
Hari pertama kerja itu begitu melelahkan bagi Miko, apalagi ia di tuntut untuk menghafal beberapa dokumen oleh Papanya. Mengingat anak itu merupakan pewaris utama dari keluarga Irawan.
Selain Miko. Irawan memang memiliki anak dengan Amalia, perempuan yang kini menjadi ibu tiri Miko. Tapi, anak kedua Irawan dengan Amalia itu perempuan, masih duduk di bangku kelas satu SMP.
"Pusing banget kerja ternyata menguras otak. Ini belum nafkahi anak bini otakku udah ngebul," keluh Miko.
Kedua mata Miko tertuju pada tas makan milik Miranda tadi. Matanya langsung berbinar, kemudian ia mengambil tas itu dan membukanya.
"Daripada pusing mending makan dulu deh."
Ketika telah selesai membuka kotak makan itu, ia jadi teringat jika ia belum sempat memesankan makanan untuk Miranda. Jadi, ia mengambil ponselnya lalu menghubungi salah satu restoran favoritnya.
"Nah sudah. Tinggal makan masakan calon istri," ucap Miko seraya mulai menyantap nasi goreng itu. Meski sudah terlalu dingin tapi bagi dirinya tetap saja enak. Bahkan ia merasa nasi goreng buatan Miranda mampu mengalahkan masakan restoran bintang lima. Begitulah namanya orang sudah bucin.
"Kan masaknya dikasih bumbu cinta, gimana gak enak coba!" celetuk Miko sambil terkekeh geli.
Sementara itu, Miranda yang masih berada di butik tengah sibuk mencari kotak bekal yang ia rasa sudah dibawa tadi.
"Kemana ya? Perasaan aku udah bawa tadi. Masa iya sih aku bisa lupa," ujar Miranda heran.
Perempuan cantik yang rambutnya di cepol secara asal itu menggaruk tengkuknya bingung, ia tengah mencoba mengingat serangkaian kejadian tadi pagi. Di saat itu pintu ruangannya diketuk dari luar.
Tok! Tok!
"Masuk!" sahutnya.
Eva masuk dengan membawa tentengan di tangannya, membuat Miranda merasa heran.
"Apa itu, Va?" tanya Miranda penasaran.
"Makan siang buat Mbak lah," sahut Eva sambil meletakkan tentengan itu di atas meja.
"Makan siang? Dari siapa? Perasaan aku tidak pesan makanan," ucap Miranda.
"Lah kirain Mbak yang pesan, orang tadi ada kurir yang antar. Aku kan cuma kebagian nerima." Eva menjawab apa adanya.
"Ya sudah makasih ya!" Ucap Miranda akhirnya.
"Iya mbak. Ya sudah aku permisi dulu ya mbak," pamit Eva.
"Ehh tunggu," cegah Miranda membuat langkah Eva terhenti.
"Kamu tau kotak makanku gak?" tanya Miranda kemudian setelah Eva berbalik ke arahnya.
Eva berpikir sesaat lalu menggeleng. "Perasaan mbak gak bawa apa-apa tadi saat masuk ke butik, cuma tas aja," jawab Eva.
"Masa sih? Aku bawa kotak bekal kok," pungkas Miranda bingung.
"Ketinggalan di mobil kekasih mbak kali," celetuk Eva kemudian. Pasalnya tadi pagi ia melihat Miranda memang turun dari mobil seorang pria. Eva memang tidak bisa melihat jelas siapa pria itu, karena ia melihatnya dari jarak jauh.
Mendengarnya membuat Miranda terdiam dan berpikir.
"Ya sudah kamu boleh keluar," usirnya pada Eva.
[Makanannya udah sampai kan? Jangan lupa dimakan ya. Maaf tadi pagi kotak bekalmu ketinggalan di mobilku, jadinya aku ambil dan aku aku makan isinya. Sebagai gantinya aku pesenin kamu makanan. Di makan gih, itu aku pesan langsung dari restoran keluarganya Alena. Di jamin kamu langsung jatuh hati pada menu makan yang aku pesan, ya syukur-syukur juga langsung jatuh hati sama aku.]
