
Alena berdecak kesal melihat pemandangan di depannya. Miko yang tengah menyetir tampak asyik mengobrol dengan Hira kekasihnya. Alena sudah seperti obat nyamuk berada dalam satu mobil dengan pasangan itu.
Siang ini, setelah selesai jam kuliah. Alena berniat untuk ke rumah sakit menjenguk Misel. Karena ia mendapatkan kabar jika putri sambung dari sahabatnya itu masuk rumah sakit. Niatnya tadi ia ingin kesana sendiri saja. Namun, tak ia sangka Miko justru mengajaknya bareng, katanya biar keliatan akrab. Alena sudah berusaha menolak, tapi Miko justru memaksa perempuan itu masuk. Jika bukan karena ia hari itu tak membawa mobil, pasti akan kekeh menolak. Apalagi saat ia tau, Miko pun justru membawa Hira, kekasihnya.
"Gak tau diri banget si Es Kiko ini. Dia kira aku ini nyamuk apa," gumamnya. Alena lebih memilih memejamkan matanya. Berpura-pura untuk tak mendengar apa obrolan keduanya.
Miko melihat Alena dari balik spion mobilnya. Lelaki itu tersenyum tipis melihatnya.
"Kenapa kak?" tanya Hira.
Miko menggeleng dan menunjuk ke arah belakang. "Kak Alena tidur. Mungkin dia kelelahan juga!" sambung Hira.
"Ya mungkin!" Miko hanya mengangguk. Sebenarnya, ia merasa ada yang berbeda. Alena yang sekarang tidak berisik, tapi lebih kepada hati-hati saat berbicara.
Miko mengusap kepala Hira, dan Alena membuka kedua matanya. "Kebangetan banget kalian." Alena melemparkan buku yang berada di pangkuannya, tepat di tangan Miko yang tadi untuk mengusap kepala Hira.
"Lah, kok melek. Ku kira tadi tidur!" ujar Miko heran.
"Terus mentang-mentang aku tidur, kalian bisa bermesraan gitu. Aku cuma pura-pura merem, bosen denger obrolan kalian yang menye-menye, lebay!!" Alena bersungut memalingkan wajahnya ke arah jendela. Menekan dadanya, yang terasa nyesek.
"Kenapa sih Le. Marah-marah mulu. Kamu tuh kaya orang cemburu tau. Atau jangan-jangan kamu memang-" Miko tak melanjutkan ucapannya kembali mengingat perkataan Rena.
"Diam mulutmu. Kita sudah sampai, parkirkan mobilnya dengan benar, aku mau turun." Alena memotong ucapan Miko dengan cepat. Setelah mobil berhenti Alena langsung turun dan melangkah masuk lebih dulu.
"Le?" teriak Miko.
"Aku mau ke toilet dulu. Kalian duluan aja ke tempat Misel." Alena menjawab tanpa menoleh ke arah Miko.
Miko terdiam menatap punggung Alena yang perlahan menjauh. Hira mengamati pandangan Miko. "Kak?"
"Oh iya. Ayuk kita masuk," ucap Miko yang sudah tersadar dari lamunannya.
"Kenapa? Kakak itu sebenarnya suka ya sama Kak Alena?" tanya Hira tiba-tiba. Pemilik nama lengkap Zahira Salsabila itu menatap kekasihnya dengan tatapan sendu. Bukan tanpa alasan ia bertanya demikian, pasalnya ia pun kerap merasa cemburu. Pun ia sadar diri, dulu Miko mengajaknya jadian hanya sekedar untuk pelampiasan akan rasa sakit lelaki itu saat mendengar jika Rena ternyata sudah menikah. Hira yang memang sudah menyukai Miko sejak awal masuk universitas itu, tanpa berpikir panjang menerimanya. Ia pikir seiring berjalannya waktu ia akan meluluhkan hati Miko, tapi ternyata... Ah sudahlah. Hira menggelengkan kepalanya mengenyahkan pikiran negatifnya. Selama Miko masih mau bersamanya ia hanya cukup merasa bahagia.
"Apa yang kau pikirkan? Ayo kita masuk. Jangan lupa makanan yang kita beli tadi di jalan di bawa. Si Lele lupa kayaknya itu," ujar Miko.
Hira mengangguk. "Ya kak!"
Sementara Alena yang tengah berada dalam wastafel toilet. Sesekali mendumel tak jelas, membuat pandangan orang-orang menatap dirinya dengan heran. Memang begitulah Alena kalau kesal dengan seseorang ia akan terus mengumpat meski tidak ada orangnya.
