Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Peka Dikit lah, Sayang



Akibat semalam demam. Hari ini Alby tidak pergi ke kantor, dengan alasan istirahat. Seharian itu ia hanya malas-malasan, kadang menganggu istri apa anaknya. Rena tengah berada di dapur membuatkan sop untuk suaminya, dengan dibantu asisten rumah tangganya. Tiba-tiba ia tersentak mana kala senja sepasang tangan kekar melingkar di perutnya.


“Abang ih ngagetin aja,” celetuk Rena terkejut.


Bukannya menjauh, Alby justru semain mengeratkan pelukannya, bahkan lelaki itu justru menjatuhkan kepalanya di pundak istrinya. “Minggir dulu, Bang. Aku lagi masak ini. Ada Bibi juga, Abang gak malu apa?” sambungnya.


“Kangen...” kata Alby lirih.


“Lebay. Tiap hari juga ketemu kangen. Udah ih ini lepas dulu.”


Alby berdecak, mana kala istrinya itu masih tidak peka, akan sebuah kata kangen yang ia ucapkan.


“Yang peka dikit lah, sayang. Masa gak ngerti udah Abang kode gini,” seru Alby. Melonggarkan pelukannya, lelaki itu pun beranjak pergi.


Rena melongo, menoleh ke arah asistennya rumah tangganya yang hanya pura-pura diam tak mengerti.


“Kenapa sih? Kaya orang perempuan datang bulan aja, Abang sensian.”


Rena melanjutkan masaknya, hingga setelah selesai ia pun mematikan kompornya, ia juga meminta tolong pada asisten rumah tangganya untuk menyajikan sup tu. Kemudian ia berlalu menyusul suaminya.


Membuka pintunya secara perlu, Rena melihat suaminya tengah tidur dengan posisi tengkurap. Rena juga mengecek Alka yang masih tidur di ranjang. Kemudian, ia beranjak mendekati suaminya, lalu mengguncang tubuhnya pelan. “Bang, bangun. Udah sore sana mandi. Terus turun ke bawah, tadi katanya mau sup. Aku udah buat tuh supnya,” seru Rena.


“Malas ah, ngantuk!” Alby justru mengambil bantal untuk menutup kepalanya.


“Ihh kekanak-kanakan. Abang kenapa sih, uring-uringan gini, perasaan demamnya udah turun,” ujar Rena heran.


Alby berdecak, melempar bantal yang menutupi kepalanya, kemudian ia beringsut meletakkan kepalanya di atas pangkuan istrinya. Rena jadi heran melihat suaminya yang tiba-tiba bertingkah manja seperti ini. Lelaki itu bahkan mengambil telapak tangan istrinya, memintanya untuk mengusap-usap kepalanya.


Rena menyentak nafasnya, ia jadi merasa mempunyai tiga anak kalau tingkah manja suaminya itu lagi kumat begini.


“Mandi sana, Bang.”


Alby membuka matanya yang sempat terpejam sedikit karena merasakan nyaman, akibat usapan lembut tangan istrinya. “Mandiin ya?” pintanya.


Rena melengos. “Gak lah, mandi sendiri.”


Alby beranjak dari pangkuan istrinya, menyingkirkan kepalanya ke kasur. “Kalau gitu aku gak akan mandi!” sungutnya.


Rena menghela nafasnya, heran dengan tingkah suaminya itu. “Jorok lah, Bang. Tidur diluar nanti.”


“Iya nanti. Sekalian aja aku tidur di garasi,” jawabnya memasang wajah ngambek. Rena sampai menganga mendengarnya.


“Lagian apa salahnya sih mandi bareng. Kita kan udah lama gak mandi bareng, mumpung sekarang ada kesempatan,” sambungnya bersungut. Ia beranjak dari tempat tidurnya, menuju kamar mandi.


Rena menelan ludahnya, kenapa bawaannya sang suami itu sewot begitu. Menengok ke arah putranya ternyata masih tidur pulas. Kemudian tatapannya mengarah pada pintu kamar mandi. Ia sama sekali tak mendengar gemericik air. Apa jangan-jangan suaminya tengah buang air besar lebih dulu, pikirnya. Atau jangan-jangan....


Rena buru-buru berlari ke kamar mandi, karena takut suaminya melakukan hal konyol. Sampai di dalam matanya terkejut mendapati lelaki itu hanya duduk menatap ke arah bathub yang kosong tanpa air.


“Abang kok belum mandi sih, malah diam aja,” omel Rena.


