
Namun, baru saja mereka berniat membawa Miranda ke dokter kandungan. Pintu terbuka seorang perempuan cantik, anggun, dalam balutan jas dokter serta memakai jilbab berwarna pink masuk ke dalam dengan senyum yang terpancar di bibirnya.
“Bagaimana rasanya sekarang, Bu?” tanya Dokter setelah berada di sisi ranjang Miranda.
“Emmm... Saya merasa mual Dok. Apalagi menyadari berada di rumah sakit, saya gak betah pengen pulang. Boleh kan dok?” ujar Miranda.
Dokter itu tersenyum, sebelum kemudian menjawab. “Itu hal yang wajar bagi seorang perempuan hamil.”
“Apa hamil?” pekik Miko antara rasa senang dan terkejut, sementara Miranda masih terdiam menatap dokter itu dengan bingung, ia mencoba mengingat tanggal terakhir menstruasinya. Sangking banyaknya kerjaan ia bahkan sampai lupa telat datang bulan, padahal harusnya ia bisa sadar akan perubahan tubuhnya, mengingat ia sudah pernah melahirkan dua kali.
Irawan dan Amira hanya tersenyum simpul, bahagia mendengar akan ada anggota baru di keluarganya.
“Iya Pak. Apakah anda belum mengetahui kabar ini sebelumnya?" tanya Dokter itu.
Miko menggeleng lemah, seingatnya istrinya tak menunjukkan gejala apapun sebelumnya, selain tadi saat selesai berhubungan di kantornya. Bahkan ia sampai dibuat takut karena perempuan itu terus muntah dan mengeluh sakit perut.
“Kalau begitu saya sarankan anda untuk membawa Bu Miranda ke dokter spesialis kandungan guna memastikan keadaan sebenarnya,” saran Dokter kemudian.
Dan di sinilah mereka semua, di ruangan spesial kandungan. Miko dan keluarga memutuskan untuk memeriksa kandungan Miranda sekalian, memastikan keadaan calon buah hati baik-baik saja. Dokter itu juga menerangkan kondisi janin dan ibunya.
Miko meringis menggaruk tengkuknya yang tak gatal, kala mendapatkan tatapan tajam dari Papa dan Mamanya. Tatapan penuh intimidasi mereka layangkan setelah mendengar keterangan dokter mengapa Miranda bisa sampai mengeluh sakit perut hingga pingsan. Semua itu karena kontraksi, akibat guncangan yang berlebihan akan olahraga siang kedua orang tuanya. Dokter lalu menyarankan untuk mengurangi aktivitas mantap-mantapnya yang berlebihan itu, bahkan ia juga menyarankan akan lebih baik jika libur di trimester pertama. Sebenarnya, ia juga tak sepenuhnya salah, karena ia sendiri sama sekali tidak tahu kalau istrinya sedang hamil, jikapun tahu mana mungkin ia akan melakukan kegiatan mantap-mantapnya yang berlebihan. Kalau tahu kan ia bisa melakukannya dengan pelan, maksudnya mungkin menguranginya.
“Papa dan Mama ini kenapa sih liatin aku begitu banget,” protes Miko setelah keluar dari dokter kandungan, lalu mengantarkan istrinya kembali ke ruang perawatan, karena dokter meminta Miranda untuk dirawat inap selama semalam.
“Kamu itu benar-benar ya Mik. Istri lagi hamil malah dihajar terus. Yang lebih herannya bisa-bisanya kamu bercocok tanam di kantor,” omel Irawan menggelengkan kepalanya. Tadinya ia mengira Miranda hanya kelelahan karena bagaimanapun menantunya itu juga mempunyai usaha yang harus di urus, untuk itu berpengaruh pada kandungnya. Namun, tak ia sangka jika semua itu ulah putranya, ia bisa tahu tentu saja setelah mendengar penjelasan Miko di depan dokter tadi jika putranya itu mengatakan Miranda mengeluh sakit perut setelah keduanya berhubungan. Ia yang tahu jika Miko melarikan Miranda ke rumah sakit dari sekretarisnya tentu terkejut, dan langsung menghubungi istrinya, kemudian keduanya bertemu di rumah sakit.
