
Alby terkejut mendengar kata cerai dari istrinya. Selama ini ia tidak pernah berfikir untuk sampai ke arah sana. Baginya pernikahan adalah hal yang sakral. Masalah tentu ada jalan keluarnya, ia ingin menjalani rumah tangga yang bahagia bersama putri dan istrinya. Namun keinginan itu seketika runtuh kala mendengar permintaan istrinya.
Namun, mengingat keadaan rumah tangganya yang memang sudah tak sehat. Pantaskah ia terus mempertahankannya. Beberapa kali keduanya memang kerap bertengkar, apalagi semenjak Miranda mengandungnya. Perempuan itu kerap menyalahkan Alby dan bayi dalam kandungannya.
"Ayo cepat talak aku. Setelah aku pulih aku tidak akan kembali lagi ke rumahmu!"
Alby mengangkat wajahnya, menatap istrinya. "Kau yakin?"
"Tentu saja!" jawab Miranda mantap. Bayangannya setelah lepas dari Alby hidupnya akan bebas, tidak terkekang. Ia akan kembali berkarier mendunia, bisa berjalan dengan siapapun.
"Baiklah! Miranda mulai detik ini kau bukan lagi istriku, mari kita bercerai," tegas Alby. Meski hatinya saat itu berdenyut sakit, kala mendengar suara tangisan putrinya. Yang ia bayangkan akan hidup tanpa kasih sayang orang tua yang lengkap. Sama seperti dirinya yang sejak kecil hanya tumbuh dalam pelukan sang ibu.
"Suatu hari nanti. Aku bersumpah kau akan mengemis kata maaf dari setiap kata yang kau lontarkan pada putrimu ini," tambah Alby sebelum kemudian berlalu pergi meninggalkan ruangan Miranda yang tetap tak peduli ucapan Alby.
Sejak saat itu Alby menjadi seorang single Dady. Mengurus putrinya seorang diri terkadang hanya di bantu oleh ibunya. Alby terus semangat bekerja meski hanya menjadi seorang dosen. Suatu hari ia pun merasa membutuhkan pekerjaan yang lain, Alby mencoba melamar pekerjaan kantoran. Berbekal ilmu yang ia dapatkan. Alby mendapatkan pekerjaan, meski ia masih bisa menyempatkan untuk mengajar di kampus, dalam kelas di malam hari.
Dua tahun bekerja, membuat Alby paham ilmu berbisnis. Ia mencoba mengundurkan diri, dan mencoba membangun perusahaan sendiri, yang tentunya di bantu oleh Soraya.
Jatuh bangun dalam bisnis itu hal yang biasa, kerap Alby temukan. Tapi ia tetap tak patah semangat. Hingga di tahun ketiga ia baru bisa merasakan masa jayanya, investor yang ingin mengajak bekerja sama. Jadilah, perusahaan Alby semakin maju dan berkembang.
****
Kini, Alby meremas rambutnya, mana kala kejadian lalu kembali terlintas menjadi bayangan yang buruk. Alby kembali mengusap sudut matanya yang basah. Ia merasa kecewa sekaligus terluka. Merasa jika dirinya belum sepenuhnya diinginkan oleh Rena.
Tidak bisakah Rena merasakan ketulusan dirinya? Ia telah dengan sepenuh hati menerima Rena dalam kehidupannya. Menganggap Rena adalah orang yang terpenting dalam hidupnya. Apakah semua cinta, perhatian, itu belum cukup?
Masihkah Rena meragukan dirinya, hingga tak mau mengandung anak darinya. Ya Tuhan! Alby merasa sedih. Kenapa dirinya harus bernasib seperti ini.
Alby menyentak nafasnya, kembali mengingat kejadian tadi. Ia ingat saat Rena berusaha mengejar dan memangil dirinya, tapi ia yang saat itu tengah di liputi amarah memilih untuk tak mengindahkannya. Menghindar adalah cara yang terbaik untuk meredamkan kemarahannya. Alby hanya takut semakin melukai istrinya, bukankah sifat dirinya yang telah lancang menyembunyikan pil penunda kehamilan istrinya sudah membuat istrinya kecewa. Sebisa mungkin Alby hanya tak ingin berbuat kasar pada Rena.
Alby kembali menenggelamkan kepalanya di kemudi, kali ini bingung harus kemana. Sementara dirinya belum ingin pulang dalam suasana hati yang buruk itu.
