Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Alby Demam



Efek samping vaksin itu membuat tubuh Alka demam. Rena yang sudah mulai terbiasa menjadi seorang ibu pun berusaha untuk tak panik. Karena Alka masih full ASI, jadi Dokter tidak berani memberikan obat penurun panas. Rena pun cukup paham, ia terus memberikan Alka ASI demi menyurutkan demamnya. Memang putranya jadi sedikit rewel.


Namun, semua juga terbantu karena kehadiran kedua ibunya, yaitu Dinda dan Soraya. Ia tak heran karena memang hampir setiap hari keduanya itu berkunjung ke rumahnya, untuk bermain dengan Alka. Sayangnya, kali ini Alka lebih banyak menangis, akibat tubuhnya demam.


Sore hari, Rena merasa lega lantaran suhu badan putranya sudah menurun, dan Alka sudah bisa tidur. Meski begitu Rena tak bisa meninggalkannya sendiri. Hasilnya, saat ia mandi pun Dinda dan Soraya tetap menunggu cucunya.


Setelah selesai membersihkan diri, Rena pun turut bergabung dengan kedua ibunya.


“Aku gak mau lagi ngajak Abang ke rumah sakit, buat vaksin Alka deh.” Rena berkata usai mendudukkan dirinya di sebelah kedua ibunya itu.


“Lho kenapa? Para perempuan itu biasanya paling senang kemana-mana di antar suaminya. Mommy juga dulu gitu sama Daddy,” ujar Dinda.


Sementara, Soraya hanya diam menyimak seakan sudah tahu apa yang terjadi.


“Ini beda khasus, Mom. Abang mah malu-maluin,” celetuk Rena seraya mengerucutkan bibirnya ke depan. Kemudian, Rena mulai menceritakan kejadian tadi di rumah sakit. Hal itu membuat kedua ibunya tertawa.


“Haduh, menantuku ternyata takut jarum suntik,” kata Dinda.


“Kalau Ibu sih sebenarnya udah gak heran sih, Re. Soalnya dulu waktu bayinya Misel kan kebanyakan ibu yang urus. Alby memang sejak kecil takut jarum suntik. Beberapa kali sering menolak kalau sakit di ajak ke rumah sakit,” ujar Soraya.


Rena tertawa kecil, sikap suaminya itu mengingatkannya pada Alena yang juga takut jarum suntik, tapi justru mendapatkan seorang suami yang berprofesi sebagai dokter. Begitupun dengan Alby, mendapatkan istri seorang dokter. Ternyata Tuhan itu seadil itu ya, saling melengkapi.


“Iya sih. Abang kalau sakit juga selalu nolak kalau mau aku periksa. Dia pasti hanya bilang mau minum obat terus tidur,” ungkap Rena.


Dinda menatap putrinya, ia senang karena putrinya yang sejak dulu selalu ia desak untuk segera menikah tapi menolak, kini justru menemukan seorang suami dan ibu mertuanya yang sangat sayang padanya. Rasanya Dinda benar-benar sangat bahagia. Hanya inilah yang dia inginkan, kebahagiaan anak-anaknya.


“Mommy kenapa?" tanya Rena heran seraya mengusap lengan Dinda.


“Gak apa-apa, sayang. Mommy hanya senang dan bahagia, karena kamu juga bahagia.”


Dinda menang berkata dengan wajah yang berbinar bahagia, hanya saja sebagai seorang anak dan seorang perempuan, Rena juga tahu kalau ada rasa sedih yang tengah perempuan itu rasakan. “Ada yang Mommy pikirkan?” tanyanya.


“Gak ada sayang.” Dinda mengusap pipi putrinya. Rena adalah seorang ibu menyusui, yang harus bisa mengontrol perasaannya. Jadi, ia tidak akan bercerita yang aneh-aneh.


“Aku putri Mommy. Aku pun tahu kalau Mommy pasti saat ini tengah menyembunyikan sesuatu.”


Dinda tertawa kecil. “Gak ada sayang. Mommy cuma kepikiran dengan rumah tangga kakakmu.”


“Kenapa dengan kak Davis? Mereka baik-baik saja kan?” tanya Rena beruntun.


“Mommy lihat rumah tangga kamu itu senang banget sayang. Tapi, rumah tangga kakak kamu itu. Entahlah... Mommy merasa mereka menyembunyikan sesuatu. Apa kakakmu tidak bahagia ya dengan pernikahannya?”


