Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Asal Gandeng Orang



Rena pulang dari rumah sakit masih pukul tiga sore, karena ia sudah berjanji pada Misel jika hari ini akan membawa anak itu ke mall bermain ice Keating sekaligus belanja bulanan. Saat ini Rena tengah menemani putri sambungnya itu bermain di taman belakang dengan Kanza --- kelinci kesayangannya.


"Misel jangan kenceng-kenceng larinya, nanti jatuh," ujar Rena saat melihat putrinya itu berlari mengejar Kanza.


"Ya Bunda!"


"Sebentar lagi mandi ya sayang. Katanya mau main ice Keating, takut kemaleman nanti malah tutup." Sebenarnya bukan itu masalahnya, tapi malamnya ia pun harus pandai-pandai membagi waktu belajar Misel, juga tugas kuliahnya.


"Ya Bunda!"


Rena tersenyum kala melihat Misel berhenti berlari, kemudian menghampiri dirinya sambil menggendong Kanza. "Bunda lucu kan?" tanyanya sambil mengangkat Kanza.


"Hemm, ya sayang!"


"Sayang sekali ia tidak punya teman. Bunda, bagaimana kalau besok kita pelihara angsa?"


"Hah angsa?"


"Ya Bunda, biar kebun ini rame!"


Rena menggelengkan kepalanya, makin lama tempat ini bukan seperti taman bunga, melainkan kebun binatang.


"Nanti gigit?" ujar Rena menakuti.


"Gak Bunda. Temanku ada yang pelihara angsa cantik banget. Aku mau bunda... Bilangin ayah ya suruh beliin," pintanya.


"Nanti Misel bilang sendiri ya. Tunggu ayah pulang dari Bandung," ujar Rena karena memang saat ini Alby tengah tak berada di rumah. Lelaki itu tengah berkunjung ke pabrik teh nya yang berada di kota Bandung, yang tengah mengalami masalah di sana.


Saat Rena tengah asyik bersama Misel, tiba-tiba Bi Surti datang memberitahukan jika ada di depan ada tamu untuknya. Rena segera berpamitan pada Misel untuk ke depan sejenak.


"Re?"


"Alena. Ku kira tamu siapa?" sahut Rena begitu tiba di ruang tamu. "Deg-degan aku!" imbuhnya kemudian seraya mendudukan dirinya di depan sahabatnya itu dengan bersebrangan meja.


"Ganggu ya Re?" tanya Alena.


"Gak! Cuman aku heran. Kok bisa tau rumah ku?"


"Lha, kamu masa lupa. Kan kamu yang ngasih tau sendiri alamatnya," ujar Alena membuat Rena ber- oh ria, karena ternyata ia sendiri yang lupa.


"Ada apa, Le? Tumben main kesini?" ujar Rena heran apalagi melihat penampilan perempuan itu yang tampak berbeda..


"Sibuk gak Re? Temenin aku yuk!"


"Kemana?" tanya Rena.


Alena meremas tangannya, "Re. Sepupu aku nie daftarin aku ke biro jodoh. Nah hari ini aku ada pertemuan dengan pasangan aku gitu. Temenin yuk Re, aku kok ngerasa ragu. Sebenarnya aku malas banget begini."


Rena terbahak-bahak mendengarnya, apa ini? Kemarin Rena menawarkan Alena untuk berkenalan dengan temannya tidak mau. Nah ini justru perempuan mengatakan bahwa ia akan bertemu dengan lelaki lain yang hanya lewat aplikasi biro jodoh.


"Dasar aneh! Aku kenalin sama temanku gak mau. Malah cari cowok lewat biro jodoh, dah kaya gak laku aja Le?" keluh Rena kemudian.


"Ck! Iseng doang. Kesel aku liat Miko itu gak peka juga. Ayo Re temenin, sebentar doang kok," desak Alena.


"Iya! Kebetulan aku juga mau ke mall temanin anak main ice Keating nanti sekalian bareng deh," ujar Rena.


"Okelah! Setidaknya aku ngerasa tenang bawa teman," ucap Alena lega. "Sepi banget Re. Laki mu kemana?" tanyanya kemudian.


"Lagi di Bandung."


"Widih, kamu jadi janda dong!" celetuk Alena yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Rena.


****


Rena, Alena dan Misel telah tiba di salah satu mall. Misel ingin segera bermain, sementara Alena terus mendesak untuk menemaninya ke cafe, tapi Misel kekeh tidak mau.


"Gini aja Le. Kamu temuin aja orangnya sendiri. Toh aku juga gak jauh kok, cuman nemenin Misel doang. Kasihan anakku, kalau ngikut-ngikutin kamu yang kencan gak jelas."


Alena cemberut. "ya deh!"


Sementara Rena pergi ke tempat bermain, Alena berbelok masuk ke dalam cafe tempat di mana ia telah membuat janji temu. Begitu tiba di dalam cafe, Alena mengeluarkan ponselnya untuk membaca chat dari partner kencan butanya.


