
"Kamu itu kurang ajar banget sih Yan, Mama kan lagi senang-senangnya ketemu calon mantu!" omel Elena dalam perjalanan pulang. Karena putranya itu justru menyeretnya untuk segera pulang.
"Mama apaan sih? Dia itu temannya Rena ma. Bukan pacarnya Ryan!" sanggah Ryan.
"Mama gak bilang pacarmu. Mama bilang dia calon mantu mama. Padahal anak itu lucu, seru, klop lah mama kalau sama dia Yan. Tau gini mama tadi lama-lama aja di dalam sama Alena," ujar Elena kesal. Saat itu ia memang tak sengaja melihat foto Alena di ponsel putranya. Ia berjanji akan mencari tau perempuan yang ada dalam ponsel putranya. Pucuk dicinta ulam pun tiba, ternyata takdir membawanya bertemu dengan Alena di supermarket itu, dan kebetulan ia melihat gadis itu tengah bingung mencari dompetnya saat membayar belanjaannya, untuk itu Elena menawarkan diri untuk membayarnya. Nyogok sedikit gak masalah kan demi dekat dengan perempuan yang tengah di taksir putranya. Bahkan Elena sengaja meminta Alena untuk mengantarkan ke depan, agar Ryan bisa melihat kalau dirinya sudah akrab dengan perempuan pilihannya. Tapi ternyata tak sesuai ekspektasi, Ryan justru menyeretnya masuk ke dalam mobil. Harusnya kan Ryan ngajak dirinya dan Alena ngopi gitu biar lebih akrab.
"Calon mantu calon mantu itu mulu yang dibahas sih ma. Panas ni kuping Ryan," ujar Ryan sambil mengusap telinganya.
"Ya habis kamu tuh kerja mulu, udah tua bukannya nikah. Pacaran mulu sama jarum suntik. Makanya nikah biar jarum suntik kamu tuh juga berguna, gak karatan," celetuk Elena sambil melipatkan kedua tangannya di dada. Ryan mengusap wajahnya mendengar ucapan mamanya yang begitu absurd, apalagi itu jarum suntiknya karatan.
"Iyan mama ngomong loh, kamu gak dengerin ya?" kata Elena kembali kesal karena anaknya justru memilih diam.
"Iya ma. Dengar kok, Mama ngomong aja aku dengerin ini, sambil dengerin lagu dan nyetir ya," ujar Ryan sambil memutar musik di dalam mobilnya, membuat Elena semakin kesal. Rasanya ia ingin keluar saja dari mobil putranya, dan kembali ke mall tadi.
"Kalau lagi begini. Mama jadi nyesel nurutin perintah Pak Bastian gak boleh nyetir, hanya karena Mama suka kluyuran," cebik Elena kesal mengingat betapa posesifnya sang suami. Sampai belajar nyetir pun tidak boleh, ia lebih suka istrinya pergi dengan putranya atau dengan sopir rumah. Ryan hanya menggelengkan kepalanya, mamanya itu memang kalau lagi mode kesal dengan suaminya, pasti akan menyebut ayahnya Ryan dengan sebutan pak Bastian.
****
Alena kembali menghampiri Rena sambil tersenyum senang karena mendapatkan makanan gratis. Tapi, sampai di sana ia harus berdecak kesal karena ternyata Alby sudah menyusul istrinya. Bahkan tak tanggung-tanggung lelaki itu tengah mengusap pipi Rena. Alena memutar bola matanya jengah melihat pemandangan itu, meratapi nasibnya yang jomblo. Pengen lari tapi kemana? Pulang? Apalagi ia belum mau.
Perempuan itu memilih bersandar di balik tembok. Menghela nafasnya, rasanya juga tak pantas jika ia menganggu Rena dan suaminya. Mereka kan membutuhkan waktu untuk me time. Kalau sudah begini Alena harus apa. Pengen nonton bioskop pun sendirian, tak punya teman. Perempuan itu memasang wajah masam, seraya menikmati ice cream yang ia beli tadi. Meski sedikit demi sedikit sudah mulai cair, hingga membuat bibirnya belepotan.
"Duh gak bawa tisu apa sapu tangan lagi. Masa iya aku bersihkan pake baju sih," keluh Alena.
"Ini?" seseorang mengulurkan sapu tangan berwarna abu-abu, membuat Alena mengangkat wajahnya, dan kemudian terkejut.
"Biar aku bantu bersihkan!" sambungnya seraya mengangkat tangannya bersiap membersihkan noda ice cream di bibir Alena. Namun, dengan gerakan cepat Alena memegang tangannya.
