
Keduanya larut dalam kesedihan. Alby mengusap air mata istrinya. "Sudah jangan nangis lagi. Sudah malam tidurlah. Abang harus nyelesain kerja Abang dulu," ucapnya seraya melonggarkan rengkuhannya.
Rena menatap suaminya bingung, padahal ia sudah dalam keadaan hampir polos bagian atasnya, tapi kenapa suaminya tidak tergoda, apakah hasrat pada dirinya sudah menghilang. Padahal biasanya Rena tidak mandipun, lelaki itu akan menempel padanya. "Abang tidak pengen?" tawar Rena tanpa malu.
Alby terperangah mendengarnya, ia mengerutkan keningnya. "Aku gak menggoda lagi ya bang!" tambahnya seraya tertunduk lesu, melepaskan tangan suaminya dan berlalu duduk di sofa dengan wajah muram, dengan membiarkan kancing piyamanya masih terbuka.
Alby menghela nafasnya, lalu menghampiri istrinya dan duduk di sisinya. "Kamu menggoda kok, Re. Tapi pekerjaan Abang banyak, dan lagi ini sudah malam, wajahmu juga terlihat pucat, kemarin pasti kamu tidak tidur dengan nyenyak. Sekarang istirahat ya, Abang juga kan gak mau kamu sakit," ujar Alby seraya menggeser tubuh Rena agar menghadapnya, lalu jemarinya mulai bergerak mengancingkan kembali piyama istrinya, membuat Rena terdiam merasa kurang puas dengan jawaban sang suami.
"Kamu mau datang bulan ya? Sensitif banget," tambah Alby kemudian, seraya mengambil teh yang disediakan istrinya, yang kini sudah mulai berubah dingin.
Rena menggeleng. "Duh aku telat, jangan-jangan aku hamil ya bang?" lirihnya.
Alby melihat gurat sendu di wajah istrinya, setitik rasa kecewa hinggap kembali dalam hatinya, ternyata jauh dari hatinya Rena memang belum siap untuk memiliki anak, dan secepat itu ia berusaha menepisnya. "Mungkin besok," ucapnya menenangkan.
"Abang makan sotonya ya!" Alby meraih semangkok soto yang berada di atas meja, lelaki itu memang sengaja mengalihkan pembicaraan tentang persoalan anak. Lagian sesuatu yang dipaksa juga tidak baik, biarlah semua berjalan seperti semestinya.
"Tapi itu sudah dingin, bagaimana kalau Rena hangatkan lebih dulu," tawar Rena.
"Gak usah, ini masih hangat kok," jawabnya seraya menyantap makanannya. "Enak. Ada kemajuan sekarang masaknya ya," imbuhnya kemudian, membuat Rena tersenyum tipis. Senang karena mendapatkan pujian sang suami, tidak sia-sia kan dia sering belajar memasak selama ini. Rena melihat suaminya makan dengan lahap, menunggunya hingga tandas, sambil memangku tangannya.
"Kenapa?" tanya Alby salah tingkah ditatap istrinya begitu sambil meletakkan mangkok kosong di atas meja.
Rena menggeleng, "enggak. Cuma mau bilang, Abang ganteng."
Alby terkekeh kecil, lalu mengacak rambut istrinya. "Udah dari dulu Re," jawabnya percaya diri, membuat Rena mencebik ia pikir suaminya akan menjawab, biasa saja.
Alby mulai membuka laptop miliknya, Rena masih setia menatap suaminya dengan dalam. "Bang?"
"Hemm?"
"Abang belum ngantuk?"
Alby menoleh, "belum. Kamu tidur duluan gih."
Rena menggeleng pelan, "gak lah. Mau temanin Abang dulu sebentar. Kalau Rena sambil ngobrol ganggu Abang gak?"
"Gak sayang. Mau ngobrol apa sih?"
"Emm, Rena boleh tau gak kenapa Abang kok kepikiran buat nyembunyikan pil kontrasepsi itu?" tanyanya dengan hati-hati.
Alby menghentikan gerakan tangannya di atas keyboard laptopnya, "biar kamu hamil, dan orang-orang tau kalau kamu cuma milik Abang. Terutama si Dokter hama itu."
Rena melongo mendengarnya, jadi alasannya hanya perkara cemburu lagi. "Jadi karena abang cemburu?" Ia beringsut semakin mendekatkan tubuhnya ke sang suami.