[Aku sudah tiba di cafe, dan tengah menunggumu. Duduk di bagian kursi paling belakang, memakai kemeja berwarna merah. Aku adalah lelaki yang paling tampan di cafe ini]


Begitulah bunyi pesan dalam ponselnya, Alena kembali memasukkan ponselnya. Dengan langkah pelan, ia mulai berjalan mencari lelaki yang di maksud. Ekor matanya memindai pengunjung cafe di sana, tapi pandangannya justru tertuju pada lelaki tampan yang duduk di bagian nomor dua dari meja belakang. Seandainya partner kencan butanya adalah lelaki itu mungkin meski tanpa cinta, Alena akan memikirkan ulang hubungannya. Tapi....


"Alena!" panggilan seseorang dari kursi belakang membuyarkan lamunannya, membuat Alena menoleh, lelaki itu melambaikan tangannya, sedetik kemudian matanya terbelalak tak percaya.


"Astaga! Lasena, apakah kamu tidak salah mencarikan jodoh untuk kakak sepupumu ini. Tidak adakah yang lebih besar darinya," ringis Alena kala melihat betapa gempalnya tubuh lelaki yang di maksud partner kencan butanya. Secepat kilat Alena mencari ide untuk menghindari pertemuan itu.


"Alena!" lelaki itu masih berteriak memanggil dirinya, membuat penghuni cafe serentak menoleh ke arahnya, tiba-tiba sesuatu ide tercetus di otaknya.


"Maaf, aku bukan Alena tapi aku Alina kembarannya Alena. Aku kesini hanya ingin memberitahu jika Alena tidak bisa datang," ujar Alena berdusta. Rasanya menyesal sekali ia mengikuti ajang biro jodoh ini, menyesatkan.


Lelaki itu menggeleng. "Masa sih? Kok aku gak percaya?" ucapnya sambil menatap inci tubuh Alena dari bawah sampai atas, membuat Alena merasa risih dan terkejut. Perempuan itu kembali berfikir bagaimana caranya agar secepatnya bisa pergi dari sini.


"Kenapa gak percaya? Aku kesini mau menemui kekasihku kok. Dan sekalian menemui kamu untuk menyampaikan pesan dari Alena!"


"Menemui kekasihmu? Siapa? Kamu jangan membohongi saya ya!" sentak lelaki itu yang semakin membuat Alena panas dingin, hampir gagal.


Keributan yang diciptakan membuat lelaki tampan yang berada di depannya tadi menoleh ke arah keduanya. Hal itu membuat Alena tersenyum kala mendapatkan sebuah ide terlintas di otaknya. Alena langsung menghampiri lelaki tampan itu, dan menggandeng tangannya. "Ini pacar ku! Dia sejak tadi udah menungguku di sini. Masa kamu gak percaya," ucap Alena yang membuat lelaki tampan itu bingung, bahkan berusaha menepis tangan Alena dari lengannya.


"Tolongin saya sebentar. Saya dalam bahaya," bisik Alena pada lelaki itu, membuat lelaki tampan itu terdiam dengan wajah kesal. Rasanya ingin menepis kasar tangan Alena, tapi mengingat jika yang ia hadapi adalah perempuan jadi ia tak melakukannya.


"Ya sudah yuk sayang kita nonton, maaf buat kamu nunggu lama," ujar Alena yang semakin merapatkan tangannya, kemudian menarik lelaki itu.


Alena terus menarik tangan lelaki asing itu hingga sampai di lantai satu tempat di mana Rena dan putrinya berada.


"Aduhh!" keluh Alena begitu tiba di sisi Rena.


Rena menoleh dan terkejut mendapati temannnya datang membawa seorang lelaki yang tak lain adalah Dokter Ryan, sama halnya seperti Rena, Dokter Ryan pun tak kalah terkejutnya.


"Lho, Dokter Ryan kok bisa datang bersama Alena," seru Rena.


Alena terdiam menatap Rena. "Re, kamu mengenalnya?"


"Iya, dia Dokter Ryan. Teman kerjaku di rumah sakit yang waktu itu ingin aku-"


"Tanyakan pada temanmu ini Re, gak ada sopan santun main gandeng tangan orang aja. Dia pikir aku apa main seret-seret!" cetus Dokter Ryan kesal mengingat Alena terus berlari menggandeng lengannya, dan lebih bodohnya ia justru menurut saja.


Rena menganga mendengarnya, Alena meringis tak enak hati. "Maaf, soalnya saya kepepet!"


"Lha bukannya tadi kamu katanya nemuin partner kencan butamu, apa jangan-jangan."


Alena menggeleng, " bukan Re. Bukan orang ini orangnya. Orangnya parah, pulang mau protes sama Lasena. Asem anak itu jodohin aku sama om-om begitu. Karena aku ingin kabur dari sana, aku narik tangan orang ini!"


"Namaku Ryan, bukan orang ini!" sergah Dokter Ryan yang semakin bertambah kesal.


Rena terbahak-bahak mendengar cerita Alena. Ia masih tak menyangka ia yang tadinya berniat mengenalkan Dokter Ryan pada Alena, justru keduanya dipertemukan dalam situasi yang lucu.