Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Mual Bau Rumah Sakit



Seperti permintaan istrinya, meskipun meeting Rena tetap mengikutinya. Perempuan itu duduk di sisi kursi suaminya, kadang tersenyum kadang pula menguap saat rasa kantuk menghinggapinya. Tatapan Rena membuat sang suami salah tingkah, karena saat ini Alby tengah memberi arahan di depan layar proyektor.


Makin lama Rena merasa matanya terasa berat, berkali-kali ia menahan rasa kantuknya. Bahkan ia hampir saja mencium meja di depannya. Aksi Rena tentu tak luput dari perhatian karyawan Alby. Milea yang berada di sisi Rena pun ikut memperhatikannya.


“Re, kamu ngantuk?” tanya Milea berbisik pelan.


Rena langsung mengerjapkan kedua matanya. “Oh enggak. Cuma pedes doang matanya,” kilahnya. Tatapannya kembali fokus pada suaminya yang terlihat begitu semakin tampan di matanya.


Alby tersenyum menatap ke arah istrinya, kemudian ia melangkah ke arahnya. “Ngantuk?” tanyanya.


“Enggak kok Abang lanjutin aja. Aku kan baru kali ini liatin Abang meeting, jadi semakin terpesona,” pujinya seraya menangkup kedua pipinya. Hal itu membuat karyawan Alby tersenyum.


Alby kembali melanjutkan jalannya meeting. Sesekali matanya akan menatap ke arah istrinya, yang berkali-kali hampir ngegeledak karena ngantuk. Namun, perempuan itu tetap berusaha menahan ngantuknya. Alby paham karena menjelang usia kandungannya yang semakin besar, Rena kerap merasa susah tidur dengan nyaman. Perempuan itu kerap bangun tengah malam, tak urung Alby pun diminta untuk memijat punggungnya yang terasa pegal.


“Cukup, meeting kali ini sampai di sini saja. Selanjutnya, untuk filenya nanti saya akan minta Milea untuk mengirimku pada kalian, untuk mempelajari strateginya ya,” ujar Alby mengakhiri jalannya meeting, matanya memandang ke arah istrinya yang hampir ngegeledak, ia dengan cepat menghampirinya menangkap menahan kepalanya, seraya memperhatikan wajah istrinya, ia tersenyum.


“Kalian boleh keluar,” ujar Alby selanjutnya.


“Baik Pak!”


Para karyawan pun saling berbisik dan tersenyum melihat tingkah atasannya itu.


“Bu Rena lucu ya tidur hampir ngegeledak gitu.”


“Iya. Tapi maklum sih, namanya juga udah hamil tua. Malam pasti jarang tidur karena nyari posisi tidur nyaman itu sulit. Belum lagi Bu Rena masih harus kerja jadi dokter.”


“Iya. Tapi aku ikut senang dan baper ngelihat perlakuan Pak Alby ke Bu Rena. Manis sekali, jadi pengen dielus-elus.”


Begitulah bisik-bisik para karyawan yang selama meeting memperhatikan pasangan suami istri itu.


Alby masih betah menahan kepala istrinya dengan salah satu telapak tangannya. Ia menghela nafasnya, sambil tersenyum tipis. “Kan udah diminta pulang malah ngintil mulu. Akhirnya, kelelahan kan,” gumam Alby. Ia membelai wajah istrinya dengan salah satu tangannya, ia merasa betah memandang wajah cantik istrinya, bulu matanya lentik, hidungnya mancung, bibirnya tipis mungil, pokoknya semua yang ada dalam diri Rena itu membuatnya sangat bahagia.


“Eughh!” Rena melenguh dalam tidurnya, hingga beberapa saat kembali mengerjapkan kedua matanya. “Abang?” imbuhnya mengangkat wajahnya, matanya memindai ruangan itu.


“Ngantuk banget?” tanya Alby.


“Kok udah sepi?” tanya Rena balik wajahnya nampak bingung, karena seingatnya tadi masih rame. Alby hampir tertawa mendengarnya.


“Ya iyalah udah sepi, kan meetingnya udah bubar. Kamu malah tidur,” ujat Alby, Rena meringis malu. “Ngantuk banget ya?” sambungnya.


“Gak tahu, tadi tuh dengerin Abang ngomong di depan aku berasa di bacain cerita gitu jadi ngantuk,” sahut Rena.