“Aku kan gak tahu Pa, kalau dia lagi hamil. Kalau tahu mana mungkin aku begitu,” jawab Miko tertunduk lesu. “Habisnya gimana ya, goda banget sih,” sambungnya.
“Miko?!” teriak Irawan berdecak kesal. Bisa-bisanya putranya yang masih memiliki sifat seperti itu, mau menjadi ayah. Miko meringis menatap istrinya yang terbaring dengan diam, ia berharap istrinya itu mau membelanya dari Omelan papanya kini.
“Pokoknya Papa dan Mama gak mau tahu. Kamu harus jaga baik-baik calon cucu papa itu. Awas saja kalau sampai kami mendengar istrimu kembali masuk rumah sakit karena ulahmu yang seperti ini.”
“Iya Pa. Iya janji deh, lagian masa iya sih aku mau nyelakain anak aku sendiri. Ya gak lah, aku pasti akan menjaganya,” jawab Miko sungguh-sungguh.
“Iya pa iya. Perasaan salah mulu deh,” gerutu Miko menoleh ke arah istrinya yang saat ini tengah memakan buah yang telah dikupas kan dan dipotong oleh Amira. “Bantuin sayang. Itu mertuamu lho ngomel mulu, aku pusing dengerinnya,” sambung Miko dengan wajah melas berharap istrinya akan luluh.
“Biarin aja,” celetuk Miranda membuat kedua mata Miko membola. “Omelin aja Pa. Emang ini dia yang goda-goda aku tadi Pa. Padahal bilangnya mau minta temenin diskusi, tahunya diskusi yang lain Pa,” sambung Miranda mengadu.
Miko langsung meluruhkan tubuhnya di pinggir ranjang istrinya. Amira hanya tertawa kecil melihat tingkah putra sambungnya itu.
“Tuh kan beda ngomongnya. Padahal bukan aku lho yang goda. Kan kamu yang duduk di pangkuan aku dulu sayang,” ujar Miko membela diri.
Irawan menggelengkan kepalanya, pusing mendengar aduan putra dan menantunya itu. “Kalian berdua ternyata sama saja. Ya udah Papa cuma pesan jaga baik-baik kandungannya. Di luar sana masih banyak orang yang mengharapkan keturunan, karena kalian sudah diberi amanah ini. Jaga baik-baik. Kami pulang dulu, ayo Ma.” pesan Irawan seraya mengajak istrinya untuk pulang.
“Baik Ma, Pa.”
“Istirahat ya Mir,” ujar Amira ketika hendak berlalu pergi.
Usai kepergian kedua orangtuanya. Miko menatap istrinya dengan senyum yang terpancar di wajahnya.
“Kenapa?” tanya Miranda.
Miko menggeleng, lalu menatap beranjak memeluk dan mencium kening istrinya. “Makasih ya!”
“Untuk?”
“Untuk ini.” Miko mengusap perut istrinya, di mana biji kecambahnya sudah tumbuh di sana. “Aku bahagia,” sambungnya.
“Aku juga,” sahut Miranda tak kalah bahagianya.
“Gak sia-sia kita lembur setiap malam ya sayang. Jadi juga adonan mantap-mantapnya,” celetuk Miko kemudian membuat Miranda berdecak kala mendengar ucapan suaminya yang kembali absurd, yang biji kecambahlah, adonan mantap-mantap. Namun, dengan hal itu, ada sisi lain yang membuat ia bersyukur karena dengan ucapan Miko yang merubah nama-nama itu. Ketika tiba-tiba Misel mendengarnya, anak itu tidak akan merasa penasaran karena mengira apa yang diucapkan Papa tirinya itu hanyalah perihal jenis makanan yang mantap.
“Berhasil juga aku. Mau pamer ah sama Alena dan Rena,” sambung Miko kemudian mencari ponselnya. Namun, tak ia temukan hingga ia baru ingat semua barang miliknya tertinggal di kantor.