
Oek... Oek...
Tangisan seorang bayi terdengar melengking dari dalam ruang operasi. Alby masih menangis, sedikit lega mendengar anaknya lahir dengan selamat. Namun, hatinya masih gelisah karena dokter belum keluar, ia belum tahu bagaimana keadaan istrinya.
Sementara di dalam, suster tengah membersihkan bayi Rena yang baru lahir.
“Dokter denyut nadi pasien melemah!" kata salah suster di sana.
“Apa?!” pekik Dokter Eli. Mengambil alat pemacu jantung, berkali-kali ia mencoba memompa denyut jantung Rena.
“Ku mohon Re. Bertahanlah demi anakmu. Tidakkah kau kasihan pada anak dan suamimu. Ku tahu kau perempuan yang kuat. Mereka membutuhkanmu. Jangan membuatku menjadi trauma menangani pasien melahirkan seperti ini, Re.” Tangis Dokter Eli pecah. Begitupun dengan para suster di sana. Bahkan bayi yang baru dilahirkan oleh Rena, pun menangis semakin kencang tak ingin terhenti. Bayi seakan ikut merasakan apa yang tengah terjadi pada ibu kandungnya.
Dalam tangis Dokter Eli terus melakukan tindakan pada Rena. Harapan untuk Rena baik-baik saja begitu besar. “Ayolah, Re. Tidakkah kau mendengar tangisan putramu? Dia membutuhkanmu, Re. Ku mohon, bahkan orang-orang yang berada di depan ruangan ini, menanti kesadaranmu."
Tit.... Tit... Tit...
Layar monitor kembali berjalan normal. Dokter Eli menarik nafas lega. “Terima kasih, masih bertahan,” katanya lirih. Sungguh ketakutannya melebihi saat ia menangani pasien lain. Ia pun merasa begitu takut kehilangan rekan kerjanya itu. Bahkan tak tanggung-tanggung dokter Eli sampai bersujud syukur.
“Aku akan memeriksanya lagi. Kamu bersihkan tubuh bagian tubuh bawah dokter Rena,” titahnya kemudian pada suster.
Sementara, diluar Alby terus bergerak gelisah. Kedua orang tua Rena sudah tiba, begitu juga dengan kakak kandung dan kakak iparnya.
“Bu, anakku sudah lahir. Tapi, kenapa dokter tidak kunjung keluar,” kata Alby gelisah.
Dinda duduk dengan wajah lemas seraya bersandar di pundak sang suami.
“Tenanglah By. Mungkin dokter tengah membersihkannya lebih dulu.” Sejujurnya Soraya pun merasakan kesedihan yang sama. Hanya saja, ia pun harus kuat demi putranya yang terlihat begitu hancur. Galih yang berada di sisinya pun berusaha menepuk pundak Alby.
Pintu terbuka seorang suster keluar.
“Sus, bagaimana kondisi istri saya?" tanyanya.
“Selamat Pak, putra anda lahir dengan selamat. Tapi...”
“Kenapa sus?”
“Dokter Rena membutuhkan transfusi darah,” terangnya.
“Ambil darah saya!” kata Rava dan Davis bebarengan.
“Sudahlah, Daddy sudah tua. Biarkan aku saja, golongan darahku sama dengan Rena,” pungkas Davis.
“Tapi, Dav....”
“Nurut kataku Dad. Tenang saja, Rena akan baik-baik saja,” titah Davis. Ia melangkah mendekati suster itu sebelum kemudian membawanya masuk.
Davis berkali-kali melihat wajah pucat Rena yang masih tampak terlelap. Sedih melihat adiknya yang biasanya ceria, kini terbaring tak berdaya. Davis harap usai mendapatkan transfusi darah ini, Rena akan cepat pulih.
“Cepat sadar ya, Re. Kakak sedih lihat kamu begini. Rasakan juga kesedihan suamimu Re. Dia tampak hancur seperti punya raga namun tak bernyawa. Kakak kasihan melihatnya, Re.”
****
Sementara di ruangan lain. Alena terbaring dengan lemah, tadi perempuan itu sempat pingsan hingga tidak sadar. Beberapa saat kemudian ia membuka matanya, hal yang ia lihat pertama suaminya.