"Miko sialan! Duh, Alena ayo dong move on. Kamu tuh cantik, ngapain sih ngarepin Es Kiko. Namanya sahabat ya sahabat, jangan bermimpi untuk naik tahta," omel Alena pada dirinya sendiri. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Tak mengindahkan orang-orang yang menatapnya heran.
Alena menghela nafasnya, kemudian tersenyum. "Move on! Gas lah cari gebetan." Ia menepuk pipinya pelan, kemudian berlalu keluar dari dalam toilet, kembali dengan wajah ceria.
"Kayaknya jodohku tuh lagi jagain jodoh orang deh," celetuk Alena seraya terus melangkahkan kakinya.
"Aduhh, jidatku memar dan remuk ini pasti!" ringis Alena kala keningnya menabrak tubuh orang di depannya.
"Maaf! Apa kamu baik-baik saja?" tanya seorang lelaki yang suaranya cukup familiar di telinga Alena.
Alena yang saat itu tengah menunduk pun mengangkat wajahnya. "Pak Dokter?"
"Alena?" ujar Dokter Ryan terkejut. Tangannya terangkat untuk menyingkirkan tangan Alena, dari keningnya.
"Eh Pak Dokter mau apa?" tanya Alena bingung bercampur gugup. Apalagi kala lelaki itu menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya pada wajah Alena, perempuan itu sigap mundur.
"Kenapa mundur?" tanya Dokter Ryan mengerutkan keningnya.
"Dokter sendiri mau apa?" Alena bertanya balik.
"Cuma mau meriksa kening kamu. Katanya tadi memar dan remuk. Karena ini akibat ulahku. Tidak salahnya bukan aku mengobatinya."
Alena menelan ludahnya kala tatapannya bertemu dengan mata lelaki itu. Lelaki itu memang sangat tampan, hanya saja sayangnya ia seorang Dokter. "Ti-tidak perlu dokter aku tidak apa-apa."
"Lho, aku hanya ingin bertanggung jawab. Duduk dulu yuk biar aku obati keningmu," ujar Dokter Ryan.
Alena menggeleng dengan kuat, bayangan jarum suntik kini berkelebat dalam otaknya. "Aku tidak mau dokter. Tidak mau, aku tidak mau disuntik!" kekeh Alena.
Dokter Ryan melongo mendengarnya. "Diperiksa itu tidak harus disuntik Alena. Aku hanya ingin mengobati keningmu itu agar tidak memar!" Karena saat itu ia memang melihat kening Alena yang sudah memerah. Sebenarnya, itu bukan memar karena menabrak tubuh Dokter Ryan. Melainkan tadi saat masuk toilet, kening Alena tak sengaja membentur pintu toilet, itu semua karena rasa kesalnya pada Miko.
Dokter Ryan meminta Alena untuk duduk, sementara ia masuk ke berlalu ke ruangan mengambil kotak p3k. Setelah kembali ia mulai mengobati kening Alena, untuk mengurangi memarnya.
"Perasaan badanku tidak sekeras batu, kok bisa memar gini ya?" ujar Dokter Ryan heran.
Alena menatap wajah putih lelaki di depannya, dengan senyum. Jadi begitu rasanya diperhatikan. Boleh gak sih dia terlena sebentar.
"Alena?"
"Oh iya Pak Dokter. Itu sebenarnya memar karena tadi aku tak sengaja menabrak pintu toilet," ujar Alena dengan cepat.
Dokter Ryan terkekeh mendengarnya, sebenarnya ia tak kaget karena perempuan itu memang terbilang cukup ceroboh. "Lain kali hati-hati. Untung hanya jidatmu. Coba kalau mulutmu, kemudian gigimu sampai rontok gimana?" Ujar Dokter Ryan seraya merapikan kotak obatnya.
Alena bergidik membayangkannya. Masa iya dia yang masih imut-imut begitu harus ompong. Perempuan itu menutup mulutnya, membuat Dokter Ryan kembali tertawa kecil.
Plak!
Tak disangka Alena berani melangkah pukulan pada lengan lelaki itu. "Pak Dokter nyumpahin aku ompong ya. Doain tuh yang baik-baik dong Pak. Gak kasihan apa kalau aku ompong. Coba bayangkan udah ompong, jomblo, tidak laku lagi."
Dokter Ryan terdiam dengan senyum tipisnya, mendengarkan celotehan Alena. "Yang penting masih hidup!" sela Dokter Ryan kemudian.