Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Jadi Rindu



Tujuan Dokter Ryan ke cafe adalah untuk makan juga mengantar ibundanya belanja di supermarket bawah, sekaligus merilekskan otaknya yang seharian dihadapkan dengan berbagai kerjaan di rumah sakit. Namun, tak ia sangka keasyikannya justru terusik dengan kehadiran Alena yang tiba-tiba menarik tangannya lalu mengaku sebagai pacarnya dihadapan lelaki lain.


"Masih ada, jaman seperti ini. Orang masih percaya melakukan kencan buta itu pembodohan!" celetuk Dokter Ryan.


"Kamu ngatain aku bodoh." Alena mendengus tak terima menatap Dokter Ryan dengan tajam.


"Hemm! Nyatanya kamu datang lihat orang yang jadi partner kencanmu, kamu malah kabur. Terus memanfaatkan aku!"


"Itu karena tak sesuai ekspetasi," kilah Alena. Apa yang ia ucapkan memang benar, foto profil lelaki tadi itu terlihat tampan, tapi begitu bertemu sangat mengejutkan, bagaimana Alena tidak ada niat untuk kabur. Alena melirik menoleh ke arah Dokter Ryan dan berkata. "Dan aku tidak memanfaatkan mu Pak Dokter. Kirim saja nomor ponselmu, kebetulan saldo ovo ku masih penuh, nanti ku kirim. Anggap saja sebagai balas jasa," imbuhnya yang membuat Rena dan Dokter Ryan tergelak.


"Bilang aja mau minta nomor ponselnya, Le. Pake gaya mau kirim saldo ovo segala," celetuk Rena.


"Gak gitu Re. Mending aku jomblo seumur hidup aja lah Re, daripada melakukan hal bodoh seperti ini. Atau gak nunggu Miko peka dan putus dari pacarnya deh," ujar Alena kemudian.


"Itu jauh lebih bodoh," celetuk Rena, ia pun merasa kesal saat lagi-lagi dalam situasi apapun, temannya itu masih mengharapkan Miko. "Jangan mengharapkan sesuatu yang tidak pasti, Alena. Sudah ku katakan move on, buang jauh-jauh perasaan kamu yang tak terbalas itu!" imbuhnya kemudian.


Alena menunduk sedih, seandainya semua semudah itu, tentu akan Alena lakukan. Dokter Ryan pun terdiam, mendengar ucapan Rena, ia pun sedikit merasa tersindir, pasalnya dulu ia pun juga sama seperti Alena. Yang selalu menunggu dan berharap perasaan terbalas, tapi kenyataannya takdir tak dapat menyatukan keduanya. Akhirnya Dokter Ryan patah hati, dan kini ia pun mulai bisa menerima, meski perasaan itu belum hilang sepenuhnya, paling tidak sudah tak sedalam dulu.


"Kita tidak bisa memilih pada siapa hati akan berlabuh. Tapi, setidaknya kamu harus mencobanya, jangan membiarkan hatimu terus terluka jika tanpa kepastian. Lepaskanlah jika memang itu membuatmu terluka," ucap Dokter Ryan menepuk pundak Alena sambil bangkit dari tempat duduknya. "Aku pulang dulu ya. Tadi kesini sebenarnya cuma anterin Mama belanja!" imbuhnya kemudian yang diangguki oleh keduanya.


"Makasih ya Pak Dokter," ucap Alena.


Dokter Ryan mengangguk, meski terdengar menyebalkan kala perempuan itu memanggil dirinya dengan sebutan pak. Memangnya dia setua itu apa? Namun tak urung lelaki itu mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya, lalu memberikannya pada Alena.


"Ini kartu namaku, di situ ada nomor ponselku. Kalau kamu mau ngirim saldo ovo jangan tanggung-tanggung ya, aku mau 10 digit," kata Dokter Ryan yang membuat Alena terperangah.


"Anda mau ngerampok saya, Pak?!"


"Mumpung ada kesempatan," jawab Dokter Ryan seraya berlalu pergi, dengan senyum yang terkikik geli kala melihat wajah kesal Alena.


"Dasar Dokter matre!!" umpat Alena seraya menatap kepergian lelaki itu. "hemm tapi tampan juga ya Re?" tambahnya kemudian pada Rena.


Rena mengangguk, "iya. Meski masih kalah jauh tampan dari suamiku sih."