“Sudah sadar, sayang?” tanya Dokter Ryan yang masih setia menggenggam tangan istrinya.
Alena memijat kepalanya yang terasa pusing, membuka mata dengan sepenuhnya. Lalu beranjak, merubah posisinya menjadi duduk.
“Masry?” panggil Alena dengan wajah sayu.
“Iya sayang. Mas di sini,” kata Ryan beranjak duduk di sisi Alena. “Apa yang kamu inginkan?” sambungnya.
Alena menggeleng. “Aku ingin tahu keadaan Rena?"
Ia tidak menyalahkan Alby. Saat ini pun paham Alby dalam keadaan panik. Siapa sih tidak begitu takut kehilangan orang yang kita cintai. Seandainya itu terjadi pada dirinya. Mungkin ia pun akan melakukan hal yang sama.
“Rena, belum sadar sayang. Tapi putranya sudah lahir dengan selamat.” Hanya itu yang bisa ia sampaikan kini.
“Aku ingin kesana,” pintanya.
Ryan menggeleng menahan tubuh istrinya. Sungguh Alena bahkan dalam keadaan drop. “Tidak sayang. Istirahat saja.”
“Tapi, Masry aku harus tahu keadaan Rena. Aku–”
“Mas tahu sayang. Tapi kau juga harus mengerti kondisi mu dan calon anak kita.” Ryan mengusap perut istrinya yang membuncit.
“Dokter akan melakukan yang terbaik. Tidak ada yang boleh masuk ke ruangan sana sayang,” lanjutnya.
Alena terdiam dengan lemah. Mengingat kembali kejadian di mall tadi. “Aku tidak menyangka Masry. Kami berangkat dengan kondisi baik-baik, kami sehat. Tapi pulangnya justru seperti ini. Setelah ini aku tidak akan punya muka lagi untuk bertemu Rena, Masry. Dia dan suaminya pasti akan membenciku,” isak Alena menutup wajahnya.
“Hei, tenanglah sayang. Tidak akan ada yang membencimu.” Ryan membuka telapak tangan istrinya. “Rena itu begitu menyayangimu, dia menganggap mu seperti adiknya. Mana mungkin ia membencimu,” sambungnya.
“Tapi, tidak ada seorang adik yang mencelakai kakaknya kan? Aku Masry, aku sudah membuat dia seperti itu. Aku jahat Masry.” Tangis Alena terus tergugu.
“Tidak sayang. Semua bukan salahmu, Rena hanya berniat melindungimu. Dia juga tidak ingin dirinya celaka, tapi namanya musibah...”
“Tidak. Semua ini bukan musibah Masry. Ini bukan kecelakaan, semua murni karena dia,” pungkas Alena nafasnya tampak naik turun, seiring dengan emosi yang meluap karena mengingat perempuan yang telah membuat sahabatnya celaka.
“Temukan dia Masry. Temukan dia, setelah itu beri tahu aku. Akan ku bunuh dia,” ancam Alena.
“Dia siapa?” tanya Ryan.
“Dia yang berniat mendorongku. Namun, justru mendorong Rena. Cari dia Masry, ku mohon...”
Ryan mengangguk. “Tentu sayang. Aku dan Miko sudah menyelidiki kasus ini. Tenang saja, tidak kurang dua puluh empat jam, orang itu pasti akan mendekam di penjara."
Ryan menatap makanan yang masih terbungkus rapi di atas meja. “Sekarang kamu makan ya sayang?” bujuknya.
Alena menggeleng. “Gak mau Masry. Aku cuma mau melihat Rena.”
“Demi anak kita sayang. Mas mohon,” pinta Ryan.
“Sayang... Mas mohon. Apa kamu tidak kasihan dengannya?” sambungnya seraya mengusap perut istrinya.
Alena berfikir sesaat. “Baiklah!”
Dengan perasaan lega, Ryan mengambil makanan di atas nakas. Perlahan mulai menyuapinya. Mata sembab istrinya membuat Ryan merasa sedih, entah berapa lama Alena menangis.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like, komentar dan hadiahnya.
Mampir juga di karya aku yang baru yuk. “Sebatas Istri Bayaran.” Update setiap hari Aku tunggu jejaknya di sana yaa teman-teman.