Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
MEJIKUHIBINIU



"Bang, bangun. Antar aku ke rumah Kakak." Rena mengguncang tubuh suaminya yang masih tertidur dengan lelap.


"Abang ihh buruan! Gak bangun juga Rena pergi sendiri ni!" ancam Rena kemudian.


"Apa sayang? Udah tidur lagi yuk." Alby menjawab seraya menarik tangan istrinya ke dalam dekapannya, tanpa membuka kedua matanya.


"Lepas bang. Aku bukan mau tidur, mau ke tempat Kak Davis." Rena melepaskan dekapan sang suami, seraya memukul pelan perut suaminya karena lelaki itu tak kunjung bangun. Hal itu tentu membuat Alby sontak membuka matanya secara tiba-tiba.


"Rasakan! Salah sendiri gak bangun-bangun. Udah aku ganggu dari tadi juga!" omel Rena.


Dengan penampilan khas bangun tidur, rambut acak-acakan, Alby mengusap wajahnya, menarik nafasnya. Istrinya kerap kali membangunkannya tengah malam seperti ini, karena menginginkan sesuatu. Tidak taukah Rena. Bahwa dirinya pun lelah dan butuh istirahat, tapi saat Alby menjelaskannya, Rena justru menyalahkan arti ucapannya. Ini membingungkan.


"Ayo bang!" Rena menarik tangan suaminya.


Alby masih terdiam, kedua matanya yang perlahan sudah terbuka sempurna, melirik jam di atas nakas. Waktu masih menunjukkan pukul tiga dini hari, dan istrinya itu mengajaknya untuk bertamu. Apa ia tidak salah dengar.


"Masih jam tiga sayang. Besok pagi aja ya? Kak Davis pasti juga sudah tidur," ujar Alby lembut.


Rena menggeleng dengan mata yang mulai berkaca-kaca, membuat Alby semakin gusar.


"Memangnya ada tujuan apa kamu kesana?" tanya Alby pelan.


"Aku ingin sesuatu."


"Katakan sama Abang. Biar Abang yang nyari atau yang buat sayang?" pinta Alby. Namun, Rena justru menggelengkan kepalanya dengan kuat.


"Aku maunya Kakak yang nurutin!" tegas Rena tanpa ingin di bantah.


"Re?"


"Kalau Abang gak mau antar ya udah Rena pergi sendiri!" ancam Rena seraya menjuntaikan kakinya ke lantai. Dengan wajah kesal ia mengambil kunci mobilnya, dan keluar dari mobilnya.


"Sial!" umpatnya pada diri sendiri, seraya menyingkap selimutnya. Alby berlari menyusul istrinya.


Srett!


Dengan cepat Alby merebut kunci mobil istrinya, saat ini keduanya sudah berad di garasi.


"Biar Abang yang nyetir. Ayo kamu masuk!" titah Alby. Sungguh kesabarannya hampir habis. Ia tak habis pikir kemana sifat istrinya yang pengertian, sabar, dan dewasa selama ini? Apakah dengan kehamilannya sifat itu lenyap begitu saja.


"Abang gak ikhlas? Rena bisa sendiri!" cetus Rena dengan sendu.


"Mana mungkin Abang gak ikhlas sayang," sahut Alby.


"Tuh Abang cemberut, gak senyum!" protes Rena.


'Ya ampun, nak. Salah apa Ayahmu, hingga kamu buat Bundamu jadi seperti ini. Padahal kamu itu masih di rahim Bunda, kok ya sifatnya ngeselin banget.'


Alby menarik nafasnya, kemudian menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman ke arah istrinya.


"Nah gitu dong," ucap Rena lega saat melihat senyuman suaminya.


"Iya. Besok-besok bila perlu Abang plester bibirnya biar terus narik ke atas, jadi gigi Abang kelihatan terus, biarlah sampai kering," kata Alby seraya membukakan pintu mobil untuk istrinya.


Rena tertawa mendengarnya."Iya bagus Abang. Senyum terus biar aku makin jatuh cinta sama Abang!" ujar Rena saat Alby sudah berada di sisinya dan bersiap mengemudikan mobilnya menuju rumah kakak iparnya.


Alby berdecak kesal, tidak taukah Rena. Ucapan Alby barusan adalah bentuk kata lain dari protesnya.


"Udah. Pasang sabuk pengamannya," titah Alby pada istrinya. Rena dengan cepat mengangguk dan memakai seatbeltnya.


