Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Kecewa



Alby terlalu banyak memberikan serangan yang luar biasa di bawah sana. Tak hanya bibir dan lidah, bahkan jarinya pun ikut menyentuh titik paling sensitif, bagian tubuh paling penting dan pribadi tersebut.


Mendengar era ngan Rena, membuat Alby mengangkat kepalanya, namun masih membiarkan dua jarinya bermain di bawah sana. Lagi, lelaki itu tersenyum puas mana kala melihat tubuh sang istri meliuk kesana kemari akibat permainannya. Sangat menggoda, mengga irahkan dan sen su al.


Tampak keringat Rena di wajahnya semakin banyak. Alby semakin intens memainkannya. Cengkraman tangan Rena pun semakin kuat. Dadanya membusung dan nafasnya semakin berat.


Terlihat Rena sebentar lagi akan sampai, namun ia merasa kesal saat tiba-tiba ia merasa kehilangan sensasi enaknya, mana kala sang suami justru menghentikan permainannya. Rena baru akan membuka mulutnya, namun Alby terkekeh dan menyela ucapan istrinya.


"Bukan begitu permainannya sayang. Tapi, harus begini..."


Alby mulai memposisikan bukti gairahnya pada miliknya, menunaikan haknya.


Ini bukan lagi era ngan yang terdengar, tapi Rena justru menjerit dan berteriak, mana kala sang suami terus menghujam nya dalam sekali sentakan. Sedikit kasar, namun Rena pun menyukainya.


Alby mendekatkan wajah mereka, mencari bibir Rena dan menyatukannya. Lalu ber cum bu, lidahnya ikut masuk menerobos mencari pasangannya, dan kembali menari bersama.


Keduanya sama-sama memacu mencari kepuasan bersama. Dan Alby tersenyum di sela-sela pangutan bibirnya, mana kala menyadari istrinya terlah terbuai dengan permainannya.


Kamar itu seketika menjadi panas, meskipun tetap ber-AC dengan suhu yang dingin, akibat pergumulan panas keduanya.


Alby terus menaik-turunkan pinggulnya dengan cepat, menghentakkan miliknya sedikit kasar.


"Bang..."


"Hemmh.. ya sayang?"


"Rena.. ummmhh.."


"Sebentar lagi sayang!" Alby semakin mempercepat gerakannya, mana kala menyadari istrinya hampir sampai.


Hingga akhirnya Alby keduanya saling menjerit memanggil nama pasangan masing-masing. Alby terkulai lemas, lalu menggulingkan tubuhnya di samping istrinya, tak lupa membisikkan kata terima kasih, hal yang tak pernah Alby lupa ucapkan ketika selesai ber cinta dengan istrinya, meski Rena hanya menjawabnya dengan senyuman. Terlihat tubuh keduanya tampak mengkilap akibat keringat yang membanjiri tubuh keduanya, nafasnya masih memburu.


"Ngantuk bang?" ujar Rena ketika nafasnya mulai stabil.


"Ya udah tidur aja sayang," sahut Alby.


Rena menggeleng pelan. "Aku belum mandi bang."


Alby tersenyum, mengusap pipi istrinya yang berkeringat. Lalu menarik selimut di bawahnya, demi menutupi tubuh polos istrinya.


"Merem aja sebentar. Biar Abang yang mandi dulu. Nanti kalau sudah selesai Abang bangunin kamu ya," ujar Alby seraya memberikan kecupan lembut di pipi Rena.


Rena yang merasa matanya sudah berat pun hanya mengangguk. "Benar ya bang!"


"Ya sayang?" Alby beranjak dari ranjang menuju kamar mandi. Sampai depan pintu Alby kembali menghentikan langkahnya, menoleh ke arah istrinya.


"Mudah-mudahan saja ia terus lupa," gummamya pelan. Setelahnya Alby terus masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Suara gemercik air di dalam kamar mandi terdengar, artinya suaminya belum selesai membersihkan diri. Rena membungkus tubuh polosnya dengan selimut, lalu menjuntaikan kakinya ke lantai. Ia membuka laci bagian atas nakas, tangannya merogoh mencari sesuatu miliknya.


"Kok tidak ada!" Rena langsung turun ke lantai, seraya mengeratkan genggaman dalam selimutnya. Ia membuka laci itu dengan lebar, tangannya sibuk mengacak-acak isi dalam laci, mencari pil kontrasepsi miliknya. Namun, hasilnya nihil sama sekali tak ia temukan. Ia juga menarik laci bagian paling bawah, tetap saja tidak ada.


