Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Usaha Miko



Begitu tiba di rumah Miko langsung berlari masuk ke dalam kamarnya. Tak mengindahkan panggilan ibu tirinya, yang menawarkannya makan. Membuka pintu kamarnya yang di dominasi warna abu-abu itu, Miko langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang tanpa mengganti pakaiannya dan melepaskan sepatunya. Lelaki itu memejamkan kedua matanya.


"Berhentilah untuk mengatakan perasaan omong kosong mu itu Mik. Kamu itu masih terlalu muda untuk perempuan seperti diriku. Di luar sana, masih banyak perempuan yang lebih baik dariku."


"Aku tidak peduli mbak!"


"Tapi aku peduli. Lupakan aku, dan jangan pernah mengangguku lagi. Karena harapanmu itu akan sia-sia. Menjauhlah dari kehidupanku, anggaplah kita tidak saling mengenal."


"Kenapa mbak mengatakan hal itu? Bukankah tidak ada yang salah dalam hal perasaan. Ku akui kita memang belum lama saling mengenal, tapi cinta tidak memandang waktu dan usia kan!"


"Cinta apa? Cinta bagiku hanyalah omong kosong!"


Miko kembali membuka kedua matanya, kala kata-kata Miranda kembali terlintas. Tadi Miko memang berhasil membujuk Miranda untuk pulang bersamanya, sepanjang jalan di mobil perempuan itu hanya terdiam. Namun, setelah menurunkan Misel perdebatan itu kembali berlangsung. Lelaki itu merubah posisinya untuk duduk, kemudian melepaskan sepatunya, dan membuka pakaiannya melemparkannya secara asal. Lalu, ia mengusap wajahnya secara kesal.


"Dia anggap aku apa? Main-main gitu. Mentang-mentang aku itu masih bocah," ejeknya pada diri sendiri. "Baiklah kalau begitu biarkan bocah ini yang menaklukkan dirimu," sambungnya kemudian.


Ia tidak mungkin mengalah sebelum berperang. Dua kali ia patah hati tapi untuk ketiga kalinya ini ia tidak ingin mengalami hal serupa. Ia yakin Miranda yang terbaik untuknya. Terserah orang mau mengatakan apa? Karena memang kebenarannya, ia mulai jatuh hati pada perempuan itu. Ia akui perkenalannya dengan perempuan itu memang cukup singkat, tapi ia merasa jatuh hati sejak pertama kali bertemu dengan perempuan itu di jembatan penyebrangan. Awalnya ia mengira itu bentuk pelariannya setelah putus dari Hira, tapi ternyata ia salah. Ketika berkali-kali alam bawah sadarnya selalu menuntun ingin tau lebih tanya tentang perempuan itu. Bahkan dua bulan itu ia rela membantu perempuan itu dalam persiapan membuka butiknya, meskipun alasannya ia menemani Rena dan Alena, padahal alasan sebenarnya adalah ingin lebih lama melihat perempuan itu.


Meski sudah berumur Miranda tetap cantik, seandainya ia berjalan dengannya pun orang tidak akan mengira jika umur keduanya terpaut sangat jauh.


Pagi ini Miranda terbangun dalam keadaan pusing. Semaleman ia kurang tidur karena memikirkan perdebatannya dengan Miko, ia berpikir dirinya sudah keterlaluan apa tidak dengan lelaki itu. Tapi buru-buru mengenyahkan pikirannya, menganggap bahwa ucapan Miko kemarin itu hanya lelucon, bukankah Rena mengatakan sahabatnya itu suka bercanda, jadi anggap saja ucapannya kemarin bercanda.


Seusai membuat sarapan, Miranda memakannya. Tapi, melihat waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, Miranda buru-buru membereskan sarapannya, sisa nasi goreng yang sudah ia buat, ia masukkan ke dalam kotak bekal, untuk ia bawa ke butik. Setelahnya ia berlalu membersihkan diri, ia ingat hari ini ada jadwal fiting gaun pengantin Alena.


Setelah semuanya rapi, Miranda mengambil kunci motor miliknya, tak lupa membawa bekal yang sudah ia siapkan.


Begitu membuka pintu, ia terkejut lantaran mendapati Miko sudah berdiri di depan pintu dengan pakaian formalnya. Miranda terkejut mendapati penampilan lelaki itu tampak dewasa mengenakan jas formal di tubuhnya. Namun, secepat itu ia berpura-pura tak peduli.


"Selamat pagi calon istri?" sapa Miko dengan ramahnya.


Miranda menghela nafasnya. "Ngapain kamu di sini?" tanyanya kesal.


"Jemput calon istri dong," jawabnya seraya menaik turunkan alisnya menggoda.


Miranda berdecak memilih berlalu mengeluarkan kunci motornya.


