
Miranda berusaha menahan rasa kantuknya, ketika duduk di sisi ranjang Miko. Ia berpikir akan pulang setelah lelaki itu terlelap. Nyatanya lelaki itu justru terlihat segar bugar. Tidak ada tanda-tanda jika ia akan tidur. Jika begini bisa saja bukan Miko yang tidur melainkan dirinya yang lebih dulu tidur.
Sebenarnya, Miranda sejak tadi sudah kekeh ingin pulang. Namun, Miko mengancam akan keluar dari rumah sakit saat itu juga demi menyusul dirinya jika Miranda sampai nekat untuk pulang, tak mau tetap di sisinya. Melihat kondisi Miko yang terbalut perban di mana-mana seperti itu mana mungkin ia tega.
Miranda menghela nafasnya, saat matanya menangkap bagaimana sejak tadi Miko terus menggenggam tangannya, seolah-olah takut jika tiba-tiba dirinya akan lari.
“Tidurlah Mik. Kamu gak ngantuk apa?” tanya Miranda dengan mata yang memerah karena menahan ngantuk.
“Enggak. Aku udah bosan tidur terus dari kemarin, sekarang aku mau mengobati rasa kangenku dong.”
“Tapi aku udah ngantuk. Aku pulang aja ya. Nanti kapan-kapan aku nengok kamu lagi!” kata Miranda.
Miko menggeleng dan semakin mengeratkan genggaman tangannya. Melihat wajahnya, Miranda jadi berpikir Miko itu layaknya anak kecil yang tidak mau ditinggal ibunya. “Aku tuh gak percaya, kalau kamu mau balik lagi mbak. Sekali mbak keluar aku jamin mbak akan balik. Aku gak mau!”
“Tapi, aku tuh ngantuk Mik!” dengus Miranda.
“Ya udah sih tinggal tidur aja.” Miko menepuk ranjangnya. “Tidur di sini sayang. Ranjangnya besar kok, cukuplah buat berdua," lanjutnya.
“Ngaco! Kita bukan pasangan suami istri, apa kata orang kalau melihat kita tidur seranjang!” cibir Miranda tak habis pikir.
“Jadi ceritanya mau dihalalin aja ni, biar bisa tidur berdua. Okelah sayang, besok kita nikah,” jawab Miko menggoda.
“Mik!!”
“Atau kita kawin lari aja malam ini sayang?” ucap Miko yang semakin menjadi mengulang ucapannya tadi.
“Miko, pernikahan itu bukan mainan. Berhentilah membicarakan soal pernikahan,” ujar Miranda dengan wajah muram. Ia hanya tidak ingin terlampau tinggi berharap hubungannya dengan Miko akan sampai ke jenjang pernikahan, jika kenyataan sesungguhnya telah membuat ia harus sadar diri.
“Aku gak main-main, seperti ucapanku tadi. Jika aku berhasil mendapatkan restu dari Papaku. Saat itu juga aku akan langsung menikahimu,” seru Miko serius.
Miranda menghela nafasnya. “Jangan dulu berpikir terlalu jauh. Ingatlah kondisimu, kau harus sehat seperti sedia kala lebih dulu.”
“Untuk apa aku sehat? Jika aku tidak bisa memilikimu. Bukankah sakit jauh lebih baik, asal kau tetap bersamaku.”
“Miko!!” teriak Miranda marah. “Jika pikiranmu terlalu dangkal seperti itu. Untuk apa aku kemari. Lebih baik aku tidak perlu peduli padamu,” lanjutnya.
“Oke. Aku minta maaf sayang. Sudah ya jangan marah-marah aku akan sembuh kok tenang saja.” Miko berusaha menenangkan Miranda, meminta perempuan itu untuk kembali duduk.
“Aku pulang saja ya,” ujar Miranda.
Miko menggeleng. “Please, jangan. Temani aku, untuk malam ini saja,” pintanya dengan wajah melas.
“Tapi Mik, bagaimana jika tiba-tiba Papamu datang dan melihat aku di sini bersamamu,” kata Miranda dengan wajah sedihnya.
