Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Memaksa



Miranda tengah sibuk membuat desain gaun pengantin di ruangannya. Hingga saat Miko tiba di butiknya pun ia tidak tau. Kedatangan Miko hanya di sambut oleh Eva. Setelah memberikan kain yang ia bawa, lelaki itu berusaha mencari Miranda.


"Calon istriku kemana?" tanya Miko pada Eva.


"Hah?"


"Hah heh... Ditanya kok. Beb Miranda kemana?" cetus Miko lagi dengan wajah kesal.


Eva menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Ada di ruangannya."


Tanpa mengucapkan terimakasih Miko berlalu ke ruangan Miranda.


Tok! Tok!


"Masuk!" sahut Miranda tanpa menoleh ke arah pintu.


Ceklek!


"Ada apa Eva. Kurir yang mengantar kain udah datang kan, nanti tolong berikan tips ini padanya." Miranda mengulurkan dua lembar uang berwarna merah, tanpa menoleh karena ia mengira yang datang itu Eva.


"Makasih sayang."


'Kok suaranya beda?' gumam Miranda. Ia langsung menghentikan aktivitasnya, mengangkat wajahnya, dan terkejut mendapati Miko sudah duduk di hadapannya dengan memasang senyum semanis mungkin.


"Miko, ngapain kamu di sini?" tukas Miranda kesal.


"Ishh calon suami datang kok sambutannya gitu sih," cibir Miko tak terima.


"Ngaco kamu ya, siang yang nganggap kamu calon suami. Jangan bermimpi!" sergah Miranda marah.


"Orang bilang hidup itu berawal dari mimpi. Ya gak apa-apa lah kalau aku harus bermimpi dulu," sahut Miko seraya meletakkan salah satu tangannya untuk menopang kepalanya dan matanya tetap memandang Miranda.


Miranda memutar bola matanya jengah, menghadapi sikap Miko yang keras kepalanya. "Sebenarnya mau kamu apa sih? Ganggu aku terus?"


"Kamu... Yang aku mau itu kamu lho mbak, gak ada yang lain!" jawab Miko.


"Aku lagi kerja Miko, keluarlah! Kamu juga harus kembali ke kantor kan?"


Miko mengangguk. "Iya! Tapi nanti kalau urusan aku udah beres di sini."


"Urusan apa? Kamu di sini hanya menggangguku saja."


Bukannya marah lelaki itu tetap memasang wajah senyumnya. "Kamu kerja ya kerja aja mbak. Aku gak akan ganggu kok, cuma lihat aja dari sini," ujar Miko.


"Sama saja. Kamu itu gak ada bosan-bosannya ya ganggu terus. Gak di rumah di sini muncul terus. Sampai bingung aku, maunya kamu itu apa?" keluh Miranda.


Miko tersenyum tipis. "Sebenarnya gampang sih. Biar aku gak ganggu kamu terus begini mbak? Aku juga sebenarnya kadang capek ngejar-ngejar kamu tapi gak kunjung di balas perasaanku. Tau gak mbak? Rasanya itu sakit banget." Miko memukul dadanya biar terlihat lebih meyakinkan.


"Lebay!" cibir Miranda.


"Serius? Kadang aku mikir, apa nasibku itu harus terus patah hati ya."


"Mana ku tahu!"


Miko menghela nafasnya. "Mbak beneran apa gak ada rasa sayang sedikitpun sama aku? Apa usahaku selama ini gak ada gitu yang sedikitpun menyentuh hatimu mbak?" tanyanya serius.


Miranda terkejut, lalu menatap Miko. Ia menelan ludahnya secara gugup. Ketika pandangan mata keduanya saling terpatri ada gelenyar aneh yang Miranda rasakan.


"Mik, kamu tau kan siapa saya?"


"Tau lah. Miranda Lavanya perempuan berusia 33 tahun, mantan seorang model papan atas, mantan istrinya Pak Alby Dharmawan, dan ibu kandungnya Misel. Tuh lengkap kan?" terang Miko.


Miranda menghela nafasnya. "Ada banyak perbedaan di antara kita. Pergilah, masih banyak perempuan di luar sana yang lebih baik dariku. Jangan sia-siakan masa depanmu hanya demi perempuan seperti aku," pinta Miranda sendu.


Mendengarnya bukannya pergi, Miko justru mengepalkan kedua tangannya. Matanya tampak memerah marah, entah untuk yang ke berapa Miranda menolak dirinya. Anehnya bukannya ingin mundur, keinginan untuk memiliki perempuan itu semakin kuat.