Rena mengigit bibir bawahnya, ia sama sekali tidak lupa dimana ia meletakkan pil itu. Tidak akan mungkin hilang, jika tidak ada yang mengambilnya. Hanya dirinya, Alby, dan Misel yang berani masuk ke dalam kamar ini. Tak mungkin ia berfikir Misel yang mengambilnya, dan itu artinya.... Rena menggelengkan kepalanya. Berusaha mengenyahkan prasangka buruk dalam dirinya. Bahkan ia pun baru ingat sudah empat kali berhubungan dengan sang suami, ia lupa mengkonsumsi pil itu. Dan kali ini ia baru ingat. Tapi ketika ia mau meminumnya sudah tidak ada. Kira-kira di mana pil itu? Berbagai prasangka buruk kini mulai menjalar di otaknya. Rena kembali melangkah ke meja rias, mencarinya di sana, namun hasilnya juga tak ia temukan. Terakhir, perempuan itu beralih ke arah lemari. Di lemari pakaiannya pun tak ia temukan, satu yang belum ia periksa hanyalah lemari suaminya, Rena memberanikan diri membukanya, mencari di bawah tumpukan pakaian.


Klutak!!


Sebuah botol obat terjatuh, menggelinding tepat di kakinya. Rena membungkuk dan mengambilnya. Jantungnya berdegup kencang, ketika menyadari dugaannya tak meleset. Jika sang suami yang telah menyembunyikannya. Lalu apa maksudnya? Bukankah ketika Rena mengatakan ingin menundanya, Alby menyetujuinya.


Rena semakin mencengkram erat genggaman selimut di dadanya, juga genggaman pada botol pil itu. Rasa kecewa begitu memuncak, ia merasa marah pada sang suami. Menganggap Alby telah membodohi dirinya.


Bersamaan dengan itu pintu kamar mandi terbuka. Alby keluar dengan handuk putih yang melingkar sebatas pinggang, menampilkan tonjolan otot kekar pada tubuhnya. Salah satu tangannya sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil dalam tangannya. Ia menghentikan gerakannya, ketika melihat istrinya tengah berdiri di depan lemari masih dengan balutan selimut.


"Lho sayang, kamu gak jadi tidur? Padahal baru mau Abang bangunin?" tanya Alby dengan senyum, tak menyadari suasana hati istrinya yang mendadak menjadi buruk.


"Maksud Abang apa?" Rena bertanya balik, membuat Alby tak mengerti.


"Kamu ngomong apa sih Re? Abang gak ngerti?" Alby menatap istrinya bingung. Perempuan itu tengah menatap dirinya dengan pandangan yang tajam.


"Ini??!" Rena menunjukkan botol pil kontrasepsi di tangannya, membuat Alby terkejut. "Untuk apa Abang menyembunyikan pil ini dari Rena bang?" imbuhnya kemudian.


"Re, Abang bisa jelasin. Abang lakuin itu karena-"


"Karena apa bang?" sentak Rena nadanya cukup tinggi, hingga membuat Alby terkejut. Untuk pertama kalinya ia mendengar istrinya berkata padanya dengan nada cukup keras.


Alby beringsut mendekati istrinya, "Re. Tolong dengerin abang dulu." Lelaki itu meraih tangan istrinya, lalu menggenggamnya. Rena berusaha menepisnya.


"Kenapa Abang lakuin ini ke aku? Abang gak percaya sama aku? Abang mau buat aku hamil?" cecar Rena bertubi-tubi. Kini ruangan kamar yang semula terasa hangat akibat penyatuan keduanya, mendadak menjadi panas akibat perdebatan yang belum kunjung usai.


"Memangnya kenapa kalau kamu hamil? Toh kamu punya suami. Aku tentu akan bertanggung jawab, Re." Alby menjawab sesuai apa yang ada dalam otaknya kini.


"Tapi aku tidak ingin hamil???!!!"


Deg!!!


Alby terhenyak, genggaman tangan di lengan istrinya perlahan memudar. Seiring dengan tubuhnya yang beringsut mundur, menatap istrinya dengan wajah kecewa, terlihat matanya memerah.


"Maaf!" ucap Alby kemudian seraya berlalu mengambil pakaian miliknya yang berserakan di lantai, memakainya dengan tergesa-gesa.


Rena menyadari perubahan wajah sang suami. "Bang?!"


Alby tak mengindahkan ucapan sang istri, ia tak lagi menatap Rena. Lelaki itu langsung berlalu meninggalkan Rena begitu saja, setelah sebelumnya mengambil kunci mobilnya.


"Bang?" Rena berusaha berlari mengejar suaminya, tapi gagal ketika Alby buru-buru menutup pintu kamarnya lalu berlari ke bawah dengan cepat. Hingga tak lama terdengar terdengar deru mobil. Rena berlari ke arah jendela, melihat mobil suaminya perlahan meninggalkan area rumahnya.