Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Aku Sudah Pasrah



"Gorden bang," ujar Rena menyadarkan sang suami jika jendela kamarnya belum tertutup dengan sempurna. Alby menghela nafas pelan, lalu melonggarkan dekapannya.


"Tunggu di sini," titahnya. Lelaki itu bangkit lalu menutup gorden jendelanya dengan rapat, kemudian kembali duduk sofa tak lupa mematikan laptopnya. Rena meremas kedua tangannya gugup.


Alby kembali membaringkan tubuhnya ke sofa, seraya menarik tangan istrinya hingga membuat Rena kembali terjatuh di atas tubuhnya dengan posisi seperti tadi.


"Abang??" pekiknya sedikit gugup.


Alby menautkan kedua alisnya menggoda. "Sudah aman. Ayo mulai."


"Apanya?" tanya Rena balik. Sambil mencoba meredakan jantungnya yang kembali berpacu lebih kencang.


"Permainannya!"


"Hah? Permainan apa?" jawabnya berpura-pura polos.


"Once again!" Alby berdecak gemas melihat istrinya yang berpura-pura tak mengerti. Perempuan itu justru membuka mulutnya menganga.


"Aku sudah begini lho, Re. Siap kamu apain aja," ujar Alby semakin menggoda, bahkan suaranya sudah serak kala merasakan sesak di bagian bawahnya meminta untuk dikeluarkan.


Glek!


Rena menelan ludahnya gugup. "Em... b-bang A-aku kan udah-"


"Ayo buruan! Kamu mau mulai dari mana sayang, aku sudah pasrah ini."


Rena ingin beranjak, tapi Alby justru menahannya, dan semakin erat menahan pinggangnya. Rasanya sia-sia ia memberikan kode pada istrinya, perempuan itu mungkin merasa malu untuk memulainya lebih dulu, padahal tadi Rena sempat menawarkan diri untuk memimpin. Hem gayanya! Kini dengan gerakan cepat, Alby menundukan kepala istrinya, lalu membungkam bibirnya membuat Rena terbelalak.


Rena masih terdiam tak membalas pangutan sang suami, hingga tiba saatnya Alby membisikkan kalimat yang cukup membuat Rena terkejut. "Buka mulutmu dan balas ciumanku sayang," pintanya seraya memaksa istrinya untuk membalas ciu mannya.


Hingga pangutan bibir yang semula halus kini menjadi lebih menuntut ke hal yang lebih jauh. Pekikan Rena tertahan kala tangan suaminya kembali merayap di balik piyama miliknya. Menjangkau apa yang dapat ia jangkau.


"Kita mulai dari membuka pakaian pasangan masing-masing ya sayang," ujar Alby setelah melepaskan pangutan bibirnya, sedikit mengubah posisinya menjadi duduk. Alby mulai membuka satu persatu pakaian istrinya, tak lupa ia pun menuntun tangan istrinya untuk melakukan hal yang sama pada tubuhnya. Dengan gemetar dan gugup Rena pun menuruti perintah suaminya. Melucuti satu persatu pakaian suaminya, hingga keduanya kini dalam keadaan polos. Rena menelan ludahnya gugup, kala pandangannya tertuju pada dada bidang suaminya yang terlihat begitu menggoda. Lalu, naluri tangannya bergerak mengusap dada polos sang suami.


"Ayo sayang, lakukan yang lebih," pinta Alby yang saat ini sudah terbaring pasrah di atas sofa. Rena menggelengkan merasa malu, meski tubuh bagian lainnya pun sama menginginkannya.


Ck! Alby berdecak kembali bangkit meraih tubuh istrinya, lalu membungkam bibirnya, menyerapnya dengan pelan, namun dengan gerakan sen su al, seraya mendorong tubuh istrinya hingga terjatuh telentang di atas sofa, dengan posisi kaki yang masih menjuntai ke lantai. Sementara bibirnya bergerak menyesap bibir sang istri, tangannya tak tinggal diam memainkan kedua aset milik istrinya, hingga membuat perempuan itu men de sah.


Rena merasakan darahnya kian berdesir, apalagi kala jari tengah sang suami kini bermain di bawah sana, menimbulkan sensasi geli padanya. Membuat Rena menge rang tertahan. Beberapa saat kemudian, ia merasa terkejut kala tiba-tiba merasakan sesuatu yang lebih besar dari jari sang suami kini memasuki dirinya, menghujam nya dengan pelan, kemudian bergerak sesuai tempo.