****
Sinar matahari perlahan mulai masuk, mengusik Rena yang masih terlelap, dalam keadaan duduk di bawah bersandar pada ranjang. Keadaannya masih sama berantakannya seperti semalam. Rena mengusap matanya, lalu mengedarkan pandangannya berharap saat ia membuka kedua matanya sang suami sudah pulang. Ia pun langsung bangkit dari tempatnya, sedikit meringis ngilu, posisi tidurnya semalam sama sekali tidak membuatnya nyaman.
Rena melirik ranjang yang kosong, masih sama berantakannya seperti semalam. Ia masih berfikir secara positif barangkali sang suami sudah pulang, dan sedang sarapan pagi di bawah. Rena buru-buru berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu menyusul suaminya.
Beberapa saat kemudian, Rena sudah selesai segera mengganti pakaiannya dengan terburu-buru, tanpa menyisir rambutnya ia langsung keluar dari kamar dan turun ke bawah. Sampai di ruang makan hanya ada Misel yang tengah menikmati sarapannya ditemani oleh Ratri. Itu artinya suaminya belum pulang.
"Bunda, kok sendirian? Ayah di mana?" tanya Misel.
"Oh..." Misel turun dari kursinya. "Bunda aku berangkat dulu ya!" ucapnya kemudian seraya menghampiri Rena dan menyalaminya dengan lazim.
"Hati-hati sayang!" Rena tersenyum seraya mengecup pipi anak itu.
Usai kepergian Misel, Rena kembali tertunduk lesu. "Kamu kemana sih bang? Kenapa gak pulang?" lirihnya. Matanya kembali mengedarkan ke hidangan di atas meja, selera makannya mendadak menghilang. Rena memilih berlalu kembali ke kamarnya.
Perempuan itu meraih ponselnya, lalu mencoba menghubungi nomor ponsel suaminya. Tapi, suara nada deringnya terdengar di dalam kamar itu. Rena mendesah resah, mana kala menyadari jika ponsel sang suami ternyata ada di rumah.
Rena kembali berpikir kemana suaminya pergi. Mungkinkah ke rumah ibu mertuanya. Rena ingin menelpon kesana, tapi jam dinding sudah menunjukkan waktunya dia untuk berangkat ke kampus. Rena pun memilih beranjak ke kampus, barangkali suaminya hari ini pun ada di sana.
Tapi hingga mata kuliah berakhir, Alby sama sekali tak terlihatlah batang hidungnya. Rena sama sekali tak bisa konsentrasi mengikuti kuliah pagi ini. Pikirannya terus tertuju pada suaminya, kemana lelaki itu? Apakah sudah makan.
"Lesu amat ini nyonya Alby?" seru Alena yang tiba-tiba datang duduk tepat di sisi Rena yang saat ini tengah duduk di bawah pohon.
Rena tersenyum tipis. Tidak lama Miko pun ikut bergabung dan duduk di sebelah Alena seraya meletakkan salah satu tangannya dipundak Alena, membuat perempuan itu berdecak menepis tangan Miko lalu menggeser tubuhnya.
"Ck! Gitu amat sih Le. Biasanya juga demen nempelin aku mulu!"
Alena memutar bola matanya jengah, "itu dulu saat aku tau kita sama-sama jomblo. Sekarang kamu udah ada pacar, sadar dirilah aku gak mau dibilang pelakor. Sono jauh-jauh dari aku, urus kekasihmu!"
"Kamu cemburu?" tanya Miko.
"Sorry ya. Ngapain cemburu!"
Miko menghela nafas lega, "syukurlah kalau kamu tidak cemburu, artinya aku tidak harus nyakiti kamu, karena kau itu bukan selera ku juga. Jadi persahabatan kita kan aman."
Jleb!!
Alena memalingkan mukanya, mendengar ucapan Miko. Memendam rasa sakitnya.
"Ya udah sono minggir!" usir Alena.
Rena memijat kepalanya yang semakin terasa pusing mendengar perdebatan dua sahabatnya.
"Kalian lanjutin aja ributnya ya. Aku mau pulang dulu!" Rena beranjak dan berlalu begitu saja dengan lesu, membuat Alena dan Miko menatapnya heran.
"Dia kenapa?" tanya Miko lagi-lagi meletakkan tanganya di pundak Alena.
"Mana ku tau, emang aku peramal!" Alena kembali menepis tangan Miko lalu berlalu meninggalkannya.