Alby tertawa disamakan oleh pembaca dongeng. “Ya udah kita pulang yuk. Kasihan kamu pasti capek.”


“Tapi masih jam tiga sore bang.”


“Iya tahu. Tapi Abang gak mau kamu kecapean, lagian Ibu dan Mommy pasti sudah membawa pulang belanjaan buat Dede bayi tadi, kamu emang gak mau lihat.”


Rena beranjak dari tempat duduknya. Ia di minta untuk menunggu di depan lift, karena Alby hendak kembali ke ruangannya untuk mengambil kunci mobilnya.


Perempuan itu mengusap perutnya yang tampak buncit. “Kok aku udah lapar lagi ya,” keluhnya seraya menengok ke arah suaminya yang tengah melangkah ke arahnya. “Pengen makan sate. Pulang cari deh,” sambungnya.


****


Miranda mengerjapkan kedua matanya, setelah selama tiga jam lamanya ia tak sadarkan diri. Ia terkejut ketika membuka matanya sudah berada di rumah sakit, salah satu tangannya merasakan jarum infus menancap di sana. Fokusnya teralihkan pada sang suami yang tengah menunggu di sisinya. Lelaki itu tengah menangkup wajahnya, penampilannya tampak berantakan. Pakaiannya pun terlihat kusut.


“Sayang?” panggil Miranda lirih. Ia berusaha menggerakkan tangannya menggapai tangan suaminya.


Miko yang mendengar suara istrinya seketika membuka telapak tangannya. “Sayang, kamu sudah sadar? Syukurlah sayang, aku lega.”


“Aku–”


“Kenapa? Kamu haus?” tanya Miko dengan sigap.


Miranda mengangguk. Miko langsung beranjak mengambil segelas air mineral yang berada di atas nakas, lalu membantu istrinya untuk mengubah posisinya menjadi duduk dengan pelan dan meminumnya.


“Kenapa aku bisa di sini?” tanya Miranda.


Miko yang baru selesai meletakkan gelas di atas nakas, kembali duduk di sisi istrinya. “Kamu itu tadi muntah-muntah terus pingsan. Aku khawatir banget kamu, terus langsung bawa kamu ke rumah sakit,” jawab Miko tak menutupi raut cemasnya.


“Aku gak apa-apa sayang. Aku baik-baik saja. Kita pulang aja yuk, aku gak suka bau rumah sakit rasanya mual.” Miranda menutupi mulutnya menahan rasa mual yang bergejolak dalam dirinya.


“Gak sekarang juga sayang.”


“Tapi aku gak tahan sayang,” rengek Miranda.


“Tunggu dokter datang. Aku belum tahu kondisi kamu soalnya, tadi dokter bilang akan memeriksa ulang kalau kamu udah sadar. Rena lagi gak masuk kerja hari ini soalnya, jadi bukan dia yang meriksa kamu tadi. Tunggu ya sayang.”


Miranda kekeh menggeleng, ia ingin pulang. Disaat ia hendak memaksa mencabut jarum infus, bersamaan dengan itu pintu ruangan terbuka. Irawan dan Amira–istrinya datang mengunjunginya, hingga membuat Miranda mengurungkan niatnya.


“Ini ada apa Miko? Kamu kok istrinya dibuat sampai masuk rumah sakit seperti ini?” cecar Irawan.


“Iya ini. Kamu kenapa Mir?” timpal Amira begitu tiba di sisi menantunya itu.


“Aku gak tahu Pa, Ma. Tadi itu Miranda muntah-muntah terus pingsan ya aku bawa ke rumah sakit,” ujar Miko tanpa menjelaskan kegiatan keduanya sebelumnya. Sebersit perasaan bersalah hinggap dalam dirinya, karena ia berpikir jika istrinya itu pasti kelelahan.


“Muntah-muntah?”


Miko mengangguk. “Iya Pa, Ma. Ia tadi mual dan mengeluh sakit perut. Aku sedang menunggu dokter datang, tapi kok belum datang-datang,” keluhnya.


“Kamu hamil kali Mir,” tebak Amira membuat semua yang berada di sana terkejut. “Pa menurutku kita tetap harus membawanya ke dokter kandungan. Percuma menunggu dokter kesini, karena yang akan datang hanya dokter umum,” sambungnya.