"Kenapa?" tanyanya lagi.
Alena menggeleng, dan tersenyum canggung. "Aku bisa membersihkannya sendiri Pak Dokter."
Dokter Ryan mengangguk, membiarkan Alena mengambil alih sapu tangannya, dan membersihkan noda di bibirnya sendiri. "Aku simpan dulu ya Pak Dokter. Nanti aku balikin kalau udah di cuci."
"Sebenarnya tidak dicuci juga tidak apa-apa. Atau tidak dikembalikan juga tidak masalah!"
"Oh tidak-tidak. Namanya seorang dokter itu kan anti kuman, ini sapu tangan udah banyak kumannya lho Pak Dokter," celetuk Alena membuat Dokter Ryan tertawa kecil. Padahal Dokter kan juga manusia.
"Kamu sedang apa di sini? Kok tidak gabung sama Rena?" tanyanya setelah sebelumnya ia menoleh ke arah Rena dan Alby sesaat.
"Pak Dokter ini gimana sih. Ya masa aku mau jadi obat nyamuk mereka," dengus Alena lalu menoleh ke arah Dokter Ryan lagi. "Pak Dokter sendiri kenapa di sini? Bukannya tadi udah pulang?" imbuh Alena heran.
"Oh pasti ada yang ketinggalan ya Pak Dokter!" tebak Alena.
Dokter Ryan mengangguk cepat, meski dalam hati ia sendiri merasa bingung, apa yang ketinggalan. "Oh iya, itu di rumah ada keponakan. Dan kebetulan tadi Mama lupa beli lolipop, makanya aku disuruh balik lagi buat beli itu," terang Dokter Ryan.
Alena hanya mengangguk. "Lolipop? Tempatnya kan di lantai bawah Pak Dokter," ujar Alena heran.
Dokter Ryan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Kenapa tiba-tiba ia membawa lolipop, lagian siapa yang minta. Keponakannya bahkan tidak ada di rumah. Mendadak kenapa ia menjadi seperti orang bodoh begitu ya. Tadi setelah mengantar sang Mama sampai rumah, bukannya ikut masuk rumah, lelaki itu justru menjalankan mobilnya keluar rumah, dengan alasan masih ada urusan. Dan tak tau kenapa ia justru kembali ke mall itu.
"Oh iyakah? Aku tidak tau Alena. Soalnya kan jarang kemari," pungkas Dokter Ryan dengan wajah berbinar karena menemukan alasan lain.
"Bagaimana kalau kamu antar aku membelinya," tawarnya kemudian.
"Tapi kan Rena-"
"Rena kan sedang bersama suami dan anaknya. Kamu ikut aku, nanti biar aku yang kirim pesan ke Rena, kalau kamu temani aku."
Alena terdiam memikirkan jawabannya, sebelum akhirnya ia menganggukan kepalanya. Toh jika di pikir tidak ada salahnya, dari pada ia menjadi obat nyamuk.
Keduanya turun ke lantai bawah mencari stand penjual lolipop. Ryan meminta Alena untuk memilihkan beberapa permen.
"Ini lucu ya Pak Dokter?" ujar Alena menunjuk paket permen lolipop yang berisi hadiah boneka sapi. Ryan yang saat itu tengah membayar menoleh, dan menganggukan kepalanya, ia sendiri tidak tau apa yang lucu dari bentuk boneka mini itu.
"Kamu mau?" tawarnya kemudian.
Alena menggeleng. "Gak ah. Dompetku di mobil males mau kesana dulu."
"Sekalian sama yang itu ya mbak," ujar Dokter Ryan menunjuk apa yang tadi diinginkan oleh Alena.
"Eh Pak. Gak usah aku kan-"
"Gak apa-apa, anggap saja hadiah." Ryan membayar tagihannya. Setelah selesai dan pesanannya di bungkus, ia memberikannya pada Alena.
"Makasih ya Pak Dokter. Jadi, enak aku."
Dokter Ryan menatapnya dengan heran.
"Eh maksudku jadi gak enak." Alena segera meralat ucapannya. Menepuk bibirnya yang kelewat jujur. Lelaki itu hanya tertawa kecil, kemudian tangannya terulur untuk mengusap kepala Alena. Hal itu membuat Alena terkejut menatapnya heran.
"Maaf, tadi ku kira ada sesuatu di kepalamu. Ternyata tidak ada, aku salah lihat," kilah Dokter Ryan setelah berhasil menarik tangannya kembali.