Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Di Balik Ruang Ganti



Elena jadi berpikir kalau mengikuti saran calon menantunya itu. Bukan kepuasan yang di dapatkan, yang ada justru putranya tak jadi menikah, makin karatan kan itu itu jarum suntik.


Tepat di saat itu pintu butik itu terbuka, sosok lelaki dalam memakai kemeja maroon masuk.


"Maaf ya nunggu lama. Ada rapat juga di rumah sakit," ucap Dokter Ryan menjelaskan alasannya. Ia langsung duduk di sisi Alena.


Plak!


Satu pukulan mendarat di lengan lelaki itu dari Elena. "Ngomong sama ember!" sergahnya.


"Ya ampun ma. Ya kali aku ngomong sama ember, ya ngomong sama Mama dan Alena dong," sanggah Dokter Ryan.


Alena melengos meski dalam hati ia merasa senang karena pada akhirnya lelaki itu datang juga meski di sela-sela kesibukannya.


"Sayang. Maaf ya?" ujar Dokter Ryan pada calon istrinya.


"Gak usah di maafin, Le. Nanti aja biar Mama beri dia hukuman seperti saran kamu," kata Elena.


Dokter Ryan menatap ke arah Elena dan Alena secara bergantian. "Hukuman?"


"Hemm... Alena bilang Mama suruh menghukum kamu untuk nguras-"


"Gak ma, gak jadi," potong Alena dengan cepat. "Ayo, aku mau coba gaun pernikahannya. Pak Dokter juga coba tokedonya," sambung Alena seraya beranjak berdiri menghampiri Miranda yang sejak tadi sudah menunggu dirinya.


Meski merasa penasaran dengan apa yang ucapan Mamanya yang tak jadi dilanjutkan. Lelaki itu tetap beranjak mengikuti perintah calon istrinya. Keduanya saling memasuki ruang ganti.


Dokter Ryan sudah selesai memakai toxedonya, semuanya tampak pas dan cocok di tubuhnya.


Sementara Alena merasa kesusahan meraih resleting gaun belakangnya. "Mbak Miranda, tolong bantuin aku naikin resleting gaunnya dong. Tangan aku tidak sampai ini," pintanya.


Beberapa saat kemudian, Alena merasa ada seseorang yang membantu dirinya. Ia tersenyum karena mengira itu Miranda, tapi sesaat kemudian ia tersentak saat merasakan sentuhan lembut pada punggungnya, kemudian di susul sebuah kecupan lembut yang mendarat di bagian pundaknya yang nampak terbuka.


"Hemm wangi," bisiknya.


"Ih Pak Dokter. Aku kira mbak Miranda," decak Alena.


Dokter Ryan terkekeh kemudian melingkarkan kedua tangannya di pinggang perempuan itu. Hal itu membuat Alena menelan ludahnya gugup, ia merasa sesak dan susah bernafas.


"Pak Dokter?" Alena berusaha melepaskan rengkuhan lelaki itu.


"Sebentar Alena. Aku masih kangen," sahutnya lirih. Bukannya melepaskan lelaki itu justru semakin menenggelamkan kepalanya di pundak calon istrinya.


Alena semakin merasa gugup, seiring rasa aneh menjalar pada tubuhnya, ia merasa tubuhnya meremang. Entah apa yang terjadi Alena tidak mengerti.


Keterkejutan Alena kian bertambah, saat dengan pelan lelaki itu membalikkan tubuhnya menjadi posisi saling menghadap. Dokter Ryan tersenyum menatap Alena. "Cantiknya calon istriku," pujinya.


Sontak hal itu membuat kedua pipi Alena bersemu, akhirnya ia bisa mendapatkan kalimat pujian juga.


"Jadi pengen," ucap Dokter Ryan selanjutnya.


"Eh apa?" Alena mengangkat wajahnya menatap calon suaminya.


"Pengen vitamin doang kok. Sebentar aja ya, bolehkan?" desaknya.


"Em maksudnya... Emmhhh...."


Alena tak lagi dapat melanjutkan ucapannya saat dengan cepat Dokter Ryan menyambar bibirnya, kemudian memangutnya secara lembut dan intens. Bahkan tubuh Alena hampir terhuyung ke belakang, beruntung lelaki itu sigap menahannya, kemudian merengkuh pinggangnya. Alena meremas pakaian lelaki itu, membiarkan Dokter Ryan mengeksplor isi mulutnya. Mengecapnya secara lembut namun terlihat menuntut. Alena bahkan sampai memejamkan kedua matanya.


