Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Romansa Di Bonbin



"Kamu bisa tunggu di sini aja kok," ujar Miranda pada Miko, ketika baru tiba di parkiran kebun binatang.


Miko melipatkan tangannya di dada menatap Miranda dengan kesal. "Mbak pikir aku tuh sopir apa, suruh jagain mobil di sini," cibir Miko.


Miranda menelan ludahnya, merasa telah salah bicara. "Bukan begitu maksudku. Emm... Kalau tidak kamu bisa pulang aja kok, nanti aku bisa pakai taksi pulangnya," ralat Miranda kemudian.


"Mana bisa begitu. Aku udah terlanjur janji sama Rena, mana mungkin aku ingkari. Mbak tahu kan janji itu hutang," ucap Miko seraya menekuk kedua lututnya, menatap ke arah Misel yang tengah memakan permen lolipop. "Iya kan Misel?" sambungnya kemudian meminta persetujuan pada anak sahabatnya itu.


"Iya dong, Paman. Kata Bu guru tidak boleh janji kalau kalau tidak bisa menepati," timpal Misel seraya mengacungkan salah satu jempol tangannya.


Miko mengusap kepala bocah itu gemas. "Masa pinteran anaknya dari pada emaknya," ejek Miko seraya bangkit dari tempatnya.


"Terserah kamu lah," sahut Miranda datar. Ia kembali menggiring putrinya masuk.


Masih pukul tiga sore tapi wisata kebun binatang itu tampak masih ramai, bahkan antrian untuk membeli tiket saja terlihat panjang. Miranda menghela nafasnya, rasanya membiarkan putrinya ikut mengantri membeli tiket kasihan, kalau harus berdesak-desakan.


"Mbak Miran sama Misel tunggu di sini, biar aku yang beli tiketnya," ujar Miko seakan mengerti kebingungan Miranda. Di saat seperti ini, Miko jadi paham mengapa Rena memintanya untuk menemani putri sambungnya itu, ternyata kehadirannya memang berguna selain untuk menjadi sopir ia bisa menjadi seorang pengawal. Sebenarnya, jika ia tega bisa saja ia langsung putar balik untuk pulang, membiarkan keduanya untuk masuk ke dalam kebun binatang itu berdua, toh Rena juga tidak akan tahu. Tapi, ia tidak akan setega itu. Selain karena sudah janji ia sendiri juga masih malas pulang bertemu dengan Papanya, karena di rumah ia terus di desak supaya cepat masuk ke perusahaan. Oh ayolah, dirinya baru saja lulus S1 bisakah ia menghabiskan waktunya sebentar untuk bersenang-senang, sebentar saja sebelum dirinya harus terjun ke dunia bisnis. Bukan hanya itu alasannya tidak betah di rumah, Miko terlalu malas untuk bertemu dengan ibu tirinya. Ya meski ibu tirinya tidak sejahat seperti apa yang di dalam dunia cerita, tapi baginya tidak ada yang bisa menggantikan posisinya ibu kandungnya. Ibunya meninggal tepat di usianya yang ke tujuh tahun. Di saat ia berusia lima belas tahun Papanya kembali menikah lagi.


"Sudah, ayo kita masuk!" ujar Miko ketika sudah berhasil mendapatkan tiga buah tiket masuk.


"Makasih ya, Mik. Oh iya ini uangnya," ucap Miranda bermaksud menggantikan yang Miko untuk membeli tiket itu.


Miko berdecak kesal. "Gak usah. Meskipun aku belum kerja, aku gak semiskin itu ya mbak. Gak usahlah mbak perhitungan gini, aku malah jadi kesal jadinya."


"Ya udah maaf ya. Dan makasih," ucap Miranda seraya kembali memasukkan uangnya.


Miko hanya mengangguk, kemudian mengikuti keduanya masuk ke arena kebun binatang itu. Melihat berbagai jenis binatang.


"Aku besok mau gambar burung itu!" tunjuk Misel saat melihat jenis burung cendrawasih. "Biar dapat nilai yang bagus," sambungnya kemudian.


Miranda tersenyum mengusap kepala putrinya. "Iya sayang."


Setelahnya, mereka kembali berkeliling melihat binatang yang lainnya.


"Buaya!" pekik Misel girang.


"Iya sayang!"


"Wah besar. Tapi, aku tidak bisa melihat dengan jelas. Mama gendong aku dong. Misel juga capek," pintanya merengek.


"Gendong Paman aja gimana?" tawar Miko.


Misel menatap ke arah Miko dan Miranda secara bergantian.


"Gak usah Mik. Aku bisa kok," ujar Miranda seraya berjongkok.