"Salah satunya dari segi usia. Usia kita terpaut sangat jauh. Kamu masih sangat muda Mik. Rasanya sangat-"


Miranda menggelengkan kepalanya, matanya berkaca-kaca, ia mengigit bibir bawahnya, seraya memalingkan mukanya.


"Mbak?"


"Aku pernah dua kali gagal mempertahankan rumah tanggaku, Mik. Dan itu semua karena ulahku sendiri, kamu bagaimana sifatku dulu. Bahkan aku itu mantan seorang napi."


"Aku tidak peduli mbak," sanggah Miko.


Miranda mengusap sudut matanya yang basah. Kala luka pernikahan keduanya kembali terlintas, ini bukan semata karena dia masih mencintai Damian. Hanya saja mengingat Miko juga anak dari seorang pengusaha yang kaya raya, ia pun menjadi takut untuk memulai membuka hatinya, ia takut kembali terluka dan mendapatkan perilaku yang sama. Bayangan kata-kata tuduhan pembunuhan itu sampai detik ini terkadang masih terlintas.


Miranda menutup wajahnya, dan mulai terisak. Hal itu tentu membuat Miko terkejut, lelaki itu langsung beranjak dari kursinya, kemudian mendekatinya. Tanpa disangka, ia berani memegang Miranda, membiarkan perempuan itu menangis bersandar pada tubuhnya.


"Menangislah mbak, kalau itu bisa membuat mbak kembali tenang," ujar Miko seraya mengusap lembut pucuk kepala perempuan itu.


Miranda semakin terisak, bahkan sampai mencengkram jas lelaki itu. Untuk pertama kalinya ia menangis di pelukan lelaki. Selama ini ia hanya memendam rasa sedihnya sendiri, tak ada teman berbagi. Sekalipun ia dekat dengan Rena, ia tak akan berani sampai menangis seperti itu.


Setelah di rasa tenang, Miranda mulai mengurai dekapannya.


"Mbak? Gimana are you okay?" tanya Miko.


Miranda berusaha tersenyum di balik wajah sembabnya. "Iya. Makasih ya!"


"Hem... Jadi, gimana? Mbak mau kan mencoba-"


"Mik?" sela Miranda menggelengkan kepalanya. "Aku tidak pantas untuk kamu. Kembalilah ke kantormu Mik," sambungnya kemudian. Miranda kembali memutar tubuhnya ke depan, berusaha mengambil kembali pensilnya.


Namun, tanpa di sangka bukannya pergi. Miko justru menekuk kedua kakinya dan berlutut dihadapan Miranda.


"Miko, apa yang kamu lakukan?" tanya Miranda.


"Aku gak akan pergi. Sebelum mbak menjawab perasaanku!"


"Aku kan sudah menjawabnya, tidak Mik."


Miko menggeleng. "Bukan itu yang aku inginkan. Aku hanya ingin mendengar kata iya doang dari mulutmu mbak!" kekehnya.


"Ya ampun. Itu namanya pemaksaan!" Pekik Miranda heran, baru kali ada oang mengatakan perasaan tapi meminta jawaban untuk di terima.


"Mik…"


"Aku tau, mbak mungkin masih ragu sama aku. Tapi, bisakah kita jalani lebih dekat dulu. Biarkan aku membuat mbak terasa nyaman sama kehadiran aku. Kita pacaran dulu mbak?"


Miranda terperangah mendengarnya, ia seperti kembali mengalami masa ABG.


"Mik?".


"Ayolah mbak. Aku gak akan pulang sebelum mbak bilang iya. Lagian apa susahnya sih tinggal bilang iya. Terus kita jalani hubungan ini. Lagian dua Minggu lagi kan nikahan Alena, masa gak kasihan sih sama aku yang jomblo ini datang ke pesta pernikahannya. Kalau gak mau sekarang aku seret juga ini ke KUA," ancam Miko.


"Ehh mana ada?" sahut Miranda gusar.


"Makanya mbak kalau tidak mau aku paksa nikah ya mbak harus-"


"Iya. Iya," potong Miranda dengan cepat.


"Iya apa?" desak Miko.


"Iya seperti yang kamu bilang tadi, jalani dulu. Karena aku tidak mau kamu paksa ke KUA!" sahut Miranda dengan menghela nafasnya.


Miko tersenyum. "Makasih ya mbak." Ia beranjak dari tempatnya. "Lagian siapa yang mau ngajak nikah mbak sekarang. Orang aku duit aja gak punya," sambungnya kemudian.


"Berarti kalau begitu-"


"Oh tidak. Jawaban yang sudah diberikan tidak dapat di tarik. Mulai sekarang kita resmi jadi sepasang kekasih!"