Kekhawatiran terlihat jelas di wajah Dinda. “Mommy. Setiap rumah tangga pasti tak akan pernah berjalan dengan mulus. Akan ada masalah di dalamnya. Tergantung bagaimana kita bisa mengatasinya. Begitupun dengan aku dan Bang Alby. Atau Kak Davis dan Kak Nadila.”


Dinda mengangguk. “Mommy paham sayang. Hanya saja kenapa kakakmu itu juga belum hamil? Apakah mereka menunda, atau terjadi sesuatu.”


“Astaga! Jadi hanya karena Kak Nadila belum hamil. Pikiran Mommy jadi kemana-mana,” keluh Rena tak habis pikir. “Anak itu itu adalah titipan, Mom. Kalau mereka belum di karuniai, berarti Tuhan belum percaya untuk memberikannya. Udahlah Mommy gak usah banyak mikirin. Bukan saatnya Mommy untuk memikirkan hal itu, lebih baik Mommy itu nikmati masa tau Mommy bersama Daddy."


“Benar itu, Jeng. Kita sudah tua, gak usah terlalu banyak pikiran,” timpal Soraya yang sejak tadi diam menyimak obrolan menantu dan besannya itu. “Saya juga dulu begitu. Menikah dengan Papanya Alby itu, hampir setahun juga tak kunjung hamil. Rena juga kan kemarin gak langsung hamil,” sambungnya.


Rena mengangguk, mengingat kembali berbagai drama pertengkaran dengan sang suami saat itu, terutama perkara pil kontrasepsi, dan kecemburuan Alby pada Dokter Ryan. Benar, tak ada rumah tangga yang berjalan dengan mulus. Namun, semua itu tergantung bagaimana kita semua bisa melaluinya. Ada hikmah dibalik setiap kejadian. Buktinya sekarang suaminya itu terlihat bersahabat dengan dokter Ryan.


“Iya Mom.”


🦋


Malam hari pukul sembilan malam, Alby baru tiba di rumahnya. Begitu membuka pintu kamarnya, ia melihat istrinya tengah menyusui putranya.


“Udah pulang, Bang?” tanya Rena.


“Iya sayang,” jawab Alby lesu. Tak seperti biasanya. Lelaki itu hanya meletakan tas miliknya, melepaskan sepatunya, kemudian langsung menjatuhkan tubuhnya, di atas ranjang dengan posisi tengkurap.


“Bang, kok langsung tiduran sih. Gak bersih-bersih dulu?” tegur Rena.


“Nanti sayang. Abang pusing banget,” keluh Alby dengan kedua mata terpejam.


Rena menoleh ke arah suaminya, dengan pandangan heran. Setelah memastikan putranya tertidur, Rena membawanya ke ranjang bayi, menidurkan Alka di sana.


Kemudian bergerak naik ke atas ranjang. “Abang kenapa?”


“Pusing sayang.”


“Ada masalah di kantor?” tanya Rena.


Alby menggeleng. “Tidak!”


Rena menghela nafasnya, kemudian menempelkan telapak tangannya di kening suaminya. Ia terkejut kedua y membeliak kala merasakan suhu badan suaminya panas sekali. “Ya ampun Abang panas banget. Abang demam.”


“Entahlah sayang, rasanya dingin dan pusing.”


Rena berlalu turun dari ranjang, mengambil peralatan dokternya, membawanya ke atas ranjang.


“Kamu mau ngapain?” tanya Alby kedua matanya yang terlihat memerah melotot melihat istrinya membuka tas kerjanya di depannya. Bahkan lelaki itu langsung beringsut.


“Periksa Abang lah,” jawab Rena.


“Gak mau!” tegas Alby menolak.


“Periksa doang, bang. Biar aku bisa ngira-ngira ngasih obatnya,” bujuk Rena.


“Tapi gak disuntik kan sayang?” tanya Alby takut.


Rena mendelik, tak menyangka ternyata suaminya takut jarum suntik. “Gak lah bang. Orang demam itu dilarang suntik, nanti malah jatuhnya kejang.”


Rena mulai memeriksa suaminya. Alby hanya diam pasrah. “Mikirin apa, Bang?" Tanya Rena kemudian.


“Abang kepikiran jarum suntik yang nusuk Alka tadi di rumah sakit, Re. Sampai di kantor pun gak konsentrasi, bayanginnya Abang sampai pusing dan demam begini.”


Rena terperangah mendengarnya. Merasa lucu, Alka yang vaksin tapi Ayahnya yang demam.