
Sepanjang jalan Miko yang tengah mengemudikan mobilnya menuju rumahnya terus mengomeli Yanto, asistennya yang kini tengah mabuk seraya meracau.
“Dasar asisten gak ada ahlak. Gara-gara kamu ya semuanya jadi kacau,” omel Miko.
“Aduhh si Boss ngomong apa sih? Gak tahu apa rasanya orang patah hati, sakit tahu boss,” sahut Yanto.
“Halah lebay. Patah hati kok jadi mabuk-mabukan gaya. Begini kamu nyusahin orang aja.”
“Dasar si Boss gak ada ahlak, ngomel mulu. Si May-may boss, teganya dia mengkhianatinya saya yang tengah berjuang mencari uang demi sebongkah berlian. Masa tiba-tiba aku dapat kabar kalau dia mau nikah sama laki-laki lain, karena dia udah tekdung duluan,” sahutnya seraya menggerakkan tangannya membentuk sebuah perut yang membuncit. Meski kesal Miko pun mengangguk paham bahwa kekasih asistennya itu ternyata sudah hamil dengan lelaki lain.
Miko memutuskan untuk membawa Yanto ke rumahnya. Tak mungkin ia mengantarkan lelaki itu ke rumahnya, karena hari sudah malam dan ia merasa malas. Ketika mobilnya sudah tiba di depan rumahnya, Miko turun dan tak lupa membantu sang asisten masuk ke dalam rumah. Berkali-kali ia hampir terjatuh akibat tubuh Yanto sempoyongan.
“Nyusahin aja. Besok-besok kalau mau mabuk gak usah ke bar, kamu cukup beli teh gelas aja noh di warung paling ujung, kamu beli deh lima dus jamin mabuk,” omel Miko seraya menjatuhkan tubuh sang asisten ke sofa.
“Tega bener si Boss nyuruh anak buahnya mabuk teh gelas seribuan. Wine dong,” sahut Yanto.
“Potong gajimu bulan ini ya. Gara-gara kamu ganggu orang yang mau mantap-mantap aja,” omel Miko lagi.
“Dasar boss peritungan, pelit awas kuburannya sempit.”
“Setan! Kamu nyumpahin aku.”
“Gak boss, cuma mengingatkan. Ingat sesama manusia harus saling mengingatkan.”
Lama-lama Miko merasa jengah mendengar asistennya yang justru ceramah dalam keadaan setengah sadar karena mabuk.
“Dah lah aku mau ke kamar lanjutin yang sempat tertunda,” sergah Miko.
“Boss masa aku tidur di sini sih,” protesnya dengan mata yang merem melek akibat pandangannya pun terasa buram.
“Tempatmu kan di sini, emang di mana lagi?”
“Tega benar sih, tamu ini."
“Tamu apaan? Tamu gak ada ahlak. Terserah deh kamu mau tidur di kamar mana, asal jangan gangguin aku lagi,” kata Miko seraya berlalu ke kamar.
Sampainya di kamar, ia harus menelan rasa kecewa karena sang istri sudah terlelap. Mau bangunin ia pun sudah tidak tega. Ia menaikkan selimut untuk menutupi tubuh polos istrinya hingga ke bagian pundak, kemudian ia memilih merebahkan tubuhnya di sisinya.
“Gara-gara Yanti ni, gagal lagi kan mau mantap-mantap. Gak tahu orang mau melepas status perjaka apa.” Miko masih merasa kesal dengan asistennya yang mabuk akibat patah hati itu, dan malam ini ia terpaksa harus menahan hasratnya lagi.
****
Pagi hari keluarga Anggara tengah melakukan sarapan pagi. Tidak seperti biasanya, kali ini Alena makan dengan lahap, tanpa peduli jika belum mengambilkan makan sang suami.
“Sayang, kok langsung makan sih. Tumben aku gak diambilkan lebih dulu?" tanya Ryan yang baru bergabung membuat sang istri menatap ke arahnya dengan heran.
“Masry punya tangan kan?” tanya Alena balik sambil menunjuk tangan sang suami.
“Punya lah.”
"Tumbenan!"