Nafas Rena naik turun kala menikmati gerakan sang suami yang berada di atas tubuhnya. Bibirnya masih setia saling bertaut, dan salah satu tangannya bertumpu di antara tubuh istrinya, demi menjaga agar ia tak sepenuhnya menindih Rena. Tangan Rena bergerak mengusap dada bidang sang suami, membuat tubuh Alby semakin memanas.


"Bang Rena ingin-"


"Hemmm keluarkan saja," balas Alby di susul dengan getaran tubuh sang istri, tanda bahwa Rena telah sampai. Ia tersenyum mana kala berhasil membuat Rena puas.


Tak tahan dengan hasratnya yang kian bergelora. Dengan pelan ia membalikkan tubuhnya, masih dalam posisi menyatu, membuat Rena sedikit terkejut karena keadaan sofa itu begitu sempit, apalagi gerakannya tadi sampai membuat meja di depannya bergeser, menimbulkan suara.


"Abang?!"


Albu hanya menyeringai. "Ayo gerakan!" titahnya.


"Bisa! Abang bantu. Tadi kan udah Abang kasih contoh," ujar Alby pelan, namun terdengar menuntun karena hasratnya masih menggebu-gebu belum tertuntaskan.


Alby mulia menuntun istrinya untuk bergerak. Semula Rena merasa malu, karena dengan posisi dirinya di atas tubuh sang suami. Namun, pada akhirnya dirinya mulai terbiasa, mengikuti naluri dalam dirinya. Rena berhasil mengimbangi permainannya sang suami. Ia semakin menjerit, me nge rang, men de sah, mana kala ia merasakan kenikmatan di bawah sana, belum lagi pijatan lembut pada kedua aset miliknya yang menggantung tepat di hadapan sang suami.


Malam itu keduanya kembali merajut malam yang panas, setelah sebelumnya terjadi drama pertengkaran, kini mulai membaik dengan di tutup adegan panas yang keduanya ciptakan, dalam meraih kenikmatan surga dunia.


Hingga beberapa saat kemudian, Alby merasakan hendak sampai ke titik, lelaki itu kembali membalik posisinya, lalu mengentakkannya dengan gerakan cepat, hingga pada akhirnya tubuh ambruk tepat di atas tubuh sang istri.


Tampak peluh keringat membanjiri tubuh keduanya. "Terimakasih sayang. Kamu hebat, aku suka!" bisik Alby membuat Rena merona.


"Hem, aku ngantuk bang."


Alby bangkit dari tubuh istrinya, kemudian kembali menunduk dan menggendong Rena.


"Bang?" pekiknya.


"Ayo tidur! Katanya ngantuk!"


"Belum pakai baju," ujar Rena saat telah berhasil sampai ranjang.


"Gak usah pakai baju, biar gampang."


"Dingin bang!"


"Abang peluk." Alby menarik selimutnya di bawahnya untuk menutupi tubuh polos keduanya, lalu menarik tubuh istrinya ke dalam dekapannya.


****


Rena mengerjapkan kedua matanya, ketika bayang tubuh sang suami tepat di hadapannya.


"Abang?" serunya dengan suara seraknya khas bangun tidur.


Albu tersenyum manis pada istrinya, Rena mengerutkan keningnya kala menyadari suaminya sudah rapi dengan pakaian kerjanya. "Udah rapi aja sih!"


Alby mengangguk, "ada rapat dengan rekan kerja pagi-pagi sayang. Jadi, Abang harus berangkat pagi."


"Gak bangunin aku buat nyiapin pakaian Abang?"


Alby menggeleng, "gak apa-apa kamu lelah." Alby mengusap kepala istrinya, lalu mencondongkan wajahnya untuk mengecup pipi istrinya.


"Abang berangkat ya," pamitnya yang di balas anggukan oleh Rena.


"Segera bangun dan sarapan udah bang siapin tuh. Dan jangan lupa minum pil nya, Abang udah siapin satu butir di atas gelasnya ya."


"Pil?" ulang Rena sampai mengubah posisinya menjadi duduk.


Alby mengangguk, "iya pil penunda kehamilan. Ya udah Abang berangkat dulu ya takut telat."


Seusai kepergian suaminya, Rena mengedarkan pandangannya ke atas meja, di mana makanan sudah tersaji di sana, air minum serta satu butir pil. Mengingat tentang pil itu, kenapa Rena jadi merasa sesak dadanya. Apakah akan menjadi masalah lagi nantinya? Tapi tumben suaminya yang menyiapkannya.