Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Orang Asing



Mobil mercy itu melaju dengan kecepatan sedang. Alena sesekali akan memainkan tangannya, entah kenapa ia merasa gugup, duduk berdampingan dengan lelaki asing seperti ini. Menurutnya ini adalah pengalaman pertama. Mungkin karena biasanya ia hanya dekat dengan Miko. Alena menepuk keningnya, kala nama Miko kembali terlintas di otaknya.


Dokter Ryan menoleh ke arah Alena sesaat, ia menggelengkan kepalanya tatkala menatap tingkah Alena, yang sejak tadi hanya terdiam tapi tangannya tak pernah berhenti. Paham bahwa perempuan itu merasa canggung dokter Ryan pun berniat membuka obrolan.


"Kamu ambil jurusan apa?" tanya Dokter Ryan, membuat Alena menoleh.


"Akuntansi!"


"Udah berapa semester?" tanya Dokter Ryan.


"Emm ini yang terakhir!"


"Wah bentar lagi jadi sarjana dong?" ujar Dokter Ryan berusaha serileks mungkin.


Alena mengangguk, "iya tapi habis itu aku mau ngapain ya?"


"Kerjalah."


Alena menggelengkan kepalanya. "Malas. Aku bukan Rena yang gila kerja dan belajar. Aku itu aslinya orangnya malas mikir, kuliah juga atas desakan orang tua. Dulu sekolah juga aku selalu mendapatkan peringkat ke dua sih!"


"Oh ya? Hebat dong?" puji Dokter Ryan. Tak menyangka perempuan seperti Alena pintar juga, juara kelas. Tapi jawaban Alena selanjutnya justru membuat Dokter Ryan merasa ingin menelan kotak tisu di depannya kini.


"Ya Dokter aku selalu peringkat ke dua dari belakang. Hebat kan?" ucapnya bangga.


Dokter Ryan menepuk keningnya. "Ehh?!"


'Rena teman jenis ini nemu di mana sih.'


"Sudah sampai," ujar Dokter Ryan.


Alena segera melepaskan sabuk pengamannya, lalu mengucapkan terima kasih pada Dokter Ryan.


"Terimakasih Pak Dokter. Nanti aku kirim uangnya lewat ovo ya," ucap Alena.


"Buat apa?"


"Bayar ongkos Pak Dokter dong. Kan lumayan lima belas ribu masih dapat bensin satu liter, dan sisanya bisa buat beli permen. Sayang loh Pak, bbm lagi naik daun."


"Gak perlu. Aku heran setiap bertemu kamu. Kamu pasti akan mengatakan saldo ovomu. Memangnya kamu sales ovo ya?" tanya Dokter Ryan sedikit kesal.


Alena justru cengengesan. "Bercanda pak. Gak asik ah, pantas aja mukanya berkerut. Hidupmu pasti selalu serius pak, makanya cepat tua. Aku dong umur dua puluhan juga masih terlihat seperti sweet seventeen," ucapnya bangga.


Dokter Ryan memutar bola matanya jengah, tak lagi menjawab ucapan Alena yang menurutnya semakin absurd.


Alena melambaikan tangannya seiring dengan berlalunya mobil Dokter Ryan. Kemudian ia berlalu melangkah dengan pelan menuju kelasnya. Tapi, tiba-tiba seseorang menarik tangannya dengan kuat.


"Miko?" pekiknya, beruntung ia belum menepis tangan lelaki itu dengan kasar.


"Jadi sekarang udah punya gandengan, pantas saja dijemput dan diantar aku gak mau," ucap Miko. Alena hanya terdiam mendengarkan ucapan lelaki itu. "Siapa dia Le? Aku gak rela ya kalau dia hanya akan main-main denganmu. Kamu itu belum pernah dekat dengan lelaki lain selain aku, Le. Jadi hati-hatilah, jangan mudah percaya pada orang asing?" tambahnya kemudian.


Alena tersenyum. "Lalu siapa yang harusnya ku percaya? Apakah hanya kamu seorang?"


"Emm..."


Miko terdiam menatap Alena dengan tatapan tak berarti. Entahlah ada rasa kesal yang mengusiknya. Mungkinkah karena sekarang Alena perlahan mulai menjauh darinya. Dan belum sempat Miko membuka mulutnya untuk bersuara, Rena tiba-tiba datang di sisi keduanya, dengan wajah lesu dan sesekali akan menguap.


"Kenapa ini istrinya Pak Alby?" tanya Alena heran.