"Ayo dong sayang, aku udah datang ini. Ayo aku anterin ke butik, setelah itu aku mau ke kantor, kerja," ujar Miko mengikuti langkah Miranda menuju motornya.


"Aku bisa berangkat sendiri, kan aku udah ada motor. Sanalah kamu berangkat," tolak Miranda. Perempuan itu meletakkan bekal yang ia bawa di gantungan motor depan, kemudian memasukkan kunci motornya ke tempatnya, setelahnya mencoba menyalakannya.


Miko melipatkan tangannya di dada, menatap Miranda dengan senyum penuh arti.


"Ishh, sial! Kok bisa kempes sih bannya. Perasaan semalem belum deh!" umpatnya kesal seraya menendang ban motornya.


Miko ingin tertawa mendengarnya. Namun, sebisa mungkin ia menahannya. "Ya mungkin karena terkena air hujan makanya kempes," celetuk Miko asal.


Miko tertawa kecil, hal itu membuat Miranda kesal dan curiga. "Jangan-jangan ini ulah kamu ya, ngempesin ban motorku!" tudingnya kemudian pada Miko.


"Eh mana ada. Gak boleh nuduh ya mbak, nanti jatuhnya fitnah. Tau kan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan," sangkal Miko.


Miranda menghela nafasnya, rasanya kalau berdebat dengan Miko tak akan pernah ada habisnya. Perempuan itu memilih mengambil kotak bekal miliknya kembali, sambil menatap ke arah depan rumahnya. "Kok tumben gak ada taksi lewat ya," gumamnya padahal ia sedang buru-buru agar cepat sampai ke butik.


Miko berdecak padahal ia sudah berdiri di sana sejak tadi, ngapain masih nunggu taksi. Kalau begitu sia-sia dong rencananya ngempesin ban motor perempuan itu.


"Ngapain nunggu taksi sih, gak akan ada taksi lewat sini. Sudahlah ayo aku anterin," kata Miko kesal seraya menarik tangan Miranda menuntunnya masuk ke mobil, tak peduli sekalipun perempuan itu berontak. Bahkan lelaki itu juga sengaja langsung mengunci pintu mobilnya agar Miranda tak segera turun. Sementara dirinya memutar tubuhnya menuju kursi kemudi.


Mobil melaju menuju butik Miranda berada.


"Miko aku kan sudah bilang, jangan dekati-"


"Aku tidak peduli!" potong Miko dengan cepat. "Bahkan mau sebanyak apapun kau menolakku, aku akan terus datang sampai hatimu benar-benar luluh padaku!" sambungnya.


"Susah ya ngomong sama kamu!" decak Miranda kesal menatap ke arah jendela mobil.


"Gak sih! Yang susah dapetin hati kamu mbak," jawab Miko.


Miranda memilih diam tak menanggapi ucapan Miko, karena ia pikir jika di tanggapi tak akan pernah ada habisnya.


"Mbak hari ini perdana lho, aku masuk kerja di kantor Papa. Mbak gak kasih semangat gitu buat aku," ujar Miko menoleh sekilas ke arah Miranda.


Miranda menatap Miko dengan kesal. "Buat apa?" tanyanya datar.


"Ya biar aku semangat dong. Masa mau kasih semangat ke calon suami kok harus diajarin," ujar Miko sambil menghentikan laju mobilnya karena telah sampai.


"Siapa juga yang nganggap kamu calon suamiku!" sergah Miranda kesal ia mencoba membuka pintu mobilnya, namun tak bisa. Kemudian ia kembali menoleh ke arah Miko. "Miko buka pintu mobilnya, kan sudah sampai aku mau keluar," pintanya.


"Gak! Mbak jahat, pelit lagi cuma kasih semangat aja tidak mau," cibirnya.


Miranda menghela nafasnya. Nah kan belum apa-apa udah bersikap kekanak-kanakan, bayangkan saja kalau mereka benar-benar menjadi sebuah pasangan, Miranda pasti seperti mendapatkan anak baru.


"Ya udah semangat kerjanya ya," ucap Miranda lembut sambil menepuk pundak lelaki itu. Miko tersenyum menoleh ke arah Miranda.


"Kalau gitu bukain pintunya," pinta Miranda kemudian.


"Nanti dulu. Salim dulu! Masa sama calon suami mau kerja gak salim sih!" ujar Miko seraya mengulurkan tangannya. Karena tak ingin membuang waktu Miranda pun menerimanya, hanya sebatas jabat tangan tanpa berniat mencium tangan lelaki itu.


"Gak apa-apa lah begini dulu. Nanti kalau udah nikah baru deh kamu cium tanganku," ujar Miko sambil membuka kunci pintu mobilnya.


Miranda hanya menghela nafasnya, membiarkan lelaki itu dengan pemikirannya, ia memilih beranjak keluar dari mobil setelah sebelumnya mengucapkan terimakasih.