"Masih tidur kali sayang. Pulang aja yuk, besok pagi kita balik lagi," bujuk Alby sambil berkali-kali menguap. Ia sungguh merasa ngantuk dan lelah, pasalnya tadi malam baru pulang jam sepuluh malam.


"Gak mau. Pokoknya Rena mau nunggu sampai kakak bukain pintu. Lagian emang Abang mau anaknya ileran?"


"Ya gak lah," sahut Alby cepat.


Rena kembali menekan bell pintu. Tidak lama kemudian pintu terbuka. Davis dan Nadila keluar dengan wajah kusutnya khas bangun tidur.


"Siapa sih yang-"


"Kakak?" pekik Rena langsung menghambur memeluk Davis, membuat lelaki itu yang tak siap menopang tubuhnya, hampir terhuyung ke belakang. "Kangen banget sama kakak. Lama banget sih bukain pintunya?" sambungnya seraya mengurai dekapannya.


Davis menatap adiknya itu penuh selidik. Sebagai seorang kakak ia bahkan hafal sifat Rena, yang begitu baik kalau ada maunya. Nadila membawa Rena masuk, sementara Davis menatap Alby dengan tanya. Tapi Alby hanya menggelengkan kepalanya, pasalnya ia sendiri tidak tau apa keinginan istrinya datang kemari.


"Perasaan aku kok gak enak ya," gumam Davis.


Keduanya memilih melangkah mendekati Rena yang sudah duduk di sofa ruang tamu. "Kamu ada apa kesini malam-malam, Re?" tanya Davis.


"Kakak aku pengen es cendol!"


"Apa?!" pekik ketiganya bebarengan. Terkejut, tentu saja ini jam setengah empat pagi, pedagang mana yang masih jualan es cendol.


"Ihh kok pada terkejut gitu sih. Keberatan ya!" sahut Rena sendu.


"Re, kamu kan tau ini jam berapa? Mana ada penjual es cendol jam segini!" keluh Davis. "Lagian ada suamimu kenapa mesti ke kakak!" sambungnya.


"Pokoknya aku mau kakak yang nyari!" kekeh Rena.


Nadila mengusap lengan suaminya, seraya mengangguk. "Udah Ayuk aku temenin. Kasihan Rena," ujar Nadila.


Davis pun beranjak mengambil alih kunci mobil Rena. Namun, saat sampai di ambang pintu ia kembali menoleh lantaran Rena kembali memanggilnya.


"Ingat ya Kak. Aku mau es cendolnya warnanya MEJIKIHIBINIU," pinta Rena yang semakin mengejutkan ketiganya.


"Apa?!"


"Kamu jangan ngada-Ngada deh, Re. Kakak aja baru dengar es cendol MEJIKIHIBINIU. Itu di mana yang dagang," keluh Davis seraya kembali memutar tubuhnya mendekati adiknya.


"Pasti ada. Pokoknya aku mu itu, soalnya aku udah bayangin warnanya pasti cantik. Kaya pelangi," kata Rena.


Davis menarik nafasnya, menatap ke arah adik iparnya dengan kesal. "Tutorial bikin anaknya salah kayaknya ini. Ngidamnya ngada-ngada. Makanya kalau mau buat tuh baca doa dulu," sergah Davis kesal.


Alby menarik nafasnya, padahal ia sendiri tidak tau kalau istrinya bakal meminta hal yang aneh seperti itu.


"Kakak kok jadi marahin suami aku sih. Orang yang pengen juga ponakan kakak kok," kata Rena membela sang suami.


"Ponakan! Ponakan! Itu bayi dalam perut kalau bisa ngomong udah protes, karena di fitnah terus!" seloroh Davis kesal.


"Tuh kan Kakak jahat. Orang aku cuma minta es cendol doang kok keberatan banget sih. Buruan cariin kak!" titah Rena memaksa.


Nadila yang tadi sempat kembali ke kamar mengambil dompet pun kini sudah kembali. "Ayo kak, buruan kita usaha dulu. Barangkali nemu apa yang Rena inginkan," ajak Nadila.


"Buruan sih. Nanti gantian kalau Kak Nadila ngidam kakak boleh minta apa aja sama suamiku," tawar Rena. Yang membuat wajah kedua pasangan itu justru memucat.


"Emm iya Re. Kami keluar dulu ya," ujar Davis.