Beberapa saat kemudian, saat dirasa sudah cukup. Dokter Ryan melepaskan pangutan bibirnya kemudian menyatukan keningnya pada kening calon istrinya, sambil tersenyum. Alena membuka kedua matanya.


"Kalau sudah begini jadi pengen buru-buru bawa kamu ke kamar," ucap lelaki itu.


"Main suntik-suntikan, sayang." Dokter Ryan menjawab sambil tersenyum penuh arti.


Otak Alena jadi traveling, membayangkan jarum suntik menusuk kulitnya, ia jadi bergidik ngeri. Ia menggelengkan kepalanya. "Ihh takut. Gak mau disuntik aku. Ma-" Alena tak lagi melanjutkan ucapannya saat Dokter Ryan justru menutup mulutnya, pasalnya Alena hendak bersuara dengan keras.


"Jangan berisik, nanti terdengar dari luar," ucap Dokter Ryan lirih.


Alena menatap ke arah lelaki itu bingung. "Tapi kan-"


"Katanya penasaran jarum suntik ajaib. Nanti aku kasih tau kalau udah nikah, sekalian kasih tau cara gunainnya," jelas Dokter Ryan.


Alena mengangguk cepat. "Iya-iya."


'Ah senangnya punya calon istri sepolos ini' gumamnya.


Lelaki kembali menatap ke arah bibir ranum Alena, rasanya ciuman tadi masih membekas dan ia ingin merasakannya kembali. Ia pikir sebentar tidak masalah, untuk itu ia kembali mendekatkan wajahnya berniat untuk kembali memangut bibirnya. Namun tiba-tiba....


Srekk! Gorden ruang ganti itu terbuka.


"Ryan!!!" teriakan Mama Elena menggema memenuhi butik milik Miranda itu. Tatapan perempuan itu terlihat tajam dan kesal melihat pemandangan di depannya.


Keduanya tersentak segera menjauhkan tubuhnya masing-masing. Alena bahkan berusaha merapikan kembali penampilannya.


"Mama ih ngapain teriak-teriak," decak Dokter Ryan.


"Kamu ngapain di situ? Apa yang barusan kalian lakukan?" tanya Elena seraya berdecak pinggang.


"Apaan? Orang aku cuma bantuin Alena benerin resleting belakang kok. Iya kan sayang?" ujar Dokter Ryan menoleh ke arah calon istrinya.


"Em.. i-iya Ma!" sahutnya gugup.


"Bohong! Kalian pikir Mama anak kecil yang bisa kalian bohongi. Itu lipstik Alena bisa belepotan gitu kenapa coba?" tuding Elena.


Alena spontan langsung mengusap bibirnya. "Oh ini. Tadi Pak Dokter bilang katanya minta vitamin di sini!" tunjuknya pada bibir miliknya.


Dokter Ryan menepuk keningnya, kenapa harus jujur sih.


"Nah kan!"


"Mama kaya gak pernah muda aja sih. Orang cuma cium dikit belum sampai ke anu-anu!"


"Apalagi itu anu-anu," omel Elena lagi.


"Adalah... Dah ah capek dengerin Mama ngomel. Tuh Mbk Miranda aja sampai bengong begitu," tunjuk Dokter Ryan pada Miranda yang berdiri menatap ketiganya dengan tatapan bingung.


Elena menghela nafasnya, seraya memijat kepalanya. "Pusing punya anak laki mesumnya kebangetan. Gak bisa nahan sabar dikit. Udah gitu punya calon mantu polosnya kebangetan, ya ini mah rejeki nomplok untuk Ryan," keluhnya.


"Sabar Tante. Anak muda kan memang seperti itu," sela Miranda mengusap punggung Elena, membuat perempuan itu mengangguk.


Setelahnya, Miranda berlalu mendekati Alena menanyakan kekurangan dari gaun yang akan dikenakannya.


Elena menghampiri Ryan. "Kayaknya memang benar kamu itu harus dihukum nguras kolam renang pakai gelas, biar kamu gak ada waktu untuk ketemu sama Alena sebelum pernikahan itu berlangsung," celetuk Elena membuat Dokter Ryan melongo.


"Ih mana ada sih ma. Itu mah ada Ryan cuma jadi ngurusin kolam renang, gak jadi nikah," sahutnya kesal.


"Lha itu kan ide dari calon istrimu!" pungkas Elena seraya mendudukan dirinya di sebelah putranya.


"Apa?!!" pekiknya terkejut. Baginya itu terdengar gila.