
“Please deh, Le. Jangan kaya orang susah begitu. Sekarang jaman serba canggih, kalian semua mau makan apa tinggal pesan. Nanti Papa yang bayar,” ujar Miko seraya mengalungkan salah satu tangannya di pundak sang istri. Miranda menoleh dengan kesal.
“Kok Papa? Kan mereka minta sama kamu,” tukas Irawan.
“Iyalah Pa. Aku kan gak punya duit, yang banyak duit dan kaya raya itu Papa. Lihat aja mas kawin ku tadi cuma dua juta rupiah, apa gak aku itu kere,” seru Miko dengan wajah melas, kemudian tatapannya beralih pada Miranda yang di sisinya, ia menaik turunkan alisnya. “Iya kan sayang?” sambungnya bertanya.
“Gak usah macam-macam, udah kembali ke ranjang, itu jarum infus nanti copot lagi, terus darahnya keluar lagi. Kamu gak sembuh-sembuh,” omel Miranda. Perempuan yang masih terlihat cantik dengan dandanan natural seadanya itu menggiring sang suami untuk kembali ke ranjang.
“Galak banget sih beb, kalau aja aku gak sakit kamu langsung aku terkam,” ancam Miko namun tak urung ia pun naik ke atas ranjang.
Miranda langsung melototkan kedua matanya. “Kalau gak sakit, aku gak akan mau dinikahi di rumah sakit seperti ini,” dengus Miranda berpura-pura kesal.
Mereka yang berada di sana hanya bisa tertawa, rasanya sudah tidak cukup kaget akan keusilan Miko itu.
“Sudah Papa pesankan dari restoran Pak Robby, jadi kalian tunggu di sini saja,” ujar Irawan yang telah selesai memesan makanan di restoran milik orang tua Alena.
“Papa bayar?” tanya Miko.
“Bayarlah kamu kira gratis!”
“Harusnya mah bilang ke Paman Roby, kalau ini tuh buat ngerayain pernikahan aku, biar di kasih gratis. Kan Alena juga datang gak bawa kado, iya kan Le,” celetuk Miko.
“Mana sempat bawa kado sih, aku baru melek kamu udah telpon suruh datang ke rumah sakit. Iya kan Masry?" sahut Alena. Ryan hanya mengangguk mengusap kepala istrinya.
“Ngomong terus sih, dibilang geraknya hati-hati. Nah kan tangannya keluar darah lagi,” omel Miranda pada sang suami.
“Kualat itu sama aku,” seru Alena tertawa puas.
“Alena?!” tegur Ryan, yang langsung menghentikan tawa perempuan itu.
Rena datang mendekati Miko dan Miranda. “Biar ku lihat,” ucapnya seraya membenarkan jarum infusnya yang sempat bergeser. Miranda mengangguk dan berpamitan untuk ke kamar mandi berganti pakaian, karena saat itu ia masih menggunakan kebaya.
“Anak ku kemana, Re? Kok gak kamu ajak sih?” tanya Miko.
“Siapa?” tanya Rena balik.
“Misel. Harusnya, diajak orang punya Papa baru ganteng begini.”
“Sekolah. Lagian apanya yang ganteng, orang mukamu aja kaya mumi begitu. Masih untung kami masih mengenali kamu loh,” ejek Rena.
“Dasar teman gak ada ahlak,” umpat Miko.
Tiba-tiba seorang kurir mengantarkan makanan ke ruangan. Mereka langsung menyantap makanan dengan rasa bahagia, sambil dibumbui obrolan.
“Masry tuker deh makanannya sama punya aku masih utuh ini,” pinta Alena pada sang suami. Ryan mengerutkan keningnya heran.
“Kenapa? Emangnya gak suka. Sama aja isinya sayang,” sahut Ryan sambil memberikan kotak makan miliknya.
“Kalau memang gak suka. Paman pesenin yang lain aja ya Alena,” tawar Irawan.
Alena menggeleng. “Tidak perlu Paman. Ini enak kok, aku cuma mau makan sisanya Masry aja,” ujarnya.
“Dasar aneh,” celetuk Miko yang duduk di atas ranjang. Alena menjulurkan lidahnya.