"Mama aku digendong Paman aja. Kasihan Mama kayaknya juga capek, keringetan," pungkas Misel.


Miko tersenyum sedikit membungkukkan badannya, kemudian menggendong Misel menghadap ke depan.


"Maaf ya ngerepotin," ucap Miranda jadi tak enak hati.


"Gak apa-apa, aku suka kok," balasnya.


Miko mengikuti kemauan Misel, berpindah dari tempat binatang satu ke binatang lainnya. Miranda jadi tidak enak hati karena ia melihat keringat lelaki itu mengalir dari keningnya, pasti lelah sudah satu jam lebih ia menggendong Misel. Ia bahkan sudah meminta Misel untuk turun, tapi anak itu menolak, karena menganggap digendong lebih asyik.


"Turun ya sayang. Kasihan Pamannya, atau gak gantian gendong Mama," ujar Miranda.


"Gak mau, Ma. Sebentar lagi, aku mau lihat jerapah. Ayo paman kita kesana," pinta Misel.


"Udah gak apa-apa kok. Aku belum capek," sela Miko kemudian. Ia kembali berjalan menuju tempat binatang jerapah berada.


Miranda menghela nafasnya, ia merasa haus, matanya menelisik mencari penjual minuman. Ia pikir ia harus membelinya untuk dirinya, Misel, dan Miko. Perempuan yang dalam balutan dress berwarna toska itu melangkah cepat ketika melihat penjual minuman yang tak jauh darinya. Karena terlalu cepat dan buru-buru, ia sampai tidak melihat ada seorang pria yang tengah membawa rumput, hingga membuatnya menabrak pria itu.


Bugh!


Miranda terjatuh tepat lututnya membentur jalanan beraspal itu.


"Aduh!" ringisnya.


Miko yang mendengar suara orang jatuh, segera mencari sumbernya. Kedua matanya terbelalak melihat Miranda tengah meringis kesakitan, sementara di depannya tampak seorang pria penjaga kebun itu tengah meminta maaf padanya.


"Misel kita kesana dulu ya," ujar Miko. Lelaki itu langsung melangkah cepat mendekati Miranda, ia menurunkan Misel. Kemudian dirinya berjongkok menatap ke arah Miranda.


"Mbak tidak apa-apa?" tanyanya.


Miranda tidak menjawab hanya meringis menahan sakit pada lututnya.


"Nona saya beneran tidak sengaja, saya minta maaf. Saya tidak melihat anda di tadi," pinta pria itu.


Miranda hanya mengangguk tanpa suara. Miko justru merasa kesal, beranjak dari tempatnya ia menatap lelaki itu dengan kesal. "Apa kau tidak bisa hati-hati. Kau tidak lihat dia terluka. Seenaknya saja kamu minta maaf. Bagaimana jika calon istri saya terluka parah!" sergahnya.


Deg!


Miranda terkejut mendengar ucapan Miko. Bahkan perempuan itu berusaha untuk berdiri menatap lelaki itu dengan pandangan tak percaya.


"Saya minta maaf Tuan!"


"Mik," lirih Miranda menggelengkan kepalanya.


Miko berdecak, kemudian mengibaskan tangannya meminta pria itu untuk pergi.


"Apa yang barusan kau katakan?" cecar Miranda kemudian.


Miko menelan ludahnya, mengingat ucapan spontan yang barusan ia keluarkan. Ia melihat lutut Miranda yang berdarah.


"Mbak kita obati lukamu dulu ya," ujar Miko lembut, lelaki itu berusaha menegang tangan Miranda.


Miranda menepisnya secara cepat. "Tidak perlu. Aku bisa mengobatinya sendiri!" tolaknya tegas.


"Mbak please jangan keras kepala."


"Sifatku tidak ada urusannya denganmu. Permisi, aku bisa pulang sendiri," ucap Miranda dengan langkah tertatih-tatih ia mendekati Misel. "Kita pulang sayang," imbuhnya kemudian.


Miko menjadi gelagapan sendiri. Ia mengejar perempuan itu. "Biar aku antar mbak."


"Tidak perlu Mik. Terima kasih untuk semuanya. Mulai sekarang bersikaplah seolah tidak saling mengenal," ujar Miranda tanpa menatap ke arah Miko. Misel hanya terdiam bingung di depannya.


"Kenapa?" tanya Miko lirih. "Apakah aku juga salah jika mulai menyukai dirimu," tambahnya kemudian. Wajahnya nampak serius. Sesaat arena yang tampak ramai itu menjadi suasana tegang bagi keduanya.


"Tentu saja salah!" sergah Miranda.


"Kenapa?"


"Kamu tau aku. Pasti kamu tahu pantas atau tidaknya kamu menyukaiku!" tukas Miranda.