"Ngantuk Le."


"Makanya kalau malam jangan kebanyakan lembur, akibatnya paginya loyo," celetuk Miko.


Rena menatap Miko dengan kesal. Alena berfikir sesaat sebelum kemudian ia pun ikut bersuara. "Iya Re. Benar kata Miko, kamu itu kebanyakan lembur. Udah sih kerjaan di rumah sakit itu gak usah di bawa-bawa ke rumah. Kamu itu terlalu over, kaya aku ini yang ingin meningkatkan kualitas belajar aja susahnya minta ampun."


Rena menganga mendengarnya. Sementara Miko menepuk keningnya, "ya ampun ini bocah. Sebenarnya kadang ragu, kamu itu udah dewasa belum sih. Gak ngerti juga arti lembur yang aku maksud?"


"Jadi kamu ngatain aku bocah? Kampret. Gini-gini meski otakku pas-pasan, di bawah IQ Rena Nugraha aku juga tau lah artinya lembur sebagai mahasiswa, seorang Dokter dan juga-"


Miko menaiki alisnya, saat mendengar Alena tak melanjutkan ucapannya. "Ya ampun aku paham sekarang. Yang di ucapkan Es Kiko itu adalah lembur karena kamu dan Pak Alby habis ehem-ehem ya Re!" Imbuh Alena seraya mempraktekkan kedua tangannya seperti dua burung yang saling ber ciu man. Hal itu membuat Miko terbahak, karena ucapan dan aksi Alena membuat mahasiswa lain yang melihatnya merasa heran, dan mampu membuat Rena merona.


"Ih kamu apaan sih Le? Gak ada lembur-lemburan, semalam aku hanya gak bisa tidur!" dusta Rena. Padahal memang iya, suaminya itu menggarap dirinya entah sampai jam berapa, yang jelas saat terbangun Rena merasa tubuhnya remuk, dan sangat mengantuk, bahkan ia hampir kesiangan.


****


Misel tengah berdiri di depan sekolahnya menunggu Rena menjemput dirinya. Karena Pak Toto kebetulan sedang pulang kampung, sementara Alby tengah rapat jadi tak bisa jemput Misel. Akhirnya Rena yang mengalah menjemput dirinya.


Seorang perempuan berambut pirang, berjalan menghampiri Misel. "Hallo anak cantik?" sapanya.


Misel menatap perempuan itu dengan was-was. Ia ingat perkataan Rena untuk tak sembarang berbicara dengan orang asing.


"Sedang menunggu siapa?" tanya perempuan itu lagi, meski tak juga mendapatkan respon dari Misel. Namun, sepertinya tak menyulutkan usahanya. Perempuan itu membuka tas miliknya, lalu mengeluarkan beberapa coklat dan permen lollipop. Ia pikir semua anak kecil menyukainya.


Kemudian ia memberikannya pada Misel. "Tante punya coklat dan permen. Kamu mau tidak? Ini buat kamu?" ucapnya.


Misel memasang wajah kesalnya, "maaf Bundaku melarangku untuk menerima makanan dan mengobrol dengan orang asing!" tegasnya membuat perempuan itu terdiam, tak sadar salah satu tangannya mengepal kuat.


"Tante ini orang baik, tidak mungkin berniat jahat padamu," sahutnya terdengar lembut.


"Tapi saya tidak mengenalmu!" Sergah Misel. "Maaf, Bundaku sudah menjemputku!" imbuhnya kemudian ia berlari tatkala melihat mobil Rena tiba. Dan anehnya perempuan itu segera menghilang begitu saja.


"Kamu kenapa sayang? Kok ngos-ngosan begitu?" tanya Rena ketika mendapati wajah putrinya pucat dan terlihat takut.


"Bunda Misel takut," lirihnya.


"Takut kenapa? Ada apa sayang? Ayo katakan sama bunda nak?"


"Takut sama orang i-" Misel terkejut saat tak mendapati perempuan tadi di tempat semula. "Lho orangnya kemana?" imbuhnya kemudian.


"Siapa nak? Bunda tidak melihat siapa-siapa dari tadi?" cecar Rena.


"Tadi ada Tante-tante, mau kasih aku coklat dan permen, aku udah berusaha nolak tapi dia masih maksa Bunda!" adunya.


Rena terdiam matanya sibuk memindai tempat itu tapi tak ada siapapun kecuali petugas kebersihan. Tapi, ia pun yakin Misel tak mungkin berbohong. Dalam benaknya timbul rasa takut.