“Ini tuh bukan aneh, aku cuman ngerasa enak aja lihat Masry makan, jadi aku minta tuker, masa begitu aja aneh. Ga kan ya Masry?" seru Alena.
“Iya sayang, apapun untukmu kok.”
“Dasar bucin,” cibir Miko kemudian pandangannya mengarah pada Rena dan Alby yang tengah makan satu piring berdua, Rena tengah disuapi sang suami. Hal itu membuat jiwa irinya meronta-ronta.
“Suap-suapan terus. Sekalian sama sendoknya kasih telan,” cibirnya.
“Fitnah, emang bayimu bisa ngomong!” tukas Miko. Kemudian tatapannya beralih ke arah kedua orang tuanya yang hanya makan dalam diam.
“Papa sama Mama gak suap-suapan juga. Sekalian gitu tukar piring,” ujar Miko.
Irawan menoleh pada istrinya. “Wah iya juga ya. Bagus juga ide kamu.” Amira langsung menoleh ke arah suaminya dengan bingung.
“Apa sih Pa?”
“Buka mulutmu Ma. Papa suapin terus kamu suapin Papa ya, biar romantis kaya pengantin baru,” ujar Irawan membuat wajah istrinya malu.
“Tua juga ikut-ikutan aja!”
“Usia boleh Tua, tapi jiwa tetap muda. Iya kan Nak Alby,” ujar Irawan pada Alby.
“Benar om!” sahut Alby.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka, Miranda keluar dengan pakaian kasual biasa, wajahnya tampan fresh karena habis mencuci muka.
“Wah cantiknya istriku,” puji Miko pada Miranda yang tengah menoleh ke arahnya. “Sini sayang.” Miko menepuk sisi ranjangnya.
Miranda mendekat, “Ada apa? Kamu mau ke kamar mandi?” tanyanya.
“Bukan sayang!”
“Terus?”
“Suapin,” rengeknya manja. Alena langsung mencibir melihat tingkah sahabatnya itu.
Miranda mengangguk kemudian mengambil satu mangkok bubur yang disediakan khusus untuk pasien.
“Kok itu sih sayang?” protes Miko.
“Lha emang maunya apa?”
“Itu lah,” tunjuk Miko pada makanan cepat saji di atas meja.
“Mana boleh. Dokter kan belum memperbolehkan kamu makan yang aneh-aneh, agar jahitannya itu cepat kering,” omel Miranda seraya mengacungkan sendoknya yang berisi bubur.
Miko berdecak kesal. “Kenapa sih harus bubur? Kaya orang sakit aja.”
“Lha emang kamu lagi sakit,” ujar Miranda. “Nurut dulu apa kata Dokter, biar cepat sembuh dan pulang,” sambungnya.
Meski terasa malas memakan bubur, Miranda tetap memaksa lelaki itu untuk menelannya.
“Pulang kemana sayang? Aku kan gak punya rumah,” ujar Miko tertawa geli.
“Kemana aja.”
“Aduh kalau udah gini. Jadi, nyesel dulu kuliah malah sambil main-main ya. Tahu gitu aku kerja aja ya dari dulu, pasti sekarang udah bisa beli rumah deh. Nikahin perempuan masa gak punya rumah aku,” keluh Miko.
Miranda menghela nafasnya. Meletakkan mangkok kosong, di atas meja, kemudian mengambil segelas air putih untuk ia berikan pada suaminya.
“Pikirkan kesehatanmu dulu. Yang lain nanti, lagian untuk apa pusing. Aku masih ada tempat tinggal. Aku udah gak mau terlalu mikirin materi. Karena kalau udah hilang semua juga gak ada artinya,” ujar Miranda. Dua kali gagal menikah membuat ia mendapatkan banyak pelajaran. Ia harap pernikahannya dengan Miko kali ini. Akan langgeng sampai maut memisahkan. Meskipun ia tahu usia keduanya terpaut jauh, bahkan kalau di pikir Miranda seperti mempunyai adik baru bukan suami. Lihat saja tingkah suaminya yang begitu manja, dari tadi memegang tangannya, mengecupnya.
Lika, dan Komen jangan lupa