Alby mengangguk, sembari kembali fokus pada laptopnya. "Habisnya dimana-mana dia itu muncul. Udah kaya jailangkung datang gak dijemput pulang gak diantar. Pengen juga sih Abang ngomong ke dia kalau kamu tuh istrinya Abang, tapi ngeri juga kalau kamu malah kecewa sama Abang. Jadi, Abang bingung Re. Makanya Abang lakuin hal itu."
Rena menggelengkan kepalanya, padahal apa bedanya dengan opsi kedua dan pertama, tetap saja ujungnya Rena akan marah kan. Padahal menurut Rena lebih baik opsi pertama.
"Dia udah tau kok bang, kalau aku istrinya Abang."
"Hah? Serius?" Alby terkejut hingga menoleh kearah istrinya tak percaya.
Rena mengangguk, "iya. Dia juga bilang kalau Abang jangan cemburuan ke dia, karena dia gak ada niat buat nikung istri orang."
"Bisalah bang, kan aku yang ngasih tau dia sendiri kemarin."
Alby menatap istrinya curiga, ingin bertanya lebih tapi ia mengurungkan niatnya, takutnya justru membuat suasana hatinya kembali memburuk.
"Baguslah kalau dia sudah tau. Besok kalau Abang udah jadi ngirim surat pengunduran diri di kampus, Abang juga bakal bilang ke semua orang kalau kamu istri Abang, biar nanti di sana gak ada yang godain kamu," ucap Alby posesif.
"Terserah Abang aja deh." Rena menyandarkan punggungnya ke sofa. Sementara Alby kembali fokus bekerja.
"Bang?"
"Hemmhh?"
"Kemarin Abang ke mana? Terus mobil Abang kok ganti?" tanya Rena kemudian karena ia sempat melihat mobil suaminya yang terparkir di garasi.
"Di rumah ibu. Itu mobil ibu, Abang pinjem Re. Mobil Abang masuk bengkel, bamper depannya rusak, kemarin Abang hampir nyerempet mobil orang, Abang banting stir jadi nabrak pohon deh."
"Hah? Kok bisa, tapi Abang gak apa-apakan?" pekik Rena khawatir sampai memeriksa tubuh suaminya.
"Gak apa-apa sayang, Abang sehat."
"Makanya lain kali kalau marah tuh gak usah mengendarai mobil, Abang jalan kaki aja keliling kompleks," saran Rena kemudian, membuat Alby terkekeh kecil.
"Itu joging dong sayang namanya." Alby kembali menarik hidung istrinya, membuat Rena mengaduh kesakitan, perempuan itu berbalik memukul tangan suaminya, tapi Alby keburu menjauhkan tangannya, membuat Rena akhirnya jatuh ke dalam dekapan sang suami, posisi Alby yang memang telentang dengan kaki yang menjuntai ke bawah, membuat Rena dapat merasakan jantung suaminya yang berdetak lebih cepat. Bukannya segera menjauhkan tubuhnya, Rena justru semakin betah menenggelamkan kepalanya demi mendengarkan detak jantung suaminya yang semakin menggema.
"Re?"
"Sebentar bang." Rena semakin terus bergerak di atas tubuh sang suami, membuat Alby memejamkan kedua matanya, kala merasakan sesuatu miliknya di bawah sana justru bangun.
"Kamu sengaja ya," ujar Alby berat.
"Abang apaan sih?" cebik Rena seraya memukul dada sang suami.
"Nyiksa Abang ini kamu, Re. Tanggung jawab gak?"
"Apa sih bang, Rena kan hanya-" Rena tak lagi melanjutkan ucapannya kala menyadari sesuatu yang keras tepat di mana ia duduk. "Abang mesum!" pekiknya kemudian seraya bangkit dari tubuh sang suami.
Tapi dengan cepat, Alby kembali meraih tangannya dan menariknya kembali, hingga membuat Rena kembali jatuh di atas tubuhnya.
"Abang?"
"Tanggung jawab gak? Ayo buat tidur lagi," desak Alby.
Rena menggeleng. "Rena ngantuk bang," kilahnya seraya berpura-pura nguap.
"Gak usah alasan, Abang tau matamu masih bening gitu. Ayo, katanya mau pimpin. Kamu di atas Abang di bawah ya?" Alby mengerlingkan matanya menggoda sang istri.
"Bang ih,"
"Main di sofa kayaknya enak, Re. Ayo sayang, Abang udah pasrah ini."