“Ya udah tapi jam enam aku pulang ya,” ucap Miranda pasrah.
Miko mengangguk cepat. Miranda kembali duduk, wajahnya terlihat sudah ngantuk. Miko kembali bercerita tentang perjalanan bisnisnya sewaktu di Bali. Di saat ia baru akan bercerita soal oleh-oleh yang ia beli di Bali hilang, saat itu pula ia menangkap jika Miranda sudah terlelap di sisinya, dengan posisi duduk di kursi, sementara kepalanya ia letakkan di atas brankar.
Miko tersenyum mendapati Miranda sudah tidur. Kini otaknya berpikir keras, mencari cara agar segera menikah dengan Miranda apapun caranya. Ia harus bisa mendapatkan restu dari Papanya lebih dulu, karena Miranda tidak ingin menikah tanpa restu.
“Gimana ya caranya bujuk Papa agar segera merestui kami,” gumamnya.
****
Pagi-pagi sekali Irawan dan Amira sudah tiba di loby rumah sakit. Karena semalam mereka membiarkan Miko hanya sendirian di rumah sakit. Jadi, pagi-pagi sekali Irawan kekeh untuk segera datang ke rumah sakit. Amira yang mengetahui apa rencana putranya, sudah berusaha mencegah sang suami namun gagal. Hasilnya ia mencoba menghubungi Miko, tapi tak juga dijawab. Mungkinkah putra sambungnya itu masih tidur.
Amira hanya berharap semua akan baik-baik saja. Semoga saat keduanya tiba di ruangan, Miranda sudah tidak ada di sana. Ia sendiri sudah berusaha berbicara dengan sang suami untuk memberikan restu pada hubungan putranya. Namun, tak kunjung mendapatkan jawaban. Irawan hanya diam tanpa mengatakan iya apa tidak. Hal itu membuat Amira berpikir bahwa sang suami mungkin masih membutuhkan waktu. Amira yakin suaminya itu ayah yang baik, pasti lambat laun akan luluh. Tidak mungkin ia tega merusak kebahagiaan putranya. Amira terus mengecek ponselnya berusaha menghubungi Miko, namun tetap saja gagal. Bahkan ia tak mendapati pesan apapun di dalamnya.
Memang ponsel Miko yang lama hilang, tapi kan Yanto sang asisten sudah langsung membelikannya yang baru.
Amira merasa jantungnya berdetak lebih kencang, saat sang suami hendak membuka pintu ruangan Miko.
“Pa, apa gak sebaiknya kita cari sarapan dulu?” tanya Amira yang berusaha untuk mengulur waktu.
“Kamu gimana sih, Ma. Kita kan udah sarapan tadi. Itu juga kamu udah bawain buat Miko,” sahut Irawan tak habis pikir seraya menunjuk kotak makan yang dibawa istrinya.
Sesaat Amira seperti orang yang bodoh dalam mencari alasan yang tak masuk akal. “Tapi Pa, apa sebaiknya kita gak minum-minum teh manis di kantin?” ujar Amira kembali mencari alasan.
Irawan mengurungkan niatnya untuk membuka pintu dan menoleh ke arah istrinya. “Kamu kenapa sih, Ma? Kok rasanya kamu kaya sedang mengulur waktu untuk Papa masuk ke dalam,” pungkas Irawan heran.
Amira jadi gelagapan. “Gak ada apa-apa kok, Pa. Mama kan cuma nawarin, itu juga kalau Papa mau, kalau gak ya udah!” kilahnya.
“Papa jadi curiga, kalau Mama sedang menyembunyikan sesuatu?” ujar Irawan menatap istrinya dengan penuh selidik.
“Em tidak kok–"
“Atau jangan-jangan di dalam.” Irawan tak melanjutkan ucapannya, ketika otaknya langsung terpikir hal lain. Ia dengan sigap langsung membuka pintu ruangan itu.
Ceklek!!
Begitu membuka pintu, ia terkejut melihat, siapa yang berada di dalam. Wajahnya langsung memerah menahan amarah.
“Miko?!!” teriaknya.