Alby menoleh. “Males. Mandi buat apa gak ada yang mau nyium.”


Rena menghela nafasnya, tampaknya kalau keinginannya gak di turuti bakal makin lama acara ngambek suaminya itu. Mengingat anaknya masih tidur, Rena pikir tidak masalah menuruti keinginan suaminya. Ia melangkah menyalahkan kran untuk mengisi bathub dengan air.


“Sayang?”


“Ayo aku mandiin. Tapi, jangan lama-lama ya, Bang. Soalnya takut Alka kebangun. Kan gak ada yang jagain,” ujar Rena.


"Beneran sayang?” sahut Alby girang.


“Heem, ayo buruan buka bajunya.”


Alby dengan senang hati langsung membuka seluruh pakaiannya di hadapan istrinya. Membuat Rena memalingkan wajahnya dengan rona malu. “Kenapa di buka semua sih, Bang.”


Rena berdecak kecil, apa yang diucapkan suaminya itu memang benar. Tapi, tetap saja ia masih malu kalau melihat sang suami polos dalam keadaan seperti ini. Beda lagi kalau udah di atas ranjang, eh. Rena menepuk keningnya, bisa-bisanya lagi dalam keadaan seperti ini memikirkan ke arah sana. Tapi, ngomong-ngomong memang setelah melahirkan keduanya belum pernah kembali bercinta.


Apakah karena hal itu juga yang membuat suaminya itu uring-uringan.


“Sayang, ayo gosokin punggung aku. Jangan lupa sambil pijit pelan-pelan ya,” pinta Alby membuyarkan lamunan Rena.


“Iya bang.” Rena mengambil sabun, mulai menggosokan sabun itu ke punggung sang suami. Kadang memijatnya, hal itu membuat Alby tersenyum senang.


“Enak sayang,” ujar Alby.


“Iya bang. Capek banget ya.”


“Sedikit. Sayang, kamu ikut mandi juga ya,” tawar Alby.


Rena menggeleng. “Aku udah mandi, Bang. Lagian tadi cuma masak sebentar, gak terlalu bau asap kok. Nanti kalau ikut mandi, jadi lama Alka bangun gimana.”


“Harusnya tadi kami titipin Alka ke Nany Ratri aja dulu sayang. Biar kita bisa lama-lama,” protes Alby.


Rena hanya tersenyum simpul, menuangkan shampoo ke tangannya, lalu menggosok ke rambut suaminya. Alby menatap wajah istrinya, yang semakin hari semakin cantik, semenjak menjadi ibu tubuh Rena bahkan jauh lebih berisi. Alby tentu saja sangat menyukainya.


Tiba-tiba ia mengangkat jari telunjuknya pada hidung istrinya, meninggalkan busa di sana. “Abang ih. Aku udah mandi tahu,” kata Rena mencebik.


“Gak apa-apa airnya masih banyak sayang,” sahut Alby.


Rena mendengus, jika seperti ini ia yakin tidak akan cukup waktunya. Ia tahu kemana arah pikiran suaminya itu. “Udahlah tinggal bilas. Aku keluar dulu, Abang selesaikan sendiri ya,” ujar Rena yang mulai menyadari keinginan suaminya. Ia berniat beranjak dari sana. Namun tiba-tiba...


Byur!!


Rena tersentak kala sang suami justru menarik tubuhnya hingga terjatuh ke bathub, membuatnya basah kuyup.


“Abang!!!” teriak Rena kesal.


“Kan sudah ku katakan kamu itu harus mandi. Selesaikan dulu pekerjaanmu jangan setengah-setengah,” protes Alby.


“Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku. Abang kan hanya tinggal bilas aja ke shower. Kenapa malah menarikku.”


“Semua haru adil sayang. Karena kau sudah membantu suamimu ini mandi. Jadi, sekarang gantian suamimu itu yang akan memberikan layanan ekstra untuk mu.”


“Abang? Ini di kamar mandi, aku juga takut Alka kebangun.”


“Aku tahu sayang. Tenang saja, aku hanya akan membantumu mandi, memijat punggungmu. Aku tahu punggungmu pasti pegal-pegal. Tenang saja, bukankan aku suami yang pengertian,” seru Alby.


Rena mendengus, ingin beranjak namun terasa sulit. Karena tangan dan kaki sang suami kini menahan tubuhnya.


.


.


.


.


.


.


Anu bentar. Aku tahan nafas dulu.


Guys jangan lupa mampir di karya aku yang baru ya.. “Sebatas Istri Bayaran” update setiap hari.