“Ihh, Masry kok jadi cerewet gitu sih. Pokoknya aku gak mau ambilin makan Masry mulai sekarang,” balas Alena dengan wajah bertekuk kesal.
Ryan meneguk ludahnya kasar, semenjak semalam istrinya itu bertingkah aneh. Ia bahkan tak di ijinkan tidur seranjang dengannya, hasilnya Ryan tidur di sofa. di tambah saat pagi hari ia hanya menyiapkan pakaian kerjanya sendiri. Pokoknya sifat istrinya dari semalam itu berbanding terbalik dari biasanya.
“Aneh banget sih,” gumam Ryan.
Alena langsung melotot ke arah suaminya.
“Udah Ryan kamu ambil sendiri aja. Begitu saja masa dibikin repot. Kan bener kata Alena, kamu punya tangan," timpal Elena, membuat wajah Alena berbinar senang karena ada yang membelanya.
Ryan menghela nafasnya, mengambil makanan sendiri. Kemudian mendudukan dirinya di kursi sebelah istrinya.
“Masry ngapain dekat-dekat aku?” tukas Alena seraya melotot tajam.
Elena kembali melongo, sementara Bastian bahkan sampai menjatuhkan sendoknya mendengar ucapan menantunya. Pasalnya menantunya itu biasanya paling bucin dan tak mau jauh dari Ryan. Tapi pagi ini menurutnya Alena aneh, mungkinkah mereka sedang ribut?
Ryan berdecak. “Kan biasanya juga gitu. Aku duduk di dekat kamu sayang."
“Tapi aku lagi gak mau kaya biasanya. Masry jauh-jauh lah dari aku. Aku lagi gak suka dekat-dekat Masry!" usir Alena.
Tingkah Alena aneh membuat Ryan merasa kesal. Hingga selera makannya pun ikut menghilang. Ia pun mendorong kembali piringnya, kemudian menoleh ke arah istrinya dengan wajah yang kesal.
“Kamu itu kenapa sih, ngeselin banget. Kayaknya Mas tuh salah mulu. Sifatmu begini buat aku selera makanku hilang aja. Manja banget jadi orang, ngomong kalau aku itu ada salah. Sudahlah aku tidak perlu sarapan, buat mood pagi-pagi ku buruk saja,” omel Ryan seraya beranjak dari kursinya.
“Masry kok marah-marah sih!” protes Alena.
“Kamu ngeselin banget dari semalem tahu gak. Marah-marah gak jelas!" kata Ryan menatap istrinya dengan pandangan kesal.
Alena menunduk perlahan wajahnya mulai menggelap. "A–aku kan..."
“Cukuplah! Aku berangkat saja gak perlu sarapan, daripada buat masalah!” Ryan beranjak meninggalkan meja makan. Tak peduli sekalipun Mama Elena berteriak memintanya untuk berbalik. Ia mengambil tas hitam yang sebelumnya ia letakkan di atas sofa ruang tengah, kemudian beranjak keluar dengan cepat. Pagi ini moodnya sangat buruk akibat tingkah istrinya, yang menurutnya sungguh kekanak-kanakan. Ia tahu Alena itu memang perempuan yang manja, hanya saja kali ini sungguh kelewatan. Tanpa cipika-cipiki pada sang istri, Ryan melajukan mobilnya meninggalkan rumahnya.
Sementara Alena menunduk menangis, mengingat serangkaian adu mulut yang baru sempat terjadi. Apakah benar dirinya tadi sudah keterlaluan? Pasalnya ini baru pertama kali suaminya berani bersuara dengan lantang padanya.
“Sudah sayang. Nanti Mama biar omelin Ryan ya. Kamu jangan nangis,” bujuk Elena pada sang menantu.
Hiks... Hiks... Tangisan Alena justru semakin menjadi.
“Mama. Masry masa bentak-bentak aku,” isaknya.
“Iya, nanti kita beri dia pelajaran dia aja.”
Alena mengangguk. “Tapi aku sedih, Masry gak cium aku mau berangkat,” ucapnya seraya menunjuk ke arah pipinya.
Bastian menghela nafasnya. Di saat sedang marah pun kebucinan tetap nomor satu ternyata di hati menantunya.