Miranda menyentak nafasnya, terjawab sudah kebingungannya sejak tadi. Ia menarik makanan yang sudah di pesan Miko tadi. Karena sudah lapar ia membukanya dan langsung menyantapnya.
"Hemm... Benar kata Miko. Enak juga! Tapi ini pasti mahal, kalau aku makan begini setiap hari, mana bisa aku nabung," keluh Miranda yang di mana posisi hidupnya saat ini benar-benar tengah berada di bawah. Miranda ingin menabung untuk membeli mobil, agar saat ia membeli kain bahan, ia tak perlu meminta di antarkan ke tokonya. Dan juga saat ia harus mengantarkan gaun pengantin customernya ia tidak perlu menyewa mobil orang lain.
Miko mengetuk-ngetuk mejanya, menunggu pesannya di balas Miranda. Sudah lima belas menit berubah centang biru. Namun, kenapa tak kunjung di balas, apakah makanan belum sampai? Atau butiknya tengah ramai. Sesaat ia merasa gelisah, ingin beranjak dan pergi ke butik Miranda. Tapi, ia ingat setelah ini ia juga ada meeting. Jika ia pergi bisa habis diomeli Papanya nanti.
Ting!
Notifikasi pesan masuk, Miko langsung buru-buru membukanya.
[Makasih ya. Tapi, lain kali tidak perlu.]
Balas Miranda singkat. Meski begitu mampu menggetarkan hati Miko.
"Tau gak sih. Sifatmu yang dingin seperti ini membuatku jadi merasa tertantang untuk mendapatkan mu Mbak Miranda!"
****
Alby tengah mengantri gado-gado demi istri tercintanya. Warung makan gado-gado itu terletak di sebrang perusahaannya. Milea bilang gado-gado di sana paling enak, hanya saja harus ngantri.
Banyak karyawannya yang tengah makan di sana. Mereka bahkan juga menyapanya, sekaligus merasa heran lantara lelaki itu mau turun tangan sendiri untuk memesan makanan.
"Pak Alby tumben mau mesan makanan sendiri?" tanya salah satu karyawannya penasaran.
"Untuk istri saya," jawab Alby singkat, yang mampu membuat karyawan itu paham, pasalnya istri atasannya itu saat ini tengah mengandung.
"Kalau gitu Bapak duluan saja. Kasihan Bu Rena pasti sudah menunggu makanannya. Ibu kan sedang hamil," ujar Lisa salah satu karyawan di bagian humas itu mempersilahkan Alby untuk memesan gado-gado lebih dulu.
Alby merasa terharu ternyata banyak juga orang yang peduli dengan istrinya. "Tidak perlu. Kamu duluan saja," tolak Alby.
"Tapi pak. Nanti Bu Rena-"
"Istri saya bilang, saya tidak boleh menyerobot antrian. Seramai apapun warung makanan itu saya harus tetap menunggu, atau nanti anak saya akan ileran," kata Alby membuat Lisa melongo.
Apalagi itu? Padahal maksud Lisa itu baik. Rasanya tidak etis membiarkan atasannya itu mengantri makanan di pinggir jalan seperti itu dalam jangka waktu yang cukup lama. Tapi, jika itu keinginan ibu hamil ia bisa apa.
"Baiklah Pak, saya duluan!" ucap Lisa yang sudah mendapatkan pesanannya.
Alby mengangguk, mengusap keningnya yang tampak berkeringat. Dan antrian untuk dirinya bahkan masih dua orang lagi. Ia harus sabar.
Lima belas menit kemudian, Alby sudah mendapatkan pesanannya. Ia langsung buru-buru menuju ruangannya.
"Sayang, ini gado-gadonya," ujar Alby begitu tiba, ia meletakkannya di atas meja.
Rena langsung tersenyum menerimanya. "Makasih ya Abang."
Alby mengangguk, menatap istrinya yang perlahan membuka pembungkus gado-gado itu, lalu menyantapnya. Lelaki itu tersenyum, tidak sia-sia perjuangannya mengantri karena istrinya ternyata memang tengah benar-benar menginginkannya, lihat saja Rena makan begitu lahap.