuk menyeretku keluar,” terang perempuan itu. Seketika memori Alena kembali berputar soal kejadian itu, di mana untuk pertama kalinya juga ia bertemu dengan Elena–mama mertuanya.
Alena menyunggingkan senyum sinisnya, lalu berkata, “Oh kamu perempuan yang tidak punya sopan santun itu!”
.
.
.
.
Jangan lupa like, komentarnya ya..
Terimakasih 🤗