"Dasar bucin!" ejek Alena, yang di sambut tawa oleh Rena. Pasalnya Rena memang sengaja membuat hati Alena panas.


****


Pukul delapan malam Rena baru tiba di rumahnya dengan belanjaan penuh di dalam mobilnya. Bukan hanya kebutuhan dapur yang ia beli, melainkan perlengkapan Misel sekolah, dan juga aneka mainan. Usai membereskan semuanya, Rena pun berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Ponsel miliknya terus berdering dan itu panggilan dari sang suami, tapi karena Rena sedang mandi tak kunjung di jawab.


Hingga beberapa saat kemudian Rena sudah selesai membersihkan diri, keluar dari kamar mandi hanya dengan jubah mandi rambutnya nampak basah, saat ia hendak mengambil pakaian ganti, ia mendengar ponselnya berdering, Rena mengurungkan niatnya lalu beralih menjawab panggilan telpon.


"Hallo, bang?"


"Dari mana sih, kok baru diangkat? Abang udah telpon dari tadi loh. Chat juga gak dibaca," cecar Alby.


Rena memilih duduk di sofa, "Dari kamar mandi bang. Lagian, aku juga baru tiba di rumah, tadi ke Mall sama Misel dan Alena."


"Pesanan apa? Aku gak beliin baju buat abang lah."


"Ck! Bukan buat Abang, tapi buat kamu pakai nanti kalau Abang udah pulang, terus tamunya udah pergi. Khusus di pakai di dalam kamar, di depan Abang."


Rena terdiam, jadi mengerti apa yang di maksud suaminya.


"Oh baju saringan santan kelapa ya bang?" celetuk Rena kemudian. "Ngapain pakai begituan ujungnya juga Abang sobek!" imbuhnya.


"Biar ada sensasinya Re. Tapi jangan yang beli yang susah di buka, kaya waktu pertama itu!"


Rena terbahak, saat suaminya merenggut kesal kala mengingat momen malam pertama.


"Ngomongin begini, Abang jadi rindu kamu, Re. Benar kata Dilan ya ternyata rindu itu berat."


"Gombal!"


"Beneran sayang. Abang jadi kangen kamu, kangen juga mengulang adegan once again sayang. Tapi... Pulang sekarang pun percuma, kamu sedang tidak bisa Abang garap. Ladangnya sedang banjir, tunggu kalau udah gersang nanti Abang garap. Kamu siap-siap aja ya sayang."


Rena memijat kepalanya kala mendengar ucapan suaminya yang begitu absurd, tingkat kemesuman lelaki itu begitu tinggi. Rena tak habis pikir, sedang dalam keadaan jauh pun yang di ucapkan seputar hal itu.


"Abang lagi ngapain?" tanya Rena berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Tiduran sayang. Meluk guling, yang ku anggap ini kamu. Tapi beda ya, kamu kan enak di peluk hangat, empuk. Nah ini hambar dingin, gak bisa di ajak ribut!"


Rena terkikik geli, rasanya ia hampir tak bisa menjaga kewarasannya kala mendengar ucapan sang suami. Padahal lelaki itu baru tiga hari berada di Bandung udah kaya setahun.


"Emang kapan pulangnya?" tanya Rena.


"Gak tau sayang. Masalahnya belum kelar, pusing Abang Re. Masa anggaran pemasukan dan pengeluaran lebih besar pengeluaran. Ini mah pabrik hampir bangkrut kalau begini," keluh Alby.


"Terus, Abang udah ada solusi?"


"Hemm. Satu-satunya cara hanyalah memangkas beberapa karyawan Re. Salah satunya karyawan yang terlibat dalam penggelapan dana pabrik ini. Doain ya cepat kelar. Biar Abang bisa pulang cepat, ngobatin rindu kamu ke Abang deh."


Rena menghela nafasnya, dalam keadaan seperti itupun, suaminya masih menyempatkan diri untuk menggoda


"Ya udah abang yang semangat kerjanya, biar cepat kelar masalahnya. Jangan lupa jaga kesehatan, makan.. emm nanti kalau Abang pulang, Rena kasih deh apa yang Abang minta."


"Beneran?!"


Nah kan suaranya langsung terdengar begitu semangat.


"Iya bang!"


"Oke deh. Ya udah Abang tutup dulu ya telponnya, Abang mau balik kerja biar cepat kelar, terus pulang minta hadiah sama